Dalam beberapa tahun terakhir, media sosial tidak hanya berkembang sebagai ruang berbagi informasi, tetapi juga menjadi arena yang membentuk pola pikir dan perilaku sosial masyarakat. Di balik tampilan konten yang muncul pada layar pengguna, terdapat algoritma yang bekerja secara sistematis untuk memilah, merekomendasikan, dan mengatur informasi agar sesuai dengan preferensi individu. Hal ini menyebabkan media sosial memiliki pengaruh signifikan dalam membentuk opini publik, terutama terkait isu sosial, politik, dan ekonomi.
Algoritma media sosial dirancang untuk menampilkan konten yang dinilai “paling relevan” dengan kebiasaan pengguna berdasarkan aktivitas digital seperti riwayat pencarian, interaksi, dan durasi menonton. Meskipun bertujuan meningkatkan kenyamanan, sistem ini turut menciptakan filter bubble—situasi ketika seseorang hanya menerima informasi yang sejalan dengan sudut pandang mereka, sementara informasi alternatif tersaring secara otomatis. Akibatnya, masyarakat semakin rentan terhadap bias informasi, polarisasi pendapat, bahkan konflik digital.
Fenomena ini menjadi semakin kompleks ketika informasi yang beredar tidak selalu berasal dari sumber terpercaya. Peredaran berita palsu, disinformasi, dan konten provokatif mudah viral karena algoritma cenderung memprioritaskan konten dengan tingkat interaksi tinggi. Situasi ini mendorong munculnya opini publik yang dapat terbentuk bukan berdasarkan fakta, melainkan pada persepsi dan emosi yang dibangun melalui pola konsumsi informasi digital.
Di sisi lain, algoritma sebenarnya juga membuka peluang positif. Ketika digunakan dengan bijak, sistem ini dapat membantu masyarakat mengakses edukasi digital, meningkatkan literasi teknologi, serta memperkuat partisipasi masyarakat dalam berbagai isu publik. Misalnya, kampanye sosial, program edukasi, dan penyebaran informasi layanan publik dapat menjangkau audiens lebih luas dalam waktu singkat.
Namun, untuk memastikan aspek positif tersebut lebih dominan, literasi digital menjadi kunci utama. Masyarakat perlu memahami cara kerja algoritma, cara memverifikasi sumber informasi, dan pentingnya menilai konten secara kritis sebelum membagikan atau mempercayainya. Peran pendidikan, lembaga pemerintah, dan platform digital diperlukan untuk menciptakan ekosistem informasi yang sehat, akurat, dan bertanggung jawab.
Dengan demikian, media sosial dan algoritma di dalamnya bukan sekadar alat teknologi, tetapi kekuatan sosial yang membentuk dinamika masyarakat modern. Tantangannya bukan hanya bagaimana teknologi berkembang, tetapi sejauh mana pengguna dapat mengelola informasi secara cerdas agar tidak mudah terpengaruh oleh arus konten yang bersifat manipulatif. Pada akhirnya, transformasi digital akan membawa dampak positif hanya jika masyarakat mampu menjadi pengguna informasi yang kritis, adaptif, dan bertanggung jawab.
Refrensi :
