Dalam dunia yang semakin semrawut dan hingar bingar ini, kita seakan dipaksa untuk terus berenang mengikuti arus yang tak pernah reda. Notifikasi demi notifikasi bersahut-sahutan. Linimasa tak pernah tidur. Ruang-ruang privat perlahan menguap menjadi ruang publik. Di tengah kegaduhan itu, teknologi informasi bukan lagi sekadar alat bantu, sebagaimana kata Neil Postman; teknologi telah menjelma menjadi sesuatu yang disadari atau tidak telah “dituhankan”.
Bagaimana tidak. Ia menyediakan hiburan tanpa jeda, pengetahuan tanpa batas, bahkan kanal bagi pemenuhan hasrat dan libido. Generasi sebelumnya mungkin terperangah menyaksikan anak usia dini begitu lincah menggerakkan jari-jemarinya di atas layar, seolah dunia berada dalam genggaman. Dunia yang dulu terasa luas, kini meringkuk dalam saku.
Jika kita menarik diri sejenak dari pusaran itu, dan mencoba melihat dari sisi yang lebih reflektif, sejumlah pemikir filsuf, sosiolog, antropolog, psikolog, telah lama menaruh perhatian tajam pada gejala ini.
Salah satunya adalah Sherry Turkle melalui bukunya Alone Together: Why We Expect More from Technology and Less from Each Other (2011). Dalam lintasan intelektualnya, Turkle mengulik secara serius bagaimana teknologi bukan hanya mengubah apa yang kita lakukan, namun juga bagaimana kita “meng-ada”.
Konsep alone together, secara liar dapat dimaknai sebagai keadaan ketika orang-orang duduk bersama dalam satu meja, namun masing-masing tenggelam dalam dunia maya, fenomena ini adalah potret paling “vulgar” dari manusia modern. Secara fisik kita berkumpul, namun secara eksistensial kita tercerai-berai. Fenomena ini bukan lagi pengecualian, melainkan kebiasaan: di kantor, di sekolah, di rumah, bahkan di ruang-ruang yang mestinya sakral bagi percakapan dan kehangatan.
Menurut Turkle, teknologi mengkatalisis perubahan yang subtil namun radikal. Ia tidak hanya menggeser perilaku, namun juga mengonstruksi ulang cara kita berpikir dan merasakan. Interaksi sosial yang dahulu menuntut tatap muka, kini digantikan oleh layar. Keheningan yang dulu memberi ruang kehangantan, kini diisi oleh scroll yang tanpa henti. Dunia riil perlahan tereduksi menjadi latar, sementara dunia maya menjadi panggung utama.
Dari realitas tersebut, Turkle membongkar sejumlah gejala psikologis yang lahir dari sikap alone together.
Ilusi Kebersamaan
Media sosial menghadirkan rasa hadir tanpa benar-benar hadir. Orang dapat berselancar secara bebas, merasa terhubung, merasa ditemani, walaupun secara riil ia sedang sendiri. Dalam kesunyian kamar, seseorang bisa merasa “ramai”. Dunia maya menjadi semacam perlindungan diri dari rasa sepi, sebuah selimut digital yang menghangatkan, namun sekaligus mengasingkan.
Ruang Pelampiasan Pikiran dan Perasaan
Platform digital menawarkan panggung yang luas bagi siapa saja untuk mencurahkan isi hati. Pujian, keluh kesah, kemarahan, bahkan ujaran kebencian tumpah ruah tanpa sekat. Otak manusia yang beragam, mood yang berubah-ubah, dan problematika hidup yang kompleks menemukan kanal ekspresinya.
Arena Ekspresi Diri Tanpa Batas
Jaringan sosial berubah menjadi ruang eksistensial baru. Tanpa banyak larangan dan batasan, seseorang dapat membangun citra diri sesuai kehendaknya. Identitas menjadi sesuatu yang bisa dikurasi, diedit, dan dipoles. Kita tidak lagi sekadar hidup; kita menampilkan kehidupan.
Dukungan dari Teman Virtual
Bagi sebagian orang yang di dunia riil mungkin merasa terabaikan, karena media sosial menawarkan atensi yang lebih mudah dan lebih cepat. Tanpa mengetahui latar belakang secara mendalam, orang dapat memberi simpati, dukungan, bahkan validasi.
Ruang Aman bagi Kaum Introvert
Media sosial sering dipandang sebagai medium yang membantu mereka yang kesulitan berbicara di dunia nyata. Ada yang begitu aktif di kolom komentar, berani memulai relasi baru secara daring, namun terdiam dalam perjumpaan fisik. Dunia maya menjadi ruang keberanian, meski belum tentu menjelma menjadi keberanian dalam kehidupan nyata.
Kelima gejala ini menghadirkan kontras yang tajam: mengapa orang lebih memilih aktif di dunia maya ketimbang di dunia riil. Tanpa sadar, kita hidup dalam paradoks: bersama untuk menyendiri, dan menyendiri untuk merasa bersama. Kita mengharapkan lebih dari teknologi, kehangatan, pengakuan, perhatian, dan pada saat yang sama menuntut lebih sedikit dari sesama manusia, karena relasi nyata menuntut kesabaran, kerentanan, dan komitmen.
Turkle secara sadar bahwa, ia tidak hanya mengkritisi kemajuan teknologi, melainkan mengingatkan kita bahwa manusia tetaplah makhluk yang harus tumbuh melalui percakapan. Jika tidak, maka kita akan terus hidup dalam keramaian yang sepi.
