Rabu, Juni 16, 2021

Efek Streisand, Repdem, dan Jenderal Gatot

Khalifah al-Amin bin Harun ar-Rasyid: Penyuka Sesama Jenis dan Pemicu Perang Saudara

  Dua puluh tiga tahun kekuasaan Khalifah kelima Abbasiyah yang melegenda, Harun ar-Rasyid, telah membawa kemajuan peradaban Islam dan stabilitas politik. Namun, sayang, semua kegemilangan...

Merindu Kedipan Mata Najwa

Mata Najwa yang kembali di layar kaca pertelevisian kita, Rabu, 10 Januari 2018, spontan menggugurkan kecurigaan saya bahwa presenternya akan alih profesi. Ya, dulu saya...

Gaji Tim Gubernur dan Patahnya Alasan Anies Baswedan

Di Balai Kota Jakarta, Senin (21/11/2017), Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sempat menyampaikan perihal Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP). Ia sampaikan alasan utama...

Politisasi Agama, Politik Murah Meriah

Pernah kepikiran enggak bahwa politisasi agama itu sebetulnya bertujuan agar biaya politik lebih murah? Begini. Sejak reformasi dan pencanangan sistem pemilihan langsung dan suara terbanyak dalam...
Avatar
Dandhy Dwi Laksono
Jurnalis, penulis, dan Pendiri Watchdoc, perusahaan film dokumenter. Pada 2015, selama 365 hari, bersama "Ucok" Suparta Arz, Dandhy bersepeda motor mengelilingi Indonesia di bawah bendera Ekspedisi Indonesia Biru.

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo.

Tahun 2003, seorang fotografer (Kenneth Adelman) digugat oleh bintang Hollywood, Barbra Streisand (pemeran Bu Focker dalam film komedi Meet the Fockers). Nilai gugatannya mencapai 50 juta dollar atau setara 650 miliar rupiah!

Gara-garanya ia membuat foto udara pembangunan properti di sepanjang pantai Malibu (California) dan rumah Streisand tentu saja ikut terfoto. Foto-foto itu lalu diunggah ke situs Pictopia.com untuk memberi masukan kepada pemerintah terkait pembangunan tata ruang pesisir California menghadapi ancaman erosi.

Sang Artis yang rumahnya ikut terpotret, tak terima karena alasan mengganggu privasinya. Maka ia pun mengajukan gugatan dan ramailah pemberitaan.

Sebelum digugat, foto-foto yang berjudul “Image 3860” itu hanya diunduh sebanyak 6 kali. Dua di antaranya oleh pengacara Streisand sendiri!

Namun setelah gugatan itu ramai.. Abrakadabra!

Foto itu ditonton 420.000 pengunjung! Maka apa yang ditakutkan Streisand soal hak privasinya, justru mengundang hal sebaliknya.

Setelah artikel Suu Kyi dan Megawati yang dipolisikan Relawan Perjuangan Demokrasi/Repdem (organisasi sayap PDIP), sebuah situs akademik yang tersohor milik Australian National University, newmandala.org, justru ikut mempublikasikannya dalam bahasa Inggris dengan judul Daw Suu and Ibu Mega.

Selain itu, juga diterjemahkan dalam bahasa Jerman oleh kawan-kawan Watch Indonesia yang berbasis di Berlin (http://www.watchindonesia.org/19376/gesetz-elektronische-information-meinungsfreiheit?lang=de)

Ini pernah terjadi pada film Samin vs Semen. Ada sekelompok orang yang membuat film tandingannya. Tentu ini tindakan yang terhormat dan demokratis daripada main lapor atau membubarkan nobar-nobarnya seperti yang dilakukan Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Brawijaya pada Mei 2016.

Namun karena film tandingan itu sibuk membantah Samin vs Semen, (dan terus mengulang-ulang kata “Samin vs Semen” sepanjang adegan) maka orang yang tadinya belum menonton, justru mencarinya karena penasaran. Akibatnya, jumlah views Samin vs Semen di youtube yang tadinya di bawah 50.000 views dalam 3 bulan, setelahnya, langsung melonjak di atas 100.000 views hanya dalam beberapa hari saja.

FILM “G30S/PKI”

Karena itulah kita tak perlu risau jika TNI (Angkatan Darat) hendak memobilisasi orang untuk menonton kembali film Pengkhianatan Gerakan 30 September (judul aslinya bahkan tanpa “PKI”)

Kita bukanlah golongan reaksioner yang gemar melarang pemutaran film atau menyerbu tempat-tempat nobar. Yang terbiasa melakukan itulah yang barangkali merasa perlu melibatkan tentara agar tak ada yang berani membubarkan.

“Itu perintah saya. Mau apa?” tantang Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo soal mobilisasi nobar.

Pernyataan Jenderal Gatot ini biarlah jadi urusan Panglima Tertingginya atau koleganya sesama jenderal dari angkatan lain yang selama tiga dekade, sebagian dari mereka merasa film itu mendiskreditkan kesatuannya.

Kita sendiri akan melawan film dengan film, atau film dengan tulisan. Biarlah masyarakat menonton kembali film warisan Orde Baru itu. Bagi generasi milenial yang belum menonton, biarkan mereka menontonnya.

Di sinilah efek Streisand akan mulai bekerja. Pulang dari nobar, orang akan penasaran dan mencari tahu mengapa film ini diributkan. Saat itulah mereka akan berjumpa dengan informasi-informasi baru tentang bagaimana film itu dibuat secara tidak akurat, sarat propaganda, bahkan mengejutkan keluarga pahlawan revolusi sendiri. 

Para orangtua akan mulai memperbanyak bacaan sumber-sumber yang jelas untuk menghadapi pertanyaan anak-anaknya. Gara-gara seruan nobar TNI AD itu, pemerintah bahkan akan membuat film versi baru.

Saat itulah, kita bisa menyebutnya sebagai “Efek Repdem” atau “Efek Gatot”.

Kolom terkait:

Surat Buat Dandhy Dwi Laksono

Mengapa Saya Ikut Simposium Tragedi 1965

Ingatan Kolektif 1965

Menjadi Indonesia Pasca-1965

Avatar
Dandhy Dwi Laksono
Jurnalis, penulis, dan Pendiri Watchdoc, perusahaan film dokumenter. Pada 2015, selama 365 hari, bersama "Ucok" Suparta Arz, Dandhy bersepeda motor mengelilingi Indonesia di bawah bendera Ekspedisi Indonesia Biru.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Koperasi, Keadilan Ekonomi, Pancasila

Setiap negara pada hakikatnya menganut sebuah ideologi yang menjadi dasar bagi bangsanya dalam kehidupan bernegara. Seandainya suatu negara tidak memiliki sebuah ideologi yang dianut,...

Karya, Nama, Media: Tentang Kehebohan A.S. Laksana

Tahun 2001 saya bertemu dengan seorang pelukis dari negeri Tiongkok yang namanya belum terlalu tenar. Karya-karyanya dapat digolongkan sebagai lukisan realistik, dalam arti mengambil...

Distribusi Resiko untuk Keadilan Iklim

Saat ini, daya dukung lingkungan hidup mengalami keterbatasan di tengah kondisi iklim yang menyebabkan peningkatan potensi dan intensitas kejadian bencana. Indonesia merupakan salah satu...

Tiga Tahun Zonasi, Sudahkah Memberi Solusi?

Sistem zonasi dalam perekrutan peserta didik baru untuk semua jenjang telah berlangsung selama tiga tahun. Dan jika untuk tahun ajaran baru kelak sistem ini...

Kepalsuan Gelar Duta

Salah satu karakteristik dari masyarakat modern yang paling menonjol adalah keinginannya untuk memperoleh nilai prestise. Tentu saja, keinginan tersebut bukan hal yang berlebihan. Saat...

ARTIKEL TERPOPULER