Sabtu, Mei 8, 2021

Akrobatik Kebijakan Pangan

Belajar Terhormat Dari Suka Cita Leluhur Membayar Pajak

Membaca Kontan Kamis, 5 Oktober 2017 mengenai realisasi pajak yang baru 60 persen pada September 2017, membuat saya tergugah untuk menulis ini. Pasalnya, kira-kira sudah...

Pemilu Ditengah Kewarasan Publik

Riuh gemuruh menuju perhelatan pesta demokrasi sudah mulai terasa dan begitu membahana di ruang publik. Pemilu 2019 yang dilaksanan secara serentak untuk memilih Anggota...

JANGAN MEMBERHALAKAN WACANA!

Indonesia akhir-akhir ini sering dilanda konflik yang kian hari semakin memprihatinkan. Kenyataan bahwa Indonesia dihuni oleh pelbagai elemen bangsa berupa ras, suku, dan agama...

Melawan Caleg Eks Napi Rasuah

Pepatah atau seloko adat sebagai salah satu nilai yang hidup didalam keragaman masyarakat Indonesia yang beradab adalah sebuah petuah yang perlu dimaknai isinya, pepatah/ungkapan...
kang jojo
Nama nya JOJO, dia lahir Di Garut , 06 oktober 1974. Dia adalah anak kedua dari enam bersaudara. Kedua orang tua saya berprofesi sebagai pedagang. Semasa kecil dia tinggal bersama orang tuanya di pedesaan, dan menghabiskan waktu kecil sampai remaja di Garut Dia SD-SMA di Garut, Kuliah di Fapet Unpad, meneruskan S2 di Univ Mercubuana Jakarta, sekarang dia sedang S3 di IPB Harapan nya dia ingin menjadi orang yang bermanfaat buat lingkungan nya

Sengakrut pangan selalu berulang. Awal tahun ini dihebohkan berita  pengrajin tempe tahu dibuat merana dengan hilangnya kedelai dipasar. Tak lama berselang,  pedagang daging sapi pusing tujuh keliling lantaran terganggunya pasokan daging impor yang berdampak melambungnya harga daging sapi.

Padahal pangan merupakan kebutuhan dasar  manusia agar dapat hidup sehat, aktif, serta produktif secara berkelanjutan. Begitu pentingnya pangan, wajar  mendiang persiden pertama RI, Ir. Soekarno mengaitkan pangan  ini dengan hidup matinya bangsa.

Hampir semua jenis tanaman pangan bisa tumbuh subur di Indonesia. Namun, keunggulan komparatif ini belum dimanfaatkan secara optimal akibat minimnya strategi jitu  pemerintah. Kurun waktu dua dekade terakhir, Indonesia terus terbelit persoalan krusial pangan. Hal ini tercermin dari Indeks Ketahanan Pangan Global (Global Food Security Index/GFSI). .

Angka GFSI, memang menunjukkan tren peningkatan sejak 2015 hingga 2019 (46,7 ke 62,6). Hal ini diikuti dengan membaiknya peringkat Indonesia ke posisi 62 dari 113 negara. Walaupun demikian, bukan berarti bayangan kerawanan pangan hilang. Setahun sudah pandemi Covid-19 hidup berdampingan dengan kita. Realita ini memberi hantaman keras bagi mereka yang bekerja dan mendapat upah harian. Bahkan, ada jutaan masyarakat yang harus menelan pil pahit karena terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Dampaknya angka kemiskinan merangsek naik.

Sebelum  pandemi, angka kemiskinan di Indonesia tercatat 9,22 persen. Kementrian sosial memprediksi pandemi ini menyebabkan kemiskinan meningkat menjadi 13,22 persen. Sedangkan Bank Indonesia memproyeksikan angka kemiskinan naik ke 11,25 persen menjadi 30,3 juta orang.

Sektor pertanian, sebagai sumber penghasil pangan utama masih tersandera berbagai kendala. Antaranya, kepemilikan lahan yang tidak mencapai skala ekonomi, tidak adanya perlindungan lahan produktif, minimnya penggunaan teknologi, hingga tidak terintegrasinya antara sektor hulu dan hilir. Kondisi itu diperparah  minimnya insentif bagi petani dan kebijakan perdagangan yang tak berpihak terhadap petani dan produknya.

Alhasil, produksi pangan dalam negeri masih kedodoran  memenuhi kebutuhan. Importasi pangan pun jadi mantra sakti dan nihil  solusi jangka panjang. Pada Januari-November 2020 lalu, impor bahan pangan utama mencapai 7,5 miliar dollar AS. Terdiri dari beras, gandum, jagung, kedelai, gula pasir, bawang putih, dan bawang merah.

Sengkarut kehancuran masif modal sosial petani dan pertanian dimulai ketika Indonesia menjadi pasien Dana Moneter Internasional (IMF) pada 1997-1998 silam. Kala itu, Indonesia harus meliberalisasi pasar, termasuk pasar pangan. Pelbagai subsidi, termasuk perlindungan petani dari gempuran impor, dihapus. Ketiadaan jaminan harga membuat kehancuran modal sosial petani dan pangan mencapai titik sempurna. Petani sering rugi ketimbang untung. Kalaupun untung, nilai keuntungan kalah dari pendapatan usaha lain. Sebagai makhluk ekonomi, petani pun meninggalkan sawahnya dan beralih jenis usaha.

Dampaknya, produksi pertanian kita semakin ambruk. Angka impor pangan kian tak terkendali. Tiap tahun Indonesia mengalami defisit pangan senilai miliaran dolar AS. Hal ini menyebabkan devisa negara banyak terkuras. Nilai tukar rupiah sulit menguat terhadap mata uang lain, khususnya dolar AS. Selanjutnya,  perekonomian Indonesia terus tergerus inflasi barang impor.

Tak mampu memenuhi kebutuhan pangan dari produksi dalam negeri, Indonesia kerap mengalami gejolak harga diikuti kelangkaan pangan. Hampir setiap menjelang perayaan hari besar keagamaan dan tahun baru, gonjang ganjing harga bahan pangan tak terelakan.  Seperti terjadi belakangan ini, kelangkaan pangan mendera kita. Padahal, gejolak harga pangan sangat berisiko. Ia menyokong 50 persen terhadap laju inflasi dan 75 persen terhadap garis kemiskinan.

Pandemi Covid-19 berdampak pada seluruh aspek kehidupan masyarakat, berbagai kebijakan yang dilakukan seperti Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). PSBB  membuat intensitas kehidupan sosial menjadi menurun, karena relasi sebagai dasar kehidupan perekonomian dibatasi. Dampak ekonomi pandemi Covid-19 terhadap sistem mutu dan pangan adalah turunnya pendapatan rumah tangga akibat terganggunya aktivitas ekonomi.  Selain itu, terhambatnya lalu lintas barang, termasuk pangan antarwilayah sehingga ketersediaan pangan di tingkat pengecer dan rumah tangga terganggu.

Peraturan PSBB selain berdampak pada distribusi pangan, yang dapat berpengaruh pada kenaikan harga pangan, juga memengaruhi pendapatan masyarakat. Penurunan pendapatan dipastikan berdampak pada penurunan permintaan pangan. Hasil kajian McKibbin & Fernando (2020) menunjukkan bahwa permintaan barang-barang pertanian diprediksi menurun 8,29 persen. Penurunan permintaan pangan ini dapat berlangsung lama karena sampai bulan Desember 2020 diperkirakan pertumbuhan ekonomi masih minus. Salah satu faktor penyebabnya adalah menurunnya konsumsi rumah tangga. Daya beli masyarakat yang hilang selama pandemi diperkirakan mencapai Rp362 triliun.

Kerawanan  masyarakat mengakses pangan sehat dan bergizi akan menekan sistem kekebalan tubuh yang meningkatkan risiko kesehatan termasuk peluang terpapar Covid-19. Bila penurunan kualitas konsumsi pangan ini tidak segera ditangani dikhawatirkan akan menambah prevalensi masyarakat yang mengalami rawan pangan. WFP (2020) memperkirakan terjadi peningkatan angka kurang gizi sebanyak 20 persen.

Menilik estimasi UNICEF, bila tidak  ada  kebijakan tepat dan cepat, jumlah anak yang mengalami kekurangan gizi akut di bawah 5 tahun dapat meningkat secara global sekitar 15 persen tahun ini karena pandemi. Kasus Indonesia sendiri,  3 dari 10 anak berpotensi rawan pangan, sebelum pandemi covid 19. Kini, rawan pangan berpotensi lebih parah. Kondisi ini akan menghambat upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang  dicanangkan dalam RPJMN 2020-2024

Respons untuk perbaikan kisruh pangan dapat dilakukan antara lain:  Pertama,  pemerintah  perlu terus berupaya menyediakan pangan pokok dalam jumlah cukup. Selain harus memastikan bahwa petani tidak mengalami kendala dalam menjalankan usaha.

Kedua, memastikan tersedianya pangan sumber protein hewani seperti telur dan daging dalam jumlah cukup dan harga yang terjangkau bagi masyarakat yang daya belinya menurun.

Ketiga, mendorong diversifikasi produksi pangan berbasis pangan lokal, terutama pangan sumber karbohidrat.  Keempat, pemanfaatan pekarangan, dengan melibatkan peserta

program kelompok wanita tani, karang taruna, santri, dan organisasi pemuda lainnya. Selain itu, optimalisasi teknologi, guna perbaikan tatalaksana pangan untuk menghasilkan bahan pangan mulai dari hulu ke hilir tidak dapat ditawar.

Terakhir, pemerintah perlu menjaga daya beli masyarakat. Program perlindungan dan bantuan sosial, perlu diawasi secara ketat pelakanaan dilapangan. Supaya mempersempit gerak peyelewengan kebijakan oleh oknum  yang kerap  terjadi.

Selama kita tak punya desain pangan yang jelas, hal tersebut hanya  memperdalam sengkarut pangan dan  defisit berkepanjangan. Alhasil, hal ini malah bisa menjegal swasembada dan daulat pangan.

kang jojo
Nama nya JOJO, dia lahir Di Garut , 06 oktober 1974. Dia adalah anak kedua dari enam bersaudara. Kedua orang tua saya berprofesi sebagai pedagang. Semasa kecil dia tinggal bersama orang tuanya di pedesaan, dan menghabiskan waktu kecil sampai remaja di Garut Dia SD-SMA di Garut, Kuliah di Fapet Unpad, meneruskan S2 di Univ Mercubuana Jakarta, sekarang dia sedang S3 di IPB Harapan nya dia ingin menjadi orang yang bermanfaat buat lingkungan nya
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Idealitas Tata Kelola Perpustakaan

Perpustakaan sebagai pusat informasi menjadi salah satu media yang dituju oleh masyarakat untuk mendapatkan informasi melalui literatur melalui bahan pustaka tercetak. Meskipun teknologi semakin...

Negara dan Usaha Pemajuan Kebudayaan

Indonesia dikenal dunia sebagai negara yang multikultural dengan pusparagam kebudayaannya yang sangat melipah ruah, dari ujung Sabang di Aceh sampai tanah Merauke di Papua...

Pembelajaran Jarak Jauh, Efektifkah?

Sejak ditetapkannya pandemi Covid-19 di Indonesia, banyak sektor yang terdampak, mulai dari ekonomi, pariwisata, sosial dan budaya termasuk sektor pendidikan. Pembelajaran tatap muka (offline) yang selama...

Memperkuat Proteksi Konstitusi

Akhir-akhir ini, diskursus mengenai perpanjangan masa jabatan presiden menjadi tiga periode semakin menguat. Untuk masa sekarang, Pasal 7 UUD NRI 1945 menegaskan pembatasan masa...

Orientalisme, Prancis, dan Kita

Kita tentu masih ingat beberapa bulan lalu hebohnya sebuah kasus di Prancis mengenai gambar Nabi Muhammad yang dianggap melecehkan Islam, yang menuai reaksi keras. Dalam...

ARTIKEL TERPOPULER

Khotbah Idulfitri: Inikah Ramadan Terakhir Kita?

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا Ramadan berlalu dan kita masih duduk termangu. Apa saja yang telah kita lakukan...

Menjawab Ahmad Daryoko, Parasit 212

Sudah sejak lama orang ini kerap menyebarkan kabar bohong. Motif di balik itu sebenarnya karena sakit hati. Orang ini pernah jadi Ketua Serikat Pekerja...

Beberapa Kesalahan Berpikir Kita

Proses berpikir merupakan salah satu komposisi dari pola aktifitas manusia dalam kehidupan, sekaligus menjadikan nya sebagai prestise seseorang agar terhindar dari segala bentuk keterasingan...

Kartini-Kartini 4.0

“Habis bikin kopi, sachet nya jangan dibuang sembarangan, pilah ke tempat sampah plastik!” begitu kata istri. Alhasil, saya harus memungut ulang sachet plastik kopi...

Agility di Pertamina

Membaca berita mengenai pengangkatan direksi Pertamina dengan tagline lebih agile, fokus, dan cepat, menggoda penulis untuk kembali mengulas kebijakan-kebijakan pemerintah dari kacamata agile. Pertama kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.