Patriotisme Lingkungan di Sekolah; Wujud Nyata Kemerdekaan

Ali Marzuki Zebua
Ali Marzuki Zebua
Dr. Ali M Zebua adalah dosen di IAIN Kerinci. Founder pada CND Publisher. Penulis buku-buku tema Manajemen Pendidikan dan Kepemimpinan Lingkungan.
- Advertisement -

Pada tahun 2020 berdasarkan laporan Bank Dunia yang bertajuk The Atlas of Sustainable Development Goals 2023, Indonesia berada pada urutan ke-5 penghasil sampah terbesar di dunia, dengan memproduksi sebesar 65,2 juta ton sampah/tahun. Padahal 2018 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menargetkan pada tahun 2025 akan mengurangi 30% sampah di Indonesia.

Namun yang terjadi, pada tahun 2022 saja volume timbulan sampah mengalami kenaikan sebesar 21,7% atau 35,83 juta ton jika dibandingkan pada tahun 2021 sebesar 21,88 juta ton. Target pemerintah melalui KLHK hanya akan sia-sia jika kesadaran masyarakat Indonesia rendah terhadap perilaku membuang sampah. Padahal kesadaran akan sampah merupakan wujud dari rasa kecintaan terhadap Tanah Air.

Sebab “lingkungan yang kotor dengan sampah merupakan cerminan wajah kita, juga wajah bangsa Indonesia”. Oleh sebab itu, dibutuhkan perjuangan dalam penanganan sampah dari seluruh lapisan Masyarakat Indonesia. Mereka berasal dari para aktifis lingkungan, komunitas lokal, pengusaha, pemerintah, dan termasuk para akademisi dan pendidik beserta para siswanya. Kitalah yang akan memperjuangkan bagaimana wajah bangsa ini pada tahun 2025 dengan mengurangi sampah, sesuai target dari pemerintah.

Dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia ke-79, kita berkesempatan untuk merenungkan kembali bagaimana istilah “Perjuangan (Patriotisme)” memerdekan Indonesia yang dilakukan oleh para pahlawan terdahulu. Kita harus menyadari bahwa istilah ini tidak hanya merujuk pada detail sejarah pertempuran mereka, tetapi juga merujuk pada perbuatan nyata yang berkaitan dengan masalah-masalah di masa kini. Patriotisme, sebagaimana didefinisikan sebagai kecintaan terhadap negara dan pengabdian terhadap kesejahteraannya, merupakan suatu kebajikan, dan lingkungan hidup merupakan salah satu perwujudannya yang paling penting, yang memberi manfaat baik bagi masyarakat lokal maupun nasional (Cafaro, 2010).

Perwujudan dari Partiotisme ini inheren dengan pelestarian terhadap lingkungan, bahwa dimensi sosial bangsa ini merupakan dimensi lingkungan. Akiyama (2013) mengatakan bahwa dimensi sosial juga adalah dimensi lingkungan. Artinya, dimensi lingkungan akan seiring-sejalan dengan dimensi sosial masyarakat. Ketika lingkungan rusak, maka dimensi sosial-masyarakat akan berdampak. Misalnya pendidikan lingkungan dan budaya daur ulang, dapat memperbaiki kondisi lingkungan dengan mengurangi polusi dan konservasi sumber daya. Sebaliknya, kerusakan lingkungan seperti polusi dan perubahan iklim dapat memicu masalah sosial, termasuk kesehatan yang buruk, kemiskinan, dan konflik sumber daya.

Dedikasi terhadap pelestarian lingkungan, terutama dalam konteks sekolah, adalah salah satu ekspresi patriotisme kontemporer yang paling penting dalam membangun dimensi perubahan sosial tersebut. Perkembangan karakter generasi muda sangat dipengaruhi oleh sekolah sebagai institusi pendidikan, dan di saat isu lingkungan menjadi perhatian global, patriotisme lingkungan dan pendidikan karakter menjadi sangat erat kaitannya.

Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) yang menjadi bagian dari Kurikulum Merdeka Belajar memberikan peluang bagi sekolah-sekolah di Indonesia untuk mengintegrasikan nilai-nilai kebangsaan dan keberlanjutan lingkungan dalam kegiatan pendidikan. Melalui P5, siswa diajak untuk mengenal dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila, termasuk cinta tanah air yang diwujudkan dalam bentuk perilaku ramah lingkungan. Ini sejalan dengan upaya untuk mengembangkan patriotisme lingkungan di sekolah, yang dapat diwujudkan melalui berbagai inisiatif praktis seperti penghijauan, pengurangan penggunaan plastik, dan pengelolaan sampah yang efisien.

Upaya pemerintah untuk mendorong sekolah-sekolah di Indonesia menjadi pusat kegiatan ramah lingkungan terlihat jelas dalam program Sekolah Adiwiyata (Green School). Sekolah-sekolah yang berbasis lingkungan diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang nyaman dan sehat serta menumbuhkan kesadaran ekologis siswa yang semakin meningkat melalui program ini. Penelitian Permana (2018) menunjukkan bahwa kesadaran dan perilaku lingkungan siswa meningkat secara signifikan di sekolah-sekolah yang berhasil menerapkan program Adiwiyata.

Namun, sangat penting untuk melibatkan siswa secara aktif dalam proses pengorganisasian dan pelaksanaan kegiatan jika ingin meningkatkan keterlibatan mereka dalam program lingkungan sekolah. Menurut penelitian Andriani (2023), keterlibatan siswa meningkat secara dramatis ketika mereka diberi tanggung jawab dan kemampuan untuk membuat keputusan tentang lingkungan. Dengan memberikan siswa rasa kepemilikan atas program yang mereka ikuti, pendekatan ini mendorong rasa tanggung jawab yang lebih kuat terhadap lingkungan, sejalan dengan tujuan P5 yang mendorong siswa untuk menjadi agen perubahan (agen of change).

Selain itu, pendidikan lingkungan sejak dini memiliki efek jangka panjang pada perilaku siswa. Anak-anak yang berpartisipasi aktif dalam inisiatif lingkungan yang disponsori sekolah lebih mungkin untuk membawa kebiasaan dan nilai-nilai ekologi yang berkelanjutan hingga dewasa. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan lingkungan merupakan investasi dalam pengembangan karakter dan kesadaran ekologis generasi mendatang, dan bukan merupakan upaya sementara.

- Advertisement -

Dalam hal ini, sekolah memiliki peran penting dalam mendukung inisiatif pemerintah terkait pelestarian lingkungan. Dalam hal mempromosikan kebijakan dan inisiatif lingkungan hidup pemerintah, sekolah dapat menjadi mitra yang sangat berharga. Sekolah dapat mendidik siswa dan menciptakan komunitas yang sadar lingkungan dengan menerapkan praktik-praktik berkelanjutan di fasilitas, kurikulum, dan budaya sekolah.

Merayakan Hari Kemerdekaan Indonesia dengan aksi nyata di bidang lingkungan sebagai pendidik dan anggota komunitas sekolah merupakan bentuk nyata dari rasa cinta dan penghormatan kepada para pahlawan bangsa. Definisi patriotisme saat ini tidak hanya mencakup kecintaan terhadap negara secara fisik, tetapi juga kewajiban untuk melindungi planet tempat kita tinggal. Oleh karena itu, sekolah berfungsi sebagai tempat untuk meraih kesuksesan akademis dan lingkungan yang mengasah pengembangan kesadaran dan tanggung jawab ekologis, yang merupakan ekspresi konkret dari kecintaan terhadap bangsa.

Dalam kesempatan ini, kita diharapkan dapat menrekonstruksi perjuangan para pahlawan terdahulu yang sepatutnya tidak hanya terbatas pada aspek historis mereka, namun juga harus kitra transformasikan menjadi aksi nyata yang relevan dengan tantangan zaman sekarang ini. Selain sebagai tanda patriotisme, patriotisme lingkungan di sekolah adalah ekspresi praktis dari cinta terhadap bangsa dan kewajiban untuk melindungi planet yang kita huni ini.

Ali Marzuki Zebua
Ali Marzuki Zebua
Dr. Ali M Zebua adalah dosen di IAIN Kerinci. Founder pada CND Publisher. Penulis buku-buku tema Manajemen Pendidikan dan Kepemimpinan Lingkungan.
Facebook Comment
- Advertisement -