Minggu, April 18, 2021

Mudik dan Ironi Mereka yang Terusir

Partai Solidaritas Indonesia

Meskipun di PSI banyak perempuan dan anak muda, saya sempat belum tertarik betul milih PSI. Ternyata saya ini tipe pemilih yang tradisional betul, tipe-tipe...

Bom Istanbul: Antara Terorisme dan Separatisme Kurdi

Suara terompet mendayu-dayu mengiringi upacara pemakaman yang diadakan di markas polisi di Istanbul sebagai penghormatan terakhir atas beberapa perwira yang gugur. Rekan-rekan mereka memanggul...

Jokowi dan Potret Birokrasi Kita

Presiden Joko Widodo menegaskan pentingnya komitmen birokrasi untuk menyukseskan pelaksanaan program pemerintahan. Sorotan kepada aparat birokrasi ini bukan tanpa sebab. Masih banyak keluhan dari...

15 Tahun Civil Islam

  Lima belas tahun lalu di ufuk fajar optimisme Indonesia setelah keluar dari 32 tahun goa kegelapan era otoritarianisme Soeharto, terbit sebuah buku yang merekam...
Avatar
Husein Ja'far Al Hadar
Vlogger Islam Cinta yang tak lagi jomblo. Direktur Cultural Islamic Academy, Jakarta. Mahasiswa Tafsir Qur’an Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

palestina-usir
Pengunjuk rasa warga Palestina bertikai dengan tentara Israel di dekat kamp pengungsian Arroub, utara kota Hebron, Tepi Barat, Minggu (12/6). ANTARA FOTO/REUTERS/Mussa Qawasma

Ada banyak orang terusir di dunia ini. Ada yang terusir dari negerinya sendiri, seperti rakyat Palestina. Juga rakyat di negara-negara Timur Tengah yang berkecamuk, dijajah, krisis politik, dan lainnya yang nasibnya kian tak jelas sebagai imigran dan berlarian ke Eropa, juga tanpa kejelasan nasib.

Atau bahkan mereka yang terusir di negerinya sendiri, dari kampung halamannya, seperti Muslim-Syiah Sampang (Madura), Jemaah Ahmadiyah di Bangka, atau Gafatar di Menpawah (Kalimantan Barat), dan lainnya. Ironi!

Maka, Lebaran dengan tradisi mudik menjadi momentum strategis untuk merenungkan ironi itu. Pasalnya, dalam momentum ini, sebagian besar kita mudik ke kampung kita.

Mudik mengandung ragam dimensi. Pertama, dimensi religius. Pada dimensi ini, mudik adalah simbol penyucian horisontal antar sesama kita di saat Idul Fitri melalui silaturahmi-saling memaafkan, untuk menyempurnakan penyucian vertikal yang telah kita lakukan sebulan Ramadhan dengan puasa dan ibadah sebagai bentuk permohonan ampun pada Allah. Sebab, walau Allah telah mengampuni dosa kita, kita tetap harus memohon maaf pada sesama kita untuk kemudian Allah mengampuni dosa sosial kita atas sesama.

Dalam sebuah hadist ditegaskan bahwa Allah takkan mengampuni dosa sosial kita sebelum kita mendapatkan maaf dari manusia yang kita salahi. Karena itu, pada dimensi ini, seharusnya Lebaran menjadi momentum bagi mereka yang berkonflik hingga terjadi ironi pengusiran untuk merenung bersama bahwa bukankah tak ada jalan lain untuk mereka meraih kesempurnaan kemenangan saat Idul Fitri, meski mereka telah sukses dalam penyucian vertikal dengan-Nya, kecuali dengan mereka berekonsiliasi secara tulus?

Kedua, dimensi sosio-kultural. Pada dimensi ini, mudik adalah ziarah kultural menapaki jejak-jejak sosial dan kultural kita: kehidupan berbudaya paling awal kita dan kehidupan bersama kita dengan keluarga dan masyarakat pertama kita. Itu adalah identitas paling primordial kita.

Karena itu, salah satu aktivitas terpenting dan paling khas kita saat mudik adalah berziarah, baik kepada keluarga atau masyarakat yang masih hidup maupun mereka yang telah wafat mendahului kita. Terlebih masyarakat Indonesia yang memegang kuat akvifitas kultural yang berselimut religiusitas itu.

Identitas itu tak boleh dilupakan atau apalagi dipaksa dicerabut dan dihilangkan dari seseorang atau sekelompok orang. Bukan hanya itu akan membuat mereka “cacat” sosial-kultural, tapi –sebagaimana ditulis John L. Esposito dalam pengantarnya untuk edisi Inggris karya Ali Syari’ati berjudul What is to be Done, juga akan membuat seseorang gagap dan pincang dalam menatap dan menjalani masa kini dan masa depan.

Sebab, tanpa kesadaran murni akan masa lalu, seseorang takkan mampu melakukan perubahan-perubahan yang peka atas sejarah dan nilai-nilai lingkungan budayanya di masa kini dan masa depan.

Ketiga, dimensi psikologis. Pada dimensi ini, mudik adalah sebuah aktivitas paling individual dan sublim: aktivitas kembali pada diri sendiri. Dalam konteks ini, mudik merupakan aktivitas kembali mengingat dan merenungkan tentang kelahiran, masa kecil, dan titik awal hidup kita: hidup sebagai manusia udik dengan segala imajinasi dan cita-citanya di masa depan. Tak mudik berarti kehilangan diri atau teralienasi dari diri sendiri. Maka, sebagai individu, kita akan cacat secara psikis. Ini bukan hanya berat, tapi mustahil bisa dijalani oleh seseorang.

Karena itu, tak mudiknya mereka yang terusir, terlebih di negerinya sendiri, khususnya Indonesia, adalah sebuah ironi yang sungguh menyedihkan bagi kita dan begitu menyiksa bagi batin mereka. Inilah aspek paling mendasar dari ironi pengusiran yang harus kita renungkan dan hadirkan pada diri kita, khususnya di suasana mudik. Bagaimana jika itu terjadi pada diri kita?

Jawabnya, akan ada batin yang terketuk, melampaui segala sekat, dan melapangkan dada secara tulus dan ikhlas untuk mereka kembali berdampingan secara rukun, sebagai saudara: jika bukan sesama Muslim, sesama anak kampung, sesama orang Indonesia, atau bahkan sesama manusia.

Terlalu banyak kesamaan yang bisa direkatkan dan dihayati sebagai persaudaraan di antara kita, ketimbang perbedaan untuk saling berpecahan dan bermusuhan. Dan, begitulah sebenarnya akhlak Nabi Muhammad: selalu mencari-cari kesamaan di antara sesama untuk menjadi alasan persaudaraan. Berbanding terbalik dengan sebagian kita yang selalu mencari-cari perbedaan di tengah sederet persamaan untuk kemudian dipertengkarkan. Sehingga, kata Sayyidina Ali, “Dia yang bukan saudaramu dalam iman, adalah saudaramu dalam kemanusiaan.”

Avatar
Husein Ja'far Al Hadar
Vlogger Islam Cinta yang tak lagi jomblo. Direktur Cultural Islamic Academy, Jakarta. Mahasiswa Tafsir Qur’an Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Terorisme Akan Selalu Dapat Tempat Jika Tokoh Islam Masih Ada yang Denial

Berkali-kali sudah esktremisme kekerasan dan kejahatan terorisme terjadi di negeri kita, sejak Bom Bali yang terjadi pada tahuan 2000an sampai tahun ini. Namun sikap...

Kubur Kosong (Refleksi Iman atas Banjir Bandang di Leuwayan)

Minggu, 04 April 2021, umat Katolik sejagat merayakan hari raya Paskah. Paskah adalah peristiwa kebangkitan. Karena itu merayakan Paskah berarti merayakan kemenangan Kristus atas...

Simbol Agama dalam Aksi Teroris

Di Indonesia dalam beberapa hari ini marak terjadi penyerangan oknum yang tidak bertanggung jawab pada wilayah agama dan kepolisian. Agama merupakan simbol kolektif dari...

Menanti Istana Ibu Kota Baru

Dalam pekan kemarin virtual rencana desain Istana di ibu kota baru di Kalimantan Timur. Rencana pemerintahan Joko Widdo memindahkan dari DKI Jakarta ke Kalimantan...

Upaya Normalisasi Hubungan Irak-Arab Saudi

Pada 2 April 2021, kantor berita Irak, INA, menyampaikan bahwa Perdana Menteri (PM) Irak, Mustafa Al-Kadhimi telah kembali ke tanah air setelah mengakhiri kunjungannya...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Masa Depan Peradaban Islam dalam Pandangan Ziauddin Sardar

Masa depan peradaban Islam dalam banyak tulisan selalu dikaitkan dengan ide kebangkitan Islam yang telah dimulai sejak abad ke-18 yang lalu. Meskipun sudah kurang lebih...

Banyak Baca Buku Jadi Pintar, Sedikit Baca Jadi Orba

Minggu lalu, akun twitter Presiden Jokowi @jokowi menggunggah kegiatan membagi-bagi buku. "Membagi buku untuk anak selepas Jumatan bersama masyarakat di Masjid Jami Annur, Johar...

Perlukah Produk Riset Perguruan Tinggi Dipatenkan?

Salah satu tugas perguruan tinggi (PT) adalah melaksanakan penelitian atau riset sebagai bagian dari Tri Dharma PT. Produk-produk riset yang dihasilkan tentu saja berpotensi...

Definisi Kekuatan: Hard Power dan Soft Power

Konsep Dasar Power Kekuatan atau power dalam ilmu Hubungan Internasional adalah elemen utama, terutama dalam kaca mata realisme, Morgenthau menjelaskan bahwa perilaku negara pada dasarnya...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.