Jumat, April 23, 2021

Catatan Halaqah Kebangsaan: Menjadi Payung Besar Minoritas

Rantai Korupsi Belum Terputus

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap Ketua Umum PPP Romahurmuziy (Romy) terkait dugaan suap jual beli jabatan di Kementerian...

Gerontologi Sosial, Kemutlakan yang Terabaikan

BOM WAKTU Demografi bagaikan bom waktu yang tercipta dari penuaan dan kematian, dua hal yang mutlak terjadi pada diri manusia. Tragisnya, tanpa perlu untuk tidak...

The Social Dilemma: Logika Eksploitatif Media Sosial

Seorang teman baru bebas dari dunia gelap. Mengkonsumsi narkoba menjadi gaya hidupnya. Padalah kehidupannya tak terlalu suram bagi ukuran kelas menengah. Tapi kehidupannya itu...

Beberapa Alasan Kenapa Kita Harus Berhenti Belajar Filsafat

“Lama ga ketemu, nih. Udah kuliah ya? Kuliah di mana sekarang?” “Sekarang saya kuliah di UI, Om.” “Wah, hebat ya! Ambil jurusan apa di UI?” “Saya jurusan...

Umat Islam Indonesia harus memberikan harapan bagi masyarakat Indonesia, mampu menjadi payung (pelindung), memberikan kenyamanan, ketentraman dan keamanan bagi kalangan minoritas. Meskipun berbeda suku, ras dan etnis, Indonesia memiliki hal yang berbeda dengan negara-negara lain, kita memiliki keberagaman.

Indonesia adalah negara yang majemuk, dan manusia beragama mayoritas maupun minoritas dalam beribadah tidak hanya untuk dirinya sendiri dan sesama umatnya saja. Tetapi juga untuk semua mahluk hidup di muka bumi.

Kita seringkali beribadah hanya untuk diri sendiri, terlalu egois jika hubungannya hanya untuk pribadi, bahkan akan melahirkan stigma merasa paling sempurna dalam hidup dan jika tidak di kelola dengan baik, maka akan merasa paling benar dan bersifat ujub, dan berbahaya serta membawa dampak kehancuran bagi bangsa dan negara ini. Umat Islam jangan egois dalam berbangsa dan bernergara, umat Islam harus meneduhkan.

Dalam Halaqah kebangsaan yang di adakan oleh Maarif Institute di hotel Sari Pacific Jakarta 07 Februari 2019, Buya Syafii Maarif mengatakan “Bangsa ini adalah milik semua agama, golongan, suku, etnis dan ras” dalam hal ini penulis berpendapat bahwasannya bangsa ini sering kali terbawa arus oleh ilmu tanpa sumber dan tidak dapat mengelola kebenaran dengan baik.

Bahkan, akhir-akhir ini marak dijadikan konsumsi sehari-hari lalu seringkali kepeleset dan memiliki opini intoleran dan radikal yang tinggi. Seperti halnya dalam hasil Survei “Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat bahwa guru beragama Islam di Indonesia memiliki opini Intoleran dan radikal yang tinggi”(cnnindonesia.com 19/10/2018). Semestinya, umat Islam harus mampu memberikan harapan, karena sejatinya Islam adalah agama yang mempunyai optimisme dan memberikan harapan.

Pancasila adalah Cross (Kesimpulan)

Islam jangan hanya mengawang di langit namun Islam harus turun ke bumi. Dalam kacamata Sejarah, Amin Abdulah mengatakan “Pancasila itu adalah Cross (kesimpulan) hasil dari pertemuan-pertemuan Pancasila = Javanese, Muslim Western dan Oriental.

Soekarno pada saat merumuskan Pancasila pada saat itu ia hanya menyimpulkan pendapat dari beberapa tokoh yang menghadiri perumusan tersebut, peran Soekarno menyimpulkan dan di jadikan satu kesatuan tidak hanya untuk satu agama dan satu ras melainkan dijadikan satu untuk persatuan Indonesia.

Karena Pancasila pun tidak bisa diklaim oleh satu golongan meskipun Islam memiliki berbagai organisasi dan itu tidak bisa di klaim oleh Nadlhatul Ulama dan Muhammadiyah saja, karena pada saat itu ada Al-Khoirots dan Al-Wasliyah dan yang lainnya.

Menjadi Mayoritas yang meneduhkan

Mayoritas yang meneduhkan adalah kalangan mayoritas yang melek literasi dan pandai membaca peta sejarah dan paham tentang hidup beragama dalam keberagaman. Dalam sebuah masyarakat yang belum dewasa secara psiko-emosional, perbedaan terlalu sering dianggap sebagai permusuhan. Padahal, kekuatan yang pernah melahirkan peradaban-peradaban besar justru didorong oleh perbedaan pandangan dalam melihat sesuatu.

Dalam pemikiran Islam kontemporer ini terbagi dua, menurut Abou Ei Fadl, kita tinggal memilih kita mau menjadi masyarakat Islam yang mana terdiri dari dua kategori: Islam Puritan dan Islam Modern. Kelompok puritan adalah menganut kebenaran paham tunggal, monolitik dan tidak ada tempat kultur toleransi di dalamnya.

Kelompok modern, yang biasa juga disebut moderat, sekalipun yakin akan kebenaran agamanya, mereka cukup berlapang dada dan untuk membiarkan pihak lain mempunyai klaim kebenaran pula, tanpa berminat untuk mengintervensinya. Akhirnya, mari menjadi mayoritas yang meneduhkan, melindungi, dan memberikan kenyaman dan hidup berdampingan tanpa menyakiti atau mengintimidasi kalangan minoritas.   

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mencari Teman Masa Pandemi? Why Not, Berikut Tipsnya

Sudah Satu Tahun Pandemi Covid-19 Melanda Indonesia. sekolah-sekolah, kampus, tempat yang bahkan kantor sekalipun harus berkegiatan online. Mahasiswa baru, murid baru dan orang-orang yang baru memulai...

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

Mempertanyakan Wacana Koalisi Partai Islam Oleh PKS dan PPP

Menyatakan bahwa Islam hanya berhubungan dengan kehidupan spiritual, tanpa kita sangkut pautkan sama sekali dengan masyarakat dan negara, mungkin sama jauhnya dari kenyataan dengan...

Lobi Lebanon terhadap Rusia Upaya Keluar dari Krisis Ekonomi

Pada 15-16 April 2021, Perdana Menteri (PM) Lebanon Saad Hariri melakukan kunjungan ke Moskow dalam rangka meminta dukungan dan bantuan ekonomi kepada pemerintah Rusia....

ARTIKEL TERPOPULER

Mempertanyakan Wacana Koalisi Partai Islam Oleh PKS dan PPP

Menyatakan bahwa Islam hanya berhubungan dengan kehidupan spiritual, tanpa kita sangkut pautkan sama sekali dengan masyarakat dan negara, mungkin sama jauhnya dari kenyataan dengan...

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

Lobi Lebanon terhadap Rusia Upaya Keluar dari Krisis Ekonomi

Pada 15-16 April 2021, Perdana Menteri (PM) Lebanon Saad Hariri melakukan kunjungan ke Moskow dalam rangka meminta dukungan dan bantuan ekonomi kepada pemerintah Rusia....

Kartini, Tafsir Al-Fatihah, dan Al-Qur’an

Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari pemikiran Kartini yang hari lahirnya dirayakan bangsa ini. Ia dijadikan sebagai pahlawan penggerak emansipasi perempuan lewat kekuatan...

Kado Ulang Tahun ke-46, Taman Mini Mau Dibawa Kemana?

20 April 2021 merupakan hari ulang tahun ke-46 Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. Momentum ulang tahun yang biasanya dirayakan secara meriah dan dikemas...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.