Senin, April 19, 2021

Kita Bisa Belajar Toleransi Dari Sisa Kebencian

Sengkarut Korupsi Dana Investasi

Semakin gencar upaya pemberantasan korupsi, tampaknya tidak berbanding lurus dengan berkurangnya kasus korupsi di Indonesia. Hal ini ditenggarai semakin canggihnya modus operandi diperankan oleh...

"Landmark", Pariwisata Kota Gaya Modern

Sejarah arsitektur dunia berkembang cukup pesat. Orang-orang di zaman mesir kuno sudah mulai berpikir untuk mendesain bangunan yang bukan hanya menitikberatkan pada fungsi, tetapi...

Koruptor Kelas Kakap Bebas, Yasonna Memang Top

Usulan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) Yasonna Laoly  di tengah pandemic virus corona atau Covid-19 dianggap luar biasa. Akan tetapi sebagian besar...

Puasa Tiba, Ulama dan Petinggi Negeri Harus Menyejukkan Suasana

Bulan puasa sangat penting bagi seluruh umat muslim di manapun ia berada, tak terkecuali di negara kita, Indonesia. Bulan puasa adalah bulan yang penuh...
Wahyu Alfy
Orang santuy dan tidak banyak tingkah, punya ketertarikan lebih terhadap seni, penyintas dunia kampus.

Manado yang selalu saya suka, di beberapa tempat tertentu, kita masih bisa menemukan keramaian lepas tengah malam, industri berkembang cepat disini, arus wisatawan yang makin masif membuat kota manado menata diri. tidak terkecuali kawasan pecinan, orang sekitar biasa menyebutnya kampung cina.

Lampion dengan warna khas merah di gantung menyilang diantara gedung – gedung yang menghimpit jalan, di bagian kiri dan kanan, sepanjang jalan, digelar jajanan, panganan khas cina, klokal, kuliner yang rigan, sampai yang jarang di dengar telinga. Dengan harga yang terjangkau, layak jika tempat ini bisa ramai sampai larut malam.

Menelusuri jalanan di pasar malam ini membuat saya seperti berada di negara asal muasal lampion-lampion ini, atau yang paling dekat, membuat saya mengingat kembali perayaan Tahun Baru Cina beberapa bulan lalu, sebelum pasar ini berdiri, itu kali pertama saya menyaksikan langsung perayaan Imlek.

Setelah selesai dengan kopi, kami yang berada di jalur paling sibuk kota manado memutuskan jalan – jalan. Muhamad Iqbal Suma, malam itu, mengajak saya dan beberapa kawan menelusuri tempat ini, kawasan kampung cina. Tidak seperti biasanya, persimpangan jalan yang selalu lenggang jika sudah larut malam itu ramai dengan kendaraan.

Kami yang beriringan dengan kendaraan bermotor menemui kemacetan, saya pikir tidak akan seramai ini, orang – orang berjalan kaki, sepanjang pingiran jalan menuju kawasan Pecinan subur menjadi lahan parkir. Tidak berselang lama kami juga ikut memarkirkan kendaraan di pinggiran jalan, mengikuti arus orang – orang melangkahkan kaki.

Tujuan tentunya menyaksikan pagelaran kembang api yang selalu rutin tiap tahun dilaksanakan, saat malam pergantian tahun baru cina.

Kami tidak merasa aneh, dan tidak ada yang aneh, disini, bukan hanya kami saja yang bukan masyarakat keturunan cina, ini yang membuat saya tertarik, perayaan menjadi milik siapapun, disini, kalian dapat melihat mungkin seluruh kota manado merayakannya, dari suku, ras, dan agama apapun, termasuk kami yang memutuskan untuk ikut bersuka cita bersama warga kampung cina malam itu.

Kalau murut Muhamad Iqbal, ia adalah sesuatu yang unik, sayapun menganggapnya demikian “bukan hanya namanya Cina tapi karena letaknya yang berhadapan dengan kampung Arab.”

Benar saja, letak kampung cina di kota manado ini hanya terpisah jalan dari Kampung Arab, tepat berhadap – hadapan, dihuni warga muslim keturunan Arab.

Gambaran toleransi yang utuh, dan telah terjalin puluhan tahun.

Setelah berusaha menembus kerumunan, kami mendapatkan tempat di bagian depan halaman Klenteng Ban Hin Kiong untuk menyaksikan kembang api yang berlangsung selama kurang lebih satu jam, sorak sorai warga, hiasan-hiasan yang berwarna menyala, dan kembang api yang seakan ingin mengguyur Ban Hin Kiong membuat kami bersuka cita.

 

Ini adalah tempat ibadah Tri Dharma tertua di kota manado, didirika abad 19 tepatnya pada tahun 1819. Nama Ban Hin Kiong sendiri memiliki makna “Istana Penuh Berkah”. Penamaannya terdiri dari tiga kata, yakni “Ban” yang berarti “banyak”, “Hin” berarti “berkah berlimpah”, dan “Kiong” berarti “istana”.

Belakangan, baru saya tahu, harga dari sebuah suka cita atas toleransi di Halaman Klenteng Ban Hi  Kiong itu teramat mahal. Keceriaan warga keturunan cina malam itu  pernah berubah dirundung cekaman, kemegahan yang kami saksikan di halaman itu pernah runtuh, disulut kebencian yang buta.

Tempat dimana kami berdiri, dengan tepuk tangan dan sorak sorai malam itu pernah dihampiri peristiwa paling kelam, Tuhan perlu dibela dengan membabi buta, mereka merasa harus membentengi agama.

Ban Hin Kiong, menurut beberapa sumber pernah dibakar oleh orang – orang yang terpancing provokasi pada 14 Maret 1970, konflik atas nama kesucian, kebaikan yang diajarkan, disajikan dengan cara yang berbeda. Menghendaki kekerasan untuk membela apa yang menurut mereka baik, untuk mengusik kebaikan lainya bukankah itu percuma.

Lama sudah kejadian itu, sebelum kita mendengar kembali, di Sri Lanka, jemaat missa paskah yang khidmat berebut keluar gereja, Kolombo tiba-tiba muram, sebanyak enam Bom meledak menimpa tiga gereja dan tiga hotel.

selain daripada itu, ditempat lain, sebelumnya kita melihat pemberitaan soal penembakan umat muslim yang sedang beribadah Jumat di Masjid kota Christchurch Selandia Baru, di setiap tempat, di belahan dunia lain, jauh dari halaman klenteng Ban Hin Kiong, ingatan kita masih utuh, tentang peristiwa intoleran tahun-tahun belakang.

Perbedaan seharusnya jadi sesuatu yang indah, bedah bukan artinya musuh bukan ? agama harusnya jadi sumber kebaikan, menghalangi kebencian yang menular. Mengapa kita tidak saling memandang sebagai kebaikan ? Bukan malah menilai kebaikan orang yang “berbeda” dengan kita sebagai jalan, untuk memperlihatkan bahwa yang kita yakini adalah paling “baik”.

 

Kini, Klenteng Ban Hin Kiong telah berdiri kembali, kami berada di halamannya, masuk kedalam, dan berbagi kegembiraan tahun baru imlek bersama warga Tionghoa di kampung cina. Saya tidak lupa kali pertama masuk di tempat ibadah ini, bau dupa, kerumunan orang yang mencari spot untuk berfoto, dan yang paling penting, tidak ada perbedaan.

Saya hanya melihat kebersamaan, tidak ada yang dominan, walaupun ini berada di kawasan Pecinan. Kami tidak membicarakan yang banyak, kuat dan mayoritas punya kuasa untuk menindih yang sedikit, lemah dan minoritas. Tidak ada yang kalah dari luapan kebencian.

Rasa kerukunan yang saya nikmati, di atas tanah klenteng Ban Hin Kiong malam itu pernah terbakar, berpuluh-puluh tahun yang lalu. Hari ini, ia membuka diri untuk siapapun, di bawahnya kita belajar melihat toleransi.

Disana, dari sisa-sisa kebencian, kita belajar, betapa indahnya toleransi, bukankah puncak dari agama adalah rasa cinta terhadap sesama.

Wahyu Alfy
Orang santuy dan tidak banyak tingkah, punya ketertarikan lebih terhadap seni, penyintas dunia kampus.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Tadarus Etika: Konsep, Kerja, dan Tunjang

Allah memperkenankan kita bertemu sekali lagi dengan bulan suci umat Islam, Ramadan 1442 H. Kian tahun kebutuhan manusia akan etika semakin kuat. Integritas melangka:...

Belajar di Sekolah Kembali? Mari Kurangi Kekhawatiran Kita

Pemerintah Indonesia berencana membuka sekolah lagi di bulan Juli 2021. Ini kabar menggembirakan, mengingat bahwa bagi beberapa anak, pendidikan adalah satu-satunya jalan keluar dari...

Terorisme Akan Selalu Dapat Tempat Jika Tokoh Islam Masih Ada yang Denial

Berkali-kali sudah esktremisme kekerasan dan kejahatan terorisme terjadi di negeri kita, sejak Bom Bali yang terjadi pada tahuan 2000an sampai tahun ini. Namun sikap...

Kubur Kosong (Refleksi Iman atas Banjir Bandang di Leuwayan)

Minggu, 04 April 2021, umat Katolik sejagat merayakan hari raya Paskah. Paskah adalah peristiwa kebangkitan. Karena itu merayakan Paskah berarti merayakan kemenangan Kristus atas...

Simbol Agama dalam Aksi Teroris

Di Indonesia dalam beberapa hari ini marak terjadi penyerangan oknum yang tidak bertanggung jawab pada wilayah agama dan kepolisian. Agama merupakan simbol kolektif dari...

ARTIKEL TERPOPULER

Masa Depan Peradaban Islam dalam Pandangan Ziauddin Sardar

Masa depan peradaban Islam dalam banyak tulisan selalu dikaitkan dengan ide kebangkitan Islam yang telah dimulai sejak abad ke-18 yang lalu. Meskipun sudah kurang lebih...

Kegiatan Di Bulan Suci Ramadhan Sesuai Pancasila

Indahnya bulan suci ramadhan tahun ini disambut suka cita oleh seluruh umat Islam dari Indonesia, luar negeri dan seluruh dunia setiap tahun. Dari hasil...

Definisi Kekuatan: Hard Power dan Soft Power

Konsep Dasar Power Kekuatan atau power dalam ilmu Hubungan Internasional adalah elemen utama, terutama dalam kaca mata realisme, Morgenthau menjelaskan bahwa perilaku negara pada dasarnya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Banyak Baca Buku Jadi Pintar, Sedikit Baca Jadi Orba

Minggu lalu, akun twitter Presiden Jokowi @jokowi menggunggah kegiatan membagi-bagi buku. "Membagi buku untuk anak selepas Jumatan bersama masyarakat di Masjid Jami Annur, Johar...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.