Senin, Juli 15, 2024

Asuransi Nelayan, Solusi yang Tidak Nyambung

Fauzan Hidayat
Fauzan Hidayat
Birokrat - Santri

Profesi yang paling mengerikan adalah nelayan. Nyawa menjadi taruhan ketika seorang nelayan mulai menuju samudera untuk mencari nafkah. Sebuah niat suci nan mulia dengan harapan agar mendapatkan banyak hasil tangkapan yang banyak demi keluarga tercinta. Tapi kematian terasa begitu dekat, khususnya saat cuaca ombak besar dan angin kencang.

Terdengar kabar dari kampung saya Kepulauan Banyak -sebuah wilayah yang terdiri dari gugusan pulau-pulau kecil di Provinsi Aceh- bahwa salah seorang warga hilang di tengah laut. Hanya tersisa perahu kecilnya yang terbalik dan beberapa peralatan tangkap yang mengapung.

Tim SAR dan masyarakat setempat pun sampai satu pekan fokus untuk membantu mencari keberadaan si nelayan yang hilang. Namun, sampai pada titik maksimal pencarian korban tak kunjung ditemukan.

Kejadian hilangnya nelayan itu bukanlah yang pertama. Hitungan saya selama 15 tahun dibesarkan di wilayah kepulauan yang indah itu ada sekitar 10 peristiwa nelayan yang hilang saat mencari ikan dan tak kunjung bisa kembali pulang.

***

Betapa banyak nelayan yang melihat informasi cuaca yang tenang di hari itu, tapi ketika ditengah laut malah harus menantang maut dengan ombak-ombak besar.

Sebagian mereka juga ada yang selamat dari hantaman ombak. Tapi pastinya selalu menyisakan kepedihan karena mesin perahu yang rusak akibat terendam air, alat tangkap yang hanyut hingga perahu yang hilang.

Tidak jarang pula korban hantaman badai itu ditemukan setelah berhari-hari terkatung-katung di tengah lautan. Badan kurus kering karena tak makan, beberapa jemari kaki putus karena menjadi santapan ikan-ikan.

Problem berupa ancaman terhadap nyawa nelayan kita bukan hanya sebatas badai dan ombak besar saja. Ada pula yang tidak kalah mengerikan, yaitu si predator buaya.

***

Kasus-kasus menantang maut para nelayan itu sebenarnya tidak hanya terjadi saat berhadapan dengan cuaca badai dan ombak saja. Masih di area yang sama, beberapa nelayan pencari lobster dan tripang pun harus mempertaruhkan nyawa karena berhadapan dengan predator mengerikan, buaya. Tahun 2021 ini saja dilaporkan ada 2 orang warga setempat yang menjadi korban terkaman buaya saat mencari lobster dan tripang.

Puluhan kasus yang sama memang tidak sampai kehilangan nyawa. Tapi setidaknya kehilangan beberapa anggota tubuh yang digigit dan ditarik oleh sang predator seakan menjadi hal yang lumrah saja bagi mereka. Kenapa lumrah? Karena berapa puluh kali pun kasus itu kembali terjadi, profesi menyelam itu tetap saja dilakoni. Tuntutan hidup, tidak adanya alternatif mata pencaharian lain serta ketiadaan keterampilan lain menjadi alasan utama mereka tetap menganggap buaya sebagai teman sekaligus lawan dalam mencari makan.

***

Demikian sekilas potret kehidupan masyarakat pesisir kita. Negara besar yang dikenal dengan poros maritim dunia ini masih menyimpan segudang persoalan tentang kehidupan nelayan. Kita belum berbicara tentang overfishing, ikan murah, pukat trawl, forced labor anak dibawah umur serta angka harapan hidup masyarakat pesisir yang rerata rendah (Dibawah 65 tahun).

Permasalahan yang ada masih sangat mendasar, yaitu nyawa manusia. Sebagian besar nelayan tidak punya alternatif profesi selain melaut, melaut dan melaut. Sementara ketidakpastian cuaca serta sang predator buaya selalu mengintai dan menjadi ancaman setiap kali ingin mencari nafkah di laut.

***

Ada sebuah kebijakan pemerintah dalam menyikapi fenomena kecelakaan nelayan ini, yaitu klaim asuransi jiwa hingga Rp 200 juta bagi nelayan yang meninggal dunia akibat kecelakaan di laut, Rp 160 juta untuk mereka yang mengalami kecelakaan saat melaut, Rp 80 juta untuk mereka yang mengalami cacat permanen dan Rp 20 juta sebagai biaya perawatan rumah sakit. Asuransi tersebut tentunya dengan S&K yang berlaku seperti batasan usia, ukuran GT Kapal dan sebagainya.

Sebagai warga negara yang budiman, kita semestinya mengapresiasi kebijakan ini. Artinya, pemerintah peduli dengan nasib nelayan kita dengan menggelontorkan triliunan anggaran untuk asuransi. Tapi, apa nyambung solusi untuk melindungi nyawa nelayan dari ancaman kematian ini adalah asuransi?  

Lha yang namanya asuransi ya pastinya nelayan akan diwajibkan secara mandiri membayar iuran setiap bulan. Bisa saja mereka berfikir  “dari pada bayar asuransi, lebih baik beli 2 liter bensin agar minyak mesin perahu terisi, atau lebih baik beli 2 kg beras biar dapur mengepul”. 

Mungkin sekilas terlihat fikiran mereka sangat pragmatis. Tapi bagi mereka yang sedang terhimpit dengan masalah ekonomi, menyelesaikan urusan perut adalah perkara yang paling logis.

Sebagian lagi bahkan bisa saja berpandangan “kalo saya bayar asuransi tiap bulan, terus saya mati di laut. Istri dan Anak saya toh yang dapat ratusan juta. Lalu, istri saya kawin lagi. Yang nikmati uang itu kira-kira siapa ? Ya saya gak sudi!”. 

Benar saja, siapa juga yang rela jika “tabungan” yang bertahun-tahun disimpan di asuransi pada akhirnya dinikmati oleh orang lain?

Akhirnya, yang tinggal di benak hanya pola pikir bahwa kebijakan asuransi itu tak ubah seperti obat penenang bagi keluarga yang sedang merasakan sakit yang teramat perih karena kehilangan tulang punggungnya.

Kebijakan asuransi yang katanya dianggap sebagai upaya perlindungan bagi nelayan mungkin ada benarnya. Tepat apabila asuransi itu digunakan untuk membiayai kecelakaan saat melaut, cacat permanen dan biaya perawatan rumah sakit. Tapi, jika asuransi itu dianggap sebagai perlindungan bagi nelayan yang setiap hari terancam nyawa akibat angin kencang atau buaya, tentu hal itu tidak tepat sama sekali.

Sekali lagi, saya tidak berniat untuk menyalah-nyalahkan upaya pemerintah dalam melindungi nasib nelayan melalui asuransi. Tapi, tolong jangan anggap dengan adanya asuransi itu tugas dalam melindungi keselamatan mereka telah selesai. Kemudian fokus hanya kepada upaya bagaimana mereka mau ikut menjadi peserta asuransi dengan berbagai metode.

Ironi sebenarnya jika jawaban dari permasalahan ancaman jiwa nelayan ini adalah asuransi. Karena yang mereka butuhkan adalah bagaimana agar dalam setiap perjalanan menuju laut tempat mencari makan itu nyawa mereka tidak lagi terancam. Bukan asuransi. Nyawa telah melayang, apa guna uang 200 juta? Sungguh telat.

Kematian adalah keniscayaan yang dihadapi setiap insan. Tapi, Tuhan telah menciptakan nalar, kaki dan tangan untuk dapat berbuat demi kehidupan yang lebih baik. Adapun asuransi sebagai upaya mewujudkan kehidupan yang lebih baik bagi para nelayan itu kiranya belum dapat dihubungkan dengan nalar yang sehat anugerah Ilahi itu.

Bukankah kebijakan yang lebih manusiawi adalah mencari jawaban dari pertanyaan “Bagaimana cara melindungi para nelayan dalam pusaran maut ini?”

Fauzan Hidayat
Fauzan Hidayat
Birokrat - Santri
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.