OUR NETWORK
Jumat, Januari 21, 2022

Dibalik Viralnya Drama Korea ‘Squid Game’

Novia Indriani
Mahasiswa Ilmu Komunikasi, dari Universitas Muhammadiyah Surakarta

Perkembangan industri hiburan di Korea Selatan sekarang ini sudah sangat maju dan berkembang begitu pesat, terutama di Indonesia. Banyak sekali tren-tren dari Korea yang saat ini digemari oleh masyarakat Indonesia, terutama bagi kalangan remaja mulai dari Boyband, Girlband, dan salah satunya Drama Korea. Drama Korea merupakan serial televisi yang dibagi menjadi 16-20 episode dengan durasi menonton 1 sampai 2 jam dalam satu episode.

Aktivitas menonton Drama Korea dapat dikatakan sebuah tren dan menjadi salah satu bentuk hiburan yang disenangi oleh banyak orang, apalagi di masa pandemi seperti sekarang ini yang memaksa masyarakat untuk tetap berada di rumah.

Para pecinta Drama Korea rela menghabiskan waktu berjam-jam menatap layar gawai maupun laptop untuk menonton satu judul drama yang disukai hingga tamat. Drama Korea banyak digandrungi oleh masyarakat karena akting para pemain yang tampil begitu menghayati dan sinematografi yang mampu menguatkan alur cerita dalam drama sehingga penonton pun dapat larut dalam suasana cerita.

Alasan lain, banyak sekali genre cerita dalam Drama Korea. Cerita dari Drama Korea  terkadang juga mengambil ide berdasarkan kisah sehari-hari, percintaan, keluarga, komedi, serta salah satunya survival-thriller (bertahan hidup yang menegangkan). Bagi para pecinta Drama Korea, tentunya tidak asing lagi mendengar kata ‘Squid Game’.

Drama Korea tersebut dirilis pada 17 November 2021 yang menjadi salah satu drama paling populer di tahun tersebut. Bagaimana tidak, Drama Squid Game menempati posisi teratas di 82 negara dan memperoleh penghasilan jauh melampaui biaya asli produksinya.

Squid Game bercerita mengenai orang-orang yang putus asa dalam hidup karena mempunyai kesulitan atas keadaan ekonominya. Orang-orang tersebut, mengalami berbagai kesulitan keuangan seperti terlilit hutang dan tidak mampu membayarnya.

Singkat cerita, mereka semua yang kesulitan mendapatkan undangan dari orang misterius untuk datang ke sebuah pulau yang tidak diketahui nama dan tempatnya. Setelah itu orang-orang itu diharuskan mengikuti beberapa permainan dengan tawaran bagi pemenang akan mendapatkan hadiah uang sebesar 4,5 juta won Korea.

Permainan yang harus diikuti adalah permainan masa kecil anak-anak Korea Selatan seperti  lampu merah-lampu hijau, gulali, kelereng, tarik tambang, menyeberangi jembatan kaca, dan permainan cumi-cumi.

Tetapi, meskipun hanya permainan anak-anak, permainan tersebut sudah diatur sedemikian rupa dan memiliki risiko tinggi. Para pemain diberikan waktu untuk menyelesaikan permainan tersebut, jika ada peserta yang gagal maka akan ditembak mati dengan senapan oleh orang-orang misterius yang memiliki tanda segitiga, lingkaran, dan persegi empat di bagian topeng yang digunakannya.

Ketegangan dalam Drama Korea ini muncul ketika seseorang gagal dalam suatu permainan, sehingga semua peserta harus selalu waspada agar berhasil lolos dan dapat bertahan hidup.

Alur cerita yang begitu dekat dengan realitas kehidupan, terdapat unsur nostalgia, dan tema mengenai perjuangan keputusasaan dan eksploitasi orang-orang dari kelas bawah mempertahankan hidup, hal ini yang menjadi alasan Drama Korea Squid Game menjadi viral belakangan ini. Dan tidak dapat dipungkiri, dibalik drama yang menyita begitu banyak perhatian ini mengandung unsur kapitalisme di dalamnya.

Kapitalisme sendiri merupakan bentuk dari hegemoni dalam usahanya mempertahankan kekuasaan untuk mengambil keuntungan dan kepuasan pribadi. Persaingan ekstrem yang membuat orang menjadi kehilangan rasa kemanusiaannya, dan sikap individualisme yang saling bersaing dengan berbagai cara untuk kepentingannya sendiri.

Jika diperhatikan, dalam Squid Game terdapat adegan yang menunjukkan orang-orang kaya kebingungan untuk menghabiskan uangnya, sedangkan orang miskin sangat kesulitan mendapatkan uang sehingga mereka rela melakukan apa saja bahkan mempertaruhkan hidup demi mendapatkan uang.

Orang-orang miskin yang berlomba mendapatkan uang dan berjuang mempertahankan hidup dalam rangkaian permainan itu menjadi suatu hiburan tersendiri bagi orang kaya, hal ini merupakan bentuk kapitalisme modern. Bentuk lain kapitalisme juga ditunjukkan di dalam adegan pada saat para pemain berkumpul dalam satu ruangan dan membentuk kelompok untuk mempertahankan diri dari kelompok lain, kelompok satu dengan lainnya bertarung saling melukai dan membunuh yang merasa menjadi saingan dalam permainan ini.

Adegan lainnya pada saat orang yang dipercayai membohongi dan memanipulasi temannya sendiri demi keuntungan pribadi. Konflik-konflik tersebut tanpa disadari sangat melekat dengan realitas kehidupan. Unsur dari kapitalisme ini dikemas dengan begitu epik sehingga orang yang menonton tanpa sadar bahwa dalam setiap adegan Squid Game mengandung kapitalisme.

Drama dengan cerita seperti ini memang banyak disukai oleh masyarakat sekarang ini, karena adanya ketidaksetaraan menggambarkan kehidupan di banyak tempat di dunia.

Meskipun terdapat unsur kapitalisme dan adegan yang menegangkan, Squid Game juga dapat membawa penonton larut dalam kesedihan di tiap episodenya, karena aktor yang bermain sangat menjiwai di setiap adegannya seperti pada saat harus kehilangan orang yang berharga atau kesedihan terhadap diri sendiri yang tidak mampu membahagiakan orang terkasih.

Novia Indriani
Mahasiswa Ilmu Komunikasi, dari Universitas Muhammadiyah Surakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.