Dalam wacana akademik maupun populer, nama Samuel Beckett sering kali identik dengan istilah Beckettian—sebuah kata sifat yang membangkitkan citra keputusasaan, ironi hampa, dan pesimisme pahit. Pandangan umum ini menempatkan karya Beckett sebagai antitesis dari Romantisisme. Jika Romantisisme dianggap penuh dengan vitalitas alam seperti mawar Keats, maka dunia Beckett dianggap sebagai tanah tandus yang gersang. Namun, Edward Lee-Six (2022) menantang pandangan arus utama tersebut dengan mengajukan argumen bahwa terdapat kontinuitas yang mendalam dan hubungan kekerabatan antara puisi Beckett dengan tradisi Romantik.
Redefinisi Romantisisme sebagai Struktur Perasaan
Argumen Lee-Six bermula dari redefinisi Romantisisme. Alih-alih melihatnya hanya sebagai gerakan sastra terbatas pada periode 1790-an hingga 1820-an, ia mengusulkan Romantisisme sebagai sebuah struktur perasaan. Dalam perspektif materialis yang berakar pada pemikiran Marx dan Engels, Romantisisme dipahami sebagai reaksi nostalgia terhadap modernitas industri dan kapitalisme.
Dengan definisi ini, Romantisisme menjadi sebuah sikap terhadap kekinian yang berbentuk anti-kapitalisme nostalgik. Hal ini memungkinkan penulis abad ke-20 seperti Beckett untuk memiliki hubungan Romantik dengan zamannya sendiri. Beckett menunjukkan dualitas Romantik: ia sangat waspada terhadap masa kini namun di saat yang sama melakukan pemujaan (fetishization) terhadap masa lalu. Secara ideologis, Beckett adalah seorang Romantik radikal saat memprotes ketidakadilan, sekaligus Romantik konservatif saat ia mengeluhkan pembangunan jalan raya yang merusak ketenangan alam, mirip dengan protes Wordsworth terhadap jalur kereta api di masa lalu.
Tradisi yang Diwarisi, Diciptakan, dan Dinegasikan
Meskipun banyak kritikus menganggap Beckett sebagai penulis pasca-Perang Dunia II yang sangat suram dan anti-Romantik, bukti biografis menunjukkan ketertarikan seumur hidup Beckett terhadap penyair Romantik seperti John Keats. Sejak sekolah hingga hari-hari terakhirnya, Beckett menyimpan kutipan dari Ode to a Nightingale karya Keats.
Lee-Six menyoroti penggunaan bahasa yang arkais dalam karya Beckett, seperti frasa “of old” atau “yesteryear“. Penggunaan ini sering kali merujuk pada apa yang disebut Eric Hobsbawm sebagai penemuan tradisi. Keats dan Wordsworth menggunakan frasa “of old” untuk menciptakan masa lalu mitis atau sebagai teguran terhadap keserakahan industri masa kini. Adapun Beckett dalam puisi Dieppe, Beckett menggunakan “of old” bukan sekadar sebagai gaya bahasa, melainkan untuk membenturkan masa depan yang ia tuju dengan masa lalu budaya yang ia warisi.
Bagi Beckett, masa lalu yang dirindukan bukanlah Zaman Keemasan yang nyata, melainkan tindakan berimajinasi itu sendiri. Masa lalu dalam puisinya hadir sebagai residu atau sisa-sisa; sesuatu yang tetap ada namun telah kehilangan konten aslinya.
Romantisisme Negatif dan Keraguan Epistemologis
Lee-Six berpendapat bahwa Beckett tidak sekadar mendekonstruksi atau membalikkan Romantisisme, melainkan mengembalikannya pada refleksivitas radikal yang sebenarnya sudah ada di dalam karya para penyair Romantik itu sendiri.
Sebagai contoh, Keats sering kali menegasikan imajinasinya sendiri sesaat setelah ia menciptakannya (misalnya frasa “Away! away! … Not” dalam Ode to a Nightingale). Beckett memperdalam negasi ini. Ia sangat menyadari adanya jarak atau “anxiety” dalam hubungan antara representasi (kata-kata) dan apa yang direpresentasikan.
Penyair Romantik seperti Wordsworth juga menunjukkan keraguan serupa dalam “Puisi Lucy”, di mana identitas subjek yang ditangisi (Lucy) tetap misterius dan tidak pasti. Ketidakpastian epistemologis ini—keraguan terhadap hubungan antara bahasa dan objeknya—adalah inti dari apa yang sering dianggap sebagai aspek “Beckettian”, namun sebenarnya berakar kuat pada tradisi Romantik.
Analisis Puisi “Thither” dan Kelanjutan Tradisi
Edward Lee-Six menutup artikelnya dengan analisis puisi larut Beckett berjudul thither, yang secara terang-terangan mengacu pada bunga bakung (daffodils) Wordsworth. Alusi ini bukan sekadar sarkasme. Beckett bermain dengan ketegangan antara “maju ke depan” dan “melihat ke belakang”.
Sama seperti Wordsworth dalam puisi terkenalnya yang mengakui bahwa keindahan daffodils baru benar-benar dipahami melalui “mata batin” saat dalam kesendirian (nostalgia), Beckett juga mengeksplorasi ketegangan antara pengalaman langsung dan ingatan. Puisi Beckett adalah kelanjutan dari Wordsworth dalam arti keduanya mengartikulasikan pengalaman “di sana” versus “dari sana”, atau kekinian versus nostalgia, tanpa pernah memberikan jawaban pasti mana yang lebih unggul.
Mengapa Membaca Beckett sebagai Penyair Romantik?
Lee-Six menyimpulkan bahwa ada tiga keuntungan utama dari pembacaan ini. Pertama, revaluasi puisi Beckett; menempatkan puisi Beckett dalam tradisi Romantik menantang konsensus kritikus yang selama ini menganggap puisinya hanya sebagai karya marjinal atau “anomali” dalam keseluruhan karyanya. Kedua, kritik terhadap posmodernisme; memahami Romantisisme sebagai respons hidup terhadap kapitalisme mengajak kita untuk mempertimbangkan kembali bagaimana Beckett sering kali “diculik” secara reduktif oleh filsafat pasca-perang. Ketiga, hubungan dengan masyarakat; meskipun puisi Beckett tampak menarik diri dari dunia luar, justru dalam tindakan “pelarian” dan “penarikan diri” itulah hubungan Romantik yang sejati dengan zamannya dapat ditemukan.
Beckett bukanlah sosok yang mematikan Romantisisme, melainkan sosok yang menghidupkan kembali inti terdalamnya melalui cara yang paling negatif dan jujur.
