Senin, April 19, 2021

Trinitas Qur’ani

Mampukah Membungkam Papua?

Presiden Joko Widodo memberikan buku "Jokowi" ke seorang anak di Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Sabtu (30/4). ANTARA FOTO/Indrayadi 29 April, pukul 17.00 WIT (Waktu...

Syekh Hasyim Asy’ari dan Spirit Hari Santri

Tanggal 22 Oktober yang dikukuhkan dan dideklarasikan sebagai Hari Santri oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) adalah momentum untuk menghidupkan kembali salah satu peran...

Alihan dalam Fantasi Catatan Keseharian

Tukang gambar itu menghadirkan sosok-sosok manusia yang tak terperikan oleh nalar pengunjung pamerannya. Di atas permukaan datar, dunia penggambarannya yang polos dan bersahaja tanpa...

Menjaga Popularitas dan Elektabilitas Basuki

Menurut survei Centre for Strategic and International Studies (CSIS) yang dirilis 25 Januari 2016, popularitas Basuki Tjahaja Purnama jauh mengungguli tokoh-tokoh lainnya yang digadang-gadang...
Avatar
Mun'im Sirry
Assistant Professor di Fakultas Teologi Universitas Notre Dame, USA, Owner KEPITING++. Beberapa karyanya: "Islam Revisionis: Kontestasi Agama Zaman Radikal" (Suka Press, 2018), "Polemik Kitab Suci: Tafsir Reformis atas Kritik Al-Quran terhadap Agama Lain" (Gramedia, 2013), "Kontroversi Islam Awal: Antara Mazhab Tradisionalis dan Revisionis" (Mizan, 2015), dan "Scriptural Polemics: The Qur’an and Other Religions" (Oxford University Press, 2014).

Yang dimaksud “Trinitas Qur’ani” ialah pemahaman orang Kristen tentang Trinitas yang dipengaruhi, atau disesuaikan dengan, bahasa dan istilah al-Qur’an. Dalam Kristen, doktrin Trinitas merujuk pada keyakinan bahwa Tuhan itu satu, namun memiliki tiga persona atau uqnum yang bersifat eternal, yakni Bapak, Anak, dan Ruh Kudus.

Trinitas Qur’ani tetap mengukuhkan watak tritunggal Tuhan (triune God), tapi mengidentifikasi anggota Trinitas sebagai Allah, Kalimat, dan Ruh. Dalam al-Qur’an, dua terma terakhir dikaitkan dengan Yesus.

Titel “Kalimat” dan “Ruh” disematkan kepada Yesus dalam al-Qur’an surat al-Nisa’ ayat 171: “Almasih Isa putra Maryam tak lain adalah rasul Allah dan kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam dan ruh dari-Nya.” Walaupun sebenarnya bersifat polemik terhadap Kristen, ternyata ayat itu paling banyak dikutip dan dikomentari oleh para penulis Kristen di Arab.

Dalam beberapa ayat lain, “kalimat” dan “ruh” juga digunakan, namun biasanya secara terpisah. QS. 3:45, misalnya, “Wahai Maryam, sesungguhnya Allah memberimu kabar gembira dengan kalimat dari-Nya, yang bernama Almasih Isa putra Maryam.”  Dalam QS. 21:91 dan 66:12, Allah menghembuskan ruh-Nya ke dalam Maryam.

Kesatuan Tuhan, Kalimat, dan Ruh

Barangkali orang Kristen pertama yang menekankan pentingnya memahami kesatuan antara Tuhan, Kalimat, dan Ruh-Nya ialah Yuhanna al-Dimasyqi. Sejumlah sumber menyebutkan, dia pernah menjabat kepala staf di pemerintahan Khilafah Umayyah di Damaskus. Tidak mengherankan jika Yuhanna mengenal terma-terma al-Qur’an dengan baik.

Ketika menjelaskan bahwa Trinitas itu bukan syirik, teolog yang sangat prolifik ini menggunakan bahasa al-Qur’an secara fasih. Dia menulis: “Kalian berkata bahwa Almasih itu kalimat dan ruh-Nya, lalu kenapa kalian menuduh kami musyrik?”

Yuhanna mendiskusikan secara panjang lebar bahwa kalimat dan ruh-Tuhan tak terpisahkan dari Tuhan. Jika kalimat ada dalam Tuhan, maka ia juga Tuhan itu sendiri. Sebaliknya, jika kalimat berada di luar Tuhan, maka Tuhan tidak memiliki kalimat, dan hal itu bertentangan dengan pernyataan al-Qur’an.

Kendati Yuhanna tidak secara eksplisit memformulasikan Trinitas sebagai Tuhan, Kalimat, dan Ruh, sebagaimana dilakukan beberapa penulis Kristen belakangan, konsepsi tritunggal yang melibatkan kalimat dan ruh merupakan inti argumennya. Dan argumen itu terbukti cukup berpengaruh bagi generasi berikutnya.

Dalam kitab Fi tatslits Allah al-wahid, manuskrip yang kini tersimpan di monasteri Katerin, Mesir, formulasi Trinitas Qur’ani mulai terlihat lebih jelas. Identitas penulis kitab ini masih tidak diketahui, tapi diyakini ditulis oleh seorang Kristen Malakiyah (Melkite), sebutan bagi Kristen Arab pengikut Gereja Bizantium, pada tahun 754.

Sejak dari bab pendahuluan, kitab Fi tatslits sudah memformulasikan tritunggal dengan menggunakan terma al-Qur’an: “Kami menyembah-Mu dalam kalimat-Mu yang menciptakan dan ruh-Mu yang memberi kehidupan. Kami tidak membedakan Tuhan dari kalimat dan ruh-Nya. Kami tidak menyembah tuhan lain selain Allah dan kalimat serta ruh-Nya.”

Fi tatslits bukan sekadar menegaskan keesaan Allah dengan kalimat dan ruh-Nya, melainkan juga mengekspresikan Trinitas sedemikian rupa. Kita temukan ekspresi seperti ini di banyak halaman: نعرف الله بكلمته وروحه وكلمة الله وروحه به نسبحه ونحمده (Kami mengetahui Tuhan dalam kalimat dan ruh-Nya. Dan dalam kalimat Allah dan ruh-Nya kami mengagungkan dan memuji-Nya).

Yang cukup menarik ialah cara Fi tatslits menjustifikasi Trinitas bernuansa al-Qur’an tersebut. Yakni, bahwa formulasi tritunggal demikian diakui dalam kitab-kitab sebelumnya. Coba simak pernyataan ini:

فماذا أبين من هذه وأنور حين نجد في التوراة والأنبياء والزبور والإنجيل وأنتم تجدونه في القرآن أن الله وكلمته وروحه إله واحد ورب واحد

“Lalu, apa lagi yang lebih jelas dan lebih terang dari ini, ketika kami menemukan dalam Taurat, Nabi-nabi, Zabur, dan Injil, dan kalian juga temukan dalam al-Qur’an, bahwa Tuhan dan kalimat dan ruh-Nya merupakan satu Tuhan, satu Gusti.”

Bukan Heterodoks

Jangan dikira Trinitas Qur’ani merupakan konsepsi yang heterodoks dan dianggap sesat di kalangan Kristen. Para penulis yang menggunakan idiom Qur’an ini sesungguhnya sedang mengekspresikan keimanan ortodoks dalam Kristen. Mereka juga mewakili berbagai sekte/kelompok Kristen di Arab.

Beberapa teolog Kristen Arab menemukan dalam al-Qur’an semacam nukleus yang memungkinkan untuk dikembangkan sebagai sebuah teologi Trinitas ortodoks. Tentu saja, untuk mempresentasikan Trinitas sebagai Allah, Kalimat, dan Ruh membutuhkan sofistikasi tafsir. Misalnya, membuktikan secara logis bahwa kalimat dan ruh itu satu dan menyatu dengan Tuhan.

Hal itu tidak sulit dilakukan karena pemahaman ortodoks Muslim pun tidak memisahkan kalimat (atau firman) dan ruh dari Allah. Fiman dan Allah itu sama-sama eternal. Demikian juga ruh-Nya. Memang persoalan ini sempat menyulut debat sengit dalam Islam (dan sebenarnya juga terjadi dalam Kristen beberapa abad sebelumnya). Namun, pemahaman yang menjadi ortodoksi meneguhkan eternalitas firman.

Bagi orang Kristen, pemahaman ortodoks seperti itu mudah diterima. Memang itulah ajaran inti ayat pertama dalam Injil Yohanes: “Pada mulanya adalah Firman. Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.”

Dalam dialog yang difasilitasi Khalifah al-Makmun, Tawadlrus Abu Qurrah (d. 825) berargumen secara meyakinkan bahwa kalimat/firman ialah Allah sendiri (bahasa njlimetnya: bukan lain dari Allah). Menjawab pertanyaan dari peserta dialog yang menyamakan Isa dengan Adam, Abu Qurrah balik bertanya: “Apakah firman Allah itu pencipta atau diciptakan?” Penanya tidak mungkin menjawab “diciptakan.” Dikisahkan, Khalifah al-Makmun ikut senang menyaksikan keterampilan hermeneutik Abu Qurrah.

Untuk mengukuhkan ortodoksinya, Abu Qurrah menjelaskan begini: “Allah yang dipanggil ‘Bapak’, Kalimat yang dipanggil ‘Anak’ dan Ruh Kudus [ketiganya] adalah satu.”

Tampak jelas, al-Qur’an bukan hanya mempengaruhi ekspresi dan tamsil dalam karya-karya teolog Kristen Arab, tapi juga menyediakan kerangka dasar untuk membangun sebuah teologi Kristen Arab yang khas. Demikianlah, saling mempengaruhi dalam pemahaman agama bukan sesuatu yang luar biasa.

Kolom terkait

Tauhid dan Trinitas: Jangan Dipertentangkan!

Jangan Menuduh Kristen Itu Syirik!: Memahami Kristologi Qur’an

Silakan Tuding Kristen Syirik! [Mengapresiasi Mun’im yang “Sudah Lebih” Katolik]

Yesus, Tuhan Kaum Muslim Juga? [Tanggapan untuk Mun’im]

“Agama-Agama Ibrahim”, Makhluk Apakah Itu?

Avatar
Mun'im Sirry
Assistant Professor di Fakultas Teologi Universitas Notre Dame, USA, Owner KEPITING++. Beberapa karyanya: "Islam Revisionis: Kontestasi Agama Zaman Radikal" (Suka Press, 2018), "Polemik Kitab Suci: Tafsir Reformis atas Kritik Al-Quran terhadap Agama Lain" (Gramedia, 2013), "Kontroversi Islam Awal: Antara Mazhab Tradisionalis dan Revisionis" (Mizan, 2015), dan "Scriptural Polemics: The Qur’an and Other Religions" (Oxford University Press, 2014).
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Tadarus Etika: Konsep, Kerja, dan Tunjang

Allah memperkenankan kita bertemu sekali lagi dengan bulan suci umat Islam, Ramadan 1442 H. Kian tahun kebutuhan manusia akan etika semakin kuat. Integritas melangka:...

Belajar di Sekolah Kembali? Mari Kurangi Kekhawatiran Kita

Pemerintah Indonesia berencana membuka sekolah lagi di bulan Juli 2021. Ini kabar menggembirakan, mengingat bahwa bagi beberapa anak, pendidikan adalah satu-satunya jalan keluar dari...

Terorisme Akan Selalu Dapat Tempat Jika Tokoh Islam Masih Ada yang Denial

Berkali-kali sudah esktremisme kekerasan dan kejahatan terorisme terjadi di negeri kita, sejak Bom Bali yang terjadi pada tahuan 2000an sampai tahun ini. Namun sikap...

Kubur Kosong (Refleksi Iman atas Banjir Bandang di Leuwayan)

Minggu, 04 April 2021, umat Katolik sejagat merayakan hari raya Paskah. Paskah adalah peristiwa kebangkitan. Karena itu merayakan Paskah berarti merayakan kemenangan Kristus atas...

Simbol Agama dalam Aksi Teroris

Di Indonesia dalam beberapa hari ini marak terjadi penyerangan oknum yang tidak bertanggung jawab pada wilayah agama dan kepolisian. Agama merupakan simbol kolektif dari...

ARTIKEL TERPOPULER

Masa Depan Peradaban Islam dalam Pandangan Ziauddin Sardar

Masa depan peradaban Islam dalam banyak tulisan selalu dikaitkan dengan ide kebangkitan Islam yang telah dimulai sejak abad ke-18 yang lalu. Meskipun sudah kurang lebih...

Kegiatan Di Bulan Suci Ramadhan Sesuai Pancasila

Indahnya bulan suci ramadhan tahun ini disambut suka cita oleh seluruh umat Islam dari Indonesia, luar negeri dan seluruh dunia setiap tahun. Dari hasil...

Definisi Kekuatan: Hard Power dan Soft Power

Konsep Dasar Power Kekuatan atau power dalam ilmu Hubungan Internasional adalah elemen utama, terutama dalam kaca mata realisme, Morgenthau menjelaskan bahwa perilaku negara pada dasarnya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Banyak Baca Buku Jadi Pintar, Sedikit Baca Jadi Orba

Minggu lalu, akun twitter Presiden Jokowi @jokowi menggunggah kegiatan membagi-bagi buku. "Membagi buku untuk anak selepas Jumatan bersama masyarakat di Masjid Jami Annur, Johar...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.