Sabtu, Mei 8, 2021

Belajar Kebijaksanaan Dari Zaman Aksial

Mungkinkah Sistem Zonasi “Universitas” Dibuat

Dalam mempraktikkan format baru  Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tentu menuai banyak kritikan. Walupun sistem zonasi sudah berlaku tahun lalu, namun dengan adanya pengesahan...

Sengkarut Tafsir MK Tentang LGBT

Publik kembali diramaikan dengan adanya Putusan MK No. 46/PUU-XIV/2016 pada tanggal 14 Desember 2017 yang pada intinya menolak permohonan terkait dengan perzinaan (Pasal 284...

Ingin Anak Hobi Baca? Mulai dari Guru dan Orang Tua

Rasanya ponsel pintar dan internet kini sudah menjadi kebutuhan pokok semua orang, termasuk anak-anak. Bagi ibu zaman sekarang, ponsel menjadi senjata paling ampuh agar...

Mendorong Multilateralisme Vaksin

Vaksin Covid-19 telah menjadi 'barang' paling berharga, paling dicari, dan paling diperebutkan oleh berbagai negara pada saat ini. Betapa strategisnya vaksin itu sehingga disebut...
Nabhan Aiqani
Alumnus Ilmu Hubungan Internasional Universitas Andalas

Kita kini hidup dalam masa genius ilmiah dan teknologi, tapi untuk pendidikan spiritual, kita jauh tertinggal dibanding orang-orang bijak zaman Aksial. Kepada merekalah kita mesti berguru (Karen Armstrong, 2006).

Dapat dikatakan, pemahaman tentang zaman aksial belumlah terlalu umum ditengah pemahaman masyarakat secara keseluruhan. Sehingga untuk mengawali, perlu pemaparan singkat mengenainya. Zaman aksial adalah zaman yang memiliki rentang antara tahun 900-200 SM. Pada zaman ini, sendi-sendi dan dasar keagamaan mulai dicari untuk kemudian disusun menjadi satu aliran keagamaan murni. Kata aksial sendiri, memiliki akar kata “axios” yang berarti nilai. Dapat juga diartikan zaman aksial adalah zaman dimana munculnya banyak nilai-nilai dan pemahaman keagamaan yang sifatnya mencari tujuan dari hidup ini, utamanya dalam hal hubungan secara trasenden (ilahiah). Ada begitu banyak tokoh adiduniawi yang muncul memenuhi rongga-rongga kehidupan rohaniah manusia di zamannya, bahkan hingga saat ini.

Harus diakui manusia-manusia bijak pada zaman aksial, memiliki pengetahuan akan dunia yang lebih mendalam dibanding manusia pada zaman ini. Mereka mempertanyakan persoalan fisik dan metafisik yang terjadi, sampai hal-hal terkecil tentang kehidupan manusia pun dipertanyakan.
Sedikit penganta rsingkat diatas dimaksudkan sebagai pengayaan khazanah pengetahuan bagi kita semua. Tulisan ini akan banyak membahas, bagaimana tokoh-tokoh zaman aksial mampu menjadi manusia yang tidak egoistis, memandang segala persoalan secara positif dan terbuka, menanamkan nilai-nilai kearifan dengan sedapat mungkin menghindarkan diri dari perbuatan-perbuatan tercela maupun amoral. Segala sesuatu dipikirkan dengan tenang dan bijaksana, tidak mengedepankan ego dan nafsu pribadi semata.

Nah, menjadi suatu hal yang terbalik bila kita refleksikan pada kondisi kontemporer. Satu hal yang patut kita unggulkan, karena secara penguasaan sains dan teknologi kita jauh lebih maju dari manusia zaman aksial, tapi secara pemahaman akan nilai-nilai dasar kehidupan kita tidak ada apa-apanya dibanding mereka. Kesederhanaan dan kebijaksanaan hidup menjadi perbincangan yang memenuhi ruang-ruang diskusi di kalangan masyarakat pada zaman aksial itu.

Tak bisa dibantah, jikalau ada banyak manusia genius di zaman ini, namun perilakunya sama sekali tidak mencerminkan sosoknya sebagai manusia yang berpengetahuan.Maraknya terjadi kasus-kasus asusila dan tindak kejahatan yang menimpa manusia sekarang ini menunjukkan keringnya pemahaman akan hal-hal yang bersifat rohaniah. Kita telah jauh meninggalkan prinsip kebajikan dan kepedulian terhadap sesama, ujung-ujungnya terjebak dalam lorong kehidupan tanpa makna.

Tak berlebihan bila cerita tentang Diogenes (seorang filosof miskin beraliran sinisme, yang kemana-mana hanya dengan sebuah tong besar) diungkap kembali. Ketika ia ditanyai oleh Kaisar Aleksander Agung, “apa yang kau inginkan, Diogenes? apapun akan aku berikan padamu” ujar Aleksander menawarkan. Dia menjawab dengan jawaban yang tak terduga, “ aku hanya meminta satu hal padamu, Alek, tolong anda berdiri menyingkir agar sinar matahari bisa mengenai tubuhku.” Begitu luhur budi seorang di zaman itu, karena memandang apa yang telah ia miliki sudah cukup dan mampu untuk memberikan kebahagian kecil dalam hidupnya.

Sangat Ironis, bila dibanding dengan “dagelan politik” perebutan kekuasaan yang tak kunjung akhir, sampai menggunakan cara-cara keji agar kepentingannya dapat tercapai, tidak peduli apakah itu bersesuaian atau tidak dengan etika dan moral. Aturan hukum hanya dipandang sebagai kata-kata indah, yang tidak akan mampu menjamahnya.

Kalau pun boleh berandai, mereka juga perlu hidup dan belajar lagi dari cerita china prasejarah, yang menampilkan sosok bijak Yao dan Shun. Yao merupakan seorang raja yang memimpin dengan arif dan bijaksana, menyandarkan kepemimpinannya pada prinsip-prinsip kebajikan. Menariknya di akhir kekuasaan, ia tidak mewariskan kekuasaan pada anaknya sendiri. Yang menurutnya, dia tidak akan mampu memimpin dengan mengedepankan budi luhur nan agung. Sosok Shun yang diluar dugaan muncul meneruskan suksesinya. Shun yang hanya seorang petani miskin biasa, ia bahkan tidak pernah menduga bisa menduduki jabatan ini. Jatuhnya pilihankepada Shun, dikarenakan Yao merupakan seorangpemimpin yang memiliki sifat adi luhung dan tidak terlalu mencintai dunia (zuhud).

Adalah hal yang langka di temui di zaman ini, dimana elit-elit kekuasaan akan menjatuhkan pilihan pada orang-orang yang benar-benar mampu dan memiliki empati medalam akan kepedulian untuk menyejahterakan rakyat. Setidak nya fakta itu bisa dilihat ketika massifnya dinasti politik (kekuasaan), disana-sini. Apabila kondisi demikian yang tercipta, tendensi kekuasaan akan mengarah pada penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power). Seirama dengan adagium hukum dari Lord Acton (1834-1902), Power tends to corrupt and Absolute power corrupts absolutely (kekuasaan cenderung disalah gunakan dan kekuasaan absolut pasti disalah gunakan).

Apa yang terjadi kini, harus disadari merupakan kelalaian kita dalam memahami pentingnya hakikat hidup. Prinsip-prinsip kebajikan bukan menjadi tren, hal hal yang baik dipandang lucu dan terabaikan. Mana mungkin di zaman ini ada pemimpin, layaknya Umar bin Khattab yang mau turun dari satu rumah ke rumah, berjalan malam hanya untuk memastikan kondisi masyarakatnya dalam keadaan baik dan berkecukupan. Hingga ia menyesali dirinya sendiri, karena ada satu keluarga yang tidak dapat memenuhi kebutuhan makan anaknya.

Demikan juga dengan dengan nilai-nilai ahimsa (tanpa kekerasan) yang dijalankan dalam budaya hindu. Pun dengan, para penyangkal dunia di zaman India kuno, yang rela meninggalkan kenikmatan dunia, hanya demi mencari hakikat kehidupan (athman).

Inilah yang alfa dalam kehidupan manusia yang serba ada saat ini. Manusia modern kini hidup bergelimangan kemewahan. Tidak ada yang peduli dengan kondisi sosial yang ada disekitarnya. Mata hati mereka telah dilenakan dan dibutakan.

Akhirnya, mau tidak mau kita harus belajar dan menyadari tindakan-tindakan amoral yang marak terjadidenganatautanpadisadari, justru akan mengarahkan kehidupan menuju kehampaan hidup. Hidup tanpa memiliki nilai, makna akan hidup telah dipandang sempit, terbatas pada kepentingan peribadi. Kata “Aku” harus bisa seminimal mungkin direduksi, karena sejatinya kata orang-orang zaman aksial, saat seseorang mampu mengendalikan egonya, disaat itulah dia menjadi manusia seutuhnya.

Nabhan Aiqani
Alumnus Ilmu Hubungan Internasional Universitas Andalas
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Idealitas Tata Kelola Perpustakaan

Perpustakaan sebagai pusat informasi menjadi salah satu media yang dituju oleh masyarakat untuk mendapatkan informasi melalui literatur melalui bahan pustaka tercetak. Meskipun teknologi semakin...

Negara dan Usaha Pemajuan Kebudayaan

Indonesia dikenal dunia sebagai negara yang multikultural dengan pusparagam kebudayaannya yang sangat melipah ruah, dari ujung Sabang di Aceh sampai tanah Merauke di Papua...

Pembelajaran Jarak Jauh, Efektifkah?

Sejak ditetapkannya pandemi Covid-19 di Indonesia, banyak sektor yang terdampak, mulai dari ekonomi, pariwisata, sosial dan budaya termasuk sektor pendidikan. Pembelajaran tatap muka (offline) yang selama...

Memperkuat Proteksi Konstitusi

Akhir-akhir ini, diskursus mengenai perpanjangan masa jabatan presiden menjadi tiga periode semakin menguat. Untuk masa sekarang, Pasal 7 UUD NRI 1945 menegaskan pembatasan masa...

Orientalisme, Prancis, dan Kita

Kita tentu masih ingat beberapa bulan lalu hebohnya sebuah kasus di Prancis mengenai gambar Nabi Muhammad yang dianggap melecehkan Islam, yang menuai reaksi keras. Dalam...

ARTIKEL TERPOPULER

Khotbah Idulfitri: Inikah Ramadan Terakhir Kita?

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا Ramadan berlalu dan kita masih duduk termangu. Apa saja yang telah kita lakukan...

Menjawab Ahmad Daryoko, Parasit 212

Sudah sejak lama orang ini kerap menyebarkan kabar bohong. Motif di balik itu sebenarnya karena sakit hati. Orang ini pernah jadi Ketua Serikat Pekerja...

Beberapa Kesalahan Berpikir Kita

Proses berpikir merupakan salah satu komposisi dari pola aktifitas manusia dalam kehidupan, sekaligus menjadikan nya sebagai prestise seseorang agar terhindar dari segala bentuk keterasingan...

Kartini-Kartini 4.0

“Habis bikin kopi, sachet nya jangan dibuang sembarangan, pilah ke tempat sampah plastik!” begitu kata istri. Alhasil, saya harus memungut ulang sachet plastik kopi...

Agility di Pertamina

Membaca berita mengenai pengangkatan direksi Pertamina dengan tagline lebih agile, fokus, dan cepat, menggoda penulis untuk kembali mengulas kebijakan-kebijakan pemerintah dari kacamata agile. Pertama kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.