OUR NETWORK
Rabu, Oktober 5, 2022

Terima Kasih

Bandung Mawardi
Kuncen Bilik Literasi

Pada suatu pagi, para pembaca koran-koran menemukan “terima kasih”. Di Kompas, 3 Agustus 2021, terbaca berita di halaman muka berjudul “Terima Kasih, Greysia/Apriyani.” Dua tokoh membahagiakan Indonesia tampak berpelukan. Foto itu mengharukan. Kita mengutip: “Jalan berliku ditempuh Greysia/Apriyani Rahayu untuk bisa memetik hasil manis di Olimpiade Tokyo 2020. Indonesia pantas berterima kasih kepada mereka.” Kita mendapat pemahaman besar tentang terima kasih.

Kita membuka Media Indonesia, 3 Agustus 2021. Di halaman muka, berita dijuduli “Terima Kasih Greysia/Apriyani.” Foto menampilkan dua tokoh itu berdiri sedang menghormati bendera. Kutipan bermakna: “Jokowi juga menyampaikan terima kasih kepada keduanya yang telah berhasil mengibarkan bendera Merah Putih di ajang olahraga tingkat dunia.” Presiden sengaja menelepon peraih medali emas sebagai bukti perhatian. Presiden mengucapkan terima kasih dan ingin bertemu mereka. Kita diajak mengartikan lagi terima kasih.

Di Solopos, 3 Agustus 2021, kita membaca berita di halaman muka berjudul “Terima Kasih.” Kita sudah menemukan terima kasih dalam tiga koran. Pembuatan judul mengesankan ada kegembiraan dan pengakuan. Dua orang menerima terima kasih dari jutaan orang. Terima kasih disampaikan pelbagai kalangan dengan beragam cara. Pemuatan berita-berita mengesahkan terima kasih. Kalimat mengesankan terdapat di Kompas: “Indonesia pantas berterima kasih kepada mereka.” Penggunaan diksi “pantas” itu menghindari kewajiban atau pemaksaan.

Kita berpikiran terima kasih setelah kegembiraan itu meluap sekian hari. Ingatan terima kasih kita mulai dari lagu lama terdapat dalam buku berjudul Bidoean Ketjil: Njanjian Dengan Doea Soeara Oentoek Anak-Anak di Maloko, Minahasa dan Timor (1916) disusun I Tupamahu. Lagu mengandung pesan-pesan keagamaan. Kita simak lirik lagu berjudul “Poedjian” mengenai kasih: Ja Allah, adjar hambamoe/ Menerima kasih bagimoe/ Soepaja hamba hormati/ Dan poedji Engkau terlebih. Di situ, terbaca “menerima kasih”. Hamba sebagai penerima kasih dari Allah. Manusia berterima kasih kepada Allah.

Terima kasih menjadi pengajaran penting untuk diri beriman, mengerti adab, dan insaf dalam pergaulan sosial. Sekian cara dalam mengajarkan terima kasih. Orang-orang mengetahui melalui kitab suci, epos, relief, tembang, dan lain-lain. Terima kasih beragam bahasa dan tata cara mengartikan manusia sadar menerima kebaikan, kehormatan, atau kebersamaan. Masa demi masa, pengajaran terima kasih makin menguat dalam dakwah agama, etika di sekolah, dan arus politik modern. Terima kasih mengandung beragam makna, dari ketulusan sampai pendustaan. Terima kasih bisa untuk bahagia atau meraih kekuasaan setelah mahir bermuslihat.

Mochtar Lubis saat membaca teks berjudul Manusia Indonesia: Sebuah Pertanggungjawaban (6 April 1977) tak memberi perhatian besar tentang terima kasih. Ia mengajukan ciri-ciri manusia Indonesia. Kita mengandaikan masalah terima kasih berkaitan dengan ciri manusia Indonesia adalah feodal. Di tatanan sosial dan politik, kesopanan bercap feodal mengharuskan ucapan terima kasih sering mengarah kepada tuan atau pihak atasan. Terima kasih berurusan jabatan, uang, perlindungan, dan lain-lain. Terima kasih mungkin dalam siasat dan muslihat, bukan ketulusan. Terima kasih terlalu berpamrih.

Kita mengetahui dan membuktikan terima kasih adalah siasat berlangsung dalam bisnis dan politik. Terima kasih itu berbeda dari pengajaran guru SD terhadap bocah-bocah. Penjelasan terima kasih disampaikan secara sederhana melalui pengalaman dan cerita. Pembiasaan dilakukan selama di sekolah. Hal sama berlangsung di rumah. Orangtua mengajarkan terima kasih atas pemberian, perlakuan, dan penghormaran. Ajaran-ajaran lugu itu cepat rusak bila kita mengamati siasat berterima kasih dalam bisnis dan politik.

Kelakar mengenai terima kasih pernah ditulis Remy Sylado dalam puisi berjudul “Waktu Doa Ulangtahun.” Puisi mengajak tertawa. Orang membaca mengerti ada sindiran. Doa itu pujian dan terima kasih. Doa bisa berubah dan gagal. Remy Sylado menulis: terimakasih tuhan atas hidangan ini// berhubung botty tiba-tiba kentut/ terpaksa/ amin kami ganti dengan/ jancuk. Kita tak perlu terlalu serius memikirkan terima kasih telah menjadi lelucon. Sejak puluhan atau ratusan tahun lalu, ucapan terima kasih kadang basi bila tanpa pengertian. Orang berdoa masih berusaha mengerti terima kasih. Di luar ibadah atau doa, terima kasih terumbar sering “pemanis” atau dilematis bila terucap sesama manusia. Terima kasih bagian dari kesopanan tapi mungkin tercipta makna dan dampak melebihi sopan.

Kita masih terus ingin mengerti ucapan terima kasih. Raihan medali emas Indonesia dalam Olimpiade 2020 mengabarkan terima kasih. Pemaknaan sudah ada tapi mungkin bisa samar. Kita sejenak membuka buku berjudul Efek Terima Kasih (2014) garapan John Kralik. Kesadaran terima kasih terperolah dalam peringatan Natal. John Kralik mengingat hari-hari menanggungkan sedih, utang, kerumitan, dan kecewa. Ia perlahan insaf dan terbangkitkan setelah memikirkan terima kasih. Hari demi hari, ia mulai rajin menulis terima kasih dalam kartu atau surat disampaikan kepada keluarga, teman, dan pelbagai pihak. Ia mengalami kelegaan. Terima kasih memunculkan hubungan erat, kejujuran, saling mengerti, dan toleransi. John Kralik mengaku bila sedang muak atau kesal dengan hidup bakal mengingat catatan: terakhir menulis ucapan terima kasih. Ia lekas menuliskan terima kasih demi menjadikan hari-hari kembali membahagiakan.

Sekian hari lalu, penulisan ucapan selamat dan terima kasih malah memicu polemik. Para politisi dan orang kondang tampak bersaing menulis “selamat” dan “terima kasih” di media sosial untuk kemenangan Greysia dan Apriyani. Tulisan-tulisan dilengkapi foto dan logo. Publik mulai membuat lelucon bahwa politisi sedang bermain siasat mendapat pujian terlah terbukti cepat mengucapkan “selamat” dan “terima kasih”. Kita justru berada dalam keraguan mengartikan terima kasih. Begitu.

Bandung Mawardi
Kuncen Bilik Literasi
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.