Jumat, Juni 18, 2021

Saya Islam, Saya Indonesia, Saya Pancasila!

Khilafah Islamiyah dan Sejumlah Ketidakmungkinan

Apakah gerakan Khilafah Islamiyah mengancam Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia? Jawaban terhadap pertanyaan tersebut tentu tidak sekadar ya dan tidak. Bukan hanya karena...

Setelah Jokowi Menghapus Perda Prematur

Pemerintah pusat membatalkan 3.143 peraturan daerah bermasalah. Alasannya, produk hukum tersebut dianggap menghambat investasi. Tak hanya itu, memperpanjang jenjang birokrasi, diskriminatif terhadap kelompok minoritas,...

“Membaca” Kartu Kuning dan Mahasiswa “Kupu-kupu”

Warna kuning banyak diperbincangkan. Hati-hati dengan warna kuning. Warna yang mencolok ini bisa saja mencolok sang pemberi atau sang penerima. Warna kuning diperbincangkan sejak...

Kelas Menengah Ngehe dan Pembangunan Kota

Ini lagi-lagi kisah kelas menengah ngehe di Jakarta dan sekitarnya. Mereka yang teramat politis karena perasaan "mabuk cinta" terhadap seorang gubernur pujaan membuatnya merasa...
Avatar
Tsamara Amanyhttp://perempuanpolitik.id/
Ketua Bidang Eksternal DPP PSI, Penulis buku "Curhat Perempuan: Tentang Jokowi, Ahok, dan Isu-isu Politik Kekinian".

Belakangan ini ada sebagian kelompok yang menawarkan dasar negara baru untuk Indonesia. Dasar negara yang katanya lebih religius. Namun religiusitas ini didasarkan pada agama tertentu, bukan untuk seluruh agama. Bagi mereka, Pancasila dianggap kurang religius.

Hal ini sungguh menarik. Padahal sebenarnya semua agama, apa pun itu, pasti mengajarkan nilai-nilai yang terkandung di setiap sila di Pancasila tersebut. Sila-sila yang terkandung dalam Pancasila merupakan nilai-nilai mulia. Dalam Islam sendiri, misalnya, Pancasila sebenarnya telah mengajarkan hablum minallah wa hablum minannas (hubungan kepada Allah SWT dan hubungan kepada manusia).

Sukarno sendiri sebagai penggali Pancasila sebenarnya adalah seorang nasionalis-religius. Sejak tahun 1930, atau lebih tepatnya sejak pengasingannya di Ende, Sukarno hobi menuliskan tentang pandangan keislamannya. Ia mengaku sebagai pengagum Nabi Muhammad SAW. Dirinya melihat Nabi Muhammad bukan sekadar orang besar saja, tapi juga bukan manusia biasa.

Bahkan sebelum pidato fenomenal tanggal 1 Juni 1945 itu, Sukarno berdoa kepada Allah SWT agar dapat menjawab pertanyaan dr Radjiman Widyoningrat dalam sidang BPUPKI tentang “Apa Dasar Negara Kita?”.

“Ya Allah, ya Rabbi! Berikanlah ilham kepadaku. Besok pagi aku harus berpidato mengusulkan dasar-dasar Indonesia merdeka. Pertama, benarkah keyakinanku, ya Tuhan, bahwa kemerdekaan itu harus didasarkan atas persatuan dan kesatuan bangsa?

Kedua, ya Allah, ya Rabbi, berikanlah petunjuk kepadaku, berikanlah ilham kepadaku, kalau ada dasar-dasar lain yang harus kukemukakan, apakah dasar-dasar itu?”

Ini membuktikan bahwa Pancasila adalah produk hasil munajat seorang Bapak Bangsa kepada Tuhannya. Sebagai penggali Pancasila yang melihat bahwa Pancasila sebenarnya sudah ada dalam keseharian masyarakat Indonesia, Sukarno sadar bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang religius.

Itulah mengapa sila Ketuhanan Yang Maha Esa ia sebut sebagai salah satu sila yang ada dalam Pancasila. Meski ketika itu sila Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi sila terakhir, ini bukan karena Sukarno meremehkan peran Tuhan atau peran agama, tapi ia hendak mengedepankan hablum minannas (hubungan antar-manusia) dalam konteks berbangsa dan bernegara.

Namun, ketika hasil kesepakatan meminta sila Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi sila pertama, Sukarno akhirnya menerima dan menghormati kesepakatan bersama itu.
Dengan adanya sila Ketuhanan Yang Maha Esa, apalagi posisinya ada pada sila pertama, sebenarnya tak bisa dipungkiri bahwa Pancasila adalah ideologi yang religius. Ini pun diakui oleh Hatta.

Dalam buku Bung Karno “Menerjemahkan” Al-Quran karya Mochamad Nur Arifin, Bung Hatta menegaskan bahwa ikrar Ketuhanan yang ditempatkan di Sila Pertama Pancasila merupakan jaminan fondasi moral yang kuat bagi Indonesia. Dalam buku ini pula dijelaskan bahwa selain Hatta, Roeslan Abdoelgani juga menyatakan dalam sidang Dewan Konstituanye bahwa Sila Ketuhanan Yang Maha Esa adalah akar tunggangnya Pancasila. Bahwa sila ini adalah tonggak pengukuh pohon kebangsaan.

Tapi untuk siapa religiusitas Pancasila ini? Sejak awal, hal ini sudah ditegaskan oleh Sukarno ketika ia pertama kali mengemukakan Pancasila sebagai ideologi yang cocok sebagai dasar negara Indonesia.

“Saudara-saudara, saya bertanya: apakah kita hendak mendirikan Indonesia merdeka untuk sesuatu orang, untuk sesuatu golongan? Sudah tentu tidak!” begitulah kata Sukarno. Baginya, Indonesia berdiri atas dasar semua untuk semua. Bukan untuk satu orang atau satu golongan saja.

Dan itulah yang tercermin dalam setiap sila yang ada di Pancasila. Religusitas Pancasila sebagai dasar negara Republik ini tidak hanya untuk satu golongan, namun semua golongan. Pancasila memberikan rasa adil bagi setiap pemeluk agama di negeri ini. Mereka yang menganggap bahwa Pancasila kurang religius atau kurang adil adalah mereka yang hendak mengubah Indonesia yang berdiri atas dasar semua untuk semua menjadi Indonesia yang eksklusif untuk golongan mereka saja.

Sebagai seorang Muslim, saya kagum Pancasila bisa menjadi ideologi yang religius namun tetap terbuka bagi semuanya. Sebagaimana setiap penganut agama lainnya bisa mengatakan hal yang sama, saya ingin katakan dengan bangga: “Saya Islam, Saya Indonesia, Saya Pancasila!”

Baca juga:

Pancasila, Kawah Candradimuka, dan Anti Absolutisme

Benarkah Habib Rizieq Menista Pancasila?

Avatar
Tsamara Amanyhttp://perempuanpolitik.id/
Ketua Bidang Eksternal DPP PSI, Penulis buku "Curhat Perempuan: Tentang Jokowi, Ahok, dan Isu-isu Politik Kekinian".
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Manifesto Arsip Bagi Pengelolaan Cagar Budaya

Indonesia merupakan negara yang memiliki beragam peninggalan sejarah, mengingat eksistensi terhadap banyaknya kerajaan-kerajaan yang pernah bertahta di bumi nusantara. Selain menjadi negara yang terkenal...

Setelah Sayyid Syarief Mengenolkan Diri

Syariefhans tampil di mimbar dengan gagah dan perlente. Ia mengenakan kemeja hijau tua, dengan lengan panjang yang dikancing rapi. Ketampanan dan kulit putihnya membuat...

Viral, BTS Meal di Tengah Pandemi

BTS Meal adalah menu yang dihasilkan dari kolaborasi antara McDonal dengan Boyband Grup BTS, Korea Selatan. McDonald didirikan pada tahun 1940 oleh Richard dan...

Meluruskan Kasus Takmir Melarang Salat Bermasker di Masjid

Ramai menjadi perbincangan publik saat video berdurasi 2 menit sekian memperlihatkan “brutal”-nya ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al Amanah, Jalan Kampung, Tanah Apit, RT...

Radikalisme, Anak Muda dan Pendidikan Tinggi: Antisipasi, Respon dan Kebijakan

Ekstrimisme dan radikalisme nampaknya tidak mengenal negara berpenduduk mayoritas Muslim seperti Indonesia atau negara-negara Eropa di mana kaum Muslimin merupakan komunitas minoritas. Ekstrimisme tumbuh...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.