Sabtu, Juli 13, 2024

Kang Marhaen, Bung Karno Serta Gagasan Besarnya

Niamul qohar
Niamul qohar
Ni’amul Qohar, atau yang biasa disapa Ni’am merupakan santri Pondok Pesantren Kreatif Baitul Kilmah, asuhan Dr. KH. Aguk Irawan, MA. Selain menimba ilmu kepada Kiai Aguk, ia juga ngaji kitab turost kepada Kiai Amirul Ulum di Ulama Nusantara Center.

Bung Karno dengan segala keunikan serta kaya akan lika-liku perjalanan hidup, telah mampu mengantarkannya menjadi tokoh agung bagi bangsa ini. Perjuangannya untuk kemerdekaan Indonesia yang selanjutnya menjadi presiden serta negarawan yang unggul dalam periode angkatannya. Tentu sangat menarik jika seseorang mampu bercerita tentang Bung Karno, seperti halnya ia bercerita mengenai semangat patriotisme bangsa Indonesia, saat menghadapi bangsa Kolonial, berani menentang siapa pun yang menjadi boneka Britani, serta pertemuannya dengan Kang Marhaen yang menjadi titik awal gagasan besarnya untuk kemerdekaan bangsa Indonesia.

Pada suatu pagi di tahun 1920-an, Bung Karno mengayuh sepeda kesayangannya dengan tujuan yang tidak jelas. Kebiasan ini hampir setiap pagi ia lakukan. Bukan dalam rangka berkampaye belusukan, atau membagikan sembako. Barangkali sekedar olahraga di pagi hari, melemaskan otot-ototnya dengan bersepeda.

Dalam perjalanan yang tidak ada tujuannya itu, tanpa disadari Bung Karno sudah masuk di pelosok Bandung bagian selatan. Lantas pandangannya tertuju kepada sosok petani yang tengah menggarap sawah. Bung Karno menghampirinya lantas terjadi dialog kecil dengan petani tersebut.

“Siapa pemilik sawah ini?”, tanya Bung Karno

“Saya, juragan”, jawab petani.

“Apakah milik pribadi atau milik bersama?”

“Oh tidak, Gan. Milik saya pribadi”

“Apakah kau membeli tanah ini?”

“Tidak Gan. Tanah ini merupakan warisan leluhur yang sudah turun-temurun.”

“Bagaimana dengan ini, sekopmu? Milikmu juga?”

“Ya Gan.”

“Cangkul itu?”

“Milik saya juga, Gan.”

“Bajak?”

“Juga milik saya.”

“Lalu hasilnya untuk siapa?”

“Untuk saya, dan keluarga Gan.”

“Apakah cukup?”

“Bagaimana mungkin, sawah yang sempit ini bisa mencukupi kebutuhan istri dan empat anak?”

“Tapi semua ini milikmu?”

“Iya, Gan.”

“Siapa namamu?”

“Marhaen.”

Pertemuan Bung Karno dengan Kang Marhaen bukan hendak menggambarkan nasibnya kaum proletar yang miris dalam kemiskinan. Namun ada sisi lain yang dilihat oleh Bung Karno yaitu adanya sebuah kemandirian.

Kang Marhaen sebagai petani tidak berkenan menjual tenaganya, justru ia memberdayakan modalnya sendiri. Meskipun hidup dalam kemiskinan, petani tersebut tetap teguh memegang prinsip tentang kemandirian. Baginya hal ini jauh lebih mulia daripada harus menjadi buruh para Kolonial. Dari Kang Marhaen Bung Karno telah belajar suatu kemerdekaan hidup dengan konsep kemandirian. Meskipun ia hanya mendapatkan penghasilan dari pertaniannya tidak lebih dari delapan sen dalam sehari.

Bung Karno mengkritik keras kaum yang hanya bisa bicara di atas podium atau di dalam surat kabar. Serta juga mengkritik kaum yang hanya bisa mendirikan barang-barang fisik, seperti mendirikan warung, koperasi, sekolahan, dan bank, namun tidak mampu mendirikan mentalnya secara pribadi. Sebab pada zaman Kolonial berdirinya barang-barang fisik tersebut merupakan bagian dari sistem Kapiltalisme.

Lalu dibandingkannya dengan kehidupan real Kang Marhaen yang mampu mendirikan semangat kemandirian, mendirikan harapan, mendirikan ideologi yang merdeka itu. Bagi Bung Karno arti mendirikan bukan hanya yang berbentuk fisik, melainkan bentuk abstak sekalipun juga sangat diperlukan, sepeti mendirikan mental kemandirian tadi. Kemerdekaan Indonesia tidaklah bisa dicapai hanya sekedar maju dalam infrastruktur (bangunan fisik). Namun didapatkan pula dari kuatnya mental kemandirian bagi setiap rakyatnya.

Jangankan kita, bagi Bung Karno sendiri barangkali juga tidak pernah menyangka akan lahirnya gagasan besar ini. Setelah perjumpaannya dengan Kang Marhaen, seorang petani dari Bandung, Bung Karno sering menyebutkan gagasannya sebagai Marhaenisme. Bung Karno melihat dari sosok Kang Marhaen ini penggambaran kepribadian rakyat Indonesia, ia mengatakan, “Marhaenisme adalah sosialisme Indonesia dalam praktik.”

Bung Karno menggabungkan konsep Marhaenisme dengan Massaisme (kekuatan massa). Bagi beliau biarkan rakyat hidup dalam kemiskinan yang memiliki status kepemilikan kecil. Namun ketika melawan Kolonalisme, mereka merupakan suatu persatuan dengan jumlah yang sangat besar, sehingga dapat membentuk kakuatan perlawanan yang maksimal.

Gagasan yang didapatkan dengan cara tidak disangka ini, jika kita lihat merupakan cerminan gaya kepemimpinan Bung Karno. Beliau dengan sekuat kemampuan berani bertindak tegas dalam menghadapi ketidak-adilan suatu sistem. Mengubah setiap sistem yang sudah ada, dari yang tidak teratur menjadi lebih teratur. Gaya kepemimpinan Bung Karno ini telah berhasil mengubah tatanan kehidupan masyarakat pribumi yang seringkali tertindas dan mengalami tidakan tidak adil, menjadi sebuah tatanan kehidupan masyarakat yang bebas serta merdeka. Setiap orang berhak mengelola jalan hidupnya sendiri, memilih apa yang ditanam, apa yang dikerjakan, apa yang dimakan, dan apa yang akan dijual. Pribumi menjadi kelompok independent atas pemikirannya.

Bukan kaum berjouis atau kaum ningrat yang berkuasa, melainkan Kaum Marhaem lah yang memegang kekuasaan di negeri ini. Bung Karno ingin membentuk masyarakat Indonesia yang adil dan sempurna, yang tidak adanya penindasan dan hisapan, yang tidak ada Kapitalisme dan Imperialisme. Dan syarat yang pertama dalam menggugurkan Kapitalisme dan Imperealisme, ialah kita harus merdeka, supaya kita bisa leluasa mendirikan suatu masyarakat yang baru yang tidak adanya Kapiltalisme dan Imperialisme.  Semua tujuan Bung Karno di atas didapatkannya dari sosok Kang Marhaen ini.

 

Niamul qohar
Niamul qohar
Ni’amul Qohar, atau yang biasa disapa Ni’am merupakan santri Pondok Pesantren Kreatif Baitul Kilmah, asuhan Dr. KH. Aguk Irawan, MA. Selain menimba ilmu kepada Kiai Aguk, ia juga ngaji kitab turost kepada Kiai Amirul Ulum di Ulama Nusantara Center.
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.