Jumat, April 23, 2021

Berpolitik dengan Passion

Minister Susi Pudjiastuti and Fishy Politics: Time to Consider Complex Realities

Last week, Jakarta saw the demonstration of hundreds of fishermen under the Indonesian Fisherman Alliance demanding the reshuffling of Minister of Fisheries, Susi Pudjiastuti....

Habib Rizieq antara Rekonsiliasi dan Revolusi

Ada hal menarik dari pesan yang disampaikan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Muhammad Rizieq Shihab kepada pemerintah baru-baru ini. Ia mengultimatun pemerintahan Joko Widodo...

Jakarta’s Game of Throne

Lima tahun yang lalu, ketika Joko Widodo berhasil menaklukkan Fauzi Bowo dalam pemilihan gubernur DKI, ada suasana spesial. Suasana yang membuat warga Jakarta sangat...

Keadilan Memilih Pemimpin

Di daerah rumpin ada turunan Banyak hewan ditembak bedil Memilih pemimpin bukan karena keturunan Tetapi pilihlah yang berlaku adil Yang suka ke rumpin namanya maman ...

Ketua Umum PSI Grace Natalie (tengah) bersama Sekjen PSI Raja Juli Antoni (kedua kiri), Ketua DPP PSI Isyana Bagoes Oka (kedua kanan), Ketua DPP Bidang Eksternal Tsamara Amany (kanan) dan Caleg PSI Giring (kiri) menunjukkan berkas verifikasi di gedung KPU, Jakarta, Selasa (10/10). ANTARA FOTO/Rosa Panggabean

Banyaknya aktor politik yang terjerat kasus korupsi, lalu tersenyum lebar di televisi saat digelandang petugas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan mengenakan jaket oranye, membuat nalar sehat kita bertanya-tanya, sudah sirnakah rasa malu di hati dan pikiran mereka? Seolah-olah menunjukkan ke publik, “mereka korupsi dengan senang hati.”

Saya belum melihat ada koruptor yang menutup wajah, seperti para pengguna narkoba yang terciduk aparat. Atau seperti para teroris yang digelandang pasukan Densus 88. Maka, jangan heran jika suatu saat mungkin akan ada anak yang bercita-cita menjadi koruptor. Karena tampak di layar kaca, wajah-wajah koruptor tampil dengan gembira.

Padahal, kegembiraan para koruptor adalah derita ribuan atau bahkan jutaan rakyat Indonesia. Karena ulah koruptor, negara kehilangan banyak daya dalam menjalankan tugas-tugasnya untuk menyejahterakan rakyat. Kejayaan koruptor adalah kesengsaraan rakyat.

Fenomena inilah yang membuat sebagian kalangan merasa jijik dengan partai politik. Karena ada di antara aktor-aktornya yang sedemikian memuakkan, membuat wajah partai politik bak dewa Janus. Hipokrit. Di satu sisi membawa kabar baik (pada saat musim kampanye) dan di sisi lain bisa menyebabkan kehancuran (karena melakukan kejahatan korupsi).

Dengan begitu, siapa pun yang ingin berkhidmat untuk kemajuan bangsanya melalui jalur politik, berada di jalan terjal yang penuh onak dan duri. Kalau tidak dicap munafik, setidaknya dianggap naif. Kalau tampil baik dianggap pencitraan. Kalau jahat malah dianggap wajar. Ya, namanya juga dunia politik. Jadi, untuk menjadi aktor politik, memiliki keinginan dan niat baik saja tidak cukup, butuh stamina dan mental baja.

Kalau kita menyadari akan peran dan fungsinya yang sangat vital, politik adalah lahan yang paling pas untuk yang beramal secara maksimal. Karena politik merupakan hulu dari semua kebijakan. Berkiprah di dunia politik berarti berupaya memperbaiki kondisi masyarakat dari hulunya.

Kalau melihat kondisi masyarakat dengan permasalahan yang begitu kompleks, maka sekompleks itu pulalah masalah yang dihadapi para aktivis politik. Tapi dengan modal cara pandang, dan cara berpikir yang sistematis, hal yang kompleks bisa dihadapi dengan mudah. Kita dekati dunia politik sesuai minat dan bakat yang kita miliki. Pada saat kita bisa berpolitik seperti manjalani hobi, maka pada saat itulah siapa pun bisa berpolitik dengan riang, dengan penuh kegembiraan. Itulah yang saya maksud berpolitik dengan passion.

Passion dalam pengertian bebas adalah sesuatu yang menyenangkan, yang membuat pelakunya tidak merasa bosan. Bagaimana berpolitik dengan passion, inilah yang tengah dilakukan teman-teman muda kita yang tergabung dalam Partai Solidaritas Indonesia (PSI). 

Kepada anak-anak muda kita gantungkan masa depan bangsa. Rasanya kita sudah bosan dengan semboyan semacam ini. Karena, pada faktanya, yang meneriakkan semboyan  seperti ini pun banyak yang bersikap feodal. Anak-anak muda sekadar dijadikan isu politik, sama seperti isu-isu lain yang kerap dijadikan alat politik. PSI tidak menjadikan kemudaan sekadar isu politik. PSI dijalankan anak-anak muda itu nyata. 

Kita sadar betul, menghadirkan politik di tengah-tengah masyarakat saat ini mungkin sama seperti menghadirkan pelajaran matematika atau fisika di hadapan anak-anak. Membosankan kalau tidak memuakkan.

Bagaimana menghadirkan matematika dan fisika secara menyenangkan itulah yang menjadi tugas para pendidik. Dan, sejauh ini, sudah ada beberapa pendidik yang bisa melakukannya, sekadar menyebut contoh, seperti Prof Dr Yohanes Suryo yang berhasil menjadikan anak-anak didiknya menyintai matematika dan fisika sehingga beberapa di antaranya ada yang berhasil mengukir prestasi di olimpiade matematika atau fisika.

Sesuatu yang rumit dan membosankan bisa menjadi mudah dan menyenangkan jika dilakukan dengan cara yang tepat. Untuk menjadikan anak-anak muda menyadari akan tugas dan tanggung jawabnya sebagai kader bangsa, yang di pundak mereka terdapat raut wajah masa depan kehidupan masyarakat kita, dibutuhkan metode yang tepat.

Partai politik pada dasarnya merupakan sarana untuk menghimpun dan menyalurkan kepentingan. Karena kepentingan rakyat sangat beragam, maka dibutuhkan objektifikasi. Seberagam apa pun kepentingannya, pasti ada ruang yang menjadi simpul dari semua kepentingan. Inilah yang bisa kita sebut dengan ruang agregasi. Titik temu dari semua kepentingan itulah yang menjadi ruang objektifikasi.

Bagaimana mentransformasikan kepentingan-kepentingan subjektif yang beragam menjadi kepentingan-kepentingan yang objektif, yang manfaatnya bisa dirasakan semua orang, itulah fungsi partai politik. Dan, dengan cara-cara yang menyenangkan, anak-anak muda bisa menjalankan fungsi itu dengan suka cita. Itulah fungsi kehadiran PSI!

Kolom terkait:

Perilaku Korupsi dan Politik Kebajikan

Tantangan Berat Grace Natalie

Politik Giring “Nidji” dan Kemudaan

Politik Kita di Tengah “Tsamaraisasi Milenial” 

Dari Aida Hadzialic hingga Grace Natalie

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Toleransi, Kita Perlu Belajar dari Negeri Tolland

Sebelum mulai mendaratkan jemari diatas keyboard laptop, sejenak terlintas dalam pikiran saya sebuah kutipan yang menarik dari buku yang berjudul “Berjamaah (lagi) walau tak...

Terorisme Lahir dari Watak yang Retak

Salah satu musuh terbesar kemanusiaan adalah terorisme. Ia lahir dari watak retak manusia yang dikendalikan hasrat untuk membunuh. Dalam aksinya yang agresif, teroris tak...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mencari Teman Masa Pandemi? Why Not, Berikut Tipsnya

Sudah Satu Tahun Pandemi Covid-19 Melanda Indonesia. sekolah-sekolah, kampus, tempat yang bahkan kantor sekalipun harus berkegiatan online. Mahasiswa baru, murid baru dan orang-orang yang baru memulai...

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

ARTIKEL TERPOPULER

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mempertanyakan Wacana Koalisi Partai Islam Oleh PKS dan PPP

Menyatakan bahwa Islam hanya berhubungan dengan kehidupan spiritual, tanpa kita sangkut pautkan sama sekali dengan masyarakat dan negara, mungkin sama jauhnya dari kenyataan dengan...

Puasa Menurut Filsuf Muslim

Selama ini ada anggapan umum yang diterima luas, bahwa nasib filsafat Islam telah berakhir di tangan Ibn Rusyd. Filsuf Andalusia yang mencoba melakukan counter...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.