Rabu, Juni 16, 2021

Gadget sebagai Sumber Pendidikan

Sex (in) Equality

Diskriminasi atau bias gender sering ditemykan dalam pemberitaan dalam media konvensional amaupun media online, dan secara tidak langsung konten dari pemberitaan tersebut merepresentasikan bentuk...

Dejavu Pilpres 14/19 (Mudah ditebak)

Duel ulang pertarungan pilpres antara Jokowi vs Prabowo menjadi sajian kontestasi politik yang bisa dikatakan membosankan. Ini tidak lain karena tidak adanya pilihan lain,...

Ritus Ekonomi Ramadhan

Sejak awal hingga pertengahan Ramadhan kali ini beredar materi kritik, peringatan sekaligus sindiran atas konsumtifisme di pesan instan maupun media sosial. Sebagian besarnya menitikberatkan...

Ajak Rakyat Memilih, Bukan Memaksa Rakyat Memilih

Meminjam istilah Almarhum Sutan Batoegana, pemilu tahun 2014 dan pilkada 2017 sangatlah “ngerih-ngerih sedap”. Kita dipertontonkan mengenai pentingnya dan sakralnya sebuah jabatan. Harga mati...
Nur Jannah
Penulis

Bicara masalah pendidikan tak lepas dari pengetahuan. Karena, apa pun pendidikan itu pasti terkait dengan ilmu pengetahuan. Namun, bagaimana dan seperti apa perolehannya? Terkadang tidak pernah kita sadari.

Di sini, saya akan membahas mengenai gadget. Hampir seluruh manusia di muka bumi ini sudah mengenal gadget. Tidak pandang bulu, baik itu anak-anak, remaja, bahkan orang tua sekalipun, memiliki gadget.

Anak-anak lebih sering di rumah main game dari pada main di luar dengan teman sebayanya. Orang tua yang tidak mengerti akan efek yang dialami anak, malah orang tua itu senang anaknya di rumah ketimbang bermain dengan teman-temannya. Banyak orang tua yang sering mengabaikan anaknya hanya karena asyik bermain gadget.

Mulai dari urusan pekerjaan, update status bahkan sepelenya, hanya ingin mengecek sosial media agar tetap eksis. Tanpa di sadari, kebiasaan tersebut justru membuat dampak yang sangat buruk bagi tumbuh-kembang sang anak. Bahkan, anak pun pada akhirnya akan melihat apa yang dilakukan orang tuanya dan menjadi ketergantungan dengan gadget. Karena pada dasarnya, kecil kemungkinan seorang anak bisa kecanduan Screen Time apabila orang tuanya bijak menggunakan gadget.

Ada dua faktor yang menyebabkan anak-anak ketagihan berlama-lama di depan gadget. Pertama karena orang tua yang tidak sadar mengabaikan anak akibat sibuk dalam dunia layar elektroniknya, dan kedua orang tua yang kurang memahami bahaya paparan layar elektronik, jelas Elizaberth Santosa, psikologi anak yang hadir dalam diskusi buku “Sreen Time” di jakarta.

Namun, lanjut Elzaberth,semua kembali pada kebijakan dari orang tua masing-masing. Dengan memberikan perhatian lebih kepada anak dan gunakan gadget dengan bijak, tentu hal itu bisa dicegah sehingga anak tidak kecanduan gadget, paparkan Elizaberth.

Tidak jarang Gadget membuat orang malas melakukan aktivitas di luar rumah. Anak yang asik bermain dengan Gadget besar kemungkinan berdampak pada nilai rapor. Karena, lebih sering melihat Gadget di banding dengan buku pelajarannya. Kemudian remaja, pada saat ini dimana-mana anak remaja pada sibuk chat-chat an dan selfi-selfi dikelas. Apapun kegiatan semuanya malah di upload. Namun, Gadget ada juga positifnya, tapi jika penggunanya memakai ataupun menggunakannya dengan baik.

Berbicara mengenai perubahan, perubahan merupakan sesuatu yang unik karena perubahan-perubahan yang terjadi dalam berbagai kehidupan itu berbeda-beda dan tidak bisa di samakan,walaupun memiliki beberapa persamaan dalam prosesnya. Menurut Brian Clegg, perubahan merupakan suatu kekuatan yang sangat hebat, yang dapat memotivasi atau mendemotivasi.

Menurut A. Susanto, perubahan adalah keniscayaan yang menyertai kehidupan, dapat terjadi dimana saja, kapan saja dan menimpa siapa saja. Saya membahas lagi mengenai perubahan yang dibawa oleh Gadget. Mengenai pendidikan, jauh sebelum adanya Gadget orang dalam memperoleh ilmu itu sulit, apalagi kalau harus mencari buku yang terkait mengenai materi atau pelajaran yang di bahas, sangat jarang untuk ditemukan.

Tapi dengan adanya Gadget semua menjadi mudah apapun yang dicari melalui Gadget mendapatkan solusi dengan cepat. Pada abad 21 Gadget sudah menjadi sumber belajar bagi para pelajar terutama bagi Mahasiswa atau Mahasiswi, dengan adanya Gadget pelajar tidak harus susah payah untuk ke perpustakaan mencari referensi cukup dengan jari semua yang di cari sudah mudah untuk di dapatkan. Hampir  keseluruhan mengenai pelajaran semua sudah tersedia di dalam Gadget.

Gadget merupakan sebuah inovasi dari teknologi terbaru dengan kemampuan yang telah baik dan fitur terbaru yang memiliki tujuan atau fungsi yang lebih praktis dan lebih berguna. Seiring perkembangan pengertian gadget pun menjadi berkembang yang sering kali menganggap smartphone adalah sebuah  gadget dan juga teknologi komputer ataupun laptop telah di luncurkan produk baru juga di anggap sebagai gadget.

Fungsi gadget adalah untuk mengubah sesuatu menjadi hal yang dibutuhkan oleh manusia. Gadget yang selalu digunakan oleh pelajar dapat memengaruhi prestasi belajar siswa. Hal tersebut dapat terjadi jika pelajar tidak bisa menghindari penyalahgunaan gadget. Maka dari itu, pelajar melakukan tindakan untuk menghindari penyalahgunaan gadget. Penggunaan gadget yang terus menerus tidak hanya berdamak positif terhadap pelajar, namun juga dapat berdampak negatif.

Diantara lain dampak positifnya yaitu mempermudah komunikasi, menambah pengetahuan tentang perkembangan teknologi, memperluas jaringan persahabatan. Selain itu dampak negatifnya adalah walaupun memberikan begitu banyak bagi pemakainya, jika tidak bijak dalam penggunaannya, gadget bisa memberikan kerugian.

Manfaat gadget bagi pelajar adalah dapat mempermudah komunikasi, menambah pengetahuan tentang perkembangan teknologi, dapat mempermudah dalam mencari hiburan. Manfaat gadget di bidang pendidikan dapat memberikan siswa/pelajar memiliki akses yang mudah terhadap pengetahuan.

Tentu saja hal tersebut dapat mendukung dunia pendidikan. Siswa saat ini memiliki akses berbagai sumber mulai dari diagram, artikel, esai, dan informasi akademik lainnya yang dapat meningkatkan prestasi siswa/pelajar dalam kelas. Demikian.

 

 

Nur Jannah
Penulis
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Koperasi, Keadilan Ekonomi, Pancasila

Setiap negara pada hakikatnya menganut sebuah ideologi yang menjadi dasar bagi bangsanya dalam kehidupan bernegara. Seandainya suatu negara tidak memiliki sebuah ideologi yang dianut,...

Karya, Nama, Media: Tentang Kehebohan A.S. Laksana

Tahun 2001 saya bertemu dengan seorang pelukis dari negeri Tiongkok yang namanya belum terlalu tenar. Karya-karyanya dapat digolongkan sebagai lukisan realistik, dalam arti mengambil...

Distribusi Resiko untuk Keadilan Iklim

Saat ini, daya dukung lingkungan hidup mengalami keterbatasan di tengah kondisi iklim yang menyebabkan peningkatan potensi dan intensitas kejadian bencana. Indonesia merupakan salah satu...

Tiga Tahun Zonasi, Sudahkah Memberi Solusi?

Sistem zonasi dalam perekrutan peserta didik baru untuk semua jenjang telah berlangsung selama tiga tahun. Dan jika untuk tahun ajaran baru kelak sistem ini...

Kepalsuan Gelar Duta

Salah satu karakteristik dari masyarakat modern yang paling menonjol adalah keinginannya untuk memperoleh nilai prestise. Tentu saja, keinginan tersebut bukan hal yang berlebihan. Saat...

ARTIKEL TERPOPULER