Di era digital yang terus berkembang pesat, siapa yang tidak mengenal AI? Beragam jenis pekerjaan di bidang teknologi maupun selain teknologi seakan sangat dianjurkan untuk menggunakan Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan. Mulai dari guru yang diminta pakai AI dalam merancang media pembelajaran interaktif, tenaga medis yang mendiagnosis kesehatan dengan AI hingga profesi akuntan yang memanfaatkan AI guna menganalisis tren pasar.
Di lingkup UMKM sekarang pun dipaksa go digital + AI dalam rangka marketing produk, serta masih banyak lagi pekerjaan yang menggunakan AI terutama pekerjaan yang berfokus langsung pada aplikasi AI seperti content creator. Realitanya memang benar jika menggunakan AI tugas atau pekerjaan akan lebih cepat terselesaikan. Namun, di balik kecepatan, efisiensi, dan kemudahan, terdapat gangguan AI fatigue atau kelelahan psikologis akibat tuntutan “harus paham AI” walaupun tidak semua orang butuh dan bisa mengaplikasikan AI.
Apa Itu AI Fatigue?
Sejak kehadiran Covid-19, aktivitas penduduk dunia begitu berubah. Dulu kalau mau mengadakan rapat pasti harus ketemu secara luring, kini cukup dengan virtual meeting di Zoom atau Google Meet. Dulu manusia yang bertugas mengiklankan suatu produk atau jasa, sekarang cukup dengan Gemini, HeyGen, Synthesia, atau aplikasi berbasis AI lain yang terbukti menggantikan peran manusia. Dari sini, fenomena AI fatigue semakin umum terjadi karena penggunaan AI yang berlebihan dan cukup masif. Mirip dengan digital fatigue, AI fatigue ditandai oleh gejala seperti susah tidur, sulit berkonsentrasi, penurunan produktivitas, hingga gangguan kesehatan mental seperti kecemasan dan stres.
Dilansir dari TechTarget 2025, AI fatigue merupakan rasa lelah mental, emosional, atau operasional yang disebabkan oleh paparan berlebihan terhadap teknologi AI yang melanda individu maupun sekelompok orang yang diwajibkan untuk terus mengikuti perkembangan AI. Fenomena ini bisa muncul dikarenakan adanya perubahan serba cepat, kompleksitas sistem AI, dan tuntutan untuk terus belajar serta beradaptasi dalam lingkungan kerja ataupun kehidupan sehari-hari. Pada tahun 2022, American Psychological Association (APA) melaporkan bahwa paparan berlebihan terhadap layar dan informasi digital dapat mengakibatkan beban kognitif, yaitu keadaan otak yang mengalami terlalu banyak rangsangan sehingga sulit memproses informasi.
Pernyataan bahwa “sekarang apa-apa pakai AI” memang semakin terasa keberadaannya, mengingat meluasnya integrasi kecerdasan buatan dalam beraneka macam aspek kehidupan sehari-hari. Menghabiskan waktu seharian dengan media digital dapat melahirkan masalah kesehatan fisik dan psikis. Kurangnya aktivitas fisik akibat berlama-lama berselancar di internet, kerap kali menimbulkan rasa capek yang tidak sebanding dengan jumlah istirahat yang diberikan kepada tubuh dan otak kita.
Wajah AI Fatigue di Indonesia
Di negara-negara maju dengan teknologi super canggih, mungkin AI sangat membantu di dalam menyelesaikan pekerjaan. Di Indonesia, AI tidak hadir sebagai penolakan terbuka atau ledakan besar. Ia muncul diam-diam, lalu lambat laun menggumpal menjadi kejenuhan yang menyusup ke rutinitas sehari-hari. Sesudah itu, menghuni di pikiran sebagai rasa capek yang sukar diungkapkan.
Untuk para pekerja kantoran, AI telah menjanjikan efisiensi guna meringankan pekerjaan mereka. Saat ini tuntutan kinerja kian meningkat, target kerja kian membesar, dan deadline semakin ketat. Karena realitas tersebut, ungkapan “AI ada untuk membantu” telah berubah menjadi alasan yang membuat beban kerja terasa tidak ada ujungnya. Secara tidak sengaja, AI tampaknya menggeser batas potensi manusia, bukan menggantikan kelelahan.
Di lingkup pendidikan, guru dan dosen mengalami beragam bentuk kelelahan yang berbeda. Mereka diminta inovatif, adaptif, dan melek AI. Untuk mencapai semua itu, sering kali tidak diberi waktu khusus supaya bisa mengikuti training atau workshop yang kemudian mampu sepenuhnya memahami teknologi tersebut. AI tidak dipandang sebagai alat pedagogis, melainkan sebagai kewajiban administratif.
Sementara itu, AI terasa menjadi sesuatu hal baru yang jauh dari realitas bagi pelaku UMKM dan pekerja informal. Meskipun narasi mengenai digitalisasi dan kecerdasan buatan kedengarannya mengesankan, banyak orang di daerah atau di pedesaan tidak yakin harus memulai dari mana. Apa yang sebenarnya harus dilakukan dengannya, dan apakah sesuatu yang baru itu betul-betul relevan dengan pekerjaannya. Dalam situasi krisis ekonomi, kerap kali AI hadir bukan sebagai solusi, tetapi sebagai beban baru yang terdengar “bukan untuk orang seperti kita”.
Pada anak muda, kelelahan terhadap AI timbul dalam bentuk yang lebih halus. Selain cepat dan adaptif, mereka harus terus bisa membuktikan bahwa mereka sulit digantikan oleh AI. Oleh sebab itu, belajar AI menjadi kebutuhan sosial, tidak lagi pilihan. Mirisnya, semakin banyak peralatan dan perangkat yang canggih, semakin tergerus skill generasi muda.
Menarik untuk diperhatikan juga jika masyarakat Indonesia terus menggunakan AI di dalam ruang kerja serta kehidupan sehari-hari, walau tanpa antusiasme yang luar biasa. Tanpa rasa kepemilikan atau keyakinan apabila teknologi ini benar-benar mempermudah hidup, AI hanya dipakai sekadarnya saja. Sebatas mengikuti kemajuan peradaban dunia. Tatkala teknologi ini diterapkan tapi tidak lagi memberikan harapan, di situlah AI fatigue paling terasa.
Diam-diam Melakukan Perlawanan
Sejak kemunculan AI yang dimulai pada masa Covid-19, seolah-olah kerja menjadi terasa tidak pernah cukup. Produktivitas manusia dinilai dari seberapa cepat, seberapa otomatis, dan seberapa optimal ketika dalam menjalankan jobdesk-nya. Sesungguhnya AI itu tidak membuat kita malas, tetapi membuat lelah lantaran standar manusia terus dinaikkan. Bila tidak digunakan sesuai proporsinya, teknologi justru menambah beban psikologis bukan untuk mempermudah aktivitas. Maka dari itu, strategi yang efektif begitu penting untuk ditindaklanjuti dalam memanajemen penggunaan teknologi. Alhasil, tidak berdampak negatif terhadap kesejahteraan fisik dan mental kita.
Agar tidak sampai merasakan AI fatigue, maka kita perlu melakukan strategi melalui bentuk-bentuk perlawanan halus. Bentuk perlawanan tersebut seperti memakai AI sekadar formalitas, sedikit demi sedikit kembali ke cara manual, atau bisa pula memilih pekerjaan yang tidak terlalu canggih. Ini bukanlah suatu kemunduran, melainkan strategi bertahan. Apabila teknologi senantiasa berkembang, sementara manusia selalu lelah, siapa sebenarnya yang tertinggal?
