Rabu, Juni 16, 2021

Corona, Manusia, dan Semesta

Politik Pembelot ala La Nyalla Mattalitti

La Nyalla Mattalitti pindah ke kubu Jokowi. Tak sulit untuk menduga bahwa motif pindah kubu itu adalah karena La Nyalla gagal menjadi Cagub Jawa...

Admin Nurhadi-Aldo Tak Sepintar yang Mereka Pikir dan Ini Buktinya.

Ketika malam pergantian tahun 2018 ke 2019 menjelang, saya sibuk sendiri. Jemari ini tidak berhenti mengsap layar telpon pintar. Mata saya menatap layar instagram...

Surat untuk Saudaraku di PSI

Teman-teman di Partai Solidaritas Indonesia. Apa kabar ? Memang menyakitkan kabar tidak lolosnya PSI ke Senayan karena syarat Parliamentary Threshold yang tidak mencukupi. Saya tahu kalian...

Bukan HTI Tapi PKI Yang Bangkit Lagi

Atas nama polusi udara Jakarta, saya bersaksi bahwa Partai Komunis Indonesia (PKI) bangkit lagi. Hanya dalam jangka waktu sehari saja, di sela-sela saya...
Syaefudin Simon
Syaefudin Simon
Freelance Columnist

KH Aqil Siraj, Ketua PBNU dalam acara Jendela Ramadan-nya Dedi Corbuzier di NetTV Jumat dini hari lalu menyatakan: pandemi corona adalah peristiwa alam. Bukan bencana nonalam seperti dalam UU Kebencanaan.

Saya setuju. Kenapa pandemi ini dahsyat? Kita ingat hukum aksi reaksi dari Newton. Juga hukum keseimbanga kimia Lavoisier.

Setiap ada aksi pasti ada reaksi. Reaksi itu terjadi untuk nencari keseimbangan baru. Pandemi corona yang dahsyat adalah sebuah reaksi dari aksi yang dahsyat tadi.

Pencemaran lingkungan (darat, udara, laut), hancurnya hutan, rusaknya biodiversitas; ditambah keserakahan manusia dan eksploitasi alam berlebihan, menyebabkan virus corona yang semula “tidur” di habitat (reservoir)-nya tiba-tiba terbangun. Ketamakan manusia yg membangunkan “virus corona ganas” ini dari kenyamanan tidurnya. Di tubuh kelelawar, kalong, dan binatang liar lainnya.

Ketika corona terbangun, koloni corona pun mencari tumpangan (inang) untuk hidup. Akibat kerusakan hutan dan polusi, inang-inangnya — makhluk liar di alam bebas — banyak yang mati. Gantinya, manusialah jadi sasarannya. Dijadikan inang.

Tak seperti kelalawar, tubuh manusia bereaksi keras ketika jadi inang corona. Apa yg disebut pandemi sebetulnya reaksi corona akibat ulah manusia yang merusak habitatnya.

Itulah mekanisme hukum alam. Aksi terhadap alam yang sudah rusak menjadikan reaksi alam pun demikian dahsyat. Solusinya, tak cukup sekadar social distancing. Tapi juga natural conserving. Kembalikan koloni corona pada habitat alamnya.

Tanami aneka pohon setiap jengkal tanah kosong. Biarkan organisme tumbuh di pohon-pohon yg menghijau di lingkungan itu.

Dalam sekala besar, hutankan kembali lahan-lahan yang rusak. Hijaukan bukit-bukit yang gersang. Bangunlah tempat-tempat yang nyaman untuk koloni corona.

Di sanalah koloni corona akan tertidur. Tak mengganggu manusia. Istilah Pakde Jokowi, berdamailah dengan corona. Corona akan nyaman di habitatnya. Manusia pun nyaman di habitatnya.

Jika sudah berdamai, niscaya pandemi tak ada lagi. Masing-masing spesies hidup di dunianya yg asyik dan spesifik.

Ingat: semesta corona dan manusia berbeda. Naturally, tidak saling mengganggu. Masing-masing hidup di alamnya. Dengan hukum-hukum alam yang menyertainya.

Bencana akan terjadi jika dua spesies itu — homo sapiens dan virus corona “berinteraksi” di alam yang “lain”. Manusia menyebutnya, perang melawan corona. Sedangkan corono, tak tahu, apa itu perang. Ia sekadar ingin survive.

Mereka sekadar mencari habitat untuk mempertahankan hidupnya. Mereka juga tak tahu kalau manusia menderita karena keberadaan koloni di saluran pernafasannya. Maklumlah, hanya di tempat itulah corona bisa mempertahankan hidupnya. Tak ada tempat lain. Sedangkan manusia bisa hidup di spektrum alam yang beragam. Makan segala macam. Jauh lebih rakus dan serakah ketimbang corona.

Syaefudin Simon
Syaefudin Simon
Freelance Columnist
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Koperasi, Keadilan Ekonomi, Pancasila

Setiap negara pada hakikatnya menganut sebuah ideologi yang menjadi dasar bagi bangsanya dalam kehidupan bernegara. Seandainya suatu negara tidak memiliki sebuah ideologi yang dianut,...

Karya, Nama, Media: Tentang Kehebohan A.S. Laksana

Tahun 2001 saya bertemu dengan seorang pelukis dari negeri Tiongkok yang namanya belum terlalu tenar. Karya-karyanya dapat digolongkan sebagai lukisan realistik, dalam arti mengambil...

Distribusi Resiko untuk Keadilan Iklim

Saat ini, daya dukung lingkungan hidup mengalami keterbatasan di tengah kondisi iklim yang menyebabkan peningkatan potensi dan intensitas kejadian bencana. Indonesia merupakan salah satu...

Tiga Tahun Zonasi, Sudahkah Memberi Solusi?

Sistem zonasi dalam perekrutan peserta didik baru untuk semua jenjang telah berlangsung selama tiga tahun. Dan jika untuk tahun ajaran baru kelak sistem ini...

Kepalsuan Gelar Duta

Salah satu karakteristik dari masyarakat modern yang paling menonjol adalah keinginannya untuk memperoleh nilai prestise. Tentu saja, keinginan tersebut bukan hal yang berlebihan. Saat...

ARTIKEL TERPOPULER