Sabtu, April 17, 2021

Ketika Main Pokemon Go “Menjadi Yahudi”

Mengenal Muhammad Hidayat, Sang Pelapor Kaesang

Masyarakat saat ini tengah membincangkan pelaporan seorang warga Bekasi, Muhammad Hidayat, atas video blog (vlog) Kaesang, anak bungsu Presiden Joko Widodo, atas dugaan penodaan...

Bela Negara di Mata Abdi Negara

Kementerian Pertahanan akan segera mengimplementasikan kewajiban bela negara bagi seluruh warga Indonesia. Dalam sepuluh tahun ke depan, pemerintah menargetkan sebanyak 100 juta warga telah...

Kartini Antikorupsi

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan mengunjungi Museum Kartini setelah menghadiri pencanangan Gerakan Pendidikan Pemberdayaan Perempuan Marjinal (GP3M) di Jepara, Jawa Tengah, Sabtu (16/4)....

Alasan Mengapa KH Ma’ruf Amin Lebih Penting Bagi Sumatra Barat Daripada Prabowo Subianto

Memilih Prabowo Subianto adalah cara cepat merealisasikan bahaya laten Orde Baru. Meskipun karakteristik Orde Baru sangat tampak-jelas pada Fadli Zon beserta puisi-puisi picisannya, namun...
Avatar
Ferena Debineva
Pendiri dan Ketua Support Group and Resource Center on Sexuality Studies (SGRC).

pokemon1
foto: gamespot.com

Belum genap sebulan aplikasi permainan virtual reality ini beredar di Indonesia, Pokemon Go sudah dilabeli dengan arti “Aku Yahudi”. Pokemon yang diambil dari kata Pocket Monster (monster saku), diartikan bebas sebebas-bebasnya dari bahasa Syriac Kuno. Ikonnya, Pikachu, seekor monster tikus kuning pun tidak luput dari terjemahan asal-asalan menjadi “Jadilah Yahudi”.

Jauh sebelum aplikasi Pokemon Go beredar,  di tahun 2001 lalu, ketika animasi Pokemon ditayangkan, Pokemon dianggap sebagai propaganda Yahudi untuk menjauhkan anak-anak Muslim dari agamanya. Pokemon Go bahkan menjadi topik yang perlu dirapatkan hukumnya dalam Pleno PBNU di Cirebon, sejajar dengan pembahasan isu tax amnesty.

Pokemon Go hanyalah satu dari ratusan permainan baik daring dan luring yang dirasa perlu dilabeli dengan kata “Yahudi”. Permainan lainnya yang sudah susah payah dilabeli illuminati/ iblis/freemason/pengikut setan/aliran sesat/penghina Islam lainnya pun sudah banyak mengisi daftar. Sebut saja Devil May Cry, Resident Evil, Clash of Clans, Prince of Persia, Counter Strike, Ayo Dance, bahkan Angry Birds tidak lepas dari embel-embel tersebut.

Hal ini tentu bukan sesuatu yang baru. Anda tentu bisa pula mendapatkan cap kafir/Yahudi/ komunis/liberal secara cuma-cuma. Tidak hanya satu, namun kesemuanya sekaligus.

Selagi kita masih bersibuk-sibuk ria dengan pengelompokkan sempit antara Yahudi dan bukan Yahudi, belahan dunia lain sedang sibuk mengupayakan perdamaian dunia dan penjelajahan angkasa. Sementara kita setiap tahun masih bergumul pada wacana mengenai pemboikotan produk-produk yang dianggap mendukung Israel. Bayangan akan adanya konspirasi besar yang dilakukan oleh Yahudi terus mengikuti dan memperbesar jarak kemungkinan hubungan diplomasi dengan Indonesia.

Tapi, apa yang bukan konspirasi Yahudi? Semuanya adalah salah konspirasi Yahudi. Kegagalan ekonomi adalah konspirasi Yahudi. Lagi pula, apa yang luput dari embel-embel Yahudi? Coca Cola jika diputar balik sedemikian rupa adalah Yahudi. Facebook buatan Yahudi. Seperti layaknya stempel PKI yang menyakitkan, seharusnya semua produk Made in China harus diganti buatan Yahudi. Ada apa dengan Yahudi dan kita?

Anti-Judaism, Anti-Semitism, Anti-Zionism, dan Mengapa Kita Membenci

Apa yang berbeda dari ketiganya? Untuk kita, semuanya sama. Yahudi = Israel = Zionis. Tidak perlulah dibeda-bedakan. Ketiga-tiganya sama. Mereka yang percaya dan mengutuki adanya prasangka negatif terhadap Islam di belahan bumi Amerika, kini malah membanggakan diri memiliki kebencian yang sama besarnya terhadap Yahudi.

Apa persamaan di antara keduanya? Keduanya menganggap orang-orang dengan karakteristik tertentu layak dibenci (seperti layaknya mereka membenci komunis, liberal, dan lesbian, gay, biseksual, dan transgender/LGBT).

Mengapa kita membenci? Kebencian terhadap kelompok lain membuat kelompok dan diri kita sendiri terlihat baik. Kita mencintai menjadi baik dan mengusahakannya dengan sungguh-sungguh. Kecintaan kepada kelompok bekerja bukan hanya ketika kelompok lain patut benar-benar dibenci, namun karena adanya emosi positif seperti kebanggaan, kehormatan, simpati, dan kepercayaan pada kelompok sendiri.

Hal ini kita reproduksi terus-menerus kepada kelompok lain. Kita menyerah kepada godaan untuk membuat diri sendiri terlihat lebih besar dengan mengecilkan orang lain. Kita kemudian membayangkan hal-hal besar yang tidak masuk akal untuk dilekatkan bersama kebencian yang memberi makan otak kita sehari-hari. Gordon Allport, dalam Anti Semitism, A Social Disease (1946) menyebut Judeophobia (prasangka negatif terhadap Yahudi) sebagai penyakit sosial yang menular dan merupakan kejahatan yang kompleks.

Selanjutanya Simmel bahkan mengartikannya sebagai psikosis massal yang menyebar seperti virus. Seperti layaknya individu yang kerasukan, pemikiran itu amat irasional, masif, diternak secara terstruktur, dan merupakan upaya defensif yang sia-sia untuk menyeimbangkan identitas yang dirasa lemah dan berafiliasi dengan delusi kekuatan. Kita menggunakan prasangka negatif untuk mengatrol harga diri kita yang terjun bebas.

Sayangnya, kebencian kita tidak berhenti di sana. Kita mereproduksi ketakutan-ketakutan yang seperti bola salju, bergelinding dan bertambah-tambah. Kita membangun wacana di mana keberadaan Yahudi akan mengancam eksistensi ke-kita-an. Untuk menghilangkan pemikiran akan ancaman, maka kita memiliki urgensi untuk menghilangkan sumber rasa tidak nyaman, dengan memusnahkan orang lain jika tidak ingin dihancurkan oleh diri sendiri. Prinsipnya: “Agar kami bisa bernapas, Anda harus dihilangkan.”

Belum selesai ketakutan kita terhadap Yahudi, permainan online mendorong kita ke dalam masalah yang baru. Kita yang gagap teknologi pun tergopoh-gopoh menanggapi permainan berbasis augmented reality.

Sastrawan Damhuri Muhammad mengartikulasikannya dengan apik dalam opini di Kompas (26/7/2016), bahwa teknologi tinggi yang kini dapat diaskes siapa pun menjelma sebagai suatu keterkejutan yang ganjil, kecanduan, bahkan histeria. Meskipun sebagian dari kita memahami mungkin wacana-wacana ketakutan akan permainan teknologi tinggi adalah humor dan satir belaka, kita harus menyadari bahwa perihal ini terjadi bukan di belahan dunia lain, melainkan di dalam ruang-ruang kepala itu sendiri dan diamini dengan sungguh-sungguh.

Pun hal itu didorong dengan apa-apa yang digaungkan di telinga kita selama ini. Kita harus menjadi kaku dengan belajar (baca: membaca buku yang telah ditentukan), belajar lagi (baca: dengan cara yang telah ditentukan), dan belajar (baca: hanya dari sumber yang telah ditentukan).

Kita diajarkan bahwa bermain dan bersenang-senang adalah hal yang salah (kecuali menonton Uttaran dari siang hingga malam, atau menonton tayangan gosip kehidupan artis). Betapapun saya mengutarakan bahwa pelajaran bahasa Inggris paling efektif bukanlah di ruang-ruang kelas yang menjemukan. Pada saya, ia hadir dalam bentuk permainan Harvest Moon ketika saya harus membuka kamus untuk mencari arti kata basket yang saya pikir pada waktu itu adalah bola.

Dan sebagai pecandu permainan daring dan luring, saya pada banyak waktu luang akan selalu ada di barisan terdepan dalam urusan bersenang-senang, bahkan jika konsekuensinya adalah “Menjadi Yahudi”.

Avatar
Ferena Debineva
Pendiri dan Ketua Support Group and Resource Center on Sexuality Studies (SGRC).
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Daniel Dhakidae, Kekuasaan dan Pelanggaran HAM

“Kekuasaan yang tidak memiliki kehormatan, tidak akan pernah mampu menghadirkan keadilan.” Ungkapan yang keras, menohok hati itu diucapkan oleh Bung Daniel Dhakidae awal tahun 2020...

Generasi Z dan Radikalisme Beragama

Peristiwa ledakan bom di Gereja Katedral Kota Makassar pada 28 Maret 2021 lalu, menggegerkan masyarakat Indonesia. Bukan hanya karena jenis ledakan yang masuk kategori...

Memandang Terorisme Melalui Evolusi Kultural

Bangsa Indonesia tengah dikejutkan dengan serangkaian serangan terorisme seperti ledakan bom di Gereja Makassar dan serangan ke Mabes Polri. Terorisme setidaknya telah merenggut 21.000...

Peran Besar Generasi Milenial Menuju Indonesia Maju

Menurut data Badan Pusat Statistika (2020), Indonesia memiliki jumlah penduduk yang cukup tinggi yaitu sekitar 270 juta jiwa dengan tingkat pertumbuhan penduduknya sebesar 1,25%...

Dua Sisi Media Digital Terhadap Budaya Lokal

Mari kita mulai membaca dan sambil memperhatikan sekitar kita tentang Media,Budaya, dan Jati Diri. Mungkin kita sudah mengetahui istilah Globalisasi. Globalisasi itu ditandai dengan...

ARTIKEL TERPOPULER

Gagalnya Kudeta Terhadap Raja Yordania?

Pada 4 April 2021, Panglima Militer Yordania, Mayjen Yousef Huneiti menyatakan bahwa pihaknya telah meminta secara resmi Pangeran Hamzah untuk menghentikan semua kegiatan atau...

Eren Yeager, Kesadaran dan Kebebasan

Pemberitahuan: esai ini terdapat cuplikan cerita Attack on Titan (AoT) episode 73. Pada musim akhir seri AoT, Eren Yeager tampil dengan kondisi mental yang jauh lebih...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Daniel Dhakidae, Kekuasaan dan Pelanggaran HAM

“Kekuasaan yang tidak memiliki kehormatan, tidak akan pernah mampu menghadirkan keadilan.” Ungkapan yang keras, menohok hati itu diucapkan oleh Bung Daniel Dhakidae awal tahun 2020...

Memandang Terorisme Melalui Evolusi Kultural

Bangsa Indonesia tengah dikejutkan dengan serangkaian serangan terorisme seperti ledakan bom di Gereja Makassar dan serangan ke Mabes Polri. Terorisme setidaknya telah merenggut 21.000...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.