Minggu, Mei 9, 2021

Integritas Gelar Harga Mati

Warkop, Minat Baca dan Wifi

Anda-anda sekalian pasti pernah berkunjung ke warkop alias warung kopi, entah yang ada di Mall atau yang ada di pinggir jalan. Tentunya, anda sekalian...

Pencarian KPK dan Tanda Tanya Harun Masiku

Publik kembali digemparkan oleh Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan oleh KPK. Pasalnya kasus tersebut menjerat individu penyelenggara pemilu dan peserta pemilu. Menunjukan bahwa...

Lagu #GantiPresiden: Jokowi Bertanya, Saya Menjawab

Saya sungguh-sungguh tak menyangka kalau pak Jokowi tertawa geli usai mendengar lagu #GantiPresiden. Dalam imajinasi saya, pak Jokowi pasti kesal, marah, geram dan tersinggung...

95% Keluarga Muda Terancam Menjadi Gelandangan Masa Depan

Pernikahan menjadi salah satu momen yang istimewa bagi siapa saja. Namun siapa sangka, pernikahan yang tidak dilakukan dengan pertimbangan dan perencanaan matang, justru akan...
Nur Cholis
Seorang mahasiswa yang sedang terjebak antara Sepakbola dan Fotografi

Beberapa minggu terakhir, kita disajikan berita yang cukup menghebohkan dari dunia pendidikan. Pertama, Rektor Universitas Negeri Jakarta, Profesor Djaali, terlibat aksi plagiat disertasi yang dibuat mantan Gubernur Sulawesi Tenggara, Nur Alam, yang kini menjadi tersangka kasus korupsi oleh KPK. Bukan itu saja, ia juga diduga melakukan nepotisme di mana banyak pejabat kampus yang dikendalikan oleh keluarganya.

Kedua, yaitu pembohongan publik yang dilakukan oleh Dwi Hartanto, mahasiswa S3 di Departmen of Intelligent System, Faculty of Electrical Engineering, Mathematics and Computer Science, TU Delf, Jerman. Pria asal Yogyakarta tersebut membohongi masyarakat nasional dan internasional. Beberapa kebohongannya adalah mengaku memenangkan lomba riset bergengsi di Jerman dan Mengaku terlibat dalam pengembangan Typhoon di Airbus Space and Defence.

Khusus kasus kedua, kasus ini masih ramai diperbincangkan oleh khalayak, terutama para akademisi nasional. Dwi sempat digadang-gadang menjadi “The Next BJ Habibie” di masa mendatang oleh media dan akademisi. Akan tetapi, kebohongan itu menjadi boomerang sendiri bagi dirinya. Bukannya mengarumkan namanya justru malah menjatuhkan namanya.

Dua kasus tersebut mengindikasikan bahwa masih ada yang salah dengan persepsi gelar atau jabatan. Sejatinya, sebuah gelar diraih dengan bersusah payah. Butuh waktu, tenaga, pikiran, uang, dan pengorbanan lainnya. Apalagi kedua orang itu memiliki gelar dan pangkat yang prestisius. Di kepala keduanya, mungkin hanya ada satu kata, yaitu instan. Ya, mereka mencoba untuk mendapatkan simpati dan pujian orang lain dengan cara mudah. Memerdekakan plagiarisme dan menjual kebohongan.

Mereka punya gelar yang orang lain juga turut mengincarnya. Tetapi, gelar itu selayaknya diberikan kepada orang yang mau berusaha keras. Belajar dengan tekun sebagai kunci utama dalam meraih sebuah tatanan tertinggi dalam mencari ilmu. Gelar hanyalah pemanis belaka. Paling penting adalah bagaimana ilmu itu diterapkan dalam kehidupan sosial bermasyarakat.

Pada sejatinya, mendapat gelar bukanlah hal yang mudah. Dalam dunia akademik, perlu sebuah penelitan atau karya besar untuk meraih gelar terhormat itu. Tentunya dengan karya yang orisinil dan dapat dipertanggungjawabkan. Bukan sekedar “ctrl+c” atau copy paste saja. Butuh data, riset, teori, dan pendukung lainnya untuk mengembangkan “calon” karyanya tersebut.

Bila penelitian itu bermanfaat, pasti sangat membanggakan. Apalagi punya hak paten dan digunakan banyak orang, nama si peneliti bisa diabadikan. Bukan itu saja, bisa saja ia disebut ilmuwan bila banyak karya yang sudah dibuatnya. Tentu namanya patut diperhitungkan sebagai orang yang ahli di bidangnya.

Memalukan Negara

Kasus ini membawa dua nama besar serta gelar yang hebat pula. Ini menjadi pukulan telak bagi dunia pendidikan Indonesia, terutama perguruan tinggi. Di saat orang lain susah payah untuk meraih beasiswa ke luar negeri, justru kuliah “abal-abal” jadi sebuah kebanggaan. Mengaku kuliah di Jepang, padahal sebenarnya di Yogyakarta.

Sebenarnya, rakyat Indonesia memang sedang haus informasi yang mampu membangkitkan motivasi belajar bagi kaum muda, terutama dengan karya. Namun, kabar pembohongan ini malah membuat motivasi itu seakan hilang. Institusi pendidikan Indonesia dicoreng oleh warganya sendiri.

Padahal, mereka sudah punya hubungan relasi dengan para ilmuwan dan peneliti kelas nasional dan internasional. Mereka seharusnya bisa memberikan motivasi bagi kaum muda untuk berkarya. Bukan itu saja, gelar yang mereka dapatkan seharusnya bisa diimplementasikan ke dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Pendidikan harus menjadi yang utama. Tanpa belajar, sulit rasanya untuk mengetahui dunia dan seisinya. Penelitian untuk memahami bahwa segala apa yang ada di dunia ini memiliki keterkaitan dan bisa ditelaah dengan angka dan teori. Pengabdian masyarakat sebagai ajang eksistensi diri untuk memberikan ilmu kepada masyarakat. Memberantas kebodohan, meningkatkan kualitas hidup manusia dalam berpendidikan.

Eksistensi manusia bukan hanya lewat omongan di media massa. Tanpa adanya karya yang jelas. Sebab, sebuah karya seorang ilmuwan atau peneliti, dapat dibuktikan bukan lewat mulut, tapi lewat bukti.

Ibarat menulis, seorang penulis tidak boleh asal “caplok” tulisan lain. Ia dituntut untuk menuangkan gagasannya dan dikuatkan dengan teori dan data yang valid. Ditulis atau diketik oleh tangannya sendiri. Menganalisis dengan akal pikiran.

Seorang rektor atau peneliti pun boleh saja salah. Akan tetapi, mereka pantang berbohong. Kejujuran menjadi modal utama. Sebagai rektor dan calon ilmuwan, integritas adalah modal penting dalam mengarungi persaingan di dunia pendidikan. Sulit ditawar lagi bahwa kejujuran dalam dunia pendidikan adalah hal yang penting. Sebab, integritas adalah harga mati bagi seorang ilmuwan.

Media Massa Waspada

Dwi Hartanto sering kali diundang beberapa program televisi terkenal di Indonesia. Alangkah lucunya, ketika media itu juga terkena “Jebakan Batman” ala Dwi. Banyak media yang merasa ditipu. Dia bukan membuat karya, malah membodohi para khalayak.

Patut diingat, komunkasi bersifat irreversible. Perkataan yang sudah diucapkan, sulit ditarik kembali. Dwi dan Djaali sudah membohongi masyarakat dengan ucapannya di media. Mereka harus bertanggung jawab atas kelakuan nakalnya. Meminta maaf kepada rakyat Indonesia yang terlanjur sakit hati.

Ini juga sebagai pengingat media massa agar mencari narasumber yang sudah jelas kredibilitasnya. Punya hasil nyata dan membanggakan negara. Bukan karya “proyek-proyekan” yang antah brantah untuk tugas kuliah semata.

Ilmuwan sesungguhnya adalah berani mengakui kesalahan dan terus mencobanya. Sebab, sebuah karya akan sempurna bila terus dikembangkan dan diterapkan dalam hidup. Bukan untuk kesenangan diri sendiri.

Nur Cholis
Seorang mahasiswa yang sedang terjebak antara Sepakbola dan Fotografi
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Albino: Mistik dan Ide Kuno

Pada tahun 2018, National Geographic mengeluarkan laporan yang menyuarakan adanya sikap diskriminasi terhadap Albinisme. Sejatinya, Albino merupakan sebutan kepada orang-orang yang memiliki perbedaan genetik...

Mudik: Tradisi Nasional Indonesia

Aktivitas masyarakat di Indonesia yang biasa dilakukan di bulan Ramadhan selain menjalankan puasa adalah melakukan perjalanan mudik dan kemudian berlebaran di kampung halaman. Puasa...

Penerapan Asas Itikad Baik dalam Perjanjian Jual Beli Tanah

Jual beli merupakan salah satu perjanjian bernama, jual beli ini adalah perjanjian yang paling banyak dipakai masyarakat baik oleh masyarakat bisnis maupun bukan bisnis....

Idealitas Tata Kelola Perpustakaan

Perpustakaan sebagai pusat informasi menjadi salah satu media yang dituju oleh masyarakat untuk mendapatkan informasi melalui literatur melalui bahan pustaka tercetak. Meskipun teknologi semakin...

Negara dan Usaha Pemajuan Kebudayaan

Indonesia dikenal dunia sebagai negara yang multikultural dengan pusparagam kebudayaannya yang sangat melipah ruah, dari ujung Sabang di Aceh sampai tanah Merauke di Papua...

ARTIKEL TERPOPULER

Khotbah Idulfitri: Inikah Ramadan Terakhir Kita?

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا Ramadan berlalu dan kita masih duduk termangu. Apa saja yang telah kita lakukan...

Penerapan Asas Itikad Baik dalam Perjanjian Jual Beli Tanah

Jual beli merupakan salah satu perjanjian bernama, jual beli ini adalah perjanjian yang paling banyak dipakai masyarakat baik oleh masyarakat bisnis maupun bukan bisnis....

Negara dan Usaha Pemajuan Kebudayaan

Indonesia dikenal dunia sebagai negara yang multikultural dengan pusparagam kebudayaannya yang sangat melipah ruah, dari ujung Sabang di Aceh sampai tanah Merauke di Papua...

Beberapa Kesalahan Berpikir Kita

Proses berpikir merupakan salah satu komposisi dari pola aktifitas manusia dalam kehidupan, sekaligus menjadikan nya sebagai prestise seseorang agar terhindar dari segala bentuk keterasingan...

Agility di Pertamina

Membaca berita mengenai pengangkatan direksi Pertamina dengan tagline lebih agile, fokus, dan cepat, menggoda penulis untuk kembali mengulas kebijakan-kebijakan pemerintah dari kacamata agile. Pertama kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.