Siapa Mengontrol Opini Dunia?

Aisyah Permanda
Aisyah Permanda
Mahasiswi Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Sriwijaya
- Advertisement -

Artikel ini membahas bagaimana media internasional berperan dalam membentuk opini publik global terhadap konflik internasional. Dalam era informasi yang sangat cepat, persepsi dunia terhadap suatu konflik sering kali ditentukan bukan hanya oleh fakta di lapangan, tetapi juga oleh bagaimana media melaporkannya.

Isu ini penting karena opini publik global dapat memengaruhi legitimasi politik, tekanan diplomatik, hingga respons komunitas internasional terhadap suatu konflik. Penulis berpandangan bahwa media global memiliki peran besar dalam membentuk opini dunia melalui mekanisme agenda setting. Untuk itu, tulisan ini akan memusatkan fokus pada tiga argumen, yaitu kemampuan media menentukan prioritas isu konflik, peran framing media dalam membentuk persepsi publik, serta keterkaitan antara media global dan kepentingan politik internasional.

Argumen pertama adalah bahwa media memiliki kemampuan menentukan isu mana yang dianggap penting dalam konflik internasional melalui mekanisme agenda setting. Konsep agenda setting menjelaskan bahwa media tidak selalu menentukan apa yang harus dipikirkan publik, tetapi media sangat berpengaruh dalam menentukan isu apa yang dianggap penting untuk dipikirkan oleh publik¹.

Ketika suatu konflik terus-menerus diberitakan oleh media internasional, konflik tersebut akan muncul sebagai isu utama dalam perhatian publik global. Sebaliknya, konflik yang jarang diliput media cenderung tidak memperoleh perhatian internasional yang memadai. Kondisi ini menunjukkan bahwa media memiliki kemampuan untuk membentuk prioritas perhatian publik terhadap isu-isu global.

Argumen kedua adalah bahwa media juga membentuk cara publik memahami konflik melalui framing. Framing merujuk pada cara media menyoroti aspek tertentu dari sebuah peristiwa sehingga memengaruhi interpretasi publik terhadap peristiwa tersebut². Dalam konflik internasional, framing media dapat menentukan bagaimana suatu pihak dipersepsikan oleh masyarakat global.

Pilihan kata, gambar, dan sudut pandang dalam pemberitaan dapat membentuk persepsi moral publik terhadap konflik. Misalnya, penggunaan istilah seperti “serangan”, “pembelaan diri”, atau “operasi militer” dapat memengaruhi bagaimana tindakan suatu aktor dipahami oleh publik internasional.

Argumen ketiga adalah bahwa sistem media global tidak sepenuhnya terlepas dari kepentingan politik internasional. Struktur kepemilikan media, orientasi editorial, serta hubungan ekonomi dan politik dapat memengaruhi cara suatu konflik dilaporkan³. Dalam konteks hubungan internasional, hal ini berkaitan dengan konsep kekuatan informasi atau soft power yang memungkinkan suatu aktor memengaruhi persepsi global tanpa menggunakan kekuatan militer secara langsung⁴.

Ketiga argumen di atas menunjukkan bahwa opini dunia dalam konflik internasional tidak terbentuk secara netral, melainkan dipengaruhi oleh proses agenda setting, framing media, dan keterkaitan antara sistem media global dengan kepentingan politik internasional. Dengan demikian, media memiliki peran yang sangat signifikan dalam membentuk cara dunia memahami konflik internasional. Kesadaran kritis terhadap peran media menjadi penting agar masyarakat global tidak hanya menerima informasi secara pasif, tetapi mampu memahami bagaimana opini publik dapat dibentuk melalui proses komunikasi dan politik global.

Endnotes

  1. Maxwell McCombs dan Donald Shaw memperkenalkan konsep agenda-setting yang menjelaskan bahwa media memiliki kemampuan menentukan isu yang dianggap penting oleh publik melalui intensitas pemberitaan.
  2. Robert Entman menjelaskan framing sebagai proses seleksi dan penonjolan aspek tertentu dari realitas sehingga membentuk interpretasi publik terhadap suatu peristiwa.
  3. Edward S. Herman dan Noam Chomsky menjelaskan bahwa struktur kepemilikan media dan kepentingan politik dapat memengaruhi isi pemberitaan media.
  4. Joseph S. Nye menjelaskan konsep soft power sebagai kemampuan memengaruhi aktor lain melalui daya tarik ide, nilai, dan informasi.

Referensi

  • Chomsky, N., & Herman, E. S. (2002). Manufacturing Consent: The Political Economy of the Mass Media. New York: Pantheon Books.
  • Entman, R. M. (1993). Framing: Toward clarification of a fractured paradigm. Journal of Communication, 43(4), 51–58.
  • McCombs, M., & Shaw, D. (1972). The agenda-setting function of mass media. Public Opinion Quarterly, 36(2), 176–187.
  • Nye, J. S. (2004). Soft Power: The Means to Success in World Politics. New York: Public Affairs.
  • Firmstone, J. (2019). Editorial journalism and newspaper editorial opinions. Oxford Research Encyclopedia.
Aisyah Permanda
Aisyah Permanda
Mahasiswi Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Sriwijaya
Facebook Comment
- Advertisement -