Sabtu, April 17, 2021

Indonesia Bubar 2030, Realita, Fiksi, atau Fiktif?

Hate Spin: Politik Manipulasi Kebencian

Intoleransi menjadi tema sentral dalam kehidupan bermasyarakat dewasa ini menyusul dominannya diskursus kesetaraan dan kebebasan. Tentu boleh dikatakan bahwa keduanya menandakan sebuah relasi kausalitas. Ide...

Mengulang Kemajuan Bangsa Eropa di Indonesia Melalui Agama

Beberapa tahun lalu, Indonesia memiliki musim tambahan, musim panas, musim hujan dan musim politik. Setiap musim memiliki fenomenanya masing-masing yang sudah dimaklumi tiap tahunnya....

Berbenah Akurasi Data Pangan

Data merupakan unsur penting dalam segala kebijakan. Bila diibaratkan, data menjadi pondasi sedang kebijakan menjadi rumahnya. Rumah yang bertujuan melindungi penghuninya akan mudah roboh...

Wiranto Sang Jenderal

Jenderal TNI (Purn) Dr. H. Wiranto, S.H. putra kelahiran Yogyakarta. Wiranto merupakan tokoh militer. Wiranto pernah menjabat Panglima TNI Periode 1998-1999. Wiranto sekarang menjabat...
Mustaq Zabidi
Penulis Lepas

Pidato Prabowo Subianto mengenai Indonesia bubar 2030 memunculkan berbagai argumentasi yang beragam di masyarakat. Indonesia diklaim bubar 2030 ini merujuk pada salah satu novel berjudul Ghost Fleet yang ditulis oleh P.W.Singer dan August Cole menerangkan tentang perang dunia selanjutnya. Novel ini menceritakan skenario perang antara China dan Amerika pada 2030 dan menyinggung soal Indonesia tidak ada lagi tahun 2030 seperti yang disampaikan Prabowo Subianto.

Pernyataan Prabowo Subianto kemudian menimbulkan sedikit kegaduhan di masyarakat. Kasak-kusuk mengenai validitas darimana referensi pernyataan ini muncul sehingga dijadikan kekuatan dalam menyampaikan sebuah isu. Ada yang mengklaim bahwa Prabowo Subianto sedang bermain politik dan sengaja memanaskan suasana menjelang tahun politik. Prabowo Subianto dinilai sesumbar dalam berpidato karena dianggap tidak mampu menunjukkan soal akurasi data.

Novel Ghost Fleet sendiri merupakan karya fiksi, bukan prediksi seperti yang diungkapkan oleh penulisnya pada bagian catatan penulis. Novel setebal 400 halaman ini menyebut nama Indonesia beberapa kali dalam perang China dan Amerika. Namun, novel ini seakan hidup ketika melihat fenomena saat ini mengenai ketergantungan negara terhadap China. Pernyataan Prabowo Subianto setidaknya bernada positif karena dari sini penting kiranya menimbang kembali sebatas mana kekuatan China.

Kekuatan China sangat besar untuk menghegemoni negara, disisi lain lihai dalam mencerna selera pasar. Hal ini terbukti dengan maraknya berbagai produk dalam negeri yang made in China. Produk tersebut berupa, handphone, laptop dan produk elektronik, alat pertanian dan sebagainya. Ini artinya penguasaan terhadap ekonomi terbuka lebar sehingga negara perlu hadir dalam membendung penguasaan di sektor strategis.

Negara atau perusahaan mana yang tidak jengkel melihat masifnya perilaku ilegal terhadap produk perusahaan yang dibegal oleh China. Duplikasi produk marak terjadi, menggantikan produk negara lain yang harganya jauh lebih murah dengan kualitas yang tak terpaut jauh. Ini artinya praktek atau siasat China mulai berjalan yang perlahan mengendalikan pasar ekonomi dunia.

Pernyataan Prabowo Subianto bukan semata perdebatan soal novel yang dibaca itu fiksi atau realita akan tetapi tidak ada salahnya dijadikan sebagai bagian rambu-rambu. Menakar kembali seberapa besar potensi penguasaan ekonomi yang akan dikendalikan China. Hal ini terlihat dari geliat China untuk menjadi raja ekonomi dunia dengan dalih menyingkirkan Amerika.

Presiden D. Trump di kepemimpinanya sempat melontarkan pernyataan mengenai upaya pemberlakuan tarif pajak yang tinggi bagi barang impor, terkhusus alumunium dan baja. Pernyataan ini mengarah pada upaya Amerika untuk menggembosi China karena dinilai lebih banyak diuntungkan dari perdagangan bilateral.

Selain itu, D. Trump terlihat menakut-nakuti China untuk mencari dukungan sekutu dengan alasan perang dagang. Meskipun, disisi lain Amerika mengalami defisit neraca yang mengakibatkan adanya pembengkakan.

China dianggap berbahaya oleh banyak negara karena akan menjadi role model ekonomi global. Keberhasilan reformasi ekonomi yang digagas oleh Mao Dong semakin menguatkan peran China dalam praktek perdagangan antar negara. Sulit dipercaya, hanya butuh 30 tahun ekonomi China bisa bangkit dan setara dengan negara lain. Bahkan, negara sekaliber Amerika kini dibuat kelimpungan oleh strategi dagang China.

Di sisi lain, China dirasa menakutkan dalam kaitannya soal peminjaman hutang. Srilanka, Malaysia merupakan korban dari praktek diplomasi perangkap hutang. China akan lebih tertarik memberikan pinjaman hutang pada negara yang sebetulnya sedang berkonsentrasi pada pembangunan infrastruktur karena disitu nilai investasi akan berjalan. Kini, Indonesia masuk dalam deretan negara penghutang China.

Kegagalan Srilanka dan Malaysia dalam membayar hutang terpaksa menswastakan hasil pembangunan infrastrukturnya pada China. Sektor strategis yang sebetulnya dikomersilkan untuk kepentingan ekonomi masyarakatnya justru dikelola oleh China. Pelabuhan dan bandara yang ditujukan sebagai akses percepatan ekonomi nyatanya menjadi tidak efektif. Srilanka terpaksa gigit jari dan kini menjadi negara penikmat atas keberhasilan China dalam membuat perangkap hutang negara mitra.

Presiden Joko Widodo diharapkan lebih berhati-hati menyikapi mudahnya China menggelontorkan investasinya pada pembangunan infrastruktur. Kegagalan Srilanka dan Malaysia dalam menebus pinjaman hutang setidaknya menjadi catatan penting bahwa kegagalan tersebut harus menjadi pembelajaran. China sangat senang ketika uangnya berjalan, sehingga memudahkan mekanisme peminjaman yang ramah apalagi proyek infrastruktur membutuhkan dana yang besar dan cepat.

Bahasa panggung Prabowo Subianto sebetulnya menjelaskan pada publik bahwa China bukanlah negara yang dungu dalam memberikan pinjaman hutang. Andaikata, negara tidak mampu menebus pinjaman tersebut dikhawatirkan tidak butuh waktu lama Indonesia bisa bubar ditengah jalan.

Faktanya, negara tidak hanya impor investor namun tenaga kerja asing China turut pula diimpor. Hal ini dirasa bukan sebagai kelaziman akan tetapi sebagai langkah membuka perangkap baru potensi kegagalan menciptakan pertumbuhan ekonomi. Jalan Tol yang rencananya akan diswastakan asing, bandara,dan pelabuhan pun demikian.

Lalu kemana arah pembangunan infrastruktur ini, benar sebagai akses pertumbuhan ekonomi atau penguasaan asing. Akankah geliat China seperti ini dikategorikan fiksi atau fiktif?

Mustaq Zabidi
Penulis Lepas
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Daniel Dhakidae, Kekuasaan dan Pelanggaran HAM

“Kekuasaan yang tidak memiliki kehormatan, tidak akan pernah mampu menghadirkan keadilan.” Ungkapan yang keras, menohok hati itu diucapkan oleh Bung Daniel Dhakidae awal tahun 2020...

Generasi Z dan Radikalisme Beragama

Peristiwa ledakan bom di Gereja Katedral Kota Makassar pada 28 Maret 2021 lalu, menggegerkan masyarakat Indonesia. Bukan hanya karena jenis ledakan yang masuk kategori...

Memandang Terorisme Melalui Evolusi Kultural

Bangsa Indonesia tengah dikejutkan dengan serangkaian serangan terorisme seperti ledakan bom di Gereja Makassar dan serangan ke Mabes Polri. Terorisme setidaknya telah merenggut 21.000...

Peran Besar Generasi Milenial Menuju Indonesia Maju

Menurut data Badan Pusat Statistika (2020), Indonesia memiliki jumlah penduduk yang cukup tinggi yaitu sekitar 270 juta jiwa dengan tingkat pertumbuhan penduduknya sebesar 1,25%...

Dua Sisi Media Digital Terhadap Budaya Lokal

Mari kita mulai membaca dan sambil memperhatikan sekitar kita tentang Media,Budaya, dan Jati Diri. Mungkin kita sudah mengetahui istilah Globalisasi. Globalisasi itu ditandai dengan...

ARTIKEL TERPOPULER

Gagalnya Kudeta Terhadap Raja Yordania?

Pada 4 April 2021, Panglima Militer Yordania, Mayjen Yousef Huneiti menyatakan bahwa pihaknya telah meminta secara resmi Pangeran Hamzah untuk menghentikan semua kegiatan atau...

Eren Yeager, Kesadaran dan Kebebasan

Pemberitahuan: esai ini terdapat cuplikan cerita Attack on Titan (AoT) episode 73. Pada musim akhir seri AoT, Eren Yeager tampil dengan kondisi mental yang jauh lebih...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Daniel Dhakidae, Kekuasaan dan Pelanggaran HAM

“Kekuasaan yang tidak memiliki kehormatan, tidak akan pernah mampu menghadirkan keadilan.” Ungkapan yang keras, menohok hati itu diucapkan oleh Bung Daniel Dhakidae awal tahun 2020...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.