Sabtu, Maret 1, 2025

Renovasi Louvre: Solusi atau Sensasi?

Donny Syofyan
Donny Syofyan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
- Advertisement -

Berita utama kita malam ini berkaitan dengan salah satu mahakarya paling terkenal dalam sejarah seni, yaitu Mona Lisa, lukisan abad ke-16 karya maestro Italia, Leonardo da Vinci. Karya seni ini telah lama menjadi pusat perhatian para pecinta seni dan wisatawan dari seluruh dunia yang mengunjungi Museum Louvre di Paris. Setiap tahunnya, hampir 10 juta orang datang ke museum ini, dan sekitar 80% di antaranya memiliki satu tujuan utama: melihat langsung potret penuh enigma yang dikenal sebagai La Gioconda.

Namun, pengalaman melihat Mona Lisa tidaklah semudah yang dibayangkan. Para pengunjung harus rela menghadapi antrean panjang, berdesakan dalam kerumunan besar, dan berjuang untuk mendapatkan momen singkat di depan lukisan tersebut. Bahkan, dalam suasana yang bising dan padat, sebagian besar orang hanya dapat menatapnya selama kurang dari satu menit sebelum harus memberi jalan bagi pengunjung berikutnya. Jangankan kesempatan untuk mengambil foto selfie dengan nyaman, sekadar menikmati detail senyumnya yang misterius pun menjadi tantangan tersendiri.

Menyadari kondisi ini, pihak Museum Louvre akhirnya mengambil langkah drastis dengan memindahkan Mona Lisa ke ruangan khusus yang lebih terisolasi dari arus utama pengunjung. Presiden Prancis, Emmanuel Macron, menyambut baik kebijakan ini, dengan alasan bahwa langkah tersebut akan membantu mengurangi kepadatan pengunjung yang luar biasa. Meski begitu, para ahli seni memiliki pandangan yang beragam terhadap keputusan ini.

Sejarah panjang Mona Lisa telah diwarnai dengan berbagai insiden. Lukisan ini pernah menjadi sasaran vandalisme, termasuk percobaan pencurian, pelemparan sup, hingga pelukis nakal yang menambahkan kumis pada replikanya. Namun, ancaman terbesar bagi Mona Lisa saat ini tampaknya bukan lagi perusakan fisik, melainkan tekanan dari jutaan pasang mata yang ingin mengabadikan momen bersamanya.

Setiap hari, puluhan ribu orang rela mengantre dan berdesakan hanya untuk mendapatkan kesempatan melihatnya selama sekitar 50 detik—sebuah pengalaman singkat yang sekaligus menjadi bukti dari daya tarik abadi potret legendaris ini.

Untuk mengatasi tantangan yang terus meningkat akibat lonjakan pengunjung, Museum Louvre kini mengambil langkah besar dengan melakukan perubahan signifikan dalam tata letaknya. Presiden Prancis, Emmanuel Macron, bahkan menyampaikan komentarnya dengan nada jenaka, “Mona Lisa, tersenyumlah!” sebagai bentuk dukungan terhadap proyek ambisius ini. Salah satu keputusan utama dalam perubahan ini adalah pemindahan Mona Lisa ke ruangannya sendiri yang lebih eksklusif, memungkinkan lukisan legendaris tersebut untuk dinikmati dalam suasana yang lebih terkontrol dan tidak lagi menjadi pusat kepadatan yang berlebihan.

Sebagai bagian dari rencana ini, Louvre akan membangun pintu masuk baru di bagian fasad timurnya, memberikan akses langsung ke ruang pameran baru tempat Mona Lisa akan dipajang secara terpisah dari koleksi lainnya. Langkah ini dirancang untuk memberikan pengalaman yang lebih nyaman bagi para pengunjung sekaligus melestarikan kondisi lingkungan di sekitar lukisan tersebut. “Pembuatan ruangan baru ini seharusnya memungkinkan Mona Lisa untuk diakses secara independen dari bagian museum lainnya, yang memang layak diterima Mona Lisa,” ujar pihak museum dalam pernyataan resminya.

Renovasi ini bukan sekadar pemindahan lukisan, tetapi bagian dari proyek restorasi besar-besaran yang mencakup perbaikan infrastruktur Louvre yang sudah menua. Museum ini menghadapi berbagai permasalahan, mulai dari kebocoran air, sistem sanitasi yang kurang memadai, hingga kontrol suhu yang tidak optimal—semuanya akan diperbaiki dalam proses renovasi ini. Pembangunan pintu masuk baru diharapkan rampung pada tahun 2031 dan akan sepenuhnya dibiayai oleh dana internal museum. Namun, proyek renovasi secara keseluruhan akan mengandalkan pendanaan dari para pengunjung, yang berarti bahwa mulai tahun depan, harga tiket masuk Louvre akan mengalami kenaikan.

Macron optimistis bahwa langkah ini akan membawa manfaat besar bagi museum, bukan hanya dengan mengurangi kepadatan di sekitar Mona Lisa, tetapi juga dengan menarik perhatian lebih pada karya seni lain yang selama ini kurang mendapat sorotan. Dengan target ambisius sebanyak 12 juta pengunjung per tahun, pemerintah berharap bahwa perubahan ini akan meningkatkan daya tarik Louvre secara keseluruhan.

Namun, tidak semua pihak setuju dengan pendekatan ini. Para kritikus berpendapat bahwa solusi yang ditawarkan mungkin tidak sesederhana yang dibayangkan. Mereka menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi Louvre, termasuk kondisi bangunan yang memerlukan perbaikan mendesak, infrastruktur tua yang masih bermasalah, serta kurangnya fasilitas yang memadai bagi jutaan pengunjung yang datang setiap tahun.

- Advertisement -

Lebih dari 2.000 karyawan Museum Louvre menyuarakan keprihatinan mereka terhadap kondisi kerja yang semakin memburuk di salah satu museum terbesar dan paling bergengsi di dunia. “Kami bekerja setiap hari dalam kondisi yang sangat buruk di sebuah institusi yang sebenarnya dalam keadaan rusak parah,” ungkap mereka dalam pernyataan bersama. Para staf mengakui bahwa renovasi memang diperlukan, tetapi mereka menganggap pembangunan pintu masuk baru sebagai langkah yang tidak efektif dan terlalu mahal. Menurut mereka, solusi ini bukanlah jawaban yang tepat untuk permasalahan yang ada.

Para ahli seni juga menambahkan bahwa meskipun pengendalian kerumunan di sekitar Mona Lisa memang menjadi isu yang patut diperhatikan, langkah memindahkannya justru dianggap tidak menyelesaikan akar permasalahan. Mereka berpendapat bahwa kepadatan di depan lukisan ini sebenarnya merupakan tanda keberhasilan Louvre dalam menarik minat publik—sesuatu yang justru menjadi tantangan bagi banyak museum lain di Eropa, seperti di Inggris, yang masih berjuang untuk mengembalikan jumlah pengunjung mereka ke tingkat sebelum pandemi. Jika Louvre benar-benar ingin mengatur arus pengunjung dengan lebih baik, mereka seharusnya lebih gencar mempromosikan koleksi seni lainnya daripada sekadar memindahkan satu karya tertentu.

Di luar aspek manajemen museum, muncul pula spekulasi politik mengenai motif di balik proyek ini. Beberapa analis menilai bahwa Presiden Emmanuel Macron mungkin menggunakan renovasi Louvre sebagai cara untuk memperkuat citranya di tengah tantangan politik dalam negeri. Louvre bukan sekadar museum; tempat ini adalah bekas kediaman raja-raja Prancis, simbol warisan budaya Paris, dan instrumen soft power Prancis di panggung global. Sejumlah kritikus menuduh Macron memanfaatkan proyek ini untuk meningkatkan popularitasnya, sebagaimana yang pernah ia lakukan dengan restorasi Katedral Notre-Dame setelah kebakaran besar pada 2019.

Jadi, apakah Mona Lisa akan “tersenyum” di rumah barunya atau justru merasa terkurung dalam “kandang” eksklusifnya, satu hal yang pasti: perubahan besar di Louvre ini tidak hanya menyentuh aspek seni, tetapi juga mencerminkan dinamika politik dan kebudayaan yang lebih luas. Sementara museum ini bersiap menghadapi babak baru dalam sejarahnya, perhatian kini tertuju pada bagaimana langkah ini akan berdampak pada masa depan Louvre dan pengaruhnya di dunia seni.

Donny Syofyan
Donny Syofyan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
Facebook Comment
- Advertisement -

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.