Senin, Mei 17, 2021

Gubernur Anies Memang Beda

Saatnya Jokowi Memindahkan Ibu Kota

Masalah pemindahan ibu kota kembali mengemuka setelah Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Bambang Sumantri Brojonegoro menyatakan pihaknya tengah mengkaji ide pemindahan ibu kota...

HTI dan Politik Ujung Pisau

Keputusan pemerintah membubarkan ormas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dapat dipandang sebagai langkah cepat pencegahan terorisme. Di sinilah unsur “mendesak" implementasi Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang...

Surat untuk Khalifah Al-Watsiq: Pembunuh Ulama dan Pencinta Budak Pria

Assalamu ‘alaikum Ya Amiral Mu’minin al-Watsiq Billah, Izinkan kami belajar dari sosok panjenengan yang merupakan khalifah kesembilan dari Dinasti Abbasiyah. Panjenengan adalah putra dari Khalifah...

Taktik Anies Menonjok Agus Yudhoyono

Jebloknya perolehan suara dari pasangan calon nomor 1 Agus Harimurti Yudhoyono – Sylviana Murni jelas mengundang kejutan yang tidak kecil. Bagaimana tidak, dari hasil...
Arif Utama
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran.

Wakil Presiden Jusuf Kalla disaksikan Ketua DPR Setya Novanto (kanan) memberikan ucapan selamat kepada Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan saat pelantikan di Istana Negara, Jakarta, Senin (16/10). ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

Beda gubernur adalah ujian yang sama bagi masyarakat Jakarta. Itu adalah citra yang muncul usai pelantikan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur teranyar punya warga Jakarta. Dalam pidatonya, Anies mengungkapkan bahwa sebaiknya pribumi kini berjaya di tanahnya sendiri. Di jantung negara, di pusat pemerintahan, di daerah yang sungguh kaya dan beragam bernama Jakarta.

Adapun yang abai dalam kalimat tersebut, frasa “pribumi” adalah upaya kolonialisme melakukan politik ras. Belanda mengenal empat golongan: golongan mereka sendiri (yang tentu saja paling mulia), Arab, Tiongkok, dan pribumi, yang pemerintah Kolonial citrakan hina-dina.

Menyebut kata pribumi, alih-alih masyarakat Jakarta, jelas membuat situasi jadi tidak mengenakkan. Kata pribumi sendiri menjadi sensitif, seperti selayaknya pemerintahan Amerika era Trump dengan jargonnya, make America great again.

Dalam situasi semacam ini, jelas masyarakat lagi dan lagi diuji. Dahulu, pada masa Ahok-Djarot, kebersamaan masyarakat Jakarta untuk mengawal kinerja pemerintahan dapat dikatakan gagal. Mengapa saya katakan masyarakat Jakarta gagal? Ya, karena perihal “memilih pemimpin non-muslim.”

Kalimat dihilangkan konteks dan kemudian semua orang merasa hal itu menjadi hal yang paling penting. Orang-orang marah. Meminta ia dihukum. Seakan masalah reklamasi, penggusuran, relokasi ke rumah susun yang tak mulus, dan sejumlah masalah lainnya di Jakarta hanyalah remeh temeh. Padahal, kalau mau marah, okelah. Tapi marahlah pada yang tepat. Marahlah pada masyarakat yang terzalimi. Bukan marah pada masalah yang sebenarnya tak ada.

Dan kini, bukan tidak mungkin masalah sepele seperti frasa “pribumi” ini akan ditarik keluar konteks. Memperluas jarak antara pendukung pro dan kontra terhadap kepemimpinan Anies-Sandi. Bagi mereka yang kontra, mereka akan mengatakan bahwa Jakarta yang ini bukanlah Jakarta mereka. Ini Jakarta yang direbut paksa dari mereka, sehingga mereka akan menertawakan kegagalan pemerintahan Anies-Sandi.

Sementara kini, bagi mereka yang pro, mereka akan menunjuk bahwa mereka yang kontra sebenarnya tidak mencintai Jakarta.

Situasi ini, kalau dibiarkan, jelas takkan ke mana-mana. Politik yang tidak sehat ini jelas harus Anies-Sandi tebus dengan harga mahal. Karena, entah pro atau kontra, keduanya tetap butuh masyarakat Jakarta untuk bersatu. Sejago apa pun pemimpin, mereka butuh masyarakatnya. Mereka butuh masyarakat Jakarta untuk menilai secara fair kinerja mereka sebagai pemimpin Jakarta.

Anies dan Sandi kini perlu usaha keras agar kejadian di suatu negeri nun jauh di sana tidak tereplikasi di Jakarta. Anda tahu Donald Trump? Itulah yang saya maksud. Kalau Anda memperhatikan media di Amerika, Anda akan mengerti bahwa hanya sedikit sekali porsi pemerintahan Amerika yang membahas tentang kebijakan Trump.

Alih-alih demikian, perangnya hanya di seputaran ini: apakah Trump tolol? Atau seberapa heroiknya Trump? Sikap ignorant-nya Trump pula bikin situasi makin tidak mengenakkan. Kini, sekat antara pembenci dan pendukung Trump sudah mustahil untuk disatukan.

Ini tentu tidak diinginkan oleh Anies-Sandi. Pertanyaannya bagi masyarakat Jakarta kini: bagaimana kita bersatu dengan situasi macam ini? Karena, jika gagal, yang gagal tak hanya pemilih Anies-Sandi, namun seluruh masyarakat Jakarta. Satu sengasara, kita semua sengsara.

Sementara, jika berhasil, ya kita semua merasakan enaknya. Sayangnya, untuk sekarang, semua itu tampak sulit. Anies-Sandi patut berusaha ekstra keras, bahkan di awal masa kepemimpinan mereka, untuk memenangkan hati kedua belah pihak jika visi dan misi mereka selama masa kampanye tak hanya sekadar angan-angan.

Mungkin benar kata pepatah, karena nila setitik, rusak susu sebelanga.

Tulisan terkait:

“Pribumi” Anies, 2019, dan Politik Sentrifugal

Tanggung Jawab Politik “Sang Pribumi” Anies Baswedan

Ihwal Pribumi dalam Pidato Anies Baswedan

Ihwal Pribumi

Gubernur Anies, Pribumi, dan Homo Sapiens

Arif Utama
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Indonesia dan Konflik Palestina: Langkah Ekstrem

Akhir Ramadhan diwarnai dengan serangan yang berulang dari Zionis Israel kepada Palestina. The Reuters melaporkan bahwa tembakan roket dan serangan Israel berlangsung secara masif...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Individualisme dan Kecenderungan Nalar Eksploitasi

Sebelum Siddhata Gautama mencapai puncak pencerahan nirwana. Di masa kecilnya, ia pernah diajak ayahnya untuk menghadiri aktivitas pembajakan tanah yang oleh masyarakat setempat, dianggap...

Resolusi Kemandirian Pangan

Beberapa waktu yang lalu terjadi kegaduhan akibat statemen yang dilontarkan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi tentang rencana impor beras. Sejumlah kalangan kemudian bereaksi dan memberikan...

Diskursus Proporsionalitas Pidana dalam Kebijakan Formulasi Sanksi Pidana

Pada bulan Maret lalu, Badan Legislasi (Baleg) DPR RI menyampaikan laporan terkait pembahasan Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas Tahun 2021. Dalam laporan tersebut disampaikan...

ARTIKEL TERPOPULER

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Strategi Mengikis Angka Golput

Golongan putih (Golput) atau perilaku non-voting (orang-orang yang tidak menggunakan hak pilihnya) masih menjadi bayang-bayang Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019. Padahal, pesta demokrasi ini akan diselenggarakan...

Enzo Allie dalam Polemik Denny Siregar dan Birgaldo Sinaga

Baru-baru ini media sosial kita diramaikan dengan kehadiran sosok pemuda blasteran Indonesia-Perancis yang mendaftar sebagai taruna akademi militer (Akmil). Pada awalnya, pemuda bernama Enzo Allie...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.