Selasa, Juli 23, 2024

Instrument Manajemen Risiko K3

Elfira Hani Pranata
Elfira Hani Pranata
Peminatan K3 Angkatan 2018 Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Kecelakaan kerja adalah sesuatu yang tidak terencana, tidak terkontrol, dan sesuatu hal yang tidak diperkirakan sebelumnya sehingga mengganggu efektivitas kerja seseorang (Ramadhan, 2017). Sehingga, diperlukan suatu manajemen risiko untuk dapat mengatasi risiko kecelakaan kerja di lingkungan perusahaan yang dapat merugikan perusahaan dan menurunkan produktivitas (Purwanto, 2015).

Berdasarkan peraturan pemerintah Republik Indonesia No. 50 Tahun 2012 tentang penerapan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (SMK3) pada lampiran 1 pedoman penerapan SMK3 wajib melaksanakan perencanaan K3 yang didalamnya berisi identifikasi potensi bahaya, penilaian dan pengendalian risiko (Indragiri, 2018).

Manajemen risiko atau HIRADC adalah suatu pendekatan terstruktur atau metodologi dalam mengelola ketidakpastian yang berkaitan dengan ancaman; suatu rangkaian aktivitas manusia termasuk: Penilaian risiko, pengembangan strategi untuk mengelolanya dan mitigasi risiko dengan menggunakan pemberdayaan atau pengelolaan sumberdaya (Yuliani, 2017).

Identifikasi risiko dilakukan pada variable risiko yang di nilai dan di evaluasi untuk diketahui, di identifikasi, dan ditandatangani dengan metode penilaian check list, thinking prompts, HAZOP, past data, audits, EMEA, dan critical incident analysis (Kriswati, 2020). Dalam bukunya, Ramli (2010) menjelaskan bahwa keberadaan manajemen risiko dalam operasional perusahaan erat kaitannya dengan keselamatan dan kesehatan kerja.

Munculnya aspek dalam keselamatan dan kesehatan kerja disebabkan karena adanya risiko yang mengancam keselamatan pekerja, sarana, dan lingkungan kerja sehingga harus dikelola dengan baik. Adanya manajemen risiko dalam proses industri mendorong upaya keselamatan dalam mengendalikan semua resiko yang ada, sehingga keberadaan manajemen risiko tidak dapat dipisahkan dengan manajemen K3. Instrument manajemen risiko terdiri dari Severity assesment, Root cause analysis, Failure mode and Effect analysis, Risk Register (Purwanto, 2015).

Severity assessment ialah menentukan tingkat keparahan risiko.Variabel yang digunakan untuk menilai severity ialah dampak risiko dan Probabilitas. Severity menentukan tingkat keparahan dengan menggunakan dampak risiko dan probability.

Root Cause Analysis (RCA) atau kategori merah dan kuning dengan menggunakan langkah sebagai berikut yakni: bentuk tim RCA untuk suatu kejadian, pelajari kejadian analisis sebab, menyusun rencana tindakan, dan melaporkan proses analisis dan temuan serta pelaksanaan sampai hasil.

Failure mode and effect analysis atau FMEA adalah suatu alat mutu untuk mengkaji suatu prosedur secara rinci, dan mengenali model-model adanya kegagalan atau kesalahan pada suatu prosedur, melakukan penilaian terhadap tiap model kesalahan atau kegagalan dengan mencari penyebab terjadinya, mengenali akibat dari kegagalan atau kesalahan, dan mencari solusi dengan melakukan perubahan desain atau prosedur (Ramadhan, 2017).

Metode Fishbone Analysis pada tahap identifikasi risiko dilakukan pemetaan dengan menggunakan diagram tulang ikan (Fishbone) untuk menemukan sumber-sumber risiko yang ada. Berdasarkan teori diagram fishbone, kemungkinan terjadinya sumber-sumber risiko berasal dari 4 kategori yaitu : 1. Man (Manusia atau pekerja), 2. Material (Semua bahan atau material yang digunakan dalam proses produksi), 3. Machine (Mesin-mesin atau peralatan yang digunakan dalam proses produksi), 4. Methode (Metode atau prosedur yang dipakai dalam kegiatan produksi) (Purwanto, 2015).

Daftar periksa atau Checklist adalah suatu teknik analisis yang berisikan daftar item tertentu untuk mengidentifikasi jenis dari yang diketahui dari bahaya, kekurangan design serta situasi kecelakaan potensial yang terkait dengan peralatan proses yang umum dan operasi (Indragiri, 2018).

Menurut Syed Mohammed Rasull, HAZOP merupakan pemeriksaan terstruktur dan sistematis terhadap suatu proses atau operasi yang direncanakan atau yang sudah ada untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi masalah yang mungkin merupakan risiko bagi personil atau peralatan, atau mencegah operasi yang efisien Hazard and Operability (HAZOP) Analysis merupakan suatu teknik untuk mengidentifikasi dan menganalisis bahaya dan masalah operasional dari suatu sistem.

Pada metodologinya analisis HAZOP menurut American Institute of Chemical Engineers terlebih dahulu menentukan node atau titik batasan spesifik diterapkannya penyimpangan agar lebih terorganisir dalam menguraikan proses yang terjadi. Analisis HAZOP dilakukan dengan cara membandingkan daftar parameter sistem dengan daftar guide word. Adapun informasi dasar minimal yang diperlukan dari lembar kerja analisis HAZOP diantaranya item yang dianalisa, guide words, efek pada sistem jika guide word terjadi, hazard atau deviasi yang dihasilkan, risk assessment, rekomendasi untuk mengeliminasi atau mengurangi bahaya, untuk parameter dan guide word (Hakim, 2017).

Metode What if Analysis merupakan suatu teknik untuk mengidentifikasi bahaya dengan pendekatan bertanya menggunakan kata kunci what if (bagaimana jika). Keberhasilan dalam penggunaan metode ini dipengaruhi oleh pengetahuan pengguna atas sistem dan proses yang di analisis. Laporan kerja What if Analysis dibuat sampai penilaian risiko dengan menghitung nilai RRN (Risk Rating Number). Hasil perhitungan RRN ini dapat mengetahui potensi bahaya yang mempunyai nilai risiko paling tinggi (high risk) sampai nilai risiko paling rendah (low risk).

Dengan demikian dapat dilakukan penanganan yang tepat sebagai usaha untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja dan dapat memberikan usulan rekomendasi perbaikan untuk mengurangi risiko kecelakaan kerja pada pekerja (Anthony, 2020).

DAFTAR PUSTAKA

Anthony MB. 2020. Analisis Risiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) pada Pengoperasian Overhead Crane Menggunakan Metode SWIFT (Structured What If Technique) di PT. ABC. Jurnal Media Teknik & Sistem Industri 4(1): 30-38.

Hakim AR. 2017. Implementasi Manajemen Risiko Sistem Kesehatan, Keselamatan Kerja dan Lingkungan (K3l) pada Pembangunan Flyover Pegangsaan 2 Kelapa Gading Jakarta Utara. Media Komunikasi Teknik Sipil 23(2): 113-123.

Indragiri S, Triesda Y. 2018. Manajemen Risiko K3 Menggunakan Hazard Identification Risk Assessment And Risk Control (Hirarc). Jurnal Kesehatan 9(1): 39-52.

Kriswati S, Ummi C, Sri S. 2020. Analisis Manajemen Risiko Bekisting Konvensional Pada Pelaksanaan Pembangunan Proyek The Trans Icon Surabaya. Neo Teknika 6(2): 12-19.

Purwanto A, Dwi IH, Joko H. 2015. Mitigasi Risiko Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K3). Dinamika Teknik 10(1): 38-47.

Ramadhan F. 2017. Analisis Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) Menggunakan Metode Hazard Identification Risk Assessment and Risk Control (HIRARC). Seminar Nasional Riset Terapan 2017: 164-169.

Yuliani U. 2017. Manajemen Risiko Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K3) Pada Infrastruktur Gedung Bertingkat. Jurnal Desain Konstruksi 16(1): 92-100.

Elfira Hani Pranata
Elfira Hani Pranata
Peminatan K3 Angkatan 2018 Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.