Jumat, April 23, 2021

PKI Tak Pernah Bangkit Sebab Tak Pernah Mati, Muhammadiyah Melawan Lupa

Duh, Ironi Privasi dan Kita yang Diawasi

Sejak mulai diberlakukannya tatanan normal baru Juni lalu, kantor saya mulai memberlakukan presensi pegawai secara online dengan share location melalui aplikasi Whatsapp sesuai jam kerja...

Daripada Legalisasi Poligami, Lebih Baik Legalisasi Ganja

Saya menghormati syariat islam secara umum dan tentu penerapannya yang diberlakukan di Provinsi Aceh. Keistimewaan membikin Aceh berhak menerapkan syariat islam di wilayah yang...

Stop Aborsi

Kondisi kejiwaan anak sekolah dan mahasiswa, termasuk remaja yang belum siap untuk berumah tangga, tetapi mereka mengalami “kecelakaan”, sangatlah menyedihkan. Mereka sangat gundah dengan...

Tidak Ada Anak Nakal, Yang Ada Adalah Orang Tua Abai

Dua hari mengikuti kasus AY, seorang siswi SMP di Pontianak yang mengalami perundungan. Tidak perlu saya ceritakan detailnya, semua sudah gamblang dan bisa diakses...
Avatar
Nurbani Yusuf
Aktivis Persyarikatan Muhammadiyah di Ranting Gunungsari Kota Batu

Karl Popper pernah berkata, keliru adalah manusiawi, dan saya berbuat manusiawi sekaligus dua. Maka tesis Daniel Bell tentang The end of ideology pun patah. Risetnya tentang ‘berakhirnya ideologi’ tidak terbukti, sebaliknya perang ideologi makin kencang dengan skala yang lebih luas tapi latent.

“Pancasila hanya alat, seperti sapu lidi untuk membersihkan, jika halaman sudah bersih kita tak butuh sapu itu lagi“ kata Dipo Nusantara Aidit dengan pongahnya dalam suatu pidato heroik penuh provokasi.

Tokoh dan pemikir PKI itu amat ambisius tapi juga cerdik memanfaatkan momen. Sejak mula PKI amat dekat dengan kekuasaan, kata Prof William Lidle seorang Indonesianis yang berpengaruh.

Partainya meroket dalam kurun yang amat pendek dan menarik banyak peminat karena dianggap populis. DN Aidit bisa mengubah image rakyat tentang PKI yang tidak bertuhan ini menjadi partai alternatif dan menjanjikan perubahan.

‘Partai PKI’ menawar perubahan dan harapan bagi jutaan proletar yang tertindas, dizalimi dan dimiskinkan. ‘Partai PKI’ pun disokong banyak orang dan menyodok masuk papan atas di bawah PNI dan Masyumi kala itu. PKI amat dekat dengan kekuasaan.

Sebagai partai ideologi, PKI tak pernah mati sebab itu ia tak perlu bangkit. PKI hanya mati administratif tapi ideologi komunisme tetap tumbuh subur. Partai berlogo palu dan arit ini sangat licin, ulet dan gigih. Ibarat kata, tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan meski telah jelas-jelas dinyatakan sebagai partai yang diharamkan.

Tapi, siapa bisa cegah ideologinya terus hidup dan bertahan, gerakannya sungguh menawan karena tetap kuat bertahan ditengah tekanan politik yang keras. PKI adalah partai yang liat dan lulus dalam berbagai uji.

Akan halnya ideologi Pancasila. Karena umat Islam tak cukup merawat, Pancasila telah diambil orang. Ditafsir sesuai keinginan dan kehendak politik ‘sekelompok’yang menginginkan Pancasila sebagai ideologi yang harus ditanam.

Lantas siapa berhak menafsir Pancasila? Bagaimana jika Pancasila hanya sebagai rumah kosong? Bergantung siapa yang tinggal, menghuni dan menafsir? Bukankah di saat PKI teramat dominan menginviltrasi rezim kala itu, Pancasila pernah diperas menjadi Trisila kemudian dipermak lagi menjadi Eka Sila atau Gotong Royong, istilah teknis untuk menunjuk pada konsep ‘masyarakat komunal’ yang digagas Marx.

Bagi rezim berkuasa Pancasila kerap menjelma sebagai alat yang cukup ampuh untuk bisa tetap mencengkeram kekuasaan hingga waktu yang ditentukan, menjadi perisai sekaligus peluru untuk membidik siapa pun yang dianggap musuh.

Undang-undang haluan ideologi Pancasila salah satunya—sebentuk perang ideologi telah dimulai. Pertarungan di gedung parlemen tak bisa di elak. Partai-partai Islam tak cukup taji untuk melawan. Daya imunnya tak cukup kebal mencandra genderang perang yang sudah ditabuh.

Pentas perang virtual telah digelar—siapa pun bakal menafsir Pancasila. Ini perang ideologi melibatkan pikiran ide dan wawasan yang cukup hingga adu cerdik untuk menafsir.

Saya tak bicara substansi tentang ideologi Pancasila, tapi mungkin juga karena ada sebagian agamawan yang tak cukup cerdik menempatkan Pancasila dalam struktur pikiran umat Islam hingga Pancasila dilawan dimusuhi, lantas Pancasila diambil orang.

Muhammadiyah selalu hadir ketika dibutuhkan. Menjaga ideologi negara adalah bagian penting dan mendasar. Merawat Pancasila sama dengan merawat agama berikut umatnya.

Para ilmuwan dan ulama kembali turun, merebut tafsir Pancasila warisan leluhur, di mana Ir Soekarno penggali dan perumus Pancasila, dan Ki Bagus Hadikoesomo penggagas Piagam Jakarta adalah kader-kader terbaik Persyarikatan sebagai founding father negara kebangsaan. Negara Boeat Semoea!

Avatar
Nurbani Yusuf
Aktivis Persyarikatan Muhammadiyah di Ranting Gunungsari Kota Batu
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mencari Teman Masa Pandemi? Why Not, Berikut Tipsnya

Sudah Satu Tahun Pandemi Covid-19 Melanda Indonesia. sekolah-sekolah, kampus, tempat yang bahkan kantor sekalipun harus berkegiatan online. Mahasiswa baru, murid baru dan orang-orang yang baru memulai...

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

Mempertanyakan Wacana Koalisi Partai Islam Oleh PKS dan PPP

Menyatakan bahwa Islam hanya berhubungan dengan kehidupan spiritual, tanpa kita sangkut pautkan sama sekali dengan masyarakat dan negara, mungkin sama jauhnya dari kenyataan dengan...

Lobi Lebanon terhadap Rusia Upaya Keluar dari Krisis Ekonomi

Pada 15-16 April 2021, Perdana Menteri (PM) Lebanon Saad Hariri melakukan kunjungan ke Moskow dalam rangka meminta dukungan dan bantuan ekonomi kepada pemerintah Rusia....

ARTIKEL TERPOPULER

Mempertanyakan Wacana Koalisi Partai Islam Oleh PKS dan PPP

Menyatakan bahwa Islam hanya berhubungan dengan kehidupan spiritual, tanpa kita sangkut pautkan sama sekali dengan masyarakat dan negara, mungkin sama jauhnya dari kenyataan dengan...

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

Lobi Lebanon terhadap Rusia Upaya Keluar dari Krisis Ekonomi

Pada 15-16 April 2021, Perdana Menteri (PM) Lebanon Saad Hariri melakukan kunjungan ke Moskow dalam rangka meminta dukungan dan bantuan ekonomi kepada pemerintah Rusia....

Kartini, Tafsir Al-Fatihah, dan Al-Qur’an

Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari pemikiran Kartini yang hari lahirnya dirayakan bangsa ini. Ia dijadikan sebagai pahlawan penggerak emansipasi perempuan lewat kekuatan...

Kado Ulang Tahun ke-46, Taman Mini Mau Dibawa Kemana?

20 April 2021 merupakan hari ulang tahun ke-46 Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. Momentum ulang tahun yang biasanya dirayakan secara meriah dan dikemas...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.