Masalah terbesar dalam organisasi, dari keluarga sampai negara ternyata bukan persoalan uang, bukan pula teknologi, tapi komunikasi. Banyak kebijakan gagal bukan karena salah konsep, tapi karena pesan yang sampai ke publik sudah terpotong, terkotak-kotak, bahkan tercemar. Di era post-truth sekarang, omong kosong yang disebar luas bisa dianggap kebenaran. Fakta sering kalah oleh sentimen. Di sinilah kemampuan pemimpin menyaring, memahami, dan menyampaikan informasi menjadi soal hidup-mati bagi kepercayaan publik.
Dua setengah ribu tahun lalu, seorang bijak dari Tiongkok bernama Kongzi atau Konfusius mewariskan panduan sederhana tapi dalam melalui Kitab Lun Yu Bab XVI Ayat 10, ia mengajarkan sembilan hal yang harus direnungkan oleh seorang pemimpin. Sembilan itu yakni melihat dengan jernih, mendengar dengan cermat, wajah menunjukkan kehangatan, sikap menunjukkan hormat, ucapan menunjukkan ketulusan, bekerja sungguh-sungguh, ragu maka bertanya, marah maka pikirkan akibatnya, mendapat untung maka pikirkan kewajarannya. Dari sembilan itu, tiga hal paling mendasar ialah melihat, mendengar, dan bertanya, justru paling sering diabaikan pemimpin zaman sekarang.
Melihat Secara Utuh
Pemimpin harus melihat masalah dari A sampai Z, bukan cuma yang tampak di permukaan. Ibarat durian, kulitnya berduri, tapi di dalamnya ada daging lembut. Sayangnya, banyak pemimpin hanya mengandalkan “lingkaran dalam”. Mereka dikelilingi orang-orang yang, seperti diingatkan almarhum Buya Syafii Maarif, adalah “laron-laron politik” perumpamaan bagi manusia yang berkerumun di sekitar tokoh yang sedang “bercahaya”, bermulut manis dengan tingkah dibuat-buat.
Akibatnya? Pemimpin cuma melihat apa yang ingin dia lihat. Dia melihat angka, tapi tidak melihat makna di balik angka.
Sepeti program Makan Bergizi Gratis yang mengalami kasus keracunan massal, misalnya, Presiden merespons dengan mengatakan itu karena siswa tidak cuci tangan, atau bahwa jumlah korban cuma kurang dari 1 persen. Secara angka memang kecil. Tapi dari sudut orang tua yang anaknya sakit, dari sudut guru yang khawatir, dari sudut publik yang mempertanyakan keamanan pangan menjadikan persoalan jauh lebih besar dari sekadar angka.
Melihat secara utuh berarti pemimpin harus punya informasi dari sumber terpercaya, bukan cuma dari orang terdekat yang punya agenda sendiri. Laron-laron politik cuma akan menunjukkan sisi durian yang runcing, menyembunyikan daging yang busuk. Pemimpin sejati harus berani membuka durian itu sendiri.
Mendengar dengan Cermat
Informasi yang terpotong atau terkontaminasi bisa lebih berbahaya daripada tidak tahu sama sekali. Dalam satu tahun pertama pemerintahan Prabowo-Gibran, Lab 45 mencatat 151 blunder komunikasi oleh pejabat tinggi terjadi hampir setiap dua hari sekali. Ini bukan sekadar kesalahan teknis. Ini adalah kegagalan mendengar. Mendengar dengan cermat bukan berarti mendengar semua orang. Itu tidak mungkin. Mendengar dengan cermat berarti mendengar yang tepat, dengan membedakan suara rakyat dari gema ruang gema digital, membedakan kritik membangun dari hasutan, membedakan fakta dari hoaks.
Belakangan ini komunikasi publik pemerintah cenderung impulsif, minim strategi, kurang empati. Publik bingung, apatis, merasa tidak dilibatkan. Ketika pemimpin merespons kritik dengan cemoohan atau sindiran kasar justru memperlebar jurang antara penguasa dan rakyat.
Berani Bertanya, Tahu Tempat Bertanya
Ini mungkin yang paling sulit. Bertanya berarti mengakui bahwa kita tidak tahu segalanya. Tapi orang yang sudah di puncak jabatan sering tanpa sadar jadi arogan, merasa paling lengkap informasinya. Padahal, pemimpin sejati bukanlah yang menghindari kritik, melainkan yang mampu berdiri tegak di tengah kritik dan mendengarkan dengan hati terbuka. Bertanya adalah wujud keterbukaan itu. Bertanya kepada ahli, bertanya kepada yang terdampak, bertanya kepada yang berseberangan, itulah cara mendapat gambaran utuh.
Kode Etik Komunikasi untuk Pemimpin Modern
Dari tiga ajaran Kongzi tadi, kita bisa menarik Pelajaran. Pertama, lihatlah selalu secara utuh. Jangan puas dengan laporan dari bawahan atau ruang rapat. Turunlah, buka mata, lihat sendiri. Di balik setiap angka statistik ada manusia dengan perasaan, harapan, dan ketakutannya. Kedua, dengarkanlah dengan cermat. Bedakan antara gema dan suara. Di tengah banjir informasi, pemimpin harus jadi penyaring, bukan penyebar kebenaran. Ketiga, beranilah bertanya. Tidak ada pemimpin yang tahu segalanya. Kerendahan hati untuk bertanya adalah kekuatan, bukan kelemahan. Keempat, jagalah ketulusan dalam ucapan. Di era post-truth, kejujuran adalah barang paling langka sekaligus paling berharga. Publik mungkin memaafkan kesalahan, tapi tidak akan pernah memaafkan kebohongan. Kelima, kendalikan amarah dalam merespons kritik. Kata-kata kasar dan cemoohan dari puncak kekuasaan bukan tanda kekuatan tapi tanda kerapuhan.
Komunikasi bukan sekadar menyampaikan pesan. Melainkan suatu strategi membangun kepercayaan, menjaga legitimasi, dan meredakan kecemasan publik. Di tengah krisis kepercayaan yang mengancam, pemimpin tak bisa lagi sekadar bicara. Ia harus melihat utuh, mendengar cermat, dan bertanya dengan rendah hati. Dua setengah ribu tahun lalu, Kongzi mengajarkan itu semua. Pertanyaannya sekarang, apakah pemimpin kita dan kita sendiri, masih punya telinga untuk mendengar?
