Senin, Mei 17, 2021

Kejahatan Saat Bencana itu kecil, Media Harus Fokus Pada Yang Lain

Sejak Kapan Tuhan Ada?

Dari sudut usia sejujurnya saya masih terbilang muda untuk memasuki jenjang pernikahan. Usia saya belum genap 25 tahun. Pekerjaan tetap belum punya. Masa pembelajaran...

Islam Berkemunduran?

Tahukah antum kenapa Muhammadiyah disebut organisasi modern kala itu? Sebab banyak pikiran dan gagasan Kyai Dahlan melawan jumud, melawan kebodohan, melawan kekolotan. Karenanya banyak...

Pemenang Indonesian Idol 2018 Adalah Kita

Jokowi-JK saja boleh mengklaim diri mereka adalah kita, mengapa kita tak boleh mengklaim Maria pemenang Indonesian Idol 2018 demikian? Klaim adalah kunci. Kalau tidak...

Maaf Masjid Tutup

Maaf Masjid Tutup! Pengumuman demikian mungkin yang pertama dalam sejarah perjalanan umat Islam. Apa yang salah dengan masjid? Para jemaah pun berbeda pendapat, sebagian...
Avatar
Arman Dhanihttp://www.kandhani.net
Penulis. Menggemari sepatu, buku, dan piringan hitam.

Di Amerika paska bencana, media-media memilih fokus pada bagaimana penanganan bencana, solidaritas warga, dan bagaimana relawan melakukan penyelamatan terhadap korban yang masih terjebak. Dalam kasus bencana badai Harvey dan Sandy, media-media bahkan yang konservatif seperti Fox memilih untuk menunjukkan optimisme.

Di luar itu, media-media di Amerika juga memberitakan tentang penjarahan, pencurian, dan perampokan toko-toko oleh korban bencana. Tapi porsinya sangat kecil, kecuali kejahatan itu berujung pada pembunuhan atau pemerkosaan, pencurian atau penjarahan makanan jarang jadi fokus pemberitaan. Publik Amerika lebih ingin media fokus pada isu publik seperti dimana lokasi pengungsian, post bantuan, dan juga kanal-kanal solidaritas untuk membantu korban bencana.

Publik Amerika paska kejadian bencana di badai New Orleans belajar bahwa, meski terjadi penjarahan dan pencurian, angkanya relatif sangat kecil, lokasinya terjadi di beberapa tempat terbatas, dan hanya dilakukan oleh segelintir orang. Tapi media yang serupa burung pemangsa, menjadikan berita di satu tempat itu seperti kejadian masal.

Maksudnya begini, pencurian bisa saja di satu distrik dengan jumlah pelaku terbatas, tapi karena sebut saja ada 60 media di sana, sama-sama memberitakan penjarahan itu, maka seolah seluruh warga di distrik itu menjadi maling dan penjarah. Padahal bisa jadi di tempat lain ada proses evakuasi, penyelamatan, dan distribusi bantuan atas inisiatif warga sendiri. Mengapa bukan ini yang dijadikan fokus pemberitaan?

Dalam kasus lain warga juga melakukan penjarahan bantuan, dalam pemberitaan tentang Puerto Rico, publik mencari tahu bagaimana kematian bisa demikian tinggi? Investigasi yang dilakukan The Conversation menemukan adanya korupsi dari pihak berwajib dalam penyaluran bantuan. Bantuan yang semestinya didistribusikan tertahan, ingat kasus puluhan ribu botol air minum yang tak disalurkan?

Saat terjadi bencana penjarahan adalah hal yang wajar. Ini karena distribusi yang terbatas. Semua pihak mengaku ini, dalam komando kebencanaan jika kejahatan itu kecil, biasanya pihak berwenang tidak menjadikan itu sebagai prioritas, polisi dan militer lebih fokus pada proses evakuasi, distribusi bantuan, dan pembangunan pusat pengungsian. Meski pada kasus yang ekstrim, otoritas militer bisa melakukan tembak mati pada mereka yang menjarah logistik.

Saat bencana di New Orleans, warga hanya bergantung pada desas desus, komunikasi mati total, mereka tak punya daya dukung seperti masyarakat normal. Berita tentang pembunuhan, perkosaan, dan penjarahan kamp-kamp bantuan meningkat, orang saling curiga, dan tensi meninggi. Media punya andil dalam penyebaran ini karena mereka hanya melihat dan mendengar tanpa bisa melakukan verifikasi.

Dalam bencana uang tak punya nilai. Kasus paling ekstrim adalah bahan bantuan seperti makanan, minuman, dan alat sanitasi merupakan sumber daya penting. Orang bisa menukarkan perhiasan dan barang berharga utuk memperoleh itu. Makan penjarahan bisa jadi sangat berbeda tujuannya. Jika kamu melihat seseorang merampok toko elektronik, bukan berarti dia sedang ingin main PS atau nonton netflix (lha listrik ngga ada), orang kepepet dan desperate ini berpikir, mungkin TV 60 inch bisa ditukar dengan beras untuk bisa makan.

Tapi kalau kamu punya perspektif yang berbeda, mungkin akan punya alur logika yang perlu diluruskan. Misalnya, kok bencana yang diambil TV dan Ban? Emang buat apa?

Pertanyaan “Buat Apa Ini” yang perlu ditelaah sebelum kamu menyebarkan berita atau foto tentang penjarahan. Dalam kasus Badai Harvey di Houston, tercatat ada 65 kasus pencurian dan penjarahan dari total lima juta penduduk. Jumlah kasus pencurian ini jauh lebih kecil daripada rata-rata nasional jika tidak sedang bencana. Artinya orang lebih punya empati dan solidaritas.

Ada riset yang menemukan bahwa saat bencana, kejahatan menurun dibandingkan saat tidak bencana. Lalu mengapa kita fokus pada penjarah Ban dan TV di Palu? Saat terjadi bencana insting pertama manusia adalah bertahan hidup, mereka akan mencari sumber makanan, air minum, pakaian bersih dan kebutuhan sanitasi. Dalam kasus tertentu pencurian barang berharga memang ada, tapi sangat kecil.

Jepang sebagai salah satu negara dengan kepatuhan penduduk paripurna, pada 2011 lalu juga pernah mengalami gempa dahsyat. Meski demikian di daerah Miyagi pada waktu yang sama terjadi 250 laporan pencurian selama 10 hari setelah bencana. Sekitar 1,5 miliar benda dilaporkan dicuri. Para penjarah mengambil uang, bensin, dan benda-benda berharga dari rumah korban.

Anda mungkin akan kesulitan menemukan berita ini. Media seperti BBC dan NHK akan fokus pada bagaimana warga dengan teratur mengantrii bantuan, penyelamatan korban yang profesional, dan aparatur pemerintahan yang sigap melakukan perbaikan infrastruktur.

Sebagian besar warga yang terdampak gempa sudah terlatih dengan bencana. Mereka tahu harus bagaimana jika bencana terjadi. Mereka menunggu dengan sabar di pengungsian, mengantri makanan dan mengambil sesuai kebutuhan, dan memprioritaskan anak-anak, orang tua, dan korban cidera untuk memperoleh akses bantuan lebih dulu.

Kenapa? Ya karena saat itu ngga ada facebook, di jepang ngga ada cebong kampret, dan mungkin karena mereka ateis. Soalnya kalo maling ban dan TV ini kaitannya dengan Ahlak, ahlak ini lebih penting daripada kemanusiaan. Jadi berita maling lebih penting daripada berita dimana kita bisa nyumbang atau kebutuhan apa yang sangat mendesak dipenuhi.

Laporan paska bencana tentang media-media oleh ProPublica’s pada 2010 menunjukkan bahwa pemerintah dan media bisa membuat statemen yang keliru saat bencana. Ini karena kurang koordinasi dan simpang siurnya wewenang. Dampaknya mengerikan, polisi di Amerika menembak mati 11 orang karena diduga melakukan penjarahan saat badai Katrina.

Dari mana perintah tembak di tempat ini muncul?

Kemungkinan dari desas desus, karena simpang siur berita terjadi penjarahan tadi. Orang kemudian bertekad memulihkan tatanan daripada kepedulian. Rasa takut membuat orang jadi paranoid dan curiga. Kekerasan jadi solusi.

Jadi jika kamu bukan polisi, bukan otoritas pemerintah yang tahu lokasi dengan detil, tahu latar belakang terjadinya penjarahan, mari tahan diri.

Avatar
Arman Dhanihttp://www.kandhani.net
Penulis. Menggemari sepatu, buku, dan piringan hitam.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Indonesia dan Konflik Palestina: Langkah Ekstrem

Akhir Ramadhan diwarnai dengan serangan yang berulang dari Zionis Israel kepada Palestina. The Reuters melaporkan bahwa tembakan roket dan serangan Israel berlangsung secara masif...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Individualisme dan Kecenderungan Nalar Eksploitasi

Sebelum Siddhata Gautama mencapai puncak pencerahan nirwana. Di masa kecilnya, ia pernah diajak ayahnya untuk menghadiri aktivitas pembajakan tanah yang oleh masyarakat setempat, dianggap...

Resolusi Kemandirian Pangan

Beberapa waktu yang lalu terjadi kegaduhan akibat statemen yang dilontarkan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi tentang rencana impor beras. Sejumlah kalangan kemudian bereaksi dan memberikan...

Diskursus Proporsionalitas Pidana dalam Kebijakan Formulasi Sanksi Pidana

Pada bulan Maret lalu, Badan Legislasi (Baleg) DPR RI menyampaikan laporan terkait pembahasan Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas Tahun 2021. Dalam laporan tersebut disampaikan...

ARTIKEL TERPOPULER

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Strategi Mengikis Angka Golput

Golongan putih (Golput) atau perilaku non-voting (orang-orang yang tidak menggunakan hak pilihnya) masih menjadi bayang-bayang Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019. Padahal, pesta demokrasi ini akan diselenggarakan...

Enzo Allie dalam Polemik Denny Siregar dan Birgaldo Sinaga

Baru-baru ini media sosial kita diramaikan dengan kehadiran sosok pemuda blasteran Indonesia-Perancis yang mendaftar sebagai taruna akademi militer (Akmil). Pada awalnya, pemuda bernama Enzo Allie...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.