Jumat, Juni 18, 2021

Ramadhan Pergi, Pandemi Masih

Harga Menjadi Seorang Environmentalis

Kebakaran hutan dan lahan masih banyak terjadi di banyak titik di Indonesia, mencakup wilayah Sumatera, Riau, dan Kalimantan. Sepanjang tahun 2019 saja, seperti yang...

Prabowo Subianto, Donald Trump Kecil dari Indonesia

Ketika melihat pidato capres Prabowo Subianto tentang hotel-hotel di Jakarta, saya merasa sesuatu yang sangat familiar. Berbeda dari banyak orang yang menganggap Prabowo mengejek...

Daripada Tsamara, Lebih Baik Gus Nadir Jadi Menteri Agama

Tsamara Amany, politisi muda Partai Solidaritas Indonesia (PSI), digadang-gadang untuk menjadi salah satu menteri di Kabinet Indonesia Kerja Jilid II. Alasannya, karena ia dianggap...

Mengapa Visi-Misi-Program Kandidat Harus Disusun Secara Partisipatif

Kebijakan pemerintah yang tidak nyambung dengan masalah yang dihadapi warga sudah menjadi cerita klasik yang terus terulang di berbagai tempat. Masalah kemacetan dan ketiadaan...
Neni Nur Hayati
Neni Nur Hayati
Direktur Eksekutif Democracy anad Electoral Empowerment Partnership, Aktivis Nasyiatul Aisyiyah

Bulan ramadhan tahun ini akan berakhir. Puasa ramadhan ini terasa sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Berpuasa di tengah wabah pandemi covid-19. Bahkan, beberapa masyarakat Muslim di negara lain harus menjalani puasa di tengah kondisi lockdown dan menutup semua akses tempat ibadah.

Virus corona memang telah meruntuhkan segala sendi kehidupan dan menenggelamkan pembatasan gerak ratusan juta muslim dunia. Berbagai kegiatan ibadah ritual yang dalam kondisi normal dilaksanakan dengan penuh suka cita di mesjid, kini harus dilakukan di rumah maisng-masing demi keselamatan bersama untuk memutus mata rantai wabah virus tak kasat mata yang mematikan itu.

Namun justru ramadhan kali inilah momen yang tepat untuk melakukan pemaknaan lebih mendalam. Berpuasa bukan hanya sekedar menjaga nafsu yang bersifat fisik. Lebih jauh lagi, berpuasa menuntut kita menjaga diri dari melakukan hal-hal yang tidak baik untuk mencapai keridhoan Allah. Dengan harapan, latihan selama sebulan ini dapat membentuk perilaku yang terpuji untuk seterusnya. Berpuasa menahan lapar dan haus juga mengajak kita membangun solidaritas terhadap mereka yang kurang beruntung.

Puasa mengajarkan untuk menjadi sosok dengan akhlak mulia dan tercermin dalam perilaku. Banyak himbauan dalam pencegahan Covid-19 juga tercermin dalam ibadah puasa. Kita diminta untuk menahan diri agar tidak keluar dari rumah kecuali untuk urusan yang sangat urgen. Bahkan pemerintah sendiri telah mengeluarkan surat Edaran Nomor 6 Tahun 2020 Kementerian Agama RI dengan memberikan panduan ibadah ramadan dan Idul Fitri 1431 H di tengah pandemi Covid-19. Beribadah dari rumah, belajar dari rumah dan bekerja dari rumah menjadi kunci atasi wabah ini.

Menjalankan ibadah puasa Ramadan di rumah dengan niat untuk mengurangi korban Covid-19 akibat kontak fisik tentu sangat mulia. Sebab, menolak kemudaratan itu lebih utama daripada mengejar pahala (Umar, 2020). Meskipun faktanya himbauan ini masih menimbulkan salah kaprah di mata para kiai dan ajengan yang ada di grass root. Bahkan ada yang mengatakan bahwa himbauan tersebut telah dianggap menghalang-halangi orang untuk beribadah.

Tak sedikit juga mesjid yang tetap menggelar sholat terawih, sholat jum’at, kuliah shubuh pengajian rutin mingguan serta ibadah ritual lainnya. Sehingga, banyak daerah yang telah mengubah status dari zona hijau ke zona merah karena pasien positif covid semakin meningkat. Kondisi ini sudah semestinya kita lakukan evaluasi, intropkesi dan bermuhasabah. Apakah kita sudah mampu untuk melakukan perlawanan hawa nafsu yang ada dalam diri sendiri atau belum?

Manusia memang kerap kali diperbudak oleh hawa nafsu yang dapat membawa kita kepada kesengsaraan. Namun, ramadhan juga memaksa kita untuk mengelak hawa nafsu yang terus bergejolak. Menurut Al-Ghazali, ada dua nafsu yang menyebabkan manusia diperbudak nafsunya yakni nafu amarah dan nafsu lawwamah. Kedua nafsu ini membawa manusia pada perbuatan dosa dan kemaksiatan.

Puasa ramadhan sesungguhnya merupakan ibadah untuk menahan diri dan melawan hawa nafsu. Saatnya ramadhan ini menjadi waktu yang tepat untuk memerangi covid. Kita menahan diri untuk mengurangi konsumsi di luar hal-hal yang tak diperlukan serta tidak bepergian ke pusat-pusat keramaian. Kita juga diminta untuk selalu mencuci tangan dan bersikap hidup bersih karena ternyata puasa telah mengajarkan pola hidup sehat. Perintah untuk selalu berada di rumah adalah pesan kuat untuk mempererat hubungan dengan keluarga.

Hikmah Corona

Datangnya virus corona ini telah membawa hikmah untuk kita semua. Ketika puasa tahun-tahun sebelumnya kita berpoya-poya dengan segala kemewahan menjelang hari raya idul fitri. Pusat perbelanjaan padat oleh para konsumen yang hendak membeli baju baru, bersorak ria berbuka puasa bersama dengan kolega di restaurant paling mahal hingga hebohnya pemesanan tiket kereta api untuk mudik pulang ke kampung halaman.

Tentu saja apabila dilihat situasi seperti itu sangat berkebalikan dengan substansi puasa untuk menahan diri dan berempati terhadap orang yang kesulitan memenuhi kebutuhan dasarnya. Puasa telah dirayakan dengan meningkatkan taraf gaya hidup yang hedonis. Segala macam cara dilakukan guna meraih dan memuaskan keinginan yang tak terbatas.

Kita mengeksploitasi alam tanpa perhitungan seperti menebang hutan, mencemari laut dan udara, hingga akhirnya menyebabkan keseimbangan alamiah alam terganggu. Kelompok kaya membentuk klaster-klaster tersendiri untuk menjaga gaya hidup mewahnya, sementara kelompok miskin menjadi korban karena ketidakseimbangan alam.

Sampai akhirnya, muncullah sebuah penyakit yang tak mempedulikan kelas sosial. Penyakit menakutkan dan mematikan tanpa menganal agama, suku, bangsa, budaya, strata sosial ekonomi dan pendidikan yang mengakibatkan warga dunia dihadapkan pada krisis kemanusiaan. Ini adalah sebuah pesan yang patut kita renungkan.

Manusia adalah makhluk tak berdaya bahkan di hadapan makhluk terkecil yang bernama virus corona. Tidak ada satu pun yang dapat memastikan kapan wabah ini akan berakhir. Hingga saat ini pun masih belum ditemukan vaksinnya. Hal yang bisa kita lakukan hanyalah melakukan ikhtiar maksimal dengan mencegah penularan.

Ramadhan kali ini adalah ujian apakah kita mampu berjihad melawan pandemi ini atau tidak? Apakah kita masih akan tetap ngotot untuk mencelakakan orang lain?

Walau ramadhan telah pergi, tapi hikmah ramadhan kali ini menjadi pembuktian setiap Muslim agar mengedepankan sisi kemanusiaan dan kepedulian terhadap sesama, tolong menolong dan saling membantu terhadap warga yang terkena dampak akibat covid. Mengutamakan kepentingan orang lain dibandingkan diri sendiri. Inilah hakikat iman yang sesungguhnya dengan terus berupaya meningkatkan amal sholeh untuk meraih takwa.

Neni Nur Hayati
Neni Nur Hayati
Direktur Eksekutif Democracy anad Electoral Empowerment Partnership, Aktivis Nasyiatul Aisyiyah
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Manifesto Arsip Bagi Pengelolaan Cagar Budaya

Indonesia merupakan negara yang memiliki beragam peninggalan sejarah, mengingat eksistensi terhadap banyaknya kerajaan-kerajaan yang pernah bertahta di bumi nusantara. Selain menjadi negara yang terkenal...

Setelah Sayyid Syarief Mengenolkan Diri

Syariefhans tampil di mimbar dengan gagah dan perlente. Ia mengenakan kemeja hijau tua, dengan lengan panjang yang dikancing rapi. Ketampanan dan kulit putihnya membuat...

Viral, BTS Meal di Tengah Pandemi

BTS Meal adalah menu yang dihasilkan dari kolaborasi antara McDonal dengan Boyband Grup BTS, Korea Selatan. McDonald didirikan pada tahun 1940 oleh Richard dan...

Meluruskan Kasus Takmir Melarang Salat Bermasker di Masjid

Ramai menjadi perbincangan publik saat video berdurasi 2 menit sekian memperlihatkan “brutal”-nya ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al Amanah, Jalan Kampung, Tanah Apit, RT...

Radikalisme, Anak Muda dan Pendidikan Tinggi: Antisipasi, Respon dan Kebijakan

Ekstrimisme dan radikalisme nampaknya tidak mengenal negara berpenduduk mayoritas Muslim seperti Indonesia atau negara-negara Eropa di mana kaum Muslimin merupakan komunitas minoritas. Ekstrimisme tumbuh...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.