OUR NETWORK
From Korea With Love Concert
Sabtu, Desember 10, 2022
From Korea With Love Concert

The Heptaméron: Retorika Status Quo

Donny Syofyan
Donny Syofyan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
From Korea With Love Concert

The Heptaméron ditulis meniru The Decameron di istana secara sadar, dan mungkin saja di bawah pengawasan langsung Marguerite, ratu Navarre dan saudara perempuan François I, raja Prancis. Ia diterbitkan setelah kematian Marguerite. Karenanya tidak ada kepastian bahwa dia menulisnya, tetapi Marguerite memang menulis puisi dan mensponsori banyak kegiatan sastra di istana, termasuk karya Rabelais. Marguerite meninggal pada 1549 di usia 57 tujuh. Sebuah versi dari The Heptaméron diterbitkan pada tahun 1557, dan sebuah edisi memberikan penghargaan kepada Marguerite pada tahun berikutnya.

Bangunan siklus cerita mirip dengan The Decameron—sekelompok pria dan wanita mengucilkan diri di tempat terpencil dan memutuskan untuk menceritakan sepuluh cerita setiap hari hingga seratus kisah. Namun bingkai dan suasana hati dari kumpulan cerpen Prancis ini berbeda dengan karya sastra Italia sebelumnya, The Decameron. Sementara anak-anak muda Boccaccio meninggalkan Florence yang dilanda wabah untuk mencari tempat nyaman agar dapat menyegarkan diri dan Boccaccio mencurahkan banyak upaya untuk menggambarkan surga yang mereka temukan, para pengarang The Heptaméron—yang usianya lebih tua, menikah atau janda—secara kebetulan datang bersama-sama di belantara Pyrenees setelah beberapa kemalangan menakutkan, di mana suami dari salah satu wanita, Longarine, terbunuh. Mereka berlindung di sebuah biara di saat sebuah jembatan yang akan memudahkan keberangkatan mereka sedang dibangun. Hanya sedikit ruang tentang latar, tetapi lebih banyak informasi mengenai komentar kelompok di akhir setiap cerita.

Selain itu, mereka mengadopsi aturan bahwa cerita itu harus benar, bukan sesuatu yang diambil dari buku. Sebagian besar, jika tidak semua cerita, tampaknya diambil dari kehidupan orang-orang sezamannya, yang kebenarannya dapat diidentifikasi—Parlamente adalah Marguerite sendiri, dan Hircan agaknya adalah Henri dari Navarre. Sementara yang lainnya adalah teman atau kerabat mereka dari kalangan bangsawan. Meskipun dikisahkan dengan indah, kisah-kisah ini menempati jalan tengah antara gosip dan fiksi, dan digunakan oleh mereka untuk berdiskusi panjang tentang cinta, iman, kebajikan, dan sifat sejati pria dan wanita. Sayangnya argumen tersebut tidak terselesaikan karena naskah putus pada awal hari kedelapan.

The Heptaméron tidak memiliki pesona maupun kemewahan komik seperti The Decameron, tetapi ia memiliki kualitas dan gambaran yang gelap, obsesif, dan menarik yang membawa pembaca ke lorong yang sama—bagaimana mengatasi ketidaksetaraan antara pria dan wanita. Jika ini tidak dapat diselesaikan, lalu bagaimana membenarkannya menurut Alkitab atau hukum alam.

Jika ciri khas cerita dalam The Decameron adalah pasangan yang hidup dari kekasih dengan segala macam rintangan dan kenikmatan yang disetujui oleh pengarang, ciri utama The Heptaméron adalah kebalikannya—cinta dan seks itu berbahaya tetapi tidak dapat dihindari. Akibat dari nafsu hampir selalu berupa aib, penyakit, atau kematian. Hircan adalah juru bicara untuk posisi pria yang ekstrem bahwa jika seorang pria jatuh cinta pada seorang wanita, maka cintanya berujung dengan sebuah tekad untuk meniduri si wanita dengan cara apa pun. Jika rayuan tidak berhasil, maka pemerkosaan tidak hanya dibenarkan tetapi juga diperlukan.

Jika si wanita melawan, maka demi kehormatan si pria maka dia boleh membunuhnya (mengingat Parlamente adalah istrinya, Hircan sering protes bahwa ini adalah aturan abstrak yang berlaku untuk orang lain dan bukan untuknya karena dia puas dengan pernikahannya). Para wanita menggunakan cerita mereka untuk menunjukkan bagaimana cinta dan kebajikan dapat hidup berdampingan pada wanita tertentu, tetapi persyaratan kehidupan wanita sangat terbatas sehingga mereka tidak pernah setuju tentang apa arti cinta bagi seorang wanita.

Mereka semua setuju, bagaimanapun, bahwa kehidupan wanita itu berbahaya, terutama wanita cantik, dan bahwa tidak ada perlindungan nyata jika seorang wanita menarik perhatian pria yang penuh gairah. Dalam satu cerita, seorang pria muda meminta bantuan seorang pelayan perempuan untuk membawa surat kepada seorang wanita yang dicintainya. Ayah dari pria itu (seorang duke) menemukan aktivitas si wanita pelayan dan mengancamnya. Si wanita pelayan memohon kepada istri duke (seorang duchess) agar mengirimnya ke biara untuk menghindari murka ayah pria itu. Wanita itu melakukannya. Lalu si suami meyakinkan istrinya bahwa dia tidak bermaksud menyakiti gadis itu. Dia menjanjikan keselamatan dan kehormatan gadis itu. Begitu gadis itu kembali, duke tersebut memenjarakan dan menghukum gantung gadis pelayan tersebut meskipun istrinya memohon kepada suaminya untuk tidak melakukannya. Walaupun cerita ini mengejutkan sebagian besar pembacanya, sang duke memiliki pembelanya bahwa ia memiliki hak untuk memperlakukan pelayannya sesuka hatinya.

Dalam hal ini, penting untuk diingat bahwa The Heptaméron adalah karya kelas penguasa yang sebenarnya—raja, ratu dan kelompok bangsawan. Retorika yang dihadirkan adalah untuk mempertahankan status quo di masyarakat Prancis. Meskipun para pengarang terkadang mengeluhkan kehidupan seperti ini, tapi tidak seorang pun dari mereka yang menyarankan adanya pengaturan secara berbeda.

Satu-satunya jalan dan kerap kali bermasalah adalah keyakinan dan pengalaman langsung terhadap kasih Tuhan. Sejumlah pengarang menceritakan kisah-kisah yang mereka anggap menunjukkan pengabdian sejati pada agama dan kebajikan, dan sebagian besar materinya diambil dari perayaan keagamaan sepuluh pria dan wanita itu. Pemimpin kelompok itu, seorang wanita tua yang sangat saleh bernama Oiselle, memberikan pelajaran dari Alkitab saat mengawali hari. Tema dari The Heptaméron adalah Reformasi dan Kontra-Reformasi, yang meresahkan Eropa di abad ke-16 dengan ide-ide anti-klerik dan evangelis. Di saat banyak orang dalam kelompok tersebut setuju dengan ide-ide baru, banyak dari mereka ragu apakah mereka dapat mewujudkannya dalam kenyataan mengingat pentingnya kedudukan dan penampilan. Tujuh puluh dua cerita berulang kali menunjukkan bahwa tidak ada kebahagiaan yang dapat ditemukan di dunia yang ditempati oleh tokoh-tokoh dalam cerita. Tidak ada teori, teknik, kepercayaan, ragam kekuasaan, institusi sosial, baik pernikahan atau hukum, yang menawarkan perlindungan dari nafsu jahat kerabat dan rekan yang sebagian besar dimulai dengan cinta dan ketertarikan tetapi berakhir dengan kebencian dan dendam.  Dampak akhir dari The Heptaméron sangat gelap, dan sangat kontras dengan The Decameron.

Dalam menghadapi Maut Kelam (Black Death), Boccaccio mampu membangun gambaran yang berlawanan tentang keindahan, kebajikan, persahabatan, dan pengampunan. Ketakutan dan tragedi diimbangi oleh kesenangan yang jujur ​​dan hubungan yang nyata. Dua ratus tahun kemudian, di bawah kondisi cobaan yang tidak jelas, Marguerite dan teman-temannya menggambarkan dunia yang kejam dan tidak masuk akal mana kala pengkhianatan adalah standar dan kehidupan serta reputasi orang-orang selalu dipertaruhkan. Apakah ini mencerminkan perubahan yang dibawa gejolak agama? Kebuntuan karena berlangsungnya gagasan feodal tentang kekuasaan dan kelas? Ketidakpastian budaya dan ekonomi lainnya?

Apa pun sumbernya, rasa budaya dalam konflik sangat kental. Dan tidak ada kedamaian dan keindahan yang mengimbangi pemandangan alam—para pengarang yang tersesat di alam liar.  Paling-paling mereka bisa menyegarkan diri di padang rumput yang nyaris sukar dilukiskan. Kesan yang ditinggalkan The Decameron sebagai harta yang tak habis-habisnya dari keragaman kehidupan melapangkan jalan bagi tumbuhnya kuasa rasa dalam The Heptaméron yang berulang pada beberapa dilema yang sama tanpa harapan untuk menyelesaikannya.

Namun, The Heptaméron merupakan karya yang tulus dan dalam beberapa hal polos karena para pengarang mengamati dunia mereka sejelas mungkin. Mereka sendiri tidak menyadari dampak keseluruhan dari karya mereka. Kontradiksi ini menumbuhkan banyak pertanyaan menarik di semua sastra prosa Eropa berikutnya.

 

 

 

Donny Syofyan
Donny Syofyan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.