OUR NETWORK
Minggu, Oktober 17, 2021

Pandemi, Duka dan Murka Siapa?

Anicetus Windarto
Peneliti di Litbang Realino, Sanata Dharma, Yogyakarta

Sudah lebih dari 1 tahun pandemi melanda negeri kita, Indonesia. Dan tercatat sudah lebih dari 2 juta kasus positif yang tersebar di berbagai wilayah. Tentu, ada banyak yang mampu sembuh dari dampak wabah itu, tapi tak sedikit juga yang harus kehilangan nyawa. Itu artinya,  wabah ini telah menghadirkan suasana yang serba tidak pasti dan selalu dalam situasi yang menjelang.

Hal itulah yang membuat kita menjadi tampak “gelisah”. Sebab apa yang dahulu dapat dilakukan dengan lepas dan bebas, kini perlu dipertimbangkan dengan jeli dan waspada agar tidak terdampak pandemi.

Gelisah yang membuat pilihan untuk hidup sehat dan tidak mati sia-sia menjadi samar-samar adalah pengalaman hidup bersama yang sebelumnya tak terbayangkan. Karena itulah, tak sedikit yang bingung dan, bahkan kecewa, lantaran segalanya berubah dengan cepat dan tiba-tiba tanpa ada “pegangan” yang jelas dan tegas untuk menjalani kehidupan yang tengah dilanda pandemi ini.

Memang ada sejumlah protokol atau panduan yang memberi kita tuntunan agar dapat bertahan dalam keadaan saat ini. Bahkan tak kurang bantuan yang dijanjikan supaya kita tak mudah lelah, apalagi menyerah, menghadapi wabah kali ini. Namun, apa daya tuntunan dan bantuan yang disediakan itu masih belum mampu meyakinkan kebanyakan orang untuk “memakai masker” misalnya. Bahkan untuk dapat berada “di rumah saja”, tak sedikit yang mengabaikannya hanya agar dapat tetap melanjutkan kehidupan meski ada risiko yang ditanggungnya.

Lantas, bagaimana sesungguhnya pandemi ini dapat dilalui dan dimaknai bersama? Bukan hanya sebagai “bencana non-alam”, melainkan justru adalah cerita tentang “duka dan murka siapa”?

Bukan kebetulan bahwa virus, termasuk Covid-19, adalah bagian dari makhluk hidup. Bahkan makhluk yang paling sederhana secara genetiknya. Dengan demikian, mereka adalah bagian dari penciptaan alam semesta ini. Itu artinya, mereka punya “kehidupan” yang serupa dengan makhluk hidup yang lain di bumi. Namun, mengapa mereka bisa menjadi sedemikian “ganas” dan “berbahaya” bagi makhluk hidup lain, terutama manusia?

Dari Fransiskus Asisi (1182-1226) sesungguhnya kita dapat belajar bahwa sikap hormat pada setiap makhluk hidup adalah wujud dari “spiritualitas kosmis” karena Tuhan ada di dalam dan bersama dengannya. Maka, di tengah pandemi ini, kita layak untuk bertanya dalam hati nurani masing-masing: “Apa yang sedang terjadi dengan spiritualitas kosmis saat ini?” Mungkin pertanyaan itu tampak aneh dan boleh jadi mengada-ada, namun cobalah untuk berikhtiar sejenak: “Adakah yang telah terusik kehidupannya oleh polah tingkah manusia di bumi selama ini?”

Dalam konteks ini, “selama ini” tentu menunjuk sejak awal mula penciptaan, termasuk planet-planet dan segala yang terlihat maupun tak terlihat. Jadi, bukan soal waktu dan jarak yang telah ditempuh atau dilalui, melainkan perihal keberadaan dan status dari segala sesuatu yang merupakan bagian dari penciptaan. Itulah mengapa sikap hormat yang diteladankan Fransiskus Asisi di atas sepantasnya menjadi “asas dan tujuan dasar” dalam kehidupan setiap makhluk yang sejatinya hanya berstatus sebagai “ciptaan”.

Namun dalam kenyataannya, manusia yang telah diberi kuasa sepenuhnya untuk mengatur dan mengelola bumi ini telah “keblinger” dan justru berbalik seolah-olah sebagai pencipta. Maka, makhluk lain yang terusik akibat ke-keblinger-an manusia pun menjadi reaktif dan aktif demi memulihkan keberadaannya dengan status sebagai ciptaan. Inilah yang dinamai dengan “keseimbangan alam” yang merupakan karya nyata dari spiritualitas kosmis. Dan hal itu dimungkinkan atas ijin atau wewenang dari Sang Pencipta.

Pertanyaannya, sudah lupakah kita dengan dua peristiwa besar yang dialami oleh Nabi Nuh dengan “Air Bah-Nya yang menenggelamkan seluruh permukaan bumi” dan Nabi Lot dengan “Api-Nya yang menghabisi Sodom dan Gomora”? Bukankah “Air” dan “Api” serta “Tanah” dan “Angin” adalah elemen-elemen dasar dalam penciptaan yang digambarkan secara menarik dalam film “Avatar Aang”?

Dari sanalah kita sebenarnya dapat bercermin: mengapa saat ini ada pandemi yang secara tiba-tiba dan cepat memporak-porandakan kehidupan manusia di bumi ini? Dan, siapakah yang sedang berduka bahkan murka dengan “mengijinkan” makhluk paling sederhana untuk bermutasi demi mencari keseimbangan di alam semesta ini? Karena itu, ingat dan waspadalah selalu bahwa, seperti kata peribahasa, “tak ada asap kalau tak ada api”. Atau, sebagaimana digariskan dalam hukum alam, “tak ada reaksi jika tak ada aksi”. Sebab, “siapa yang menanam, maka dia akan menuai”.

Anicetus Windarto
Peneliti di Litbang Realino, Sanata Dharma, Yogyakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.