Sabtu, Mei 8, 2021

China-Indonesia, Lahir dari Rahim Bulutangkis

Profesor Nurdin Abdullah; Politik Festival Gagasan dan Program

Apa yang terbayang jika politik adalah festival gagasan dan festival program? Gontok-gontokan kualitas diri dan pembuktian kapasitas diri di hadapan masyarakat yang menjadi pemberi...

Ada Apa dengan UGM? Kasus Agni Bukan Berakhir Damai

Perbuatan pelecehan seksual jelas diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dengan istilah perbuatan cabul. Maka, harusnya seseorang yang melakukan kejahatan seksual ditindak tegas...

Bullying dan Kerancuan Masa Depan Pendidikan Kita

Pendidikan sejatinya memiliki tujuan untuk menghaluskan budi anak. Pendidikan tentu saja merupakan alat yang paling mumpuni dalam menempa karakter anak agar menjadi pribadi yang...

Telaah “Asal-Usul” Tindakan Bos First Travel

Sahabat saya yang seorang essais muda, yakni Khudori Husnan, di dalam calistoeng.blogspot.com, mengulas soal kehidupan pencitraan akut sejoli yang tengah menjadi hot issue belakangan...
Ade Novianto
Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Satya Negara Indonesia

Olahraga bukan sekedar cara untuk menjaga kesehatan, juga bukan sebagai hobi yang dinikmati dan sebuah kewajiban rutinitas untuk mencegah berbagai penyakit. Lebih dari itu, olahraga bernilai strategi kemampuan individu untuk membawa predikat terbaik negara masing-masing dari perhelatan akbar dunia. Prestasi negara tidak hanya dilihat sempit seperti pengadaan peralatan militer, jumlah armada, kapal perang, artificial intelegent, teknologi canggih, tingginya PDB (product domestic bruto) atau nuklir sekalipun.

Prestasi individu juga dapat dikategorikan sebagai kemajuan sebuah bangsa, bagaimana negara mengelola sumberdaya manusia nya untuk terus mencetak individu-individu berbakat yang membawa bendera negaranya paling atas pada kompetisi bergengsi dunia.

Olahraga memunculkan persepsi baru dalam hubungan internasional yang mengalami kemajuan dan telah merubah wajahnya dari tradisional (masa perang) menuju konvensional (kompleksitas yang terbangun dari peradaban manusia). Dari perubahan tersebut konteks “internasional” berubah menjadi “transnasional” yang mengakui keterlibatan berbagai aktor (tidak hanya sebatas negara). Konfigurasi tersebut, timbul dari gejala-gejala non-actor state yang bermain lebih dalam untuk setidaknya merubah sirkulasi struktur internasional serta masyarakat global.

Keterlibatan non-actor state pada invididu, misalnya, dapat dijadikan subjek yang memiliki daya kuat dan bahkan dapat menghipnotis kebijakan luar negeri suatu negara (the super-empowered individual).

Hilangnya Disparitas

Corak hubungan negara kontemporer merujuk pada kerjasama berkat dorongan peradaban dan sains yang melahirkan suatu nilai dalam warna kehidupan masyarakat internasional. Itulah yang terjadi pada Indonesia dan China dalam berbagai bidang.

Kedua negara secara geografi memang jauh, namun secara kultur budaya, China dan Indonesia tidaklah banyak perbedaan. Sebagai negara Timur, kedua negara memiliki adat yang sama; (low contecs).

Asumsi saya, keterkaitan itulah yang membawa kedua negara saling mengenyam kelebihan satu sama lain serta mengisi kantong-kantong kosong yang belum terisi. Yang belum nampak dari analisa orang awam adalah begitu lamanya hubungan kedua negara (sudah 70 tahun hubungan keduanya) sehingga dapat saya katakan seperti hubungan sahabat kental yang terlihat dari kemauan dan kesadaran untuk terus berkolaborasi meskipun sentimental terkait komunis memberi warna (gaduh) politik dalam negeri kita.

Dua negara yang menempati empat terbesar warga dunia merupakan bonus demografi yang telah dimanfaatkan dengan berbagai macam cara, seperti, bea siswa dan pariwisata yang mendukung dalam konteks pembangunan ekonomi serta riset.

Positive sum game adalah istilah yang kini melekat pada kedua negara dari percikan saling membutuhkan, bertemu nya dua prinsip yang memajukan kepentingan bangsa; Gaige Kaifang China “menemani” Politik Bebas Aktif Indonesia. Hal inilah yang menjadi jawaban atas kondisi regional di Asia timur yang dipandang sebagai pusatnya egoisme dan terpojoknya kecurigaan, nyaris tidak ada semacam organisasi kerjasama didalamnya, mungkin itulah yang membuat Tirai Bambu tidak cocok dengan panasnya matahari Jepang serta kurang kuat terhadap hantaman Gingseng nya Korea, singkatnya, dekat musuh, jauh saudara.

Lahir dalam Kandungan Bulutangkis

Seperti disinggung diatas bahwa the super-empowered individual merupakan sebuah getaran baru dalam lalu lintas kebijakan luar negeri. Bulutangkis membawa arah dunia berpaling dari yang sifatnya brutal menjadi sorak-sorai didalam arena melalui kebangkitan para atlet.

Indonesia-China memiliki ikatan sejarah yang belum banyak diketahui dalam bulutangkis. Adalah Susy Susanti yang berhasil meraih emas pada Olimpiade di Barcelona pada 1992. Susy yang kala itu mengalahkan Bang Soo-hyun pebulutangkis asal Korea Selatan dilaga final adalah hasil dari polesan seorang pelatih China bernama Liang Chiu Sia. Berkat gemblengan nya, Susy meraih prestasi yang membawa bendera Indonesia dikerek paling atas diantara bendera lain dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Ada beberapa yang harus kita tarik sebagai refleksi dalam konteks hubungan internasional adalah kontribusi warga negara lain yang dapat berpengaruh dikancah internasional, ini menandakan bahwa individu melahirkan cerita baru bagi bangsa lain sekaligus menolak semua asumsi tradisional yang meyakini dunia dibatasi tembok-tembok yang bernama negara.

Pelatih Susy, Liang Chiu Sia merupakan gambaran keakraban Indonesia-China. Kedua negara melakukan pendekatan “pentingnya pengelolaan sumberdaya manusia” lewat olahraga bagi keduanya adalah bagian tidak dipisahkan dari kepentingan nasional. Indonesia harus merangkul semua pihak yang dilandasi Politik Bebas Aktif. Sementara China yang telah melakukan manuver politik dari era Mao yang kaku dirubah drastis oleh dinginnya tangan Deng Xioping yang telah melakukan banyak perubahan dan dirasakan imbasnya nya hingga sekarang.

Namun, olahraga juga memiliki daya warna abu-abu, istilah ini merujuk pada kekagetan dalam arena pertandingan. China bukan saja menjadi kerabat Indonesia, tetapi menjadi pesaing berat, yang pada waktunya akan muncul dengan jalan yang tak terduga. Itu terlihat sampai saat ini peringkat China dalam dunia bulutangkis menempati tempat teratas.

Lewat olahraga predikat negara dapat dilacak dengan prestasi, lebih jauh, individu membawa spektrum luas dalam transnasional.

Ade Novianto
Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Satya Negara Indonesia
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Idealitas Tata Kelola Perpustakaan

Perpustakaan sebagai pusat informasi menjadi salah satu media yang dituju oleh masyarakat untuk mendapatkan informasi melalui literatur melalui bahan pustaka tercetak. Meskipun teknologi semakin...

Negara dan Usaha Pemajuan Kebudayaan

Indonesia dikenal dunia sebagai negara yang multikultural dengan pusparagam kebudayaannya yang sangat melipah ruah, dari ujung Sabang di Aceh sampai tanah Merauke di Papua...

Pembelajaran Jarak Jauh, Efektifkah?

Sejak ditetapkannya pandemi Covid-19 di Indonesia, banyak sektor yang terdampak, mulai dari ekonomi, pariwisata, sosial dan budaya termasuk sektor pendidikan. Pembelajaran tatap muka (offline) yang selama...

Memperkuat Proteksi Konstitusi

Akhir-akhir ini, diskursus mengenai perpanjangan masa jabatan presiden menjadi tiga periode semakin menguat. Untuk masa sekarang, Pasal 7 UUD NRI 1945 menegaskan pembatasan masa...

Orientalisme, Prancis, dan Kita

Kita tentu masih ingat beberapa bulan lalu hebohnya sebuah kasus di Prancis mengenai gambar Nabi Muhammad yang dianggap melecehkan Islam, yang menuai reaksi keras. Dalam...

ARTIKEL TERPOPULER

Khotbah Idulfitri: Inikah Ramadan Terakhir Kita?

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا Ramadan berlalu dan kita masih duduk termangu. Apa saja yang telah kita lakukan...

Menjawab Ahmad Daryoko, Parasit 212

Sudah sejak lama orang ini kerap menyebarkan kabar bohong. Motif di balik itu sebenarnya karena sakit hati. Orang ini pernah jadi Ketua Serikat Pekerja...

Beberapa Kesalahan Berpikir Kita

Proses berpikir merupakan salah satu komposisi dari pola aktifitas manusia dalam kehidupan, sekaligus menjadikan nya sebagai prestise seseorang agar terhindar dari segala bentuk keterasingan...

Kartini-Kartini 4.0

“Habis bikin kopi, sachet nya jangan dibuang sembarangan, pilah ke tempat sampah plastik!” begitu kata istri. Alhasil, saya harus memungut ulang sachet plastik kopi...

Agility di Pertamina

Membaca berita mengenai pengangkatan direksi Pertamina dengan tagline lebih agile, fokus, dan cepat, menggoda penulis untuk kembali mengulas kebijakan-kebijakan pemerintah dari kacamata agile. Pertama kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.