Minggu, Mei 9, 2021

Fenomena Nilai Transfer Caleg dalam Bingkai Politik Zaman Now

Interlacing Adat and Islam in West Sumatera

Initially, doctrinal understanding in the plural tradition of Islam, especially its relation to adat in Malay-Indonesia community, especially in Minangkabau society, was held by...

Krisi Ekonomi di Masa Pandemi

Dunia hingga saat ini sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi yang tentunya berdampak buruk. Beberapa krisis ekonomi dunia yang sangat berdampak yaitu The Great...

Omnibus Law dan Kekeliruan Menafsir Investasi

Latar belakang pemerintahan Presiden Joko Widodo untuk mempercepat disahkanya RUU Omnibus Law tak lain karena harapan bahwa investasi kelak menjadi daya ungkit perekonomian Nasional. Sementara...

Hormati Jose Mourinho!

Jose Mourinho keluar dari konferensi pers sambil mengulang-ulang satu kata kepada para jurnalis. “Respect! Respect! Respect, man! Respect!” Sesaat sebelumnya, ketika ditanya tentang hasil...
Eric Fernardo
Sarjana Ilmu Politik Universitas Indonesia

“Politik adalah seni halus mendapatkan suara dari orang miskin dan dana kampanye dari orang kaya, dengan menjanjikan melindungi satu dari yang lain.” – Oscar Ameringer

Penggalan kalimat dari Oscar Ameringer menurut penulis terasa pas untuk membuka tulisan ini. Pasca hiruk-pikuk pilkada serentak 2018 yang berlangsung di 171 wilayah, masyarakat Indonesia akan kembali diramaikan oleh pertarungan politik di 2019. Terang saja, 17 Juli 2018 yang lalu merupakan batas akhir (deadline) pengajuan daftar calon anggota DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota, serta DPD RI.

Banyak berita yang lalu-lalang, mulai dari ketua umum parpol yang nyalonnya sebagai senator DPD, menteri kabinet kerja yang masih mau nyaleg DPR, tidak majunya beberapa anggota dewan petahana (incumbent) hingga yang terheboh adalah fenomena transfer caleg dengan nilai fantastis. 

Tidak bisa dipungkiri, naiknya ambang batas parlemen (parliamentary threshold) ke angka 4% menyebabkan persaingan menjadi sangat ketat dan akan berlangsung panas. Bahkan, baru-baru ini Lembaga Survei Indonesia (LSI Denny J.A.) memprediksi hanya 5 partai politik yang akan lolos ke parlemen (PDI-Perjuangan, Golkar, Gerindra, PKB, Demokrat).

LSI Denny J.A. jelas bukan lembaga survei kemarin sore, prediksi ini jelas menjadi warning bagi partai-partai lain untuk berbenah memastikan dirinya tidak terdepak dari Senayan. Alhasil, berbagai cara pastilah akan dilakukan salah satunya adalah dengan transfer caleg.

Belum ada definisi yang baku dan mengikat perihal transfer caleg ini, tapi dalam pandangan penulis transfer caleg dapat diartikan sebagai “biaya yang dikeluarkan partai politik untuk merekrut bakal calon legislatif”. Bacaleg yang direkrut dapat berasal dari partai politik lain ataupun yang bukan dari partai politik (dalam sepak-bola seperti free-agent).

Tidak tanggung-tanggung seseorang yang telah menduduki jabatan sebagai anggota dewan-pun dapat berpindah partai melalui proses transfer caleg ini. Yang menjadi pembeda dengan sepak-bola adalah, bila Juventus harus merogoh kocek ratusan juta euro sebagai biaya transfer kepada Real Madrid untuk mendatangkan Cristiano Ronaldo (plus gaji puluhan juta euro pertahun).

Dalam fenomena transfer caleg ini, partai politik yang baru tidak perlu memberi kompensasi apapun kepada partai anggota dewan yang lama. Artinya partai politik baru cukup menjalin kesepakatan dengan caleg-nya.

Untuk menghaluskan penyebutan, partai politik dan para caleg rekrutan menyebutnya sebagai “dana konsolidasi”, “kontrak TV (bagi caleg artis)”, “bonus pendaftaran”, “bantuan logistik”, “uang operasional”, “ongkos kampanye” dan berbagai istilah lainnya.

Dalam bingkai politik zaman now, dengan sistem pemilu proporsional terbuka yang amat liberal. Faktor figur atau personal caleg memang lebih berpengaruh ketimbang asal partainya (58% melihat figur & 30% melihat partai: hasil riset Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia-LIPI). Data ini tentu membuat partai politik berbondong-bondong mencari figur-figur yang voters friendly, artinya calon yang diusung sebisa mungkin harus mewakili kalangan atau kelompok tertentu.

Figur-figur popular person juga akan menjadi daya tarik bagi partai politik untuk dicalonkan, seperti artis, public figure yang telah dikenal oleh masyarakat untuk meningkatkan suara agar lolos parliamentary threshold.

Lebih dari 20 juta penduduk Indonesia terkategori miskin (penghasilan dibawah Rp 400rb/bulan), belum lagi tingkat ketimpangan (gini ratio) yang masih tinggi 0,389 ditambah menguatnya sentimen primordial berlandaskan SARA membuat penulis masih agak meragukan rasionalitas pemilih di tahun 2019.

Fenomena transfer caleg menjadi isyarat dari partai politik bahwa seluruh cara dan jalan harus ditempuh guna mengamankan kedudukan fraksi di DPR.

Eric Fernardo
Sarjana Ilmu Politik Universitas Indonesia
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Albino: Mistik dan Ide Kuno

Pada tahun 2018, National Geographic mengeluarkan laporan yang menyuarakan adanya sikap diskriminasi terhadap Albinisme. Sejatinya, Albino merupakan sebutan kepada orang-orang yang memiliki perbedaan genetik...

Mudik: Tradisi Nasional Indonesia

Aktivitas masyarakat di Indonesia yang biasa dilakukan di bulan Ramadhan selain menjalankan puasa adalah melakukan perjalanan mudik dan kemudian berlebaran di kampung halaman. Puasa...

Penerapan Asas Itikad Baik dalam Perjanjian Jual Beli Tanah

Jual beli merupakan salah satu perjanjian bernama, jual beli ini adalah perjanjian yang paling banyak dipakai masyarakat baik oleh masyarakat bisnis maupun bukan bisnis....

Idealitas Tata Kelola Perpustakaan

Perpustakaan sebagai pusat informasi menjadi salah satu media yang dituju oleh masyarakat untuk mendapatkan informasi melalui literatur melalui bahan pustaka tercetak. Meskipun teknologi semakin...

Negara dan Usaha Pemajuan Kebudayaan

Indonesia dikenal dunia sebagai negara yang multikultural dengan pusparagam kebudayaannya yang sangat melipah ruah, dari ujung Sabang di Aceh sampai tanah Merauke di Papua...

ARTIKEL TERPOPULER

Khotbah Idulfitri: Inikah Ramadan Terakhir Kita?

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا Ramadan berlalu dan kita masih duduk termangu. Apa saja yang telah kita lakukan...

Penerapan Asas Itikad Baik dalam Perjanjian Jual Beli Tanah

Jual beli merupakan salah satu perjanjian bernama, jual beli ini adalah perjanjian yang paling banyak dipakai masyarakat baik oleh masyarakat bisnis maupun bukan bisnis....

Negara dan Usaha Pemajuan Kebudayaan

Indonesia dikenal dunia sebagai negara yang multikultural dengan pusparagam kebudayaannya yang sangat melipah ruah, dari ujung Sabang di Aceh sampai tanah Merauke di Papua...

Beberapa Kesalahan Berpikir Kita

Proses berpikir merupakan salah satu komposisi dari pola aktifitas manusia dalam kehidupan, sekaligus menjadikan nya sebagai prestise seseorang agar terhindar dari segala bentuk keterasingan...

Agility di Pertamina

Membaca berita mengenai pengangkatan direksi Pertamina dengan tagline lebih agile, fokus, dan cepat, menggoda penulis untuk kembali mengulas kebijakan-kebijakan pemerintah dari kacamata agile. Pertama kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.