Jumat, Juni 18, 2021

Jogja Darurat “Klitih”

Islam Itu Damai, Berdamailah!

Secara subtansial, tidak ada satu pun agama yang mengajarkan untuk melakukan kekerasan, baik kekerasan psikologis maupun kekerasan fisik. Kristen, Yahudi, Buddha, Hindu, Islam, dan...

Jangan Takut Bermimpi di Lembah Harau

Tidak ada yang tidak tahu Lembah Harau di Kabupaten 50 Kota, Sumatera Barat. Berbicara tentang Lembah Harau, memang identik dengan wisata alam yang indah...

Hak Asasi Manusia, Tema yang Tak Memiliki Ujung

Tak dapat dipungkiri, beberapa dasawarsa belakangan Hak Asasi Manusia (untuk selanjutnya disebut HAM) menjadi aksis utama dan indikator peradaban sebuah negara. Hampir semua negara-negara di...

Satyagraha Mahatma Gandhi dan Perdamaian era 2000-an

Mohandas Karamchand Gandhi atau lebih dikenal dengan Mahatma Gandhi, seorang tokoh besar dunia yang kita ketahui bersama telah memotivasi tokoh hebat lainya seperti Martin...
Bonavhisna Pandhita Sandya Wikara
Mahasiswa IG : bonavhisna_pandhita

“Klitih”, bagi masyarakat jogja kata ini sudah tidak asing lagi. Ketika mendengar kata “klitih”, pasti masyarakat mempersepsikan suatu tindakan yang anarkis, tindakan kriminal (yang dilakukan oleh remaja).

Padahal arti klitih sebenarnya adalah sebuah kegiatan atau aktivitas dari seseorang atau sekelompok orang yang keluar rumah di malam hari yang tanpa tujuan atau hanya sejedar jalan-jalan, mencari atau membeli makan, nongkrong di suatu tempat dan lain sebagainya (atau dalam bahasa Indonesia bisa di samakan dengan keluyuran).

Ada juga yang menyebut klitih merupakan penyebutan terhadap ‘Pasar Klitikan Yogyakarta’ di mana artinya adalah melakukan aktivitas yang tidak jelas dan bersifat santai sambil mencari barang bekas dan Klitikan.

Pada awalnya klitih ini hanyalah berupa kegiatan perundungan antar geng sekolah yang terjadi di kawasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya. Kegiatan ini dilatar belakangi oleh balas dendam yang diturunkan oleh senior ke junior dalam suatu geng sekolah.

Terjadinya perundungan ini dipelopori karena adanya tindakan provokasi dari salah satu kelompok baik secara langsung (menggeberkan motor didepan musuh) ataupun dengan melakukan tindakan vandalisme. Tindakan vandalism yang dilakukan sekelompok ini membuat kotor fasilitas umum yang ada di Yogyakarta. Dulu, korban klitih sudah ditargetkan oleh pelaku. Tetapi saat ini, korban klitih menjadi random. Bisa jadi kita sendiri yang menjadi korban klitih.

Dilansir dari TribunJogja pada 8 desember 2019, terdapat 13 kasus klitih dengan 2 korban meninggal dunia yang terungkap pada tahun 2018. Rinciannya, 3 kasus di Bantul, 4 kasus di Sleman, 2 kasus di Kulonprogo, 3 kasus di kota Yogya dan 1 kasus di Gunungkidul. Dilansir pula, dari beberapa kejadian klitih yang berhasil diungkap, beberapa pelakunya masih berstatus pelajar (dibawah umur). Motif yang dilakukan dalam aksi klitih ini macam-macam. Mulai dari balas dendam hingga solidaritas.

Pihak kepolisian bekerja sama dengan disdikpora untuk mengatasi aksi klitih ini. Misal dengan menggelar forum diskus group dan banyak ikrar menyerukan pelajar melawan klitih. Pihak kepolisian juga menggelar razia maupun melakukan patroli rutin tiap malam. Tidak hanya pada tindakan preventif saja. Pihak kepolisian juga melakukan preemptif (sosialisasi), dan represif (penindakan). Dilansir dalam tribun jogja pada 8 desember 2019, pihak kepolisian akan tegas dalam melakukan penindakan. Bila itu terbukti salah, walaupun itu dibawah umur, tetap akan menjalani  proses hukum.

Tanggapan saya sebagai masyarakat, saat ini keadaan Jogja sangat memprihatinkan. Jogja yang terkenal dengan julukan kota berhati nyaman kini sudah hilang. Kota pelajar dengan siswa yang menurut saya tidak terpelajar dengan baik. Aksi ini sangat menyita perhatian di medsos.

Apalagi para pelaku aksi ini adalah pelajar (masih dibawah umur).  Saya mewakili masyarakat jogja hanya bisa berharap dan meminta kepada pihak kepolisian untuk menindak para pelaku dengan jera sesuai penerapan hukum yang berlaku. Tidak memandang apakah itu dibawah umur atau tidak. Setidaknya dia mendapatkan hukuman yang sepadan dengan apa yang telah dia perbuat.

 “Menurutku klitih tu yaa apa ya, ya tindakan gak manusiawi bangetlah ya yang pasti, trs kaya ga ada motifnya tu lho kebanyakan. setauku mayoritas juga cuma karena “labeling” saja kan, biar kaya terkesan keren, berkuasa, dsb. jadi kaya orang klitih tu kalo dijaman kayak sekarang ini sih udah gila ga sih.” Kata Lala, salah satu mahasiswi Ilmu Komunikasi UNY.

Bonavhisna Pandhita Sandya Wikara
Mahasiswa IG : bonavhisna_pandhita
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Radikalisme, Anak Muda dan Pendidikan Tinggi: Antisipasi, Respon dan Kebijakan

Ekstrimisme dan radikalisme nampaknya tidak mengenal negara berpenduduk mayoritas Muslim seperti Indonesia atau negara-negara Eropa di mana kaum Muslimin merupakan komunitas minoritas. Ekstrimisme tumbuh...

Eksploitasi Pasar Menggunakan Tubuh Perempuan

Jika Anda terlahirkan sebagai seorang perempuan maka Anda harus bersiap menerima kenyataan sebagai warga kelas dua yang ditakdirkan berada dibawah dominasi maskulinitas laki-laki. Dan...

Dirut BPJS Kesehatan: Agar JKN-KIS Sustain, Kendali Mutu Kendali Biaya Jadi Prioritas Utama

Dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan kepada peserta JKN-KIS sekaligus menguatkan perannya sebagai strategic purchaser, BPJS Kesehatan mengajak mitra fasilitas kesehatan, tenaga medis, pemerintah daerah,...

Melirik Lebih dalam Terkait Kontroversi “BTS Meal”

Baru-baru ini Indonesia digemparkan oleh salah satu menu makanan dari perusahaan makanan ternama yaitu McDonald's. Dimana McDonald's melakukan kolaborasi dengan boyband yang sangat populer...

Meninjau Wacana Menghidupkan Kembali Pasal Penghinaan Presiden

Kementerian Hukum dan HAM sampai saat ini terus mensosialisasikan draf Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP). Seperti yang diketahui, pengesahan RKUHP sempat ditunda oleh...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.