Sabtu, Mei 8, 2021

Hegemoni Teks: Buku Sebagai Berhala Intelektualitas

95% Keluarga Muda Terancam Menjadi Gelandangan Masa Depan

Pernikahan menjadi salah satu momen yang istimewa bagi siapa saja. Namun siapa sangka, pernikahan yang tidak dilakukan dengan pertimbangan dan perencanaan matang, justru akan...

Pandemi bagi Kami, Pedagang Kecil

Virus corona, adalah dua kata yang terasa tak asing lagi bagi setiap indera manusia. Telinga yang selalu mendengar kabar yang tidak seimbang antara kematian...

Amerika Serikat Pasca Trump

Membayangkan sebuah negara ketika beralih kekuasaan politik memang sangat menarik. Manuver, Gaya, dan Arah haluan pun bisa 180 derajat berbeda. Haluan ini menjelaskan bahwa...

Kita Perlu Belajar dari Tragedi Bom Atom Hiroshima (Bagian 2)

Pada tanggal 25 Februari, satu minggu sebelum kasus positif corona pertama di Indonesia, pemerintah menerbitkan stimulus ekonomi jilid I dengan menggelontorkan anggaran sebesar Rp10,3...
Saroel
Mahasiswa Antropologi Sosial Universitas Indonesia. Tengah menjadi Kepala Divisi Eksternal Biro Penelitian dan Pengembangan BEM FISIP UI 2020 dan Wakil Kepala Departemen Kajian dan Literasi KSM Eka Prasetya UI 2020. Magang di Geotimes.

Beberapa waktu lalu terdapat bazar buku yang diselenggarakan di ICE BSD dan beberapa kota-kota besar. Ya, Big Bad Wolf Book atau biasa disingkat dengan BBW. Bazar buku yang mengklaim terbesar di dunia, dan menjual berbagai macam tipe buku dengan diskon besar-besaran yang membuat harga jualnya semakin murah. Tentu, siapa yang tak melewatkan kesempatan emas bagi para penikmat buku ini? Siapa yang tak tertarik untuk membeli dan memborong buku-bukunya? Boom!

Saya sendiri termasuk orang yang tak melewatkan kesempatan tersebut. melihat-lihat, menikmati setiap buku yang bertumpuk pada rak-rak, dan sehingga tanpa disadari saya kalap untuk memborong buku-buku yang menarik minat saya untuk membacanya; “menarik nih, udah ah beli aja mumpung lagi murah, lumayan juga buat koleksi”. Sebutan sebagai bibliophile mungkin cocok untuk orang seperti saya, dan saya pun yakin bahwa sebagian besar orang-orang yang hadir ke BBW adalah orang-orang bibliophile, yang menurut Merriam-Webster adalah seseorang yang benar-benar mencintai buku baik itu membacanya dan mengoleksinya.

Pada titik ini saya menyadari suatu hal penting, bahwa saya dan orang-orang yang hadir pada BBW lalu adalah orang-orang yang telah terjebak dalam dominasi budaya intelektualitas yang menganggap bahwa teks -buku- adalah sumber pengetahuan, dan bahwa teks membuat pembacanya kaya akan ilmu dan wawasan. Sehingga tanpa kita disadari, membeli dan mengkonsumsi buku-buku merupakan sebuah norma budaya umum yang telah hadir pada diri kita tanpa paksaan.

Terlebih, kita seringkali mengglorifikasi pengetahuan yang kita miliki bersumber dari teks-teks atau buku, sekaligus juga mengkritik seseorang yang memiliki pengetahuan dengan menanyakan sumber buku apa yang telah dibacanya, merupakan sebuah pemberhalaan intelektualitas. Meminjam  konsep dari terminologi Gramsci, lebih lanjut saya menyebut fenomena ini sebagai hegemoni teks.

Mengapa demikian? Sebelum lebih jauh, hegemoni bagi Gramsci adalah jenis hubungan sosial khusus yang kelompok dominannya terus mengartikulasikan visi, ideologi maupun norma budayanya untuk mempertahankan posisinya dengan persetujuan secara spontan, bahkan tidak disadari. Hal ini lantas diklaim sebagai suatu hal yang universal sehingga pandangan kelompok tertentu menjadi norma budaya umum tanpa disadari. Inilah yang menjadi sorotan.

Berdasarkan apa yang telah dikemukakan Gramsci dengan teori hegemoninya, hal tersebut dapat dikontekstualisasikan pada norma budaya pemberhalaan buku ini. Hal ini merupakan sesuatu yang absurd ketika realitas yang ada dalam kehidupan berpengetahuan hanya tervalidasi melalui teks-teks dan buku; basis pengetahuan yang kita miliki hanyalah dan haruslah semata-mata pada tulisan.

Parahnya, hal ini merupakan norma budaya yang dianggap lazim dan sah untuk dijalani, sekalipun dalam konteks perguruan tinggi atau universitas. Sehingga kerap kali pernyataan atau argumentasi yang berdasarkan pengalaman aktual dan konkret dianggap tak memiliki kekuatan apa-apa hanya dikarenakan tak memiliki validitas berupa tulisan dan tak dibukukan.

Memang kita pun tak dapat menafikan pula bahwa buku adalah sumber ilmu. Theodore Roosevelt dalam pidatonya pun juga menyebutkan: “Aku adalah bagian dari semua yang telah aku baca”.

Namun, yang jadi permasalahan adalah telah terjadi glorifikasi masif terhadap teks-teks dan buku, apa yang disebutkan oleh Roosevelt diatas adalah perihal teknis konservasi pengetahuan saja, dan kebetulan buku adalah pilihan Roosevelt. Jika memang budaya tulisan adalah sumber pengetahuan, bagaimana suku Bajo sebagai ‘pengembara laut’ yang tak pernah akrab dengan budaya aksara dapat mengerti cara menyelam dan menurunkan pengetahuan yang dimilikinya kepada generasi berikutnya?

Pun juga kita tak dapat menafikan pula bahwa terdapat aforisme latin yang berkata Verba Volant Scripta Manent, yang lantas membuat Pramoedya Ananta Toer menuliskan kutipan pada salah satu roman tetraloginya Rumah Kaca, yaitu: “Menulis adalah bekerja untuk keabadian”.

Namun kini dengan perkembangan zaman dan teknologi, banyak sekali instrumen konservasi pengetahuan berupa visual, audio, hingga audio-visual. Hal tersebut hanyalah perkara teknis bagaimana pengetahuan dikonservasi sehingga dapat bertahan lintas-zaman. Mungkin saja, jika Pramoedya masih hidup saat ini, ia akan merevisinya dan mengatakan “Ngevlog adalah bekerja untuk keabadian”, siapa yang tahu?!

Mungkin hal ini terdengar sangat memaksakan, namun begitulah yang terjadi pada lingkungan kita ini hari-hari ini. Pun dalam tulisan ini, saya pun tetap menggunakan tradisi tulisan sebagai media penyampaian argumentasi dan sumber untuk mengisi tulisan ini. Bukan karena instrumen lain tak bisa dijadikan sumber, namun lebih kepada keabsahan dan validitas data yang digunakan dalam kepenulisan. Hal ini yang saya amini sebagai bentuk dari hegemoni teks.

Namun suatu hal yang pasti, bahwa berpengetahuan bukanlah semata ingin membaca banyak teks tulisan, lantas memberhalakan buku sebagai sumber intelektualitas. Lebih dari itu, berpengetahuan adalah sikap rakus akan ilmu dan wawasan, sikap yang berusaha memahami suatu hal secara komprehensif dan kritis. Singkatnya, bukan tekstualitas dan buku-bukulah yang harus ditegakan, namun spirit akan berpengetahuanlah yang perlu untuk terus dibudayakan. Salam!

Saroel
Mahasiswa Antropologi Sosial Universitas Indonesia. Tengah menjadi Kepala Divisi Eksternal Biro Penelitian dan Pengembangan BEM FISIP UI 2020 dan Wakil Kepala Departemen Kajian dan Literasi KSM Eka Prasetya UI 2020. Magang di Geotimes.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Idealitas Tata Kelola Perpustakaan

Perpustakaan sebagai pusat informasi menjadi salah satu media yang dituju oleh masyarakat untuk mendapatkan informasi melalui literatur melalui bahan pustaka tercetak. Meskipun teknologi semakin...

Negara dan Usaha Pemajuan Kebudayaan

Indonesia dikenal dunia sebagai negara yang multikultural dengan pusparagam kebudayaannya yang sangat melipah ruah, dari ujung Sabang di Aceh sampai tanah Merauke di Papua...

Pembelajaran Jarak Jauh, Efektifkah?

Sejak ditetapkannya pandemi Covid-19 di Indonesia, banyak sektor yang terdampak, mulai dari ekonomi, pariwisata, sosial dan budaya termasuk sektor pendidikan. Pembelajaran tatap muka (offline) yang selama...

Memperkuat Proteksi Konstitusi

Akhir-akhir ini, diskursus mengenai perpanjangan masa jabatan presiden menjadi tiga periode semakin menguat. Untuk masa sekarang, Pasal 7 UUD NRI 1945 menegaskan pembatasan masa...

Orientalisme, Prancis, dan Kita

Kita tentu masih ingat beberapa bulan lalu hebohnya sebuah kasus di Prancis mengenai gambar Nabi Muhammad yang dianggap melecehkan Islam, yang menuai reaksi keras. Dalam...

ARTIKEL TERPOPULER

Khotbah Idulfitri: Inikah Ramadan Terakhir Kita?

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا Ramadan berlalu dan kita masih duduk termangu. Apa saja yang telah kita lakukan...

Menjawab Ahmad Daryoko, Parasit 212

Sudah sejak lama orang ini kerap menyebarkan kabar bohong. Motif di balik itu sebenarnya karena sakit hati. Orang ini pernah jadi Ketua Serikat Pekerja...

Beberapa Kesalahan Berpikir Kita

Proses berpikir merupakan salah satu komposisi dari pola aktifitas manusia dalam kehidupan, sekaligus menjadikan nya sebagai prestise seseorang agar terhindar dari segala bentuk keterasingan...

Kartini-Kartini 4.0

“Habis bikin kopi, sachet nya jangan dibuang sembarangan, pilah ke tempat sampah plastik!” begitu kata istri. Alhasil, saya harus memungut ulang sachet plastik kopi...

Agility di Pertamina

Membaca berita mengenai pengangkatan direksi Pertamina dengan tagline lebih agile, fokus, dan cepat, menggoda penulis untuk kembali mengulas kebijakan-kebijakan pemerintah dari kacamata agile. Pertama kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.