OUR NETWORK
Minggu, September 19, 2021

Hermeneutika Paskakolonial di Era Reformasi

Ghaniey Arrasyid
Mahasiswa dan bergiat di lingkar studi Sasadara

Indonesia sebagai negara yang pernah dijajah oleh beberapa negara seperti Belanda, Jepang dan Inggris meninggalkan beberapa artefak-artefak pengetahuan kepada rakyat Indonesia. Hasil dari pengetahuan membawa corak tersendiri bagi sebuah peradaban. Munculnya beberapa tempat atau teknologi baru memberikan perubahan gerakan bagi bangsa ini.

Pemaknaan terhadap realitas inilah digali menggunakan sebuah gagasan melalui teks atau wacana. Pramoedya Ananta Toer sebagai sastrawan ternama menggambarkan kondisi di era kolonialisme menggunakan tetralogi pulau burunya yang mampu mengguncang dunia. Tabir yang tertimbun kembali terbuka dengan gambaran yang dikemas melalui balutan cerita sastra memperhalus dan membaca kembali realitas sebelumnya.

Peranan hermeneutika diharapkan mampu mendedah dan mengetahui maksud dari setiap teks yang tersirat. Teks bukanlah sebuah hal yang sepele. Pasalnya dengan teks akan melahirkan sebuah wacana yang dimana mampu memberikan perubahan dalam kehidupan manusia.

Michel Foucoult dalam Arkeologi Pengetahuan (1966) menyampaikan bahwasannya wacana adalah esensi dari setiap karakteristik manusia. Gagasan wacana yang diadopsi dari kumpulan teks menjadi sebuah jiwa dalam gerakan yang diilhami masyarakat.

Maka dari itu, Foucoult memberikan dua keterkaitan seperti relasi kekuasaan dan wacana. Dikutip dari (Martono, 2014) mengilhami wacana dari penyampaian Foucoult, bahwasannya wacana didapatkan dari sebuah menifestasi kekuasaan melalui sebuah manifestasi idea.

Dari situ akan timbul sebuah tanda khas dari setiap kekuasaan yang dilaksanakan. Pengelompokan ataupun klasifikasi dari setiap momentum yang ada secara tidak langsung memberi gambaran karakteristik dari periode-periode tertentu. Membaca kembali pascakolonial adalah menyadarkan kembali kondisi hari ini –reformasi yang sebenarnya tidak berubah total dengan fase-fase sebelumnya.

Ania Loomba (1955) membaca terkait paskakolonial sebagai buntut perubahan kolonialisme yang berevolusi seolah kolonialisme itu telah hilang, padahal ia hanya berubah wujud dengan menjadi karakter baru dan tetap menanamkan paham colonial yang tak terlihat.

Ania adalah sastrawan asal India. Pengamatan Ania mengenai Bahasa di India menjadi daya tarik tersendiri setelah Inggris menginvasi dan menjajah India. Kekuasaan Foucult bermain pada masalah ini. Analisis wacana diterapkan untuk mengetahui seberapa kuat wacana mempengaruhi maka sekuat itupula penguasaan dalam suatu wilayah sedang terjadi diluar kekuasaan fisik –defacto dan dejure.

Kasus di India adopsi Bahasa inggris masih begitu kuat dilantutkan disamping penggunaan Bahasa asli India. Pola-pola seperti ini melahirkan sebuah wacana yang tetap melekat walaupun kolonialisme Inggris di India sudah selesai. Dalam Arkeologi pengetahuan, Foucoult mengatakan:

Wacana tersusun atas tanda-tanda, namun apa yang di (wacana) kan lebih dari tanda-tanda untuk menunjuk sesuatu. Yang lebih disini diartikan bukan hanya sekadar bahasa (langue) dan ujaran (parole). Yang lebih inilah yang harus kita singkap dan jelaskan. 

Orde baru yang telah hilang dan digantikan semangat reformasi sebagai sebuah view terbaru untuk menggantikan pandangan lama. Reformasi muncul ketika kesadaran  masyarakat benar-benar geram karena kebebasan berekspresi yang dibredel dan berpuncak atas tekanan ekonomi yang memaksa peranan rakyat muncul.

Bila kita telaah kembali, peralihan orde baru tidak bisa hanya diidentikan dengan pelengseran Soeharto, akan tetapi lebih dari itu. Kultur kebudayaan orde baru masih tertanam begitu kuat melalui jaringan yang matang dan terstruktur di kursi pemerintahan hingga persekongkolan dagang setelah disepakatinya Michael Camdeseus dengan Soeharto untuk menerima bantuan dana karena krisis ekonomi.

Bahkan bila kita ulas lebih dalam dunia orde baru yang pernah dikaji panjang lebar oleh Dhaniel Dakidae dalam bukunya Cendekiawan dan Kekuasaan di era Orde Baru, manyampaikan pengaruh neokolonialisme di negeri ini. Penguasaan sektor-sektor strategis seperti pertambangan dan eksploitas sumber daya alam patut kita resapi kembali, pasalnya kita sebagai penghuni bangsa ini hanya sebagai penonton.

Sistem pasar yang telah menguasai kehidupan di Indonesia, tidak bisa terbendung pengaruhnya. Pasar mampu menciptakan lahan basah bagi masyarakat berupa nilai ekonomi yang pasti dibutuhkan oleh individu atau kelompok. Peningkatakan jumlah sumber daya manusia yang terus mengalami kenaikan membutuhkan jumlah pasar dengan jumlah besar pula.

Liberalisasi pasar dengan membuka kran investasi besar, masih menjadi solusi untuk membuka tanahny ditinggali pemilik modal dan menggunakan tenaga kerja dalam negeri bagi kepentingan mereka. Globalisasi masih menjadi pemantik sehingga masyarakat terbawa oleh sensai dan keinginan yang nantinya aka berimbas pada fetisisme komoditas yang disampaikan oleh Adorno.

Manuel Castells menganggap bahwa abad ini relevan untuk melek terhadap informasi. Dikarenakan informasi sebagai kunci untuk mengais kebutuhan perekonomian sebuah bangsa. Pertarungan akan sebuah informasi membawa pada pertarungan relasi modal antar kelompok. Dimulai dari sinilah neokolonialisme muncul dan menyampaikan tandingan wacana di negara yang disinggahi.

Melalui sebuah pemaksaaan yang diakibatkan dari persekongkolan antara pemilik modal dengan pemerintah. Neo kolonialisme sulit dibendung karena telah bermain cantik sehingga terkesan rabun tidak berimbas secara langsung kepada masyarakat. Jangka panjang dan penuh perhitunganlah membuat mereka bertengger dengan aman.

Ghaniey Arrasyid
Mahasiswa dan bergiat di lingkar studi Sasadara
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.