Senin, Mei 17, 2021

Bendera Tauhid: Masalah Simbol dan Pemakaiannya

Membedah Ustadz Online

Pada akhir Ramadhan lalu, saya cukup terkejut dengan maraknya penyebaran video tentang pelaksanaan ibadah yang oleh sebagian besar orang dianggap aneh dan parahnya lagi...

Salah Kaprah New Normal

Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) sudah dilonggarkan. Artinya Setiap hal-hal yang dilarang sudah kembali diperbolehkan seperti sudah mulai dibukanya tempat ibadah hingga beberapa lokasi...

“The Platform” dan Gambaran Struktur Kelas

Pada pertengahan Maret 2020, Netflix kembali memproduksi sebuah film berjudul The Platform, berlatar belakang tempat yang mirip "penjara" inilah tokoh utama bernama Goreng terbangun...

Ada Apa Dengan Hak Angket DPR

Oleh Benni Sinaga Hak angket yang dilakukan oleh dewan perwakilan Rakyat (DPR) dalam kasus mega korupsi e-ktp mencoreng nama baik DPR di mata publik, kasus...
Refan Aditya
Honorer. Penyimak obrolan-obrolan Filsafat dan seputarannya, Anggota grup Facebook Esoterika-Fourm Spiritualitas, dan sedang menekuni dunia Online Journal System. Penggemar Paul McCartney

Baiklah, terlebih dahulu kita dudukkan persoalan pembakaran bendera yang terjadi belakangan ini. Pertama, dalam rangka memperingati Hari Santri, perayaan awalnya berjalan lancar, sampai datanglah “penyusup” yang membawa dan mengibarkan bendera berlafaz tauhid di Garut Jawa Barat.

Bendera dikibarkan di tengah-tengah perayaan itu hingga memancing perhatian pengawal acara (Banser). Karena identik dengan ormas tertentu yang bertentangan, bendera itu kemudian disita dan dibakar secara terang-terangan – terpublikasi hingga menarik perhatian banyak warganet.

Kedua, kasus itu menarik banyak respon dari beberapa kalangan yang menganggap pembakaran tersebut satu bentuk penyimpangan atau penistaan agama. Lafaz tauhid adalah lafaz esensial dalam Islam, pembakaran bendera berlafaz tauhid adalah bentuk tidak menghormati lafaz tersebut dan harus ditindak secara hukum.

Ketiga, bendera tersebut, oleh pelaku pembakarnya, diasosiasikan oleh bendera ormas terlarang HTI. Cukuplah kita tahu dan sadar bahwa warganet tidak mudah menerima tindakan tersebut karena memang secara hukum ormas HTI itu terlarang, namun simbol (bendera yang digunakan) adalah bendera berlafaz tauhid, yang memiliki nilai dogmatis-historis yang menyimpan kesakralannya, terlepas  dipakai oleh siapapun dan ormas apapun.

Kesakralan itu yang melahirkan rasa empati dari pihak yang menuntut untuk ditindaknya kasus tersebut, terlepas ia simpatisan HTI maupun masyarakat ormas lain dan masyarakat awam.

Keempat, pasukan ormas yang membakar ini akhirnya diproses dan mengakui bahwa tindakannya tersebut bukan atas dasar karena emblem ormas yang ia sandang (NU) namun murni idealismenya sendiri terhadap bendera tersebut (bendera HTI katanya).

Kelima, akhirnya kasus tersebut menjadi tindakan yang dianggap kurang etis atau tidak sopan – dianggap menyimpang dan menistakan agama Islam karena kesakralan simbol tauhid (bendera) diperlakukan secara tidak baik (dibakar) dan dipertontonkan terang-terangan (terutama di media sosial).

Secara singkat, telah jelaslah sketsa kasar garis besar kasus tersebut. Lantas apa yang ganjil di benak kita, ketika ternyata simbol atau lambang yang diasosiasikan sebagai lambang ormas terlarang itu ternyata tetap mendapatkan tempat dan kehormatannya di bumi Indonesia?

Satu yang menjadi persoalan, yakni sakralitas lambang (bendera tauhid) tersebut. Sebuah “tanda”, yakni bendera yang meliputi penanda (bendera tauhid) dan penanda (ormas HTI/yang dirujuk bendera tersebut) menjadi dua entitas yang saling terkait dan berkelindan.

Utamanya dalam kasus ini, “tanda” menjadi sumber dari persoalan nya. Apakah tanda itu dipakai baik secara ideologis maupun sebagai simbolis-partisipatif? Apakah si pembawa dan pengibar bendera itu membawanya secara ideologis yang berafiliasi dengan ormas tertentu (ISIS atau HTI) ataukah ia membawa secara simbolis-partisipatif, dalam artian, simbol itu dibawa dan dikibarkan dalam rangka ikut serta memeriahkan Hari Santri (Islam) Nasional (terlepas dari hubungan ormas HTI, ISIS atau semacamnya). Jawaban ini hanya bisa diberikan oleh si pengibarnya.

Persoalan berikutnya adalah, apakah benar ormas (NU) melarang pengibaran bendera tersebut, baik dalam perayaan Hari Santri (yang secara historis lebih berarti hari nasional ketimbang hari Islam) maupun dalam perayaan NU lain? Ketua PBNU KH. Said Aqil Siradj ngendika, “tak perlu dibakar, cukup disimpan saja”. Ya, bendera itu tak boleh dikibarkan. Tentu karena alasan penandaan tadi – bendera HTI. Lantas bagaimana dengan para simpatisan bendera tauhid tersebut (simpatisan bukan HTI, awam).

Ya. Nalar tekstual HTI mengambil peran dalam persoalan ini. Persoalan ini adalah persoalan simbolik yang mana dalam kasus ini, simbol itu diasosiasikan sebagai klaim simbol ormas HTI. NU sebagai ormas Islam kebangsaan – Islam Nusantara, karena alasan di atas tentu sensitif terhadap simbol tersebut.

Kemudian terlihat jelaslah bagaimana Islam kebangsaan dan Islam fundamentalis (sebagai gerakan Islam transnasional) menjadi dikotomis gara-gara simbol tersebut. Sakralitas simbol/tanda mamainkan peran yang signifikan dalam persoalan semacam ini. Islam memang, satu namun pemahaman Islam itu beragam.

Kita tidak bisa memandang bendera tauhid adalah sebagai cerminan dari totalitas Islam, terutama di Indonesia. Memang lafaz tauhid adalah esensial dalam agama Islam, namun subuah kain hitam atau putih yang bertuliskan lafaz  tersebut tidak mengartikan bahwa itu adalah representasi totalitas agama Islam, baik secara individual maupun kelompok (ormas).

Secara historis, bendera tauhid memiliki kisah dan perjalannya sendiri, panjang dan sarat politis. namun harus ditekankan juga, bahwa seiring berjalannya waktu, kolompok radikal dan fundamentalis secara intensif juga menggunakannya sebagai topeng pergerakan mereka dalam rangka memurnikan ajaran Islam.

Tujuannya tidak lain adalah menghapus lokalitas agama Islam dan menggantinya dengan ajaran Islam transnasional ala meraka. Intensifnya, penggunaan simbol itu mebawa pada identifikasi yang sangat jelas bahwa ormas yang bersangkutan ingin mengganti ideologi yang berbeda dengan ideologi mereka. Dengan bendera itu, mereka berupaya menggantikan bendera-bendera lain menjadi bendera tauhid yang kemudian diasosiasikan menjadi bendera kekhilafahan.

Indonesia sebagai negara dengan azas Pancasila, tentunya tidak bisa sembarang mengibarkan bendera tersebut, karena alasan diatas. Orang bisa saja beralasan bahwa itu adalah bendera Islam, namun siapapun pasti paham pergerakan Islam transnasional dan visi misinya. Kita tidak bisa menyalahkan mengapa (dengan cerdiknya) ormas HTI memilih dan menjadikan bendera tersebut sebagai simbol/tanda mereka (yang jelas alasan sejarahlah yang mereka gunakan – karena dulu….).

Namun secara cerdas kita bisa menyikapi hal-hal serupa dengan kesadaran, bahwa masih subur berkembang dan tersebarnya organisasi terlarang di bumi Indonesia. Ancaman laten tersebut tentu harus kita waspadai demi keutuhan NKRI dan ideologi Pancasila. Sikap yang bijak dan santun tentu sangat diperlukan dalam merespon persoalan simbolik ini.

Bijak berarti menempatkan sesuatu pada tempatnya, secara cerdas dan santun dalam situasi dan kondisi yang tepat. Ini bukan persoalan tentang “apakah si pengibar bendera HTI atau si pembakar seorang nasionalis sejati”. Mungkin jika pengibar bendera tauhid itu tidak datang, dan mungkin kalau tindakan pembakaran tersebut tidak diekspose, masalah simbol ini tak akan naik ke permukaan. Hikmahnya adalah, semuanya telah terjadi.

Refan Aditya
Honorer. Penyimak obrolan-obrolan Filsafat dan seputarannya, Anggota grup Facebook Esoterika-Fourm Spiritualitas, dan sedang menekuni dunia Online Journal System. Penggemar Paul McCartney
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Individualisme dan Kecenderungan Nalar Eksploitasi

Sebelum Siddhata Gautama mencapai puncak pencerahan nirwana. Di masa kecilnya, ia pernah diajak ayahnya untuk menghadiri aktivitas pembajakan tanah yang oleh masyarakat setempat, dianggap...

Resolusi Kemandirian Pangan

Beberapa waktu yang lalu terjadi kegaduhan akibat statemen yang dilontarkan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi tentang rencana impor beras. Sejumlah kalangan kemudian bereaksi dan memberikan...

Diskursus Proporsionalitas Pidana dalam Kebijakan Formulasi Sanksi Pidana

Pada bulan Maret lalu, Badan Legislasi (Baleg) DPR RI menyampaikan laporan terkait pembahasan Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas Tahun 2021. Dalam laporan tersebut disampaikan...

Taklid: Terpelesetnya Keulamaan Kita

Kegagalan kita dalam beragama adalah tidak teliti dalam membaca nash--baik itu perintah maupun larangan. Budaya taqlid kiranya memang mengelayuti konteks beragama di Indonesia. Beragama...

ARTIKEL TERPOPULER

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Strategi Mengikis Angka Golput

Golongan putih (Golput) atau perilaku non-voting (orang-orang yang tidak menggunakan hak pilihnya) masih menjadi bayang-bayang Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019. Padahal, pesta demokrasi ini akan diselenggarakan...

Enzo Allie dalam Polemik Denny Siregar dan Birgaldo Sinaga

Baru-baru ini media sosial kita diramaikan dengan kehadiran sosok pemuda blasteran Indonesia-Perancis yang mendaftar sebagai taruna akademi militer (Akmil). Pada awalnya, pemuda bernama Enzo Allie...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.