Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa lebih dari 1 miliar orang di seluruh dunia mengalami masalah kesehatan mental, seperti kecemasan dan depresi. Temuan ini terdapat dalam dua laporan terbaru, World Mental Health Today dan Mental Health Atlas 2024, yang diterbitkan menjelang Pertemuan Tingkat Tinggi PBB mengenai penyakit tidak menular dan kesehatan mental di New York pada 25 September 2025. Selain masalah kesehatan mental, isolasi sosial dan kesepian semakin meluas, dengan sekitar 16% populasi dunia—atau satu dari enam orang—mengalami kesepian. Kesepian dikaitkan dengan sekitar 100 kematian setiap jam, berjumlah lebih dari 871.000 kematian per tahun. Isolasi sosial dan kesepian kini diakui sebagai masalah kesehatan masyarakat oleh Komisi WHO untuk Koneksi Sosial.
Di saat bersamaan, krisis lingkungan semakin memburuk. Dalam laporan berjudul “Limiting Overshoot” (Nairobi, 02/09/2026), dinyatakan bahwa kenaikan suhu global diperkirakan akan melewati batas 1,5°C dalam beberapa tahun mendatang, yang akan meningkatkan risiko dan dampak iklim secara signifikan. Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, menekankan bahwa gelombang panas yang menyengat, kebakaran hutan, dan banjir mematikan yang terjadi pada musim panas ini adalah peringatan untuk masa depan, dan ia berharap agar masyarakat global dapat meminimalkan pelampauan batas tersebut.
Tiga aspek mendasar ini—kesehatan mental, relasi sosial, dan keberlanjutan ekologis—sering dianggap terpisah, padahal sebenarnya saling berhubungan dalam suatu jaringan yang kompleks. Dalam menghadapi isu-isu mendesak ini, pemerintah global tentunya mengharapkan adanya solusi-solusi bersama. Namun, baik secara individu maupun kolektif, masyarakat global sering kurang menyadari solusi sederhana yang dekat dengan keseharian hidup sebagai mekanisme preventif terhadap isu-isu ini. Salah satu solusi tersebut adalah “decluttering.”
Hiruk pikuk kehidupan modern, terutama di tengah gaya hidup konsumsi yang impulsif, telah menciptakan fenomena penimbunan barang (clutter) yang kian umum. Ruang fisik (rumah) sering kali dipenuhi dengan objek tak terpakai, tumpukan kertas, dan koleksi barang yang terus bertambah. Jean Baudillard (2018) mengatakan bahwa masyarakat konsumen modern dicirikan oleh rumah tangga yang dipenuhi hingga penuh sesak dengan berbagai produk dan barang. Konsumen mengakumulasi berbagai barang, mengumpulkan, menyimpan, dan menata barang-barang tersebut (Russell Belk, 1982).
Prinsip “decluttering”, pada dasarnya adalah proses menyingkirkan barang-barang yang tidak lagi dibutuhkan atau dicintai. Kini prinsip ini telah berkembang melampaui sekadar konsep merapikan/menata rumah. Dalam literatur populer, prinsip ini digambarkan sebagai ekspresi perawatan diri (Lee 2017; Ludwigsen, 2019; Chamberlin & Callmer, 2021). “Decluttering” kini dipandang sebagai sebuah filosofi hidup yang dapat berfungsi sebagai mekanisme preventif multifaset. Lantas, mengapa “decluttering”?
“Decluttering” dan Kesehatan Mental
Keterkaitan antara lingkungan fisik dan kondisi psikologis telah lama menjadi subjek penelitian. Teori lingkungan psikologi, misalnya dari Edward T. Hall melalui bukunya “The Hidden Dimension” (1966) menjelaskan bagaimana ruang tempat kita hidup dan bekerja (ruang fisik) memengaruhi perilaku, emosi, dan kognisi manusia. Ruang fisik/lingkungan yang berantakan dan penuh dengan barang dapat menciptakan rasa kewalahan, kecemasan, dan bahkan depresi. Tumpukan barang yang tidak terorganisir (cluttered environmental), yang dapat menjadi pengganggu visual (visual noise) yang konstan akan tugas-tugas yang belum terselesaikan atau keputusan yang tertunda, membebani pikiran dan menguras energi mental.
Prinsip “decluttering” menawarkan solusi preventif untuk masalah ini. Dengan secara sadar memilih untuk menyingkirkan barang-barang yang tidak lagi memiliki nilai fungsional atau emosional, seseorang melakukan tindakan pembersihan mental. Proses ini bukan hanya tentang kegiatan fisik memindahkan objek, tetapi juga tentang melepaskan keterikatan emosional pada masa lalu atau pada harapan-harapan yang tidak realistis. Pelopor “decluttering” modern, Marie Kondo (juga Peter Walsh) dalam bukunya “The Life-Changing Magic of Tidying Up: The Japanese Art of Decluttering and Organizing” (2010) mempopulerkan konsep “spark joy” (membangkitkan kebahagiaan). Konsep ini mendorong individu untuk hanya menyimpan barang-barang yang benar-benar membawa kebahagiaan. Pendekatan ini mengalihkan fokus dari kuantitas ke kualitas, mengajarkan untuk menghargai apa yang dimiliki dan menolak konsumerisme impulsif.
Secara psikologis, “decluttering” dapat meningkatkan rasa kontrol diri dan efektivitas. Ketika seseorang, misalnya, berhasil merapikan rumahnya atau kamarnya, ia mengalami rasa pencapaian dan rasa lega yang dapat meningkatkan percaya diri. Lingkungan yang bersih dan teratur menciptakan ketenangan batin, mengurangi stres, dan memungkinkan pemikiran yang lebih jernih. Sebaliknya, seperti diteliti oleh Francis Quinn melalui artikel jurnalnya “Home Clutter and Mental Well-Being: Exploring Moderators and the Mediating Role of Home Beauty” (2025) menemukan bahwa orang yang rumahnya berantakan memiliki tingkat kesejahteraan dan kepuasan hidup yang lebih rendah. Tingkat perasaan negatifnya lebih tinggi. Kondisi berantakan juga mengurangi ikatan psikologis seseorang terhadap rumahnya. Demikian pula, kondisi kantor yang berantakan meningkatkan kelelahan emosional serta menurunkan produktivitas dan kepuasan kerja.
Selain itu, proses “decluttering” seringkali melibatkan pengambilan keputusan yang sulit. Memilih apa yang akan disimpan dan apa yang akan dibuang melatih kemampuan pengambilan keputusan dan kesadaran diri. Seseorang bisa mulai memahami pola konsumsi motivasi di balik pembelian, dan nilai sebenarnya dari barang-barang yang dimiliki. Kesadaran ini dapat menjadi fondasi untuk perubahan perilaku yang lebih luas, mengarah pada gaya hidup yang lebih disengaja, minimalis, dan bebas dari beban material.
“Decluttering” dan Relasi Sosial
Implikasi “decluttering” meluas melampaui individu, memengaruhi bagaimana seseorang berinteraksi dengan orang lain. “Decluttering” memiliki potensi transformatif dalam membangun hubungan sosial yang bermakna. Dalam masyarakat konsumeris modern, seringkali individu terjebak dalam siklus akuisisi barang yang didorong oleh pemasaran dan tekanan sosial. Obesesi terhadap kepemilikan dapat mengalihkan fokus dari interaksi manusia yang sebenarnya penting. Penumpukan barang secara fisik di rumah dapat mencerminkan penumpukan masalah emosional yang tidak terselesaikan, menciptakan lingkungan yang tidak kondusif untuk ketenangan batin dan interaksi sosial yang positif. Ketika rumah kita dipenuhi dengan barang, seringkali kita enggan mengundang tamu karena malu atau merasa tidak nyaman. Bahkan bisa menjadi bahan pembicaraan (gossip) antar tetangga.
Yang lebih penting, proses “decluttering” sering melibatkan aspek berbagi. Barang-barang yang tidak lagi diperlukan namun masih dalam kondisi baik dapat disumbangkan kepada yang membutuhkan. Tindakan berbagi ini tidak hanya membantu orang lain, tetapi juga meningkatkan rasa empati, kedermawanan, dan koneksi sosial. Selain itu, “decluttering” dapat membebaskan waktu dan energi yang sebelumnya terbuang untuk merawat dan mengatur koleksi yang berlebihan.
Waktu dan energi ini bisa digunakan untuk membangun dan memelihara relasi, ikut serta dalam kegiatan sosial, atau menghabiskan waktu berkualitas dengan orang-orang terkasih. Francine Jay, dalam bukunya “The Joy of Less” (2010), menyoroti bagaimana kehidupan minimalis yang muncul dari “decluttering” memungkinkan individu untuk menempatkan pengalaman dan hubungan di atas kepemilikan material. Ketika individu dengan sadar melepaskan gagasan bahwa nilai diri ditentukan oleh apa yang dimiliki, ia terbuka untuk hubungan dengan orang lain berdasarkan siapa sebenarnya mereka bukan pada apa yang mereka miliki. Ini mengarah pada relasi sosial yang lebih tulus dan autentik, yang didasarkan pada nilai-nilai bersama sebagai sesama manusia.
Lebih jauh, prinsip “decluttering” juga mengajarkan tentang prioritas. Dengan memilih untuk menyimpan hanya barang-barang berharga, termasuk kenangan dan barang-barang yang terkait dengan orang-orang terkasih, individu menunjukkan penghargaan terhadap hubungan tersebut. Ketika “decluttering” dilakukan bersama keluarga atau pasangan, proses itu sendiri bisa menjadi pengalaman yang memperkuat ikatan. Diskusi tentang barang mana yang patut disimpan, yang memiliki nilai sentimental, dan yang bisa disumbangkan dapat memicu percakapan penting mengenai nilai-nilai bersama. Dengan demikian, dalam konteks hubungan sosial, “decluttering” menggeser fokus dari kepemilikan material menuju pengalaman dan koneksi, yang pada gilirannya meningkatkan kesejahteraan emosional dan rasa keterikatan.
“Decluttering” dan Krisis Ekologis
Krisis ekologis yang dihadapi dunia saat ini sebagian besar disebabkan oleh pola konsumsi yang tidak berkelanjutan. Budaya “beli dan buang” telah menciptakan gunung sampah yang mengancam lingkungan, sementara produksi barang secara terus menerus menguras sumber daya alam dan berkontribusi pada emisi gas rumah kaca. Prinsip “decluttering” secara inheren bertentangan dengan model konsumerisme ini. Dengan mengurangi keinginan untuk mengakumulasi barang dan fokus pada apa yang benar-benar dibutuhkan, “decluttering” secara langsung menurunkan permintaan akan produk baru. Ketika kita berhenti membeli barang-barang impulsif atau barang-barang yang hanya akan berakhir menjadi “clutter” di kemudian hari, kita mengurangi jejak ekologis kita. Ini berarti lebih sedikit sumber daya alam yang dieksploitasi, lebih sedikit energi yang dikonsumsi dalam produksi, dan lebih sedikit limbah yang dihasilkan di akhir siklus hidup produk.
Proses “decluttering” berkontribusi pada praktik yang lebih berkelanjutan. Daripada sekadar membuang barang, “decluttering” mendorong orang untuk mempertimbangkan pilihan yang lebih ramah lingkungan. Barang-barang yang masih layak digunakan dapat disumbangkan, dijual kembali, ditukarkan, atau didaur ulang, sehingga memperpanjang masa pakai produk dan mengurangi limbah yang masuk ke tempat pembuangan akhir. Ini adalah manifestasi dari prinsip ekonomi sirkular, di mana sumber daya dimanfaatkan kembali sebanyak mungkin. Di sini “decluttering” mendorong praktik “reuse” dan “recycle”.
Lebih dari sekadar tindakan individu, “decluttering” dapat menjadi bagian dari gerakan yang lebih besar menuju gaya hidup minimalis dan berkelanjutan. Minimalisme, yang selaras dengan “decluttering”, adalah filosofi yang mengedepankan hidup dengan lebih sedikit untuk mengalokasikan waktu, energi, dan sumber daya pada hal-hal yang lebih bermakna. Gerakan ini menantang pandangan bahwa kebahagiaan dan kesuksesan diukur dari kepemilikan materi, dan sebaliknya menekankan pentingnya pengalaman, hubungan, dan kontribusi terhadap kesejahteraan bersama.
Signifikansi “decluttering” terhadap krisis lingkungan terlihat dari meningkatnya minat terhadap pasar barang bekas, aplikasi berbagi barang (misalnya Sumbang.in, OLIO), dan layanan perbaikan. Masyarakat semakin menyadari nilai barang yang sudah ada dan dampak lingkungan dari produksi barang baru. Praktik seperti “zero waste living” atau “buy nothing new”, yang berupaya untuk meminimalkan limbah sejak dini, sangat sejalan dengan prinsip “decluttering”. Dengan membeli hanya barang yang benar-benar diperlukan dan memastikan barang-barang yang dimiliki tahan lama, individu turut berkontribusi pada pengelolaan sumber daya yang lebih bijak. Praktik ini juga dapat mencegah munculnya “eco anxiety” yang mencakup ketakutan dan rasa bersalah terkait kondisi planet, serta membantu mengatasi masalah stres dan depresi akibat kerusakan alam dan berkurangnya akses ke ruang hijau.
Teori yang mendasari ini dapat dirujuk pada konsep “degrowth” (penurunan pertumbuhan) dan “sustainable consumption” (konsumsi berkelanjutan). “Degrowth” menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi tanpa batas dalam sistem kapitalis adalah akar dari banyak masalah lingkungan. “Decluttering”, sebagai penolakan terhadap akumulasi yang konstan, adalah bentuk resistensi terhadap logika pertumbuhan yang tak terbatas ini. Konsumsi berkelanjutan, di sisi lain, berfokus pada bagaimana individu dan masyarakat dapat memenuhi kebutuhan mereka tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri.
“Decluttering” adalah cara praktis untuk mewujudkan konsumsi berkelanjutan dengan mengurangi konsumsi secara keseluruhan dan memaksimalkan penggunaan sumber daya yang ada. Joshua Becker, dalam bukunya “The More of Less” (2016) mengatakan bahwa menjalani hidup dengan lebih sedikit barang adalah cara yang efektif untuk mengurangi dampak lingkungan dan berkontribusi pada planet yang lebih sehat. Hal ini penting karena degradasi lingkungan sendiri dapat memperburuk konflik sosial dan mengurangi kualitas hubungan antar manusia. Kelangkaan sumber daya, migrasi akibat perubahan iklim, dan ketidaksetaraan yang diperparah oleh krisis ekologis dapat menciptakan lingkungan yang penuh ketegangan dan ketidakpercayaan. Dalam situasi demikian membangun dan memelihara relasi sosial yang sehat menjadi semakin sulit. Dan pada akhirnya menyebabkan stres dan depresi pribadi.
Prinsip “decluttering” adalah sebuah praktik yang memiliki dimensi yang jauh lebih dalam daripada sekadar estetika ruangan. Meskipun bukanlah solusi tunggal untuk masalah kompleks kesehatan mental, kualitas hubungan sosial, dan krisis ekologis, “decluttering” menawarkan pendekatan holistik yang dapat menjadi bagian dari mekanisme preventif terhadap berbagai tantangan modern ini.
Dengan membersihkan ruang fisik, kita berpotensi membersihkan ruang mental, memperkuat hubungan, dan mengurangi jejak ekologis. Ini adalah sebuah praktik yang mengundang refleksi mendalam tentang bagaimana kita hidup, apa yang dianggap esensial, dan bagaimana pilihan individu berkontribusi pada kesejahteraan kolektif dan kesehatan planet. “Decluttering” adalah undangan untuk bergerak menuju masa depan yang lebih seimbang dan berkelanjutan.
Dengan demikian, praktik “decluttering” perlu dimaknai bukan lagi sekadar tren melainkan sebuah imperatif etis filosofis yang transformatif karena dapat menawarkan solusi nyata terhadap tantangan kontemporer kita. “Decluttering” mengajarkan kita bahwa kebebasan sejati bukan terletak pada kepemilikan lebih banyak, tetapi pada kemampuan untuk melepaskan apa yang tidak lagi melayani kita, sehingga membuka ruang untuk kedamaian, koneksi, dan kelestarian.
