Senin, April 19, 2021

Akankah Gletser Abadi di Indonesia Hilang?

AHY dan Masa Depan Demokrat

Kisah partai politik tidak akan pernah habis untuk dibahas, salah satunya adalah Partai Demokrat (PD). PD dibawah kepemimpinan Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) menguatkan wacana...

Merawat Demokrasi: Merawat Percakapan di Ruang Publik

"Saya tidak setuju dengan pendapat Anda, namun saya akan membela sampai mati hak Anda untuk mengatakan hal itu" - Evelyn Beatrice Hall Menyelenggarakan demokrasi artinya...

Messi: Don’t Cry For Me Argentina

Tulisan ini pertama, untuk menghormati talenta terbaik dalam jagad sepak bola. Kedua, untuk memenuhi janji saya terhadap seorang sahabat di dunia maya, Prof. Subdan....

Agar Orang Miskin Tidak Mudah Sakit

Awal tahun ini kembali muncul kabar duka meninggalnya seorang bayi yang baru dilahirkan seberat 2,6 kg, di RSU Aceh Singkil, Aceh. Meninggalnya dikabarkan karena perawat...
Asri Sukanti
Mahasiswa Universitas Brawijaya

Indonesia merupakan negara tropis yang berada di Asia Tenggara yang memiliki salah satu gunung dengan puncak es yang abadi. Pegunungan Jayawijaya atau yang lebih dikenal dengan Puncak Jaya menjadi gunung tertinggi yang ada di Indonesia dengan ketinggian 4.884 meter dari permukaan laut (mdpl). Gunung Jayawijaya atau yang dikenal dengan istilah Gunung Cartenz Pyramid ini berada di Provinsi Papua yang luasnya membentang hingga ke negara Papua Nugini yang berada di Pulau Irian. Gunung ini merupakan gunung yang sekaligus masuk ke dalam tujuh besar puncak gunung yang tertinggi di dunia.

Puncak Jayawijaya merupakan puncak tertinggi di Indonesia yang memiliki salju di puncaknya. Salju yang berada di Puncak Jayawijaya dikenal dengan istilah sebagai salju abadi yang dikarenakan salju yang berada pada Puncak Jayawijaya tersebut tetap terus ada dan tidak meleleh meski berada di musim panas. Seperti yang telah diketahui bahwa Indonesia merupakan negara yang berada di daerah yang beriklim tropis dengan memiliki dua musim di dalamnya yakni, musim hujan dan musim kemarau. Oleh sebab itulah salju yang berada di Puncak Jayawijaya ini dikenal dengan sebutan salju abadi.

Dari tahun ke tahun, bumi selalu mengalami peningkatan panas yang disebabkan oleh aktivitas manusia di dalamnya yang mengakibatkan terjadinya pemanasan global. Penelitian yang dilakukan Kantor Met untuk Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) Inggris, menyatakan terdapat peluang yang semakin besar bahwa ambang 1,5 derajat Celcius merupakan sekitar 10% – yang sekarang akan terus berlipat ganda dan akan terus meningkat seiring dengan berjalannya waktu.

Seperti yang telah kita rasakan beberapa waktu ini suhu pada siang hari cenderung lebih gerah dibandingkan beberapa tahun kebelakang. Berdasarkan hasil pemantauan dari BMKG diperoleh bahwa banyak daerah di Indonesia yang mengalami kenaikan suhu maksimum dengan suhu maksimum tertinggi tercatat sampai pada suhu 37, 3 derajat Celcius dan dengan kelembaban udara minimum di bawah 60%.

Trend suhu udara yang terus menerus meningkat ini tidak hanya terjadi di Indonesia saja, tetapi juga pada banyak negara lain di dunia. Hal tersebut yang dinamakan dengan istilah pemanasan global. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan jika pada tahun 2020 merupakan tahun yang terpanas kedua sejak tahun 1850, setelah pada tahun 2016 lalu. Analisis dari BMKG juga menunjukkan hal yang serupa untuk rata-rata suhu udara di wilayah Indonesia mengalami peningkatan suhu menjadi lebih hangat dibandingkan oleh rata-rata klimatologi periode 1901-2000.

Trend pemanasan suhu udara permukaan ini juga diikuti dengan pemanasan di lautan. Seperti yang telah diketahui bahwa suhu permukaan laut pada kurun waktu 5 tahun terakhir mengalami pemanasan. Menurut hasil penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Advances in Atmospheric Sciences pada bulan Januari 2020, menyatakan bahwa kenaikan suhu rata-rata permukaan laut global pada tahun 2019 yaitu 0,075°C di atas rata-rata klimatologi tahun sebelumnya.

Menurut data analisis BMKG sejak tahun 1866, dapat dapat disimpulkan bahwa terjadinya perubahan iklim telah terjadi di wilayah Indonesia yang ditandai dengan kenaikan suhu yang mencapai 2,12°C dalam periode kurun waktu 100 tahun. Meningkatnya suhu pada permukaan air laut dapat memicu terjadinya badai tropis di Indonesia.

Semakin meningkatnya pemanasan global yang terjadi di seluruh dunia akan menimbulkan berbagai dampak yang terjadi. Akankah salju pada Puncak Jayawijaya ini akan tetap ada dan tidak akan hilang meski terjadi pemanasan global yang terus menerus?

Seperti yang telah kita ketahui bahwa salju yang berada di Puncak Jayawijaya terus mengalami pengikisan dari beberapa tahun terakhir. Menurut pengalaman pendaki yang telah mendaki pada Puncak Jayawijaya mengatakan bahwa salju yang ada di Puncak Jayawijaya mulai menipis. Hasil penelitian BMKG pada tahun 2010, bahwa ketebalan es pada Puncak Jayawijaya mencapai 31,49 meter dan berkurang sebanyak 526 meter dari tahun 2010 hingga tahun 2015 yaitu dengan rata-rata 1,05 meter per tahun. Ketebalan es pada Puncak Jayawijaya ini pun terus berkurang pada setiap tahunnya.

Gletser tropis yakni es yang berada di Puncak Jayawijaya ini sudah terkena dampak dari pemanasan global sejak beberapa tahun yang lalu. Gletser es abadi yang ada di Asia Tenggara ini tidak akan bertahan lama dan terus abadi.

Hal itu dikarenakan penyusutan es yang menutupi Puncak Jayawijaya ini terus terkikis dari tahun ke tahun dan menurut BMKG hingga tahun 2021 penyusutan mencapai 23,46 met. Dengan penyusutan gletser es yang terus menerus terjadi ini berdampak pada hilangnya gletser abadi di Puncak Jayawijaya. Bahkan telah diprediksikan oleh BMKG bahwa tutupan gletser es pada Puncak Jayawijaya akan hilang pada tahun 2025.

Seperti yang telah kita ketahui bahwa emisi gas rumah kaca di Indonesia dari tahun ke tahun hingga pada 2020 terlihat fluktuatif meningkat. Konsentrasi karbon dioksida (CO2) meningkat dibandingkan dengan rata-rata sebelumnya. Pemanasan global ini juga dipicu oleh terjadinya beberapa faktor diantaranya kebakaran hutan dan lahan yang dipicu oleh iklim yang ekstrem.

Selain itu, kenaikan suhu yang sangat signifikan dan perubahan temperatur global yang sangat mempengaruhi kondisi panas di Indonesia. Beberapa hal tersebut yang mempengaruhi kondisi panas di Indonesia hingga terjadinya pengikisan lapisan es pada gletser es di Puncak Jayawijaya yang diprediksikan akan hilang pada tahun 2025.

Asri Sukanti
Mahasiswa Universitas Brawijaya
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Tadarus Etika: Konsep, Kerja, dan Tunjang

Allah memperkenankan kita bertemu sekali lagi dengan bulan suci umat Islam, Ramadan 1442 H. Kian tahun kebutuhan manusia akan etika semakin kuat. Integritas melangka:...

Belajar di Sekolah Kembali? Mari Kurangi Kekhawatiran Kita

Pemerintah Indonesia berencana membuka sekolah lagi di bulan Juli 2021. Ini kabar menggembirakan, mengingat bahwa bagi beberapa anak, pendidikan adalah satu-satunya jalan keluar dari...

Terorisme Akan Selalu Dapat Tempat Jika Tokoh Islam Masih Ada yang Denial

Berkali-kali sudah esktremisme kekerasan dan kejahatan terorisme terjadi di negeri kita, sejak Bom Bali yang terjadi pada tahuan 2000an sampai tahun ini. Namun sikap...

Kubur Kosong (Refleksi Iman atas Banjir Bandang di Leuwayan)

Minggu, 04 April 2021, umat Katolik sejagat merayakan hari raya Paskah. Paskah adalah peristiwa kebangkitan. Karena itu merayakan Paskah berarti merayakan kemenangan Kristus atas...

Simbol Agama dalam Aksi Teroris

Di Indonesia dalam beberapa hari ini marak terjadi penyerangan oknum yang tidak bertanggung jawab pada wilayah agama dan kepolisian. Agama merupakan simbol kolektif dari...

ARTIKEL TERPOPULER

Masa Depan Peradaban Islam dalam Pandangan Ziauddin Sardar

Masa depan peradaban Islam dalam banyak tulisan selalu dikaitkan dengan ide kebangkitan Islam yang telah dimulai sejak abad ke-18 yang lalu. Meskipun sudah kurang lebih...

Kegiatan Di Bulan Suci Ramadhan Sesuai Pancasila

Indahnya bulan suci ramadhan tahun ini disambut suka cita oleh seluruh umat Islam dari Indonesia, luar negeri dan seluruh dunia setiap tahun. Dari hasil...

Definisi Kekuatan: Hard Power dan Soft Power

Konsep Dasar Power Kekuatan atau power dalam ilmu Hubungan Internasional adalah elemen utama, terutama dalam kaca mata realisme, Morgenthau menjelaskan bahwa perilaku negara pada dasarnya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.