Dalam diskursus hubungan internasional, istilah “Pax” selalu merujuk pada periode perdamaian yang dipaksakan oleh kekuatan hegemon. Jika abad ke-20 didominasi oleh Pax Americana, maka abad ke-21 menyaksikan lahirnya fenomena yang oleh para analis disebut sebagai Pax Judaica. Ini bukan sekadar tentang kontrol wilayah, melainkan tentang penguasaan pusat saraf peradaban modern: teknologi, data, dan intelijen.
Tujuan: Stabilitas Melalui Integrasi
Tujuan akhir dari Pax Judaica bukanlah penaklukan teritorial secara fisik, melainkan penciptaan stabilitas regional dan global yang berpusat pada kepentingan Israel.
1. Normalisasi Tanpa Syarat Ideologis: Menggantikan narasi konflik agama/etnis dengan narasi kemakmuran ekonomi bersama.
2. Kontrol atas Narasi Global: Menggunakan pengaruh di sektor media dan finansial global untuk memastikan keamanan jangka panjang identitas Judaika.
3. Penyangga Terhadap Ancaman Asimetris: Membangun perimeter keamanan digital dan fisik yang mampu melumpuhkan ancaman (seperti Iran atau kelompok militan) sebelum ancaman tersebut mencapai perbatasan.
Implementasi Saat Ini Era Abraham Accords
Implementasi paling nyata dari Pax Judaica saat ini adalah Abraham Accords (Perjanjian Abraham). Perjanjian ini menandai pergeseran besar di Timur Tengah, di mana negara-negara Arab seperti UEA, Bahrain, dan Maroko secara terbuka merangkul integrasi ekonomi dan keamanan dengan Israel. Saat ini, implementasi Pax Judaica terlihat dalam:
- Koridor India-Timur Tengah-Eropa (IMEC): Sebuah proyek ambisius yang menempatkan Israel sebagai titik transit logistik dan digital yang menghubungkan Asia dan Eropa, menantang inisiatif Belt and Road Tiongkok.
- Ekspor Teknologi Keamanan: Penggunaan sistem pertahanan seperti Iron Dome dan perangkat lunak siber oleh berbagai negara di dunia sebagai standar keamanan baru.
- Fintech dan Inovasi Medis: Dominasi dalam sektor keuangan masa depan dan riset medis yang membuat dunia sulit untuk melakukan boikot ekonomi secara efektif tanpa merugikan diri sendiri.
Pax Judaica adalah tatanan yang sangat efisien namun bersifat teknokratis dan sering kali transaksional. Bagi Indonesia, memahami Pax Judaica bukan berarti harus mengekor, melainkan menyadari bahwa kedaulatan masa depan ditentukan oleh siapa yang menguasai kode dan konektivitas.
Oleh karena saya mengajak semua pihak untuk memperkuat Pax Nusantara (Nusantaraisme) agar kita tidak menjadi “vassal” (negara bawahan) teknologi Pax Judaica. Kita harus menerapkan prinsip ” Selective Integration ” yakni:
Ambil Alatnya, Buang Ideologinya. Kita bisa membeli perangkat keras dari mana saja (termasuk teknologi Israel lewat pihak ketiga jika perlu), tetapi sistem operasinya harus dirakit ulang oleh anak bangsa.
Kedaulatan SDM dengan menghentikan brain drain. Ilmuwan Indonesia yang bekerja di pusat-pusat teknologi dunia harus diberi “panggung” di negara sendiri untuk membangun sistem pertahanan nasional bukan memperbanyak politisi pragmatis dan korup.
Membuat hukum Lokalisasi Data dimana kita mewajibkan setiap raksasa teknologi yang ingin beroperasi di wilayah Nusantara untuk membangun server dan melakukan transfer teknologi secara nyata, bukan sekadar komitmen di atas kertas.
Pax Judaica mengajarkan bahwa intelektualitas adalah modal perang masa depan. Sementara Nusantaraisme membangun intelektualitas yang memiliki dan menghargai jati diri dari setiap bangsa untuk kehidupan yang lebih baik bagi manusia.
