OUR NETWORK
Minggu, Oktober 17, 2021

Pentingkah Hadiah Sastra?

Donny Syofyan
Donny Syofyan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Berbicara tentang sastra bermakna memperbincangkan karya-karya fiksi dan penulisnya. Karya-karya itu bisa novel, cerpen, puisi atau drama. Seiring dengan meningkatnya kebutuhan untuk mencari dan memahami karya-karya penting dan terbaik, ajang penghargaan terhadap karya-karya yang dianggap terbaik, terpopuler, bahkan terlaris menjadi tak terhindarkan.

Tahun 2021 ini, hadiah Nobel Sastra jatuh kepada Abdulrazak Gurnah. Gurnah dibesarkan di Zanzibar tetapi tiba di Inggris sebagai pengungsi pada akhir 1960-an. Menurut Ketua Komite Nobel Anders Olsson 2021, tema seputar gangguan dan tekanan yang dihadapi para pengungsi mengalir di seluruh karya sastranya. Gurnah banyak melahirkan karya-karya tentang identitas dan citra diri.

Di Tanah Air, ajang penghargaan terhadap dunia kesusastraan relatif semarak, mulai di tingkat lokal hingga nasional yang diselenggarakan oleh berbagai lembaga swasta dan pemerintah, semisal Kusala Sastra Khatulistiwa (dulu Khatulistiwa Literary Award), Penghargaan Sastra Pusat Bahasa–dahulu diberi nama Hadiah Sastra Pusat Bahasa– sesuai nama Badan Bahasa sebelumnya, dan pelbagai ajang penghargaaan di tingkat propinsi.

Di tingkat internasional, kita mengenal Hadiah Nobel untuk Sastra (Nobel Prize for Literature), Man Booker International Prize, International IMPAC DUBLIN Literary Award, Astrid Lindgren Memorial Award, dan sebagainya.  Di Australia, yang paling terkenal adalah Miles Franklin Literary Award.

Sejarah penganugerahan atau hadiah terhadap karya sastra bisa ditarik ke belakang, ke masa Yunani kuno. Tragedi ditemukan oleh orang Yunani sekitar tahun 500-an SM. Di sini setiap orang berada dalam suasana budaya yang terobsesi dengan hadiah. Setiap musim semi, di Athena, karya-karya tiga penulis naskah lakon disajikan selama berlangsungnya festival kewarganegaraan, agama, dan artistik raksasa. Ketika pertunjukan selesai, hadiah pertama, kedua dan ketiga diberikan. Maka seperti sekarang, keputusan hakim bisa membingungkan.

Sophocles “Oedipus Rex,” yang dianggap Aristoteles sebagai tragedi sempurna, berada di urutan kedua; Euripides, yang dianggap filsuf yang sama “paling tragis” dari semua dramatis, memenangkan hadiah pertama hanya lima kali selama karir setengah abadnya. (“Medea” miliknya berada di urutan ketiga.)

Sejarah penghargaan terhadap ini menyiratkan bahwa tidak ada standar absolut untuk menilai masalah estetika. Sastra adalah bagian estetika. Dalam Olimpiade, kriteria untuk pencapaian seorang pemenang dengan gampang bisa diukur (waktu, jarak, panjang). Sebaliknya, kriteria untuk keunggulan dalam sastra sepenuhnya subyektif, baik di kalangan pembaca, kritikus atau juri. Penilaian dewan juri—layaknya ulasan dari seorang kritikus – bisa saja terpeleset ke dalam kesalahan, kekeliruan, kebencian dan bahkan sentimen.

Menjadi pertanyaan penting, apa yang hendak diraih dengan adanya ajang penghargaan terhadap kesusastraan ini?

Jawabannya memang tidak sesederhana pertanyaannya. Tapi ada beberapa poin yang agaknya menjawab pertanyaan krusial ini. Pertama, katakanlah kita berbicara novel, ia menjadi upaya untuk mencari novel yang bagus. Masalahnya adalah tidak semua orang bisa dan berkesempatan membaca semua novel yang diterbitkan.

Karenanya, perlu ada kesadaran dan pengakuan bahwa sungguh pun novel tertentu terpilih mendapatkan penghargaan dengan kategori tertentu, ia tidak serta merta menjadi novel terbaik di tahun itu (the best novel of the year). Jauh lebih valid disebut (the important novel of the year). Toh istilah ini tidak akan mengurangi nilai dan kualitas ajang penghargaaan tersebut. Dalam konteks ini, bisa dikatakan bahwa hadiah sastra adalah wujud pengakuan di tengah langkanya persediaan ketika buku-buku berjuang untuk menembus kekenyangan budaya kita yang penuh sesak.

Kedua, ajang penghargaan berperan bagi penjualan buku atau novel. Meski tidak ada jaminan bahwa ia berkontribusi atas larisnya sebuah novel, tidak dapat dipungkiri bahwa sebuah novel yang memenangkan penghargaan tertentu berpeluang lebih besar untuk diburu oleh pembaca, lebih cepat sampai di tangan pembaca ketimbang novel-novel yang tidak memenangkan penghargaan atau masuk dalam daftar kandidat. Seolah kegiatan ini menjadi peramal atas laris dan bagusnya sebuah novel. Sebab semuanya menjadi transparan.

Ketiga, novel yang terpilih sebagai pemenang mengangkat reputasi pengarang dan isu yang disampaikan lewat karya itu. Ketika novel Marlon James, A Brief History of Seven Killings, memenangkan Man Booker Prize pada 2015, yang mendapatkan tuah bukan sang pengarang saja tapi juga isu yang dibelanya, yakni kelompok yang terpinggirkan di kalangan masyarakat Jamaika.

Man Booker Prize telah menjadikan suara-suara tertindas dari masyarakat termarjinalkan didengar lebih luas. Ada kecenderungan bahwa ketika sebuah novel memenangkan penghargaan tertentu, ia berpeluang untuk mendapatkan penghargaan yang sama dari lembaga lain, baik dengan kategori yang sama atau berbeda. A Brief History of Seven Killings, misalnya, tidak hanya memenangkan Man Booker Prize tapi juga penghargaan sastra lainnya, yakni Anisfield-Wolf Book Award for Fiction, Minnesota Book Award for Novel & Short Story, dan Fiction category of the OCM Bocas Prize for Caribbean Literature. Hebatnya, semua penghargaan tersebut diperoleh pada tahun yang sama, 2015.

***

Hadiah sastra terkadang layaknya orang tua yang persetujuannya didambakan serta penolakannya ditakuti. Artinya, ia sarat dengan kontradiksi: adakalanya penghargaan ini diberikan kepada novel best seller dengan bacaan yang ringan dan dibaca oleh banyak orang; namun ia juga pernah diberikan kepada novel-novel yang terbilang absurd, musykil dan tidak banyak dibaca. Tak jarang ia diberikan kepada penulis yang tepat namun untuk karya yang dianggap salah (Hemingway untuk “The Old Man and the Sea,” Faulkner untuk “A Fable”), penulis yang salah untuk karya yang salah (Margaret Mitchell untuk “Gone with the Wind”).

Pernah juga sebuah hadiah sastra ditahan atau dibatalkan untuk pengarang yang tepat dan karya yang bagus (“Gravity’s Rainbow,” oleh Thomas Pynchon, memenangkan persetujuan juri untuk Pulitzer pada tahun 1974 tetapi ditolak oleh dewan hadiah yang menganggap novel ini bombastis dan cabul).

Bagi para penulis, tak perlu dinafikan bahwa hadiah sastra juga sebagai pemasukan: uang. Sudah bukan rahasia lagi bahwa pengarang yang berhasil menyabet hadiah Nobel berhasil keluar dari kubang penghinaan yang selama ini kerap ditumpahkan kepada para seniman yang kerap dianggap sebagai kaum kelaparan. Konsekuensi insentif finansial juga berupa pengakuan.

Setiap tahun National Endowment for the Arts, lembaga independen pemerintah federal Amerika Serikat yang memberikan dukungan dan pendanaan bagi proyek-proyek seni, menginformasikan berkurangnya orang-orang yang membaca. Kalaupun membaca, mereka membaca lebih sedikit buku. Hadiah sastra dapat bertindak sebagai semacam penyuguh testimoni bahwa, “Jika Anda hanya membaca satu buku tahun ini, Anda sebaiknya membaca yang ini!”

Keunikan dan kelangkaan menjadi dasar penting sebuah novel memenangkan karya sastra. Penghargaan sastra memang selalu menghasilkan perdebatan dan kontroversi, tetapi hadiahnya semakin besar karena kekayaan gerai-gerai prestise makin layu.

Di Amerika, berbagai klub buku dengan juri profesional yang biasanya mengarahkan tren dan perhatian publik kepada buku-buku terkenal dan paling utama; the Book-of-the-Month Club (Klub Buku Bulan Ini), sudah ditiadakan sejak tahun 1994. Sekarang ia hanya berfungsi sebagai klub penjualan untuk anggota yang mencari potongan harga. Bagian ulasan buku menyusut atau menghilang sama sekali, di tambah dengan membanjirnya ulasan buku baru secara daring.

Singkatnya, hadiah itu penting. Tetapi yang tak kalah mengejutkan adalah dampak nominasi sebuah karya yang diperlombakan. Ketika sebuah novel masuk dalam daftar nominasi Man Booker Prize atau Miles Franklin Literary Award, sebagai contoh, ia bergerak dari ruang kelas dan halaman-halaman kritik sastra ke arena pertunjukan yang terhormat lewat popularitas yang luas.

Tentu saja, sebuah kemenangan bakal menjadi catatan statistik lengkap nominasi yang belum beruntung. Tetapi, perbedaan antara ketidakjelasan kenapa sebuah karya menjadi pemenang dan dan ketenaran mencermati karya yang sebetulnya sederhana bisa dibilang lebih besar daripada perbedaan antara keberhasilan dan kesederhanaan. Ini langkah pertama yang membedakan buku Anda dari puluhan bahkan ratusan ribu buku lain yang diterbitkan.

Yang pasti, hadiah sastra tidak sepenuhnya bertanggung jawab atas semua dampak terhadap pembaca, guru, dan cendekiawan. Hadiah adalah institusi tersendiri yang mengkristal dengan berbagai kekuatan dan aktor lainnya; penerbit yang memilih dan mempromosikan judul novel, penulis yang mengiklankan karyanya hingga para resensiator atau kritikus yang mengapresiasi novel bersangkutan.

Hadiah sastra melakukan fungsi penyaringan untuk pembaca kontemporer, mempersempit ratusan ribu karya sastra hingga menjadi sedikit yang terseleksi. Seleksi ini sebetulnya bermanfaat bagi para guru atau dosen sastra kontemporer yang, sebagai pengganti kanon yang relatif lebih stabil, dapat memilih judul-judul novel terkini sebagai bahan ajar.

Salah satu aspek terbaik dalam mempelajari dan mengajar fiksi kontemporer adalah kemampuan untuk membentuk kanon. Maka, tidak heran jika banyak cendekiawan enggan menyerahkan peran itu kepada lembaga-lembaga seperti Booker atau Pulitzer. Sangat mudah, bahkan menggoda, untuk menghapus hadiah ala MacGuffin yang berfokus pada publisitas, sebuah aksi yang tidak selalu berakhir dengan kesuksesan.

Namun, mengingat volume dan ragam sastra kontemporer yang sangat luas dan kekuatan penghargaan sastra yang luar biasa untuk diprediksi, maka perhatian ilmiah, pedagogis, dan pembaca menyangkut hadiah dan nominasi menjadi sampel untuk penelitian masa depan.

Ketika suatu hadiah diberikan kepada karya yang tepat, ia akan meluas bukan hanya secara komersial lewat penjualan tapi juga menjadi bahan kuliah yang kian hari kian luas diajarkan di lembaga pendidikan, seperti perguruan tinggi. Ambil, misalnya, karya sastra Amerika yang paling banyak diajarkan, paling banyak ditulis, dan paling dikanonisasi selama 70 tahun terakhir: yakni Beloved, novel Toni Morrison yang diterbitkan pada 1987. Novel ini diajarkan di lebih dari 1.500 silabus universitas dan menjadi sentral bagi 1.000 artikel ilmiah dan monograf. Konon, status novel itu sebagai pemenang Pulitzer Prize 1988 betul-betul nyaris menjadi sumber renungan bagi banyak pihak.

Beberapa bulan sebelum Pulitzer dianugerahi, ketika Beloved diluluskan dan masuk nominasi dalam National Book Award, sekelompok hampir 50 penulis, kritikus, dan cendekiawan kulit hitam menulis surat terbuka di New York Times Book Review, menyatakan bahwa kita perlu merayakan “karakter seismik dan keindahan” karya Marrison dan melobi agar novel ini mendapatkan posisinya sebagai pemenang yang sah. Para penulis surat itu mengetahui dengan sangat baik bahwa sebuah hadiah sastra boleh jadi punya cacat, tetapi juga layak diperjuangkan, terutama bagi karya fiksi yang menang betul berkualitas dan penting.

Hadiah sastra harus menghormati buku-buku bagus. Memang ini lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Tapi jika ada orang-orang yang memberikan ruang bagi idealisme di dunia sastra, mereka seharusnya bukan yang memegang tas tetapi dompet.

Donny Syofyan
Donny Syofyan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.