Sabtu, April 24, 2021

Sebuah Rumah Bernama Pleiku Stadium

Harari Tentang Manusia: Dari Perekayasa, Hingga Sekadar Data

Semakin kita terkoneksi dengan internet, semakin baik algoritma menyimpan data kita dan semakin presisi rumus tersebut mendefinisikan siapa kita. Bagi kita, berselancar di dunia...

Sepak Terjang Kekuatan Oposisi Menuju 2024

Pemilihan presiden 2019 menjadi percaturan politik bagi capres petahana Jokowi dengan capres oposisi, Prabowo. Rematch ini membuat sebagian masyarakat Indonesia mengeluh terhadap calon yang digadang...

Didi Kempot: Sebuah Fenomena Coming Out dan Pek-Nggo

Lagu-lagu Didi Kempot pertama kali saya dengar, jika saya tidak salah ingat, sekitar pertengahan tahun 2002 di dalam bus AKAP milik PO Putra Remaja...

Ilmu Hitam dan Dukun Santet

Realitas hidup konkrit menunjukkan bahwa manusia ada dan hidup di dalam kosmos. Ia merupakan bagian dari kosmos dan lazimnya disebut mikro kosmos, sementara makro...
Gusti Aditya Suprihana
Pecinta sepakbola, terutama sepakbola Asia Tenggara. Berusaha mengarsipkan segenap kultur dan sub-kultur sepakbola di Asia Tenggara.

Kebanyakan dari kita akan menganggap bahwa sepak bola adalah semua kegiatan yang berlangsung di dalam stadion—walau tentu saja hal itu benar—namun tidak semua, hanyalah sebagian yang dapat dibenarkan.

Bagai melihat tumbuh kembang anak manusia, ketika beranjak dewasa, tidak hanya rumah yang dijadikan sebagai tempat untuk memahami sebuah realitas sosial, ada juga masyarakat, sekolah dan lingkungan.

Sepak bola bak sebuah anak yang tidak hanya berada di dalam dekap sang ibu bernama stadion melulu—ada lingkunga pergaulan, ada tempat untuk mengembangkan wawasan taktikal, ada pula kegiatan mengarsipkan sejarah— jadi, menganggap sepakbola hanya sebuah kegiatan di stadion adalah sebuah pengkerdilan terhadap olahraga tersebut secara terselubung. Tidak terlalu berlebihan, stadiun dapat dikatakan sebuah rumah bagi mereka yang menikmatinya.

Walau perlu digaris bawahi, stadion adalah realitas sosial yang amat penting bagi sepakbola. Bagai melihat sebuah rumah, begitu halnya melihat stadion bagai sebuah Kolosseum di Roma—sebuah tempat pertunjukan besar guna untuk mengadu para gladiator terbaik. Pula, di sisi lain, stadion dapat dijadikan sebuah tempat berkumpul, berbincang dan bercengkrama bagai sebuah “keluaraga yang memiliki ikatan darah” berupa mencintai klub yang sama.

Rumah, dalam definisi yang sesungguhnya, adalah sebuah tempat bekumpul bagi segenap individu yang memberi sebuah ikatan bernama keluarga. Ciri mereka adalah memiliki ikatan darah, mengisi waktu berkumpul agar hilang sebuah kekosongan. Kemudian, apakah sebuah tempat dengan sekumpulan manusia yang membuat nyaman namun tidak memiliki ikatan darah dapat dijadikan sebuah definisi sebuah rumah?

Apakah sekelompok orang itu adalah keluarga? Sepak bola memperluas definisi tersebut, menghilangkan batasan keluarga. Selama dirimu merayakan gol yang sama, menikmati selebrasi sekelompok pemain yang sama, maka merekalah keluarga.

Stadiun adalah sebuah rumah yang sesungguhnya. Derai air mata—baik itu yang bersifat bahagia maupun sebaliknya—pelukan hangat seorang sahabat yang menenangkan maupun bersuka cita, tabuh deru bass drum yang dapat memacu adrenalinmu dan bersifat memburu bagi lawan, nyanyian dan sebuah koreo yang dapat membuat kau mati kutu karena terlalu menikmati suasana, hingga yang terpenting adalah sebuah tempat di mana tidak ada rekayasa terjadi di sini.

Mereka yang mengisi stadiun selamanya bukan seorang bajingan, namun tergantung bagaimana sudut pandang dirimu melihatnya. Bisa saja kau lebih bajingan dari pada pria bertato yang berteriak “Yo ayo Persebaya” atau “Su su Lao Toyota” ketimbang dirimu yang duduk dan mentertawakan setiap usaha manusia.

Semua terjadi di Pleiku Stadiun. Sebuah stadiun milik salah satu klub besar di Vietnam, Hoàng Anh Gia Lai (selanjutnya HAGL). Banyak yang mengatakan bahwa atmosfer di stadiun ini bakalan membuat siapa pun merasakan merinding yang luar biasa.

Semua dikatakan tanpa alasan, hal ini karena stadiun ini memiliki konsep stadiun-stadiun di daratan Eropa yang tidak memiliki lintasan lari dan seakan para supporter hendak memangsa semua klub lawan yang akan berlaga di Pleiku Stadium.

Kapasitas stadiun ini sekitar 12 ribu penonton. Tidak ada bandingannya dengan stadiun-stadiun yang ada di Indonesia. Namun, apalah guna sebuah bangku yang banyak jika suporter yang datang tidak lebih dari hitungan jari saja.

Inilah yang coba digagas oleh HAGL guna meningkatkan apa yang harusnya mereka perlukan, yakni penonton dan suporter. Kapasitas kecil tidak mengurangi daya magis sebuah atmosfer, yang terpenting adalah sejauh mana stadiun ini terisi oleh suporter. Kemudian, bagaimana gemuruh penonton di dalamnya.

Percuma kapasitas puluhan ribu, namun yang terisi hanya sekitar seperempatnya. Percuma jika ketika kapasitas terpenuhi, namun semua hanya diam dan sepi, mengobrol bersama pacarnya atau menikmati hidangan mereka—walau hal ini sepenuhnya tidaklah salah—namun, HAGL butuh sebuah gairah.

Bukankah kualitas lebih baik ketimbang kuantitas?

Fasilitas stadiun ini pun dapat dikatakan baik. Ada beberapa ruangan dengan standar internasional seperti ruang konferensi pers, ruang ganti, medis dan ruang pijat. Semua dilengkapi dengan peralatan modern. Itu berada di tribun utama, yakni tribun A.

Stadion Pleiku yang dikenal dibangun sebelum 1975, awalnya hanya menampung sekitar 5.000 penonton saja. Dengan berkembangnya industri mereka, maka renovasi dan meningkatkan kapasitas menjadi sepuluh ribu pun dilakukan—masuknya berbagai sponsor baru—hingga pada tahun 2010, era baru dimulai dengan kapasitas 12.000 bangku yang semuanya duduk.

Kenyamanan, modernitas tercermin di tempat itu, keempat sisi berdiri ditutupi dengan atap dan semua 12.000 kursi di halaman dilengkapi dengan kursi berwarna-warni. Dihiasi menjadi 3 warna utama: hijau, merah, kuning dengan bahan yang kuat dan tahan lama.

Dari tribun A, penonton dapat dengan mudah melihat kata-kata Hoang Anh Gia Lai disingkat “HAGL” yang muncul di tribun B, C, D. Tribun C dan D adalah tepat di atas aku duduk, maka tribun ini pun tingkat dan di bawahnya terdapat kios yang berguna untuk membantu keuangan klub.

Menurut sejarah, HAGL didirikan pada tahun 1976 dengan nama ội bóng đá Gia Lai – Kon Tum. Sebelum Kon Tum memisahkan diri dan dijadikan provinsi tersendiri oleh pemerintah Vietnam. Hal ini wajar, banyak klub yang berasal dari dua provinsi bahkan lebih dan kini mereka terpisah dan membuat klubnya sendiri. Ambil contoh Da Nang dan Quang Nam.

Logo mereka memiliki arti yang sama dengan logo Provinsi Gia Lai. Memiliki julukan Mountain City lantaran dalam logo klub ini terdapat dua gunung biru yang menjulang tinggi ke langit. Logo HAGL dirancang sangat sederhana, mengekspresikan perkembangan dan kehidupan klub yang berkelanjutan.

Kedua bintang mewakili dua kali kejuaraan nasional.  bersama dengan roda gigi yang mewakili pembangunan berkelanjutan. Yang membedakan adalah ketika logo provinsi berbentuk lingkaran, HAGL berbentuk tameng dengan roda gigi yang tersemat di dalamnya. Roda gigi ini dimaksudkan memiliki semangat pembangunan berkelanjutan.

Baik atau tidaknya sebuah stadiun bukanlah dari sebuah apa yang ia tawarkan. Tetapi, yang terbaik adalah dari apa yang ia berikan terkait kenyamanan dan keamanan manusia-manusia di dalamnya. Tidak selamanya stadiun dengan tribun terbuka itu buruk, pula sebaliknya—tidak melulu stadiun dengan tribun tertutup diperuntukan bagi mereka yang manja dan tidak bergairah.

Kembali lagi, kepada sebuah rumah yang membuat bahagia dan merasa aman, selama sebuah stadiun menampung segala suka cita, kekecewaan, kesedihan dan hiruk pikuk mu di kehidupan, sebuah stadiun tidak akan menolakmu untuk bercerita, tidak mungkin memberikan saran yang menyesatkan.

Hanya coba saja kau diam, memejamkan mata seraya merasakan bisikan yang menggetarkan dirimu. Kemudian, bukalah mata, dirimu tidak sendiri di sana. Sesulit apapun masalah, orang-orang yang berdiri—maupun duduk—siap bersorak merayakan sebuah gol kemenangan maupun sebuah gol yang tak memiliki tujuan apapun sekalipun—gol hiburan dari sebuah kekalahan.

Gusti Aditya Suprihana
Pecinta sepakbola, terutama sepakbola Asia Tenggara. Berusaha mengarsipkan segenap kultur dan sub-kultur sepakbola di Asia Tenggara.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Toleransi, Kita Perlu Belajar dari Negeri Tolland

Sebelum mulai mendaratkan jemari diatas keyboard laptop, sejenak terlintas dalam pikiran saya sebuah kutipan yang menarik dari buku yang berjudul “Berjamaah (lagi) walau tak...

Terorisme Lahir dari Watak yang Retak

Salah satu musuh terbesar kemanusiaan adalah terorisme. Ia lahir dari watak retak manusia yang dikendalikan hasrat untuk membunuh. Dalam aksinya yang agresif, teroris tak...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mencari Teman Masa Pandemi? Why Not, Berikut Tipsnya

Sudah Satu Tahun Pandemi Covid-19 Melanda Indonesia. sekolah-sekolah, kampus, tempat yang bahkan kantor sekalipun harus berkegiatan online. Mahasiswa baru, murid baru dan orang-orang yang baru memulai...

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

ARTIKEL TERPOPULER

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mempertanyakan Wacana Koalisi Partai Islam Oleh PKS dan PPP

Menyatakan bahwa Islam hanya berhubungan dengan kehidupan spiritual, tanpa kita sangkut pautkan sama sekali dengan masyarakat dan negara, mungkin sama jauhnya dari kenyataan dengan...

Puasa Menurut Filsuf Muslim

Selama ini ada anggapan umum yang diterima luas, bahwa nasib filsafat Islam telah berakhir di tangan Ibn Rusyd. Filsuf Andalusia yang mencoba melakukan counter...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.