Sabtu, Januari 17, 2026

Algoritma Digital sebagai Cerminan Diri dalam Mazhab Islam

Bahtera Muhammad Persada
Bahtera Muhammad Persada
Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
- Advertisement -

Algoritma media sosial telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia modern. Bukan hanya perangkat teknis yang bekerja di balik layar, melainkan sebuah mekanisme sosial yang secara nyata membentuk cara manusia menerima informasi, membangun preferensi, dan memaknai realitas. Linimasa digital hari ini merupakan ruang pengalaman yang senantiasa dikurasi berdasarkan perilaku pengguna. Oleh karena itu, memahami algoritma tidak cukup dilakukan dari sudut pandang teknologi semata, tetapi juga menuntut pembacaan etis dan teologis.

Tulisan ini berangkat dari satu argumen pokok: algoritma media sosial bekerja secara kausal dan reflektif, dapat dibaca sebagai analogi kontemporer dari prinsip amal dan balasan dalam teologi Islam. Analogi yang dimaksudkan tidak untuk menyamakan sistem digital dengan hukum Ilahi yang absolut, melainkan untuk menunjukkan bahwa kehidupan digital manusia tetap tunduk pada logika sebab-akibat. Apa yang dilakukan manusia di ruang digital tidak pernah netral; ia membentuk lingkungan yang kemudian kembali memengaruhi dirinya.

Algoritma bekerja dengan merekam dan mengolah perilaku pengguna. Menonton, menyukai, membagikan, atau berhenti sejenak pada suatu konten kelak menjadi data yang menentukan rekomendasi berikutnya. Mekanisme ini menjelaskan bahwa algoritma tidak menciptakan kecenderungan dari ruang hampa, melainkan pola kuat yang telah hidup. Linimasa digital seseorang pada dasarnya adalah hasil akumulasi dari pilihan-pilihan individual yang dilakukan secara berulang.

Anggapan bahwa algoritma sepenuhnya menentukan perilaku manusia cenderung menyederhanakan persoalan dan berpotensi menghapus tanggung jawab subjek. Algoritma bersifat responsif, bukan normatif. Ia tidak membedakan antara yang baik dan yang buruk, tidak menilai manfaat atau mudarat, tetapi hanya mengulang apa yang paling sering diberi perhatian. Karena itu, dunia digital yang terbentuk tidak dapat dilepaskan dari peran aktif manusia sebagai penggunanya.

Dalam kerangka teologi Islam, hubungan antara perbuatan dan akibat dirumuskan secara tegas melalui prinsip al-jazā’ min jins al-‘amal. Setiap amal memiliki konsekuensi yang sepadan, baik dalam bentuk pahala maupun hukuman. Prinsip ini menegaskan bahwa manusia selalu berhadapan dengan dampak atas tindakannya sendiri, kendati dampak tersebut tidak selalu hadir secara langsung atau kasatmata.

Jika prinsip tersebut dibaca dalam konteks algoritma, muncul paralel yang relevan secara etis. Konten yang terus dikonsumsi akan diperbanyak, kecenderungan yang dipelihara akan dikuatkan, dan kebiasaan yang diulang akan membentuk lingkungan digital yang relatif menetap. Dalam batasannya, algoritma berfungsi sebagai mekanisme balasan berbasis perilaku, meskipun tanpa dimensi niat dan penilaian moral sebagaimana terdapat dalam hukum Tuhan. Ruang digital, dengan demikian, dapat dipahami sebagai ruang kausalitas etis yang memperlihatkan secara konkret hubungan antara pilihan dan akibat.

Dalam perdebatan klasik dalam teologi Islam mengenai kehendak Tuhan dan kebebasan manusia sendiri, muncul kontemplasi yang menarik untuk ditadabburi. Pada pandangan Asy‘ariyah yang menekankan dominasi kehendak Ilahi, namun tetap mengakui peran manusia melalui konsep kasb, dapat dibaca sebagai pengakuan terhadap keberadaan sistem besar yang membatasi ruang gerak manusia tanpa meniadakan tanggung jawabnya. Dalam konteks digital, algoritma dapat dipahami sebagai struktur yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali individu, tetapi tetap dibentuk oleh usaha-usaha manusia itu sendiri.

Sebaliknya, perspektif Mu‘tazilah yang menegaskan kebebasan penuh manusia atas perbuatannya memperkuat argumen bahwa isi linimasa merupakan refleksi langsung dari pilihan pengguna. Jika dunia digital seseorang dipenuhi oleh konten yang merusak atau tidak bermanfaat, maka secara etis tanggung jawab utama tidak dapat dialihkan kepada sistem. Algoritma dalam pandangan ini hanyalah alat yang memperbesar kecenderungan yang telah dipilih manusia.

Adapun Maturidiyah menawarkan posisi yang lebih moderat dan proporsional. Allah sebagai tuhan umat Islam menciptakan kemampuan dan struktur, sementara manusia menentukan arah penggunaannya. Pendekatan ini paling representatif untuk membaca relasi manusia dan algoritma. Sistem menyediakan kemungkinan, tetapi manusia tetap menjadi subjek yang menentukan kecenderungan dan orientasi ruang digitalnya.

Dari ketiga perspektif tersebut, kesimpulan menurut hemat penulis adalah tanggung jawab moral manusia tidak pernah hilang di ruang digital. Aktivitas daring bukan tindakan netral, melainkan bagian dari praktik etis yang memiliki dampak psikologis, sosial, dan spiritual. Kesadaran ini menuntut perluasan pemahaman tentang iman dan akhlak, yang tidak lagi terbatas pada ruang fisik, tetapi juga mencakup kebiasaan konsumsi informasi dan perilaku di dunia maya.

- Advertisement -

Algoritma memang tidak dapat disamakan dengan hukum Tuhan, tetapi ia dapat dibaca sebagai cermin yang menyingkap menjadi sebuah konsistensi antara sebab dan akibat. Melalui pembacaan teologis yang argumentatif, dapat ditegaskan bahwa kehidupan digital manusia tetap berada dalam horizon tanggung jawab moral. Kesadaran teologi digital pada akhirnya bukan tentang menolak teknologi, melainkan tentang menempatkan manusia kembali sebagai subjek etis yang sadar bahwa ruang yang tampak paling sepele ialah linimasa media sosial merupakan setiap pilihan yang memiliki konsekuensi.

Bahtera Muhammad Persada
Bahtera Muhammad Persada
Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Facebook Comment
- Advertisement -

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.