Kematian menjadi niscaya yang tak akan bisa dipisah dan dihindarkan dari kehidupan dan kemanusiaan. Kepastian itu layaknya penghidupan yang tengah orang-orang jalani saat ini, dalam putaran detik, menit dan jam yang berputar selama sehari penuh. Kehidupan akan mensyaratkan akhir yang berkesudahan, dengan mati pulalah kehidupan menjadi momentual dalam satuan waktu yang temporal.
Kematian dalam Islam disebutkan sebagai kejadian yang memisahkan eksistensi kehidupan material menuju alam immaterial, dari alam persepsi menuju alam konsepsi. Keberangkatan ini tentu bukan semata tanpa tujuan, akan tetapi sebagai balasan atas tindak-tanduk di dunia. Agar terpilah dari pada orang-orang pilihan-Nya, yaitu orang-orang yang senantiasa mendorong dirinya pada usaha-usaha penghambaan (‘abid) dan pengabdian (khalifah) kepada Allah SWT.
Sebab penghambaan dan pengabdian menjadi kerja-kerja aktual seorang yang bertaqwa. Taqwa menjadi predikat paling tinggi dan pengharapan paling besar bagi seorang muslim. Hanya melalui derajat taqwa-lah Manusia—meliputi hamba Allah lainnya seperti Jin—berbeda dihadapan-Nya.
“Wahai Manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari laku-laki dan perempua, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Alah Maha Mengetahui, Mahateliti” (QS. Al-Hujurat {49]: 13)
Derajat pembeda yang benar-benar terpilah dari substansi keimanan yang terpancar pada amalan-amalan sholeh yang murni dan tertuju pada keridhoan-Nya. Bukanlah semata kualitas pembeda yang bersifat artifisial dari komparasi-komparasi fisiologis, akan tetapi bersifat transenden, melampaui persepsi-persepsi indrawi bahkan akal budi. Sebab adakalanya akal budi yang universum-pun tidaklah mampu menilai kualitas kemurnian dari tindakan-tindakan kemanusiaan yang ada. Tidak jarang bahwa motif dan intrik manusia mengkaburkan esensi dari amalannya.
Kematian menjadi pemisah yang nyata, dari kehidupan yang dipenuhi oleh intrik dan permainan kepentingan yang terselubung rapih kepada ketertelanjangan motif dan kejujuran saksi-saksi bisu yang melekat pada tiap-tiap diri manusia.
“Dan kamu tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu terhadapmu bahkan kamu mengira Allah tidak mengetahui banyak tentang apa yang kamu lakukan.” (QS. Fushilat [41]: 22)
Sehingga kematian akan mengantar diri manusia pada kenyataan kehidupannya, tanpa topeng dan jubah yang menutupinya. Sehingga tak dapat dielakan bahwa kematian akan berurusan erat dengan momen akbar dan pembuktian manusia sebagai “diri” yang yang rapuh dan tak berdaya.
Kematian dan Waktu
Kematian sangat berurusan erat dengan waktu, dengannyalah kematian menjadi semacam penantian atau petaka yang akan menghampiri setiap yang bernyawa. Sebagaimana tegas-Nya dalam Alquran “Setiap yang bernyata akan merasakan mati”.[1] Sehingga mati akan sangat beralasan dan menjadi siklus abadi dari kehidupan itu sendiri. Bahwa kehidupan akan terus berlangsung beriringan dengan kematian didalamnya, sebab bila mati tidak lagi ada padanya, maka kehidupan bukan lagi berupa “kehidupan” melainkan kemustahilan. Sebab waktu selalu menandai awal dari segala perjalanan kehidupan, tanpanya waktu dan kehidupan akan menjadi semacam paradoks yang hanya mampu diatasi oleh Ketuhanan.
Kematian tidak dapat diakhirkan (laa ya yastakhirun) ataupun disegerakan (wa laa yastaqdimun), kematian amat berhubungan dengan misteri dari temporalnya kehidupan. Kenapa Allah menjadikan kehidupan di dunia ini sementara? Kenapa Allah tidak menjadikan kehidupan di dunia ini kekal dengan bentuk-bentuk hukuman yang terselenggara langsung di dunia, agar dunia ini dapat tentram?
Tentu pikiran semacam ini hanyalah persepsi atau anggapan sepintas saja, yang penuh keraguan dan terbatas pada kemampuan argumentasi manusia. Waktu menjadi elemen penting dari berbagai macam evolusi pengetahuan. Begitupun dengan kematian, seiring dengan kemajuan peradaban, waktu telah membentuk alam pikir manusia pada evolusinya yang paling matang. Dewasa ini pikiran manusia telah memikirkan keabadian sebagai jalan baru untuk mematahkan hukum kematian sebagai niscaya.
Akan tetapi, alih-alih pikiran itu dapat dikenal dan masyhur di tengah-tengah masyarakat, peradaban manusia saat ini justru berbanding terbalik dari angannya tersebut. Di tengah kondisi yang liputi ketidakpastian, umat manusia terjerembab pada kenyataan akan kematian yang begitu dekat keberadaanya. Termometer—atau yang beitu trend saat ini yaitu, termogun—yang menandakan suhu badan sekitar 38 derajat, saat orang-orang berjibaku ditemani masker yang bergantungan pada daun telinganya, nafas yang terengah-engah karena sesak dan sulitnya bernafas menjadi rangkaian dari kematian yang begitu halus dan sangat mengancam kehidupan seluruh umat.
Hingga akhirnya setiap kematian adalah penantian bagi yang merindukan-Nya. Kematian adalah tanda dari berakhirnya kehidupan dan terputusnya diri dari waktu temporal (times) menuju waktu absolut (dure). Hingga penyangkalan terhadap kehidupan adalah sikap yang tak mampu dan berarti bagi kehidupan. Bunuh diri hanyalah pengalihan dari takdir satu menuju takdir lainnya. Artinya bunuh diri pun tidak lantas menjadikan mati sebagai usaha meng-segerakannya, akan tetapi ialah kesudahan yang memang telah sampai pada waktunya.
[1] Lihat di QS. Ali Imran [3]: 145;185; QS. Al-Anbiya [21]: 35; Al-Ankabut [29]: 157
