Kamis, Juli 18, 2024

Apakah Perjuangan Kemerdekaan Hanya Milik Laki-Laki?

Lutfiana Mayasari
Lutfiana Mayasari
Alumni Kajian Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia. Anggota komunitas Puan Menulis, tertarik pada kajian hukum, gender, dan perdamaian.

Pembahasan mengenai perjuangan menuju kemerdekaan, ingatan kita akan merujuk pada panitia kecil, panitia Sembilan, anggota BPUPKI, dan PPKI. Hal ini disebabkan karena buku sejarah kita dari level SD-SMA hanya mengeksplorasi hal-hal tersebut diatas. Pun demikian dengan actor sejarah yang dimunculkan. Satu-satunya perempuan yang sering disebut adalah Ibu Fatwamati, istri Sang Proklamator sekaligus penjahit bendera merah putih yang dikibarkan pada 17 Agustus tahun 1945.

Padahal, sebagaimana disebutkan oleh Ny. Suyatin Kartowiyono bahwa “Pergerakan Wanita Indonesia merupakan suatu bagian yang tidak terpisahkan dari Pergerakan Nasional“. Kaum perempuan banyak menyumbangkan tenaga dan fikirannya secara maksimal dalam rangka menyambut kemerdekaan.

Mereka menyadari bahwa pembacaan proklamasi bukan berarti Indonesia bisa bebas 100 persen dari kungkungan Jepang. Pasukan Jepang yang meskipun telah kalah ternyata tetap menurunkan serdadu di pos-pos yang vital. Mesin perang dimainkan Jepang, bendera merah putih dilarang untuk dikibarkan. Hal ini berdampak pada suhu perjuangan pemuda Indonesia yang semakin memuncak.

Tak ketinggalan, para perempuan juga ikut berjuang dengan bergabung dalam laskar perjuangan bersenjata. Perempuan dengan rentang usia 15-20 tahun menjalankan peran sesuai dengan tupoksi masing-masing laskar. Baik di bidang dapur umum, kesehatan, bahkan menjadi pasukan tempur di garda terdepan.

Hal ini sesuai dengan pernyataan Maria Ulfah yang termuat dalam Arsip Daerah Kaoem Wanita Dalam Masyarakat Baru, bahwa kaum perempuan juga bekerja dengan giat membantu kaum laki-laki sampai pada tercapainya suatu kemakmuran bersama dalam negeri ini. Tanpa kerjasama yang baik antar keduanya baik di ranah publik maupun domestik, maka kemerdekaan akan menjadi ilusi semata.

Dapur Umum Wani (Wanita Negara Indonesia)

Soekarno menyiapkan dapur umum dan mengamatkan pada Erna Sutoto Jayadiningrat yang sekaligus pemimpin gerakan Wanita Negara Indonesia untuk memenuhi kebutuhan logistik para pemuda yang sudah tak sabar lagi menunggu intruksi untuk melawan Jepang.

Erna Sutoto Jayadiningrat menjadikan rumah pribadinya sebagai markas kegiatan dapur umum. Tepatnya di Jalan Mampang Nomor 47 Jakarta, dengan mengerahkan seluruh anggota keluarga untuk ikut berperan dalam memenuhi kebutuhan dapur umum tersebut. Salah satunya adalah dengan berbagi peran dalam mendapatkan suplay bahan makanan seperti beras, ikan, dan buah-buahan. Bahan-bahan tersebut didapat dari saudagar-saudagar pribumi yang kaya raya dan memiliki kepedulian yang besar terhadap perjuangan meraih dan mempertahankan kemerdekaan.

Kibaran bendera merah putih, dan meningkatnya volume pemuda yang terus berdatangan di dapur umum pada akhirnya menarik perhatian Sekutu yang membonceng Nica. Kegiatan didalamnya diawasi, aktifitasnya dicurigai, hingga pada akhirnya merah putih diganti dengan bendera Belanda.

Tak tinggal diam, Erna Sutoto Jayadiningrat mengecam tindakan serdadu tersebut. Gerakan protes ia lakukan, dan menuntut Van Hoogstraten selaku atasan Belanda untuk mengentikan tindakan serdadunya. Erna Sutoto Jayadiningrat bersikukuh bahwa dapur umum yang ada dirumahnya adalah bentuk kemanusiaan dan kepedulian terhadap sesama. tidak berkaitan dengan politik, sehingga bendera merah putih tak boleh diganti dengan bendera manapun.

Laskar Wanita Indonesia (LASWI)

Berbeda dengan dapur WANI yang mempersiapkan kebutuhkan logistic, Laskar Wanita Indonesia (LASWI), adalah sebuah laskar yang disiapkan untuk turun ke medan tempur sebagai pejuang. Ialah Sumarsih Yati Arudji, perempuan tangguh yang merasa prihatin dengan kondisi bangsa yang terjajah. Kekagumannya pada sosok perjuangan RA. Kartini yang mampu bersuara ditengah dominasi patriarki menambah semangatnya untuk menyemangi kaum perempuan untuk berjuang melawan penjajah.

Kesadaran akan keseimbangan peran laki-laki dan perempuan di wilayah publik salah satunya dalam perjuangan mengangkat senjata ia peroleh dari sosok Siti Aisyah. (Sugiarta, 1985). Keberanian Siti Aisyah dalam memimpin perang Jamal melawan Thalhah dan Zubair meyakinkan Sumarsih Yati Arudji. Bahwa kebatilan adalah musuh bersama yang harus ditumpas tanpa memandang jenis kelamin. Maka Ny. Sumarsih Yati Arudji Kartawinata membangkitkan semangat tidak hanya para ulama dan santri tetapi kaum ibu atau muslimah pun harus ikut berkorban untuk mempertahankan kemerdekaan. (Ahmad, 2010)

Anggota laskar LASWI mendapat pelatihan kemiliteran, pembinaan fisik dan mental, baris berbaris, taktik gerilya, penggunaan senjata, kepalangmerahan, dan manajemen dapur umum. Sedangkan persenjataan yang dimiliki saat itu antara lain bamboo runcing, pistol makser, granat, keris, beberapa ekor kuda, dan persenjataan lainnya. (Bonnie, 2012)

Salah satu keberhasilan yang dicapai oleh laskar ini adalah keikutsertaaannya dalam membumihanguskan Bandung menjadi lautan api. Dengan semangaat yang membara beliau mengajak para wanita untuk ikut serta mempertahankan kemerdekaan. Kemahiran anggota LASWI dalam memasang dan merakit senjata berbanding lurus dengan pergaulan mereka yang baik dengan masyarakat. Tujuannya tak lain adalah guna menyadarkan seluruh masyarakat Indoneia akan pentingnya berjuang melawan penjajah. Tanpa memandang suku, ras, agama dan jenis kelamin.

Kenapa Laskar Perempuan Jarang diperbincangkan?

Selain WANI dan LASWI, masih banyak lagi laskar perempuan yang ikut berjuang dalam meraih dan mempertahankan kemerdekaan. Antara lain LPI (Laskar Putri Indonesia), Wanita Pembantu Perjuangan (WPP), dan lain sebagaimana. Tidak munculnya peran perempuan dalam buku sejarah dibangku sekolah berkaitan erat dengan bagaimana Orde Baru berhasil mengebiri gerakan perempuan dengan menghidupkan narasi domestikasi.

Melalui isu GERWANI yang acapkali bernarasi peyoratif, Orde Baru berhasil mengkonstruk pemikiran bahwa perempuan yang “baik” adalah perempuan yang menjalankan perannya sebagai ibu rumah tangga diranah domestik. Gerakan perempuan diluar rumah dianggap bertentangan dengan kodrat perempuan, meskipun bergabung dengan organisasi yang positif sekalipun.

Organisasi perempuan dilebur dengan organisasi yang merujuk pada jabatan suami. Kemahiran perempuan dalam memberikan pelayanan terhadap suami, dalam mengatur rumah tangga, dan dalam mendidik anak dijadikan satu-satunya tolak ukur kesempurnaan perempuan. Maka tak heran jika keikutsertaan perempuan dalam laskar dan juga perannya dalam mengusir penjajah jarang dibahas dalam buku sejarah.

Maka bertepatan dengan 76 tahun kemerdekaan Indonesia dan 23 tahun pasca reformasi, saatnya kita mulai memunculkan peran perempuan dalam memperjuangkan kemerdekaan. Untuk menampilkan fakta sejarah yang non diskriminatif terhadap salah satu gender. Dan untuk membuktikan bahwa kemerdekaan adalah hasil perjuangan, darah, dan keringat dari para pejuang baik laki-laki maupun perempuan.

Referensi

Ahmad Mansyur Suryanegara, 2010. Api Sejarah 2, Bandung: Salamadani Pustaka Semesta, 2010.

Sugiarta Sriwibawa, 1985. Laskar Wanita Indonesia, Jakarta: PT.Dunia Pustaka Jaya.

Bonnie Triyana, 2012. “Srikandi Revolusi,” Historia.

Lutfiana Mayasari
Lutfiana Mayasari
Alumni Kajian Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia. Anggota komunitas Puan Menulis, tertarik pada kajian hukum, gender, dan perdamaian.
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.