Sabtu, Juli 20, 2024

Kelas Sosial dalam Great Expectations

Donny Syofyan
Donny Syofyan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Great Expectations (Harapan-Harapan Besar) adalah novel karya Charles Dicknes yang awalnya merupakan cerita bersambung pada All the Year Round, mulai edisi 1 Desember 1860 sampai Agustus 1861. Serangkaian peristiwa dalam cerita ini terjadi pada malam Natal, 1812, ketika tokoh protagonis mendekati usia tujuh belas tahun. Novel ini mengisahkan seorang anak yatim bernama Pip, seorang tokoh protagonis dengan gaya penyajian otobiografis, mulai dari masa kanak-kanaknya hingga ia berhasil menyudahi berbagai  konflik yang dihadapinya saat ia dewasa. Cerita ini bisa dianggap semi-otobiografis-nya Dickens, seperti kebanyakan karyanya, yang bersandar pada pengalaman hidup banyak orang. Salah satu tema menarik yang menjadi napas utama dalam novel ini adalah konflik seputar kelas sosial.

Golongan buruh atau kelas pekerja—hierarki paling rendah dalam strata masyarakat Inggris di zaman Revolusi Industri—kerap dipersepsikan sebagai kelas bawah (underclass). Kelompok ini terpaksa menjalani hidup dengan kerja keras dan dikendalikan sepenuhnya oleh industri dan pasar. Mereka adalah satu-satunya kelompok masyarakat yang memperoleh keuntungan paling kecil dalam berbagai perubahan akibat Revolusi Industri.

Golongan buruh adalah kelompok mayoritas dalam masyarakat, mencakup masyarakat Inggris sendiri dan warga asing. Kebanyakan mereka tinggal di pusat-pusat kota dekat dengan perusahaan tempat mereka bekerja. Keluarga mereka hidup dengan segala kekurangan. Kehidupan mereka sangat tergantung pada pemilik perusahaan tempat mereka bekerja. Sebagian besar istri kelas pekerja ini tak mendapatkan keuntungan hanya dengan tinggal di rumah dan menjadi ibu rumah tangga. Mereka terpaksa ikut bekerja sehingga bisa mengumpulkan tambahan uang untuk kebutuhan keluarga.

Sebagian dari mereka berupaya menyesuaikan diri dengan pola dan tingkah hidup keluarga Victoria dengan bergabung pada gereja dan organisasi sukarelawan. Tapi ini jarang terjadi. Mereka lazimnya tidak turut serta dalam kerja amal maupun aktivitas gereja. Alasannya sederhana; mereka adalah sasaran dari semua kerja amal itu sendiri. Bagi mereka, kegiatan semisal dansa dan salon jauh lebih menarik dibandingkan kegiatan gereja dan organisasi sukarelawan. Mereka menganggap kegiatan ini lebih banyak diikuti oleh golongan masyarakat dari kelas terhormat dan menengah.

Kelas sosial memainkan peranan utama dalam masyarakat yang digambarkan oleh Charles Dickens dalam novel Great Expectations ini. Kelas sosial menentukan bukan saja bagaimana seseorang diperlakukan tapi juga akses mereka terhadap pendidikan. Namun, kelas sosial sama sekali tidak mendefiniskan watak seseorang. Banyak tokoh dalam novel ini diperlakukan secara berbeda karena pebedaan kelas sosial mereka. Kontrasnya perlakuan yang diterima oleh orang kaya dan orang miskin bakal memberikan pemahaman yang lebih jernih betapa pentingnya kelas sosial dalam novel ini.

Joe, sebagai contoh, mewakili contoh sempurna seorang kelas buruh atau pekerja. Ia menghabiskan hidupnya dengan bekerja sebagai seorang tukang besi. Kehidupannya tergantung pada pekerjaannya. Ia tidak memiliki cukup uang untuk hidup mewah. Lantaran itu, sebagian besar masyarakat menganggapnya sebagai anggota kelas paling bawah; kelas pekerja. Ketika Joe datang menemui Pip, misalnya, ia memperlakukan Joe sungguh berbeda dibandingkan sebelumnya, karena posisi Joe yang saat ini berada pada kelas sosial paling rendah. Perasaannya tentang kedatangan Joe, seperti pengakuannya yang terbaca dalam novel ini, “Bukan dengan rasa senang….Saya merasakan sensitivitas yang tajam ketika ia dilihat oleh Drummle” (Not with pleasure… I had the sharpest sensitiveness as to his being seen by Drummle) [h.203]. Ia khawatir kalau Drummle sampai memandang rendah padanya disebabkan Joe yang berasal dari kelas bawah. Bukan hanya Pip yang memperlakukan Joe berbeda, Joe juga melihat Pip secara berbeda lantaran perbedaan kelas sosial itu. Ia mulai memanggil Pip dengan sebutan “Sir” (Tuan). Panggilan ini sebetulnya cukup mengganggu Pip karena “Sir” adalah panggilan buat orang kelas atas.

Pip merasakan bahwa mereka masih berteman baik dan seharusnya kedua-duanya memperlakukan satu sama lain sederajat. Joe segera meninggalkan Pip dan menjelaskan kepergian ini, “Pip, teman lamaku yang baik, hidup ini terdiri dari banyak perbedaan yang saling menyatu, kalau boleh aku mengatakan, ada seorang pandai besi, seorang pandai emas dan seorang lainnya tukang tembaga. Pembagian di antara demikian pasti akan muncul” (Pip, dear old chap, life is made of ever so many partings welded together, as I may say, and one man’s a blacksmith, and one’s a whitesmith, and one’s a goldsmith, and one’s a coppersmith. Divisions among such must come) [h.209]. Ia menciptakan metafor ini untuk menegaskan perbedaan mereka, ia hanyalah seorang tukang besi biasa sementara Pip tak lain adalah seorang pandai emas.

Tokoh-tokoh lain yang juga dinilai berdasarkan kelas sosial mereka adalah Magwitch dan Compeyson. Mereka berdua sama-sama diadili untuk kejahatan yang sama. Namun Compeyson mendapatkan kemudahan melebihi Magwitch karena status sosialnya yang lebih tinggi. Magwitch menggambarkan pidato pembelaan Compeyson sebagai berikut, “di sini, Anda melihat di depan secara berdampingan, dua orang yang dengan mata kepala Anda sendiri bisa membedakan; seseorang, masih muda dan berpendidikan baik dan seorang lainnya; orang tua dan tidak berpendidikan…mana yang paling buruk?” (…here you has afore you, side by side, two persons as your eyes can separate wide; one, the younger, well brought up… one; the elder, ill brought up… which is the worst one?) [h.325]. Putusan pengadilan itu sepenuhnya didasarkan pada penampilan kelas sosial mereka. Kasus ini, bersamaan dengan kasus-kasus lainnya, menunjukkan bagaimana sebuah kelas sosial begitu krusial dan amat menentukan.

Dalam Great Expectations, strata sosial seseorang  menentukan jumlah dan tingkat pendidikan yang diperolehnya. Hubungan antara pendidikan dan kelas sosial amat penting guna menunjukkan secara jelas signifikansi kelas sosial. Orang seperti Joe, seorang pandai besi biasa, jelas-jelas tidak menikmati pendidikan sama sekali.

Pip, sewaktu masih berada pada kelas sosial rendah, hanya mengecap pendidikan rendahan di sebuah sekolah yang kecil. Sekolah ini bukanlah sekolah yang terbaik, namun inilah satu-satunya sekolah yang dimiliki oleh kelompok masyarakat terbawah. Para guru lebih banyak menghabiskan waktunya dengan tidur ketimbang mengajar.

Pip belajar lebih banyak hal dari Biddy daripada guru kebanyakan di sekolah itu. Sungguhpun ia mendapat pendidikan di sekolah ini, namun pendidikannya sebagai seorang gentleman dengan Mr. Pocket jauh lebih penting dan mewarnai hidupnya. Contoh lain terkait kelas sosial dan pendidikan ini juga dapat diidentifikasi pada kasus dua orang narapidana d atas; Magwitch dan Compeyson. Magwitch, terlahir dari keluarga miskin dan kelas bawah, tidak menikmati pendidikan sama sekali. Sebaliknya, Compeyson, yang besar dari keluarga berada, adalah seoranggentleman golongan atas dengan pendidikan yang memadai. Pendidikan, karenanya, adalah faktor yang menjustifikasi betapa strata sosial seseorang sangat mempengaruhi maruah dan kedudukannya dalam relasi sosial.

Walaupun begitu, perbedaaan kelas sosial tidak berbanding lurus dengan karakter terdalam seseorang. Karakter seperti Joe, Biddy, atau Magwitch, adalah orang-orang kelas rendahan, namun berhati mulia. Joe selalu di sana untuk membantu Pip, demikian pula Biddy yang tidak henti-hentinya menolong Mrs. Joe. Magwitch adalah seorang narapidana yang jorok dari kelas sosial paling bawah, namun kemudan ia berubah menjadi seorang yang ramah dan penuh perhatian. Berbeda dengan Orlick, yang juga mewakili golongan bawah, tetap saja memiliki watak jahat lantaran ia adalah seorang pembunuh. Faktanya bahwa terdapat orang-orang yang baik ataupun berhati dingin di kalangan masyarakat bawah menunjukkan bahwa strata sosial tidak memiliki koneksi dengan watak dan kepribadian seseorang.

Demikian pula dengan golongan orang-orang berpunya, di antaranya Ms. Havisham, Estella, Herbert, Jaggers, and Wemmick. Ms Havisham dan Estella adalah tipikal wanita-wanita brutal yang kerap membawa “neraka” bagi laki-laki. Sebaliknya, Herbert memperlihatkan hal yang berseberangan. Ia adalah teman sejati Pip dan senantiasa berpihak padanya. Jagger dan Wemmick, yang juga dari kalangan masyarakat kaya, tetap menyokong Pip pada tahun-tahun ia sebagai gentleman. Sekali lagi, hal ini meneguhkan kenyataan bahwa kelas sosial sama sekali tidak menentukan karakter dan personalitas seseorang. Sungguhpun ia berperan dalam banyak hal, namun tetap saja ada pengecualian.

Disparitas kelas sosial ini mendorong banyak orang untuk melakukan protes terhadap kenyataan yang ada. Seperti kentara pada tokoh utama, Pip, yang berupaya mencapai hal-hal yang di luar jangkauannya dan berlaku apatis terhadap sesuatu yang bisa didapatinya dengan mudah. Sebagai misal, Pip mencoba mendapatkan Estella walaupun ia bisa memiliki Biddy dengan gampang, atau hasratnya untuk berubah sebagai gentlemanketika ia bisa menjadi seorang pandai besi.

Pip jatuh cinta pada Estella, namun ini tidak kesampaian karena Estella tidak mencintainya. Hal lain adalah ketika ia mencoba menjadi seorang gentleman. Niatnya ini pun tidak tercapai disebabkan ia hanyalah seorang rakyat jelata. Ia sangat terpukul, misalnya dengan, “seorang wanita muda cantik di rumah Miss Havisham, ia lebih cantik melebihi siapapun yang pernah ada, aku mengaguminya bukan kepalang dan aku ingin menjadi seorang gentleman atas kemauannya” (the beautiful young lady at Miss Havisham’s and she is more beautiful than anybody ever was and I admire her dreadfully and I want to be a gentleman on her account) [h.780]. Jelaslah bahwa Pip ingin menjadi seoranggentleman semata-mata karena Estella.

Cara lain Pip menunjukkan keputusasaannya terhadap kenyataan yang dihadapinya adalah di saat ia enggan menjadi seorang pandai besi. Sebetulnya ipar laki-lakinya adalah seorang pandai besi sehingga memudahkannya mempelajari hal-ihwal perdagangan. Miss Havisham setuju membayar pekerjaan magangnya. Namun Pip bersikeras bahwa ia bisa lebih baik dari sekadar seorang pandai besi. Ia menyatakan ketidakpuasannya “dengan rumahku, perdaganganku dan dengan segalanya” (with my home, my trade and with everything) [h.773]. Demikian pula, misalnya, tatkala Pip berbalik dari Biddy, seorang wanita yang bisa dimilikinya. Biddy adalah satu-satunya yang mencintai Pip. Celakanya, Pip menolak Biddy dan malah memanfaatkanya demi mencapai tujuannya. Pip hendak menunjukkan kesan bahwa ia jauh lebih agung daripada Biddy, padahal ia juga seorang biasa layaknya Biddy.

Pergumulan kelas sosial yang pada banyak hal mengorbitkan kekecewaan pada kehidupan menjadi warna kental sepanjang novel ini. Ketika “harapan-harapan besar” (great expectations) Pip muncul, ia justru kian tidak bahagia dengan seluruh keberkahan yang digenggamnya. Pip tetap saja malu dengan kehidupan dan keluarganya, padahal tidak ada satu atau seorang pun yang harus dimalukan. Pip bisa membangun hubungan yang lebih baik dengan Estella, sayangnya ia memilih untuk mencintai Estella, dan terluka. Akhirnya, walau agak terlambat, Pip sadar bahwa rumput tidak selalu kelihatan hijau bila dilihat dari seberang. Ia perlu lebih sabar dengan apa yang telah dimilikinya, puas dengan apa yang telah diraihnya.

 

Donny Syofyan
Donny Syofyan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.