Minggu, April 18, 2021

Bidan Puisi Itu Bernama Facebook

Cita dan Cinta PKB Kepada Bangsa

Lahirnya era baru di Indonesia yang dikenal dengan istilah era reformasi, menjadi titik klimaks dari keinginan kuat masyarakat Indonesia untuk melakukan perubahan, hal ini...

Ada Apa dengan Hubungan Indonesia dan Asia Tenggara?

Indonesia sebagai negara yang berdaulat tentu menginginkan adanya hubungan diplomatik dengan negara lain yang baik dan memenuhi kepentingan strategis negara, salah satunya ASEAN. Hubungan yang...

Persoalan yang Lebih Penting, Tanggapan untuk GM

Perihal Festival Sastra Internasional yang belakangan marak di Indonesia, Goenawan Mohamad (GM) menunjukkan sikap ‘skeptis’. Mengapa GM tiba-tiba ‘skeptis’ pada Festival Sastra Internasional di Indonesia?...

Selamat Ulang Tahun ke-80, dr. Kartono Mohamad

Kemarin adalah hari yang sangat istimewa. Mungkin sebagian besar orang Indonesia akan mengenang 13 Juli 2019 sebagai hari ketika Jokowi dan Prabowo, dua kontestan...

Di era facebook, bermunculan puluhan bahkan ratusan grup dan halaman yang secara khusus mengunggah puisi. Setiap hari bisa ratusan bahkan ribuan puisi ditulis, kemudian muncul di kronologi atau diskusi grup dan halaman. Sebuah era booming puisi di jagat maya. Benar-benar menggembirakan bagi pertumbuhan dan perkembangan dunia literasi, khususnya karya sastra

Selain itu, banyak pula yang menulis status di kabar berita atau berandanya dalam bentuk puisi. Mereka mencurahkan segala yang berkecamuk di dalam hati dan pikirannya dalam status berupa puisi. Jumlahnya juga mencengangkan kalau mau kita hitung. Sungguh, sebuah dinamika dalam dunia literasi yang layak kita syukuri.

Penulis puisi itu pun sangat beragam, baik dari segi usia, jenis kelamin, pekerjaan, pendidikan, maupun kemunculannya. Ada penulis anak-anak, ada penulis remaja, ada yang sudah dewasa, dan ada yang sudah tua, bahkan lebih tua dari saya, atau sangat tua juga ada. Ada penulis perempuan dan ada pula penulis laki-laki.

Selain itu, ada penulis yang bekerja di kantor sebagai pegawai negeri sipil (PNS) atau aparatur sipil negara (ASN), ada yang karyawan atau buruh swasta, ada yang wiraswasta, ada pengusaha, ada dosen dan guru, ada dokter, ada ibu rumah tangga, ada yang pensiunan dan purnawirawan, ada pejabat, dan ada pula penganggur.

Di samping itu, ada yang berpendidikan sekolah dasar, sekolah menengah dan ada pula yang sekolah tinggi. Ada penulis pemula, ada penulis yang memiliki cukup jam terbang, dan ada pula penulis kawakan dan lumutan. Semuanya meramaikan dunia tulis-menulis, khususnya di blantika sastra genre puisi.

Bila dicermati, puisi-puisi tersebut ditulis dengan motif yang beraneka ragam. Ada yang sekadar ingin curhat, ada yang menyindir, ada yang mengkritik, ada yang narsis, ada yang merayu, ada yang mencemooh, ada yang menasihati, ada yang memberitahu, ada yang menyanjung, dan ada pula yang mengenang. Akan tetapi, ini semua bisa dipersempit lagi sebagai upaya untuk berkespresi, berterapi, berkomunikasi, bersosialisasi, berkreasi, bersilaturahmi, dan berdakwah.

Tidak Ada Motif Ekonomi    

Tidak ada motif ekonomi dalam kegiatan menulis puisi di facebook. Sebab, mereka tak memperoleh honorarium dari grup tempat mengunggah puisi, di halaman yang dikelola, atau sekadar dari facebook. Saya salut kepada mereka yang aktif dan produktif menulis puisi meskipun tak memperoleh penghargaan secara ekonomi.

Padahal, mereka memerlukan modal yang tak sedikit. Misalnya untuk membeli laptop atau handphone, membeli pulsa, memasang internet, dan membeli cemilan atau makanan dan minuman untuk menemaninya ketika tangannya keriting memencet tombol di seluler atau web, matanya pedas menatap layar monitor, dan keningnya berkeringat saat berpikir mencurahkan gagasan, pikiran, dan perasaannya.

Pengiriman puisi ke berbagai grup layaknya harus menaati peraturan yang telah dibuat dan ditetapkan oleh pengurus grup meskipun isi dan bentuknya tak dibatasi. Secara umum, peraturan tersebut misalnya tidak melanggar norma sosial, susila, dan agama. Bisa juga tidak bertendensi pornografi. Bisa pula – meminjam istilah populer di era Orde Baru – tidak boleh melanggar Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA). Selebihnya adalah puisi tersebut bukan karya plagiasi.

Persyaratan dan ketentuan lebih spesifik yang berkaitan dengan unsur intrinsik puisi dibuat oleh beberapa grup puisi yang mengunggah puisi dengan model eksperimen, seperti Sajak Satu Kata (SA-SAKA), Hanya Satu Huruf (HSH), Puisi Tiga Kata (PUTIKA), Puisi Sakmasek, Puisi Padma, Puisi Patidusa, dan Puisi Haiku. Selain itu, ada pula grup puisi yang menerima kiriman khusus puisi pantun dan karmina. Tentu saja beberapa grup puisi tersebut mensyaratkan kiriman puisi yang harus sesuai dengan ketentuan konsep dan teori puisi yang dibuat oleh pengurusnya.

Dengan syarat demikian para penulis puisi mencatatkan namanya di berbagai grup. Puisi-puisi mereka merebak hingga dalam satu hari ada penulis puisi yang dapat menulis dan mengirimkan lima hingga sepuluh buah puisi. Benar-benar mantap suratap dan jos gandos. Produktivitas menulis puisi dan frekuensi kemunculan nama penulisnya benar-benar telah terakomodasi oleh facebook. Setiap detik kita dapat membaca status berupa puisi.

Facebook Bidan Puisi                                                                                                                                                                                                                    Sebagai media sosial, facebook telah melahirkan banyak penulis puisi. Terlepas dari puisi karya mereka bermutu rendah, sedang, atau tinggi, mereka telah menggunakan facebook sebagai sarana untuk berlatih menulis puisi dan mencatatkan namanya di dunia sastra, wabilkhusus genre puisi. Benar-benar booming.

Hal ini tentu berbeda jika para penulis puisi hendak mengirimkan karyanya ke media massa cetak koran dan majalah. Jika mengirimkan puisi ke koran, penulis puisi harus memahami visi dan misi serta selera pengasuh atau redaksi sastra koran tersebut. Selain itu, kemungkinan dimuatnya juga kecil. Sebab, koran hanya memuat karya puisi seminggu sekali, yang bisa kita nikmati di koran edisi hari Sabtu atau Minggu.

Jumlah puisi yang bisa dimuat pumaksimal lima hingga sepuluh puisi, sehingga puisi yang layak muat pun harus antre berbulan-bulan menunggu pemuatan di rubrik puisi. Dengan demikian, kompetisi menulis puisi di koran juga ketat. Jika dimuat tentu saja penulisnya akan memperoleh honorarium pemuatan karena koran tersebut diperjualbelikan sebagai komoditas media massa cetak.

Meskipun tidak melalui penilaian dan pertimbangan oleh pengurus grup puisi, puisi yang muncul di facebook tidak seluruhnya di bawah standar literer karya puisi. Banyak puisi yang memang layak mendapat bintang. Akan tetapi, yang lebih utama tentunya adalah – seperti yang sudah saya katakan tadi – mereka bebas menyuarakan gagasan, pikiran, dan perasaannya, bebas bereksperimen, dan bebas berlatih terus-menerus tanpa ada hambatan.

Setiap hari lahir bayi-bayi puisi yang menggairahkan di jagad maya melalui tangan sang bidan. Bidan puisi di era medsos ini bernama Facebook. Sangat menyenangkan!

 

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Terorisme Akan Selalu Dapat Tempat Jika Tokoh Islam Masih Ada yang Denial

Berkali-kali sudah esktremisme kekerasan dan kejahatan terorisme terjadi di negeri kita, sejak Bom Bali yang terjadi pada tahuan 2000an sampai tahun ini. Namun sikap...

Kubur Kosong (Refleksi Iman atas Banjir Bandang di Leuwayan)

Minggu, 04 April 2021, umat Katolik sejagat merayakan hari raya Paskah. Paskah adalah peristiwa kebangkitan. Karena itu merayakan Paskah berarti merayakan kemenangan Kristus atas...

Simbol Agama dalam Aksi Teroris

Di Indonesia dalam beberapa hari ini marak terjadi penyerangan oknum yang tidak bertanggung jawab pada wilayah agama dan kepolisian. Agama merupakan simbol kolektif dari...

Menanti Istana Ibu Kota Baru

Dalam pekan kemarin virtual rencana desain Istana di ibu kota baru di Kalimantan Timur. Rencana pemerintahan Joko Widdo memindahkan dari DKI Jakarta ke Kalimantan...

Upaya Normalisasi Hubungan Irak-Arab Saudi

Pada 2 April 2021, kantor berita Irak, INA, menyampaikan bahwa Perdana Menteri (PM) Irak, Mustafa Al-Kadhimi telah kembali ke tanah air setelah mengakhiri kunjungannya...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Banyak Baca Buku Jadi Pintar, Sedikit Baca Jadi Orba

Minggu lalu, akun twitter Presiden Jokowi @jokowi menggunggah kegiatan membagi-bagi buku. "Membagi buku untuk anak selepas Jumatan bersama masyarakat di Masjid Jami Annur, Johar...

Masa Depan Peradaban Islam dalam Pandangan Ziauddin Sardar

Masa depan peradaban Islam dalam banyak tulisan selalu dikaitkan dengan ide kebangkitan Islam yang telah dimulai sejak abad ke-18 yang lalu. Meskipun sudah kurang lebih...

Perlukah Produk Riset Perguruan Tinggi Dipatenkan?

Salah satu tugas perguruan tinggi (PT) adalah melaksanakan penelitian atau riset sebagai bagian dari Tri Dharma PT. Produk-produk riset yang dihasilkan tentu saja berpotensi...

Gagalnya Kudeta Terhadap Raja Yordania?

Pada 4 April 2021, Panglima Militer Yordania, Mayjen Yousef Huneiti menyatakan bahwa pihaknya telah meminta secara resmi Pangeran Hamzah untuk menghentikan semua kegiatan atau...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.