Jumat, Juni 18, 2021

Kembara Pemikiran Islam Kang Jalal

Daniel Dhakidae, Intelektual Sejati dan Pemikir Kritis

Intelektual sejati dan pemikir kritis itu telah pergi meninggalkan duka mendalam bagi kita semua, para sahabat dan semua orang yang memahami posisi dan peran...

Jakob Oetama

"Kompas kehilangan kompas," barangkali itu frasa yang tepat untuk mendeskripsikan wafatnya Jakob Oetama. Bersama P.K. Ojong, Pak Jakob telah menjadi sumber arah bagi perjalanan...

Ajip: Jenius Pada Zamannya, Pada Zamanku, dan Pada Zaman

Saya mengenal langsung Kang Ajip Rosidi ketika sastrawan/budayawan itu menjabat Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ 1972-1981) pada usianya yang ke 34. Pengarang asli Sunda kelahiran...

Nawal El Sadaawi, Melawan Titik Nol

Perempuan yang duduk di lantai di depanku ini adalah wanita sejati. Suaranya memenuhi telingaku dengan kata-kata, dengan gema di sel penjara yang pintu dan...
Haidar Bagir
Haidar Bagir
Pendiri Compassionate Action Indonesia; Pengajar Filsafat dan Mistisisme Islam di ICAS-Paramadina.

”A being unto death”. Demikian Martin Heidegger mendefinisikan manusia. Ya, begitu lahir, kapan pun manusia bisa mati. Maka, tugas manusia adalah mencari jawaban atas ”absurditas” kematian ini. Mencari makna dalam kehidupan yang diteror kematian setiap saat.

Namun, mati tidak mesti teror. Justru ia memicu kesadaran tentang keterbatasan hidup manusia. Karena itu, kematian bisa menjadikan hidup sangat berharga.

Bagaimana caranya? Jalaludin Rakhmat — akrab dengan panggilan Kang Jalal — mengajak kita untuk menyambut kematian.

“Mari kita sambut dan rencanakan kematian kita,” ajak Kang Jalal melalui salah satu tayangan videonya yang bertajuk Democracy Project.

Jangan biarkan kematian menyergap kita dengan semena-mena. Nabi Muhammad mengajarkan: matilah sebelum kamu mati. Matilah dengan sukarela.

Dengan demikian, kematian menjadi sumber makna kehidupan. Itulah sebabnya, bagi orang beriman, kematian bukanlah terminal akhir perjalanan hidup. Kematian bukan titik di mana kita lenyap. Lalu sirna tanpa bekas.

Orang beriman percaya, pasca kematian ada perhitungan. Ada imbalan. Di sana ada ganjaran. Ada hukuman. Dan ada kebahagiaan abadi. Kematian adalah gerbang kehidupan yang jauh lebih besar ketimbang ketika manusia lahir ke dunia untuk mengarungi kehidupan di planet bumi.

”(Dialah) Tuhan yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji siapa di antara kalian yang paling baik amal-amalnya” (QS Al-Mulk [67]:2).

Maka dari itu, sangat penting menjalani hidup dengan baik. Hidup dengan penuh amal salih.

Dari perspektif kematian seperti itulah, melalui mata batin intelektualitas dan kerohaniannya, Kang Jalal menulis buku yang amat reflektif: “Memaknai Kematian.”

Mungkin, dengan bertambahnya usia, Kang Jalal makin sering merasakan ”intaian” kematian. Maka, inilah renungan Kang Jalal ketika usianya 65 tahun.

”Masa telah meninggalkan jejak-jejaknya dalam uban di kepala; dalam rabun di mata; dalam keriput di kulit; dalam keringkihan di seluruh tubuh. Betapa inginnya sang waktu memberikan kepadaku kearifan dalam akalku. Kebersihan dalam hatiku. Kesucian dalam rohaniku. Dan kezuhudan dalam hidupku.”

“Namun, dalam usia senjaku, aku temukan butir-butir air mata penyesalan. Karena menghabiskan banyak masa untuk mengejar ambisi pribadi. Aku dapatkan jeritan hati kesedihan karena malaikat lebih banyak menuliskan keburukanku dari pada kebaikanku…”.

”I’m running out of time now,” tulis Kang Jalal selanjutnya “Lihat jam pasirku. Hanya menyisakan sejumput butir di bagian atasnya.”

Itulah renungan mendalam Kang Jalal yang sangat sufistik. Ia memang seorang intellectual sufism. Sufi intelektual.

Sejak 40 tahunan lalu ketika mulai mengenalnya, saat Kang Jalal masih berusia 30-an, saya sudah melihat karya-karya Martin Buber, Jean Paul Sartre, dan para pemikir eksistensialis lain di rak buku rumahnya. Saya yakin Kang Jalal sudah membaca Heidegger pada masa itu. Karena ketika masih guru muda SMP Muhammadiyah, Kang Jalal sudah membaca karya-karya Baruch Spinoza. Ini luar biasa! Sebab Kang Jalal pun, sejak kecil sudah belajar “mengaji” di pondok pesantren sehingga menguasai kitab-kitab kuning — khasanah ilmu keislaman klasik.

Kita tahu bahwa Spinoza adalah seorang pemikir panteistik Barat terkemuka. Jadi, sangat mungkin, pemikiran Spinoza ikut menggiring ketertarikan Kang Jalal pada paham ”kesatuan wujud” dalam tasawuf.

Kenyataannya, tidak sedikit karya-karya buku tasawuf Kang Jalal, termasuk berbagai ceramahnya mengulas soal wahdatul wujud ini. Tema wahdatul wujud juga tertera dalam tulisan-tulisan Kang Jalal pada “Renungan-Renungan Sufistik”, “Reformasi Sufistik”, “Madrasah Ruhaniah”, “the Road to Allah”, “the Road to Muhammad”, dan lain-lain.

Kang Jalal adalah potret intelektual beriman. la memilih untuk memberi makna sebanyak-banyaknya pada hidup yang dibatasi kematian. Hidup Kang Jalal untuk membela orang-orang lemah dan diperlemah serta orang miskin dan kekurangan.

Apakah ini yang menyebabkan Kang Jalal tertarik pada Frantz Fanon dan Ali Syariati sebagai counterpart Islamnya? Atau, sebaliknya, bacaannya akan Ali Syariati dan Frantz Fanon yang menyebabkan hati Kang Jalal terbetot pada perjuangan membela kaum tertindas di bumi?

Terbukti, di antara banyak pemikiran manusia genius bernama Jalaluddin Rakhmat ini, spiritualitas dan tasawuf mazhab cinta sangat mewarnai perjalanan intelektualnya. Spiritualitas, bagi Kang Jalal, bukanlah pelipur lara semata bagi kehampaan jiwa manusia modern. Tapi juga sumber api cinta kepada sesama makhluk Tuhan. Ini diungkapkan dalam dua bukunya, “Mencari Kebahagiaan” dan “Tafsir Kebahagiaan.”

Maka, bersama dengan kajian-kajian sufistik yang meluncur deras dari sumur spiritual Kang Jalal, beliau terjun langsung ke dalam aksi-aksi advokasi dan pemberdayaan kaum lemah.

Saya tahu betapa kang Jalal, dibantu para muridnya, mengurusi keluarga-keluarga miskin yang tinggal di pinggir-pinggir rel kereta api di Bandung. Lalu, bersama dengan pendirian SMA Plus Muthahhari yang merupakan kepeduliannya terhadap perbaikan kualitas pendidikan di negeri ini, Kang Jalal pun mendirikan sekolah gratis di Cicalengka. Itu semua belum termasuk berbagai perilaku welas asih personalnya terhadap siapa saja yang datang kepadanya.

Pluralis interagama

Kang Jalal, di mata orang yang tak paham, bisa tampak sebagai tokoh sektarian karena keterikatannya pada mazhab Syiah yang dipeluknya belakangan. Padahal sesungguhnya dia seorang pluralis. Pluralis interagama Islam maupun antaragama. Kang Jalal pun menulis buku “Islam dan Pluralisme” yang amat bagus.

Pada saat yang sama, Kang Jalal juga seorang pejuang dan pembela hak-hak minoritas. Bukan hanya membela minoritas Syiah — mazhab yang memang dipilihnya; Kang Jalal juga membela Ahmadiyah, bahkan membela hak-hak asasi kaum lesbian, gay, biseksual, transgender, dan queer (LGBTQ).

Sebagai seorang yang pengetahuan agamanya amat luas — Kang Jalal adalah seorang penulis dan pemikir prolifik. Tentu saja, dia tahu tentang hukum hadd (pidana) syariah atas praktik-praktik seksual sesama jenis. Namun, bagi pembaca yang teliti, amat mudah memahami bahwa Kang Jalal tidak sedang berbicara soal itu, tapi tentang keharusan menjamin terselenggaranya hak-hak asasi mereka sebagai manusia dan warga negara.

Kadang kelurusan, keterusterangan, dan ketajaman pilihan diksi dalam ceramah-ceramah dan tulisan-tulisan Kang Jalal, berpotensi menimbulkan salah paham. Bukan hanya dalam soal pembelaannya terhadap komunitas LGBTQ, tapi juga dalam hal-hal lain yang melibatkan kritik terhadap pandangan ”normal” kelompok-kelompok arus utama mayoritas di berbagai lapangan kehidupan.

Malah, sampai batas tertentu, Kang Jalal adalah orang yang sangat polos. Jika tidak, nyaris tak mungkin Kang Jalal — sosok yang pernah belajar di NU yang tradisionalistik, mau belajar di Persis (Persatuan Islam) yang puritanistik, kemudian hijrah ke Muhammadiyah yang modernistik, dan terakhir berlabuh pada Syiah yang esoteristik. Tambahan lagi, persoalan-persoalan Islam yang Kang Jalal bahas sering amat sophisticated sehingga sulit dipahami orang awam. Jadilah, potensi kesalahpahaman pun makin besar terhadap sosok Kang Jalal.

Maka, ketimbang menyesali kejujuran dan kepolosan almarhum, saya malah ingat salah satu potongan puisi Sir Muhammad Iqbal menjelang kematiannya:

Telingaku bukanlah untuk zaman ini

’Ku tak butuh telinga masa ini

Akulah suara penyair esok hari

Zamanku tak paham kedalaman makna-maknaku

Yusufku bukanlah buat pasar ini…

Ya, pemikiran Kang Jalal memang bukan sepenuhnya untuk telinga zaman ini; zaman di mana populisme menggertak; hoaks menyerbu; post truth mencengkeram; dan sosmed menjebak kehidupan kita semua.

Memang, butuh hati yang terbuka, akal yang jernih, dan wawasan yang luas untuk bisa mengambil manfaat dari kembara pemikiran Islam Kang Jalal.

Akhirnya, dengan penuh takzim kita ucapkan: Selamat Jalan Kang Jalal. Selamat menikmati keheningan dan kebeningan. Bercengkerama dengan Kekasih yang engkau cintai sepenuh hati.

Haidar Bagir
Haidar Bagir
Pendiri Compassionate Action Indonesia; Pengajar Filsafat dan Mistisisme Islam di ICAS-Paramadina.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Manifesto Arsip Bagi Pengelolaan Cagar Budaya

Indonesia merupakan negara yang memiliki beragam peninggalan sejarah, mengingat eksistensi terhadap banyaknya kerajaan-kerajaan yang pernah bertahta di bumi nusantara. Selain menjadi negara yang terkenal...

Setelah Sayyid Syarief Mengenolkan Diri

Syariefhans tampil di mimbar dengan gagah dan perlente. Ia mengenakan kemeja hijau tua, dengan lengan panjang yang dikancing rapi. Ketampanan dan kulit putihnya membuat...

Viral, BTS Meal di Tengah Pandemi

BTS Meal adalah menu yang dihasilkan dari kolaborasi antara McDonal dengan Boyband Grup BTS, Korea Selatan. McDonald didirikan pada tahun 1940 oleh Richard dan...

Meluruskan Kasus Takmir Melarang Salat Bermasker di Masjid

Ramai menjadi perbincangan publik saat video berdurasi 2 menit sekian memperlihatkan “brutal”-nya ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al Amanah, Jalan Kampung, Tanah Apit, RT...

Radikalisme, Anak Muda dan Pendidikan Tinggi: Antisipasi, Respon dan Kebijakan

Ekstrimisme dan radikalisme nampaknya tidak mengenal negara berpenduduk mayoritas Muslim seperti Indonesia atau negara-negara Eropa di mana kaum Muslimin merupakan komunitas minoritas. Ekstrimisme tumbuh...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.